INFO PENTING!!!
Novel ini punya dua cerita yang berbeda...
Sekuel Pertama (Bab 1-Bab 83)
Berkisah tentang Velicia Arista yang di vonis mengidap kanker serviks stadium III. Dokter mengatakan usianya hanya tinggal 90 hari. Mengetahui hal itu, membuat Velicia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan mendapatkan cinta dari suaminya. Karena selama 3 tahun pernikahan, suaminya malah mencintai wanita lain.
Sekuel Kedua (Bab 86-dst/ on going)
Berkisah tentang puteri adopsi Velicia, Claudia Arista Setyawan, yang terpaksa menikah dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah dilihatnya, Adam Wijaya.
Selama 2 tahun keduanya hidup terpisah dan sama sekali tidak pernah mengenal wajah masing-masing. Saat Adam kembali, Claudia ingin bercerai. Adam pun memberikan syarat dalam 90 hari kedepan, Claudia harus bisa membuktikan kepada Adam bahwa ia akan berhasil dalam perkuliahannya. Maka dengan itu, Adam akan setuju untuk bercerai.
"90 Hari Mengejar Cinta Suamiku"
Follow IG: La-Rayya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Andreas (Bab 33)
Mobilku berhenti di depan gerbang TPU tempat Mama dan Papa di makamkan. Hari jum'at pagi pasti akan banyak orang yang datang berziarah ke makam, seperti hari ini.
Aku berjalan di jalan setapak yang sudah di lapisi dengan beton menuju pusara Mama dan Papa yang berdampingan.
Tampak pusara yang bertuliskan nama Papa dan Mama begitu bersih dan rerumputan hijau yang tumbuh diatasnya telah di potong dengan rapi.
Sebelum tiba di pemakaman, aku tadi sempat berhenti di toko bunga untuk membelikan bunga mawar putih favorite Mama dan juga bunga mawar tabur.
Aku mulai menaburkan bunga ke makam Mama dan Papa. Tak lupa ku panjatkan doa agar Mama dan Papa diberikan tempat terbaik oleh Tuhan.
"Ma, Pah. Maaf selama beberapa bulan belakangan Veli tak bisa datang. Veli pikir Veli akan segera ketemu sama Mama dan Papa karena penyakit yang Veli derita ini. Tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan membantah semua vonis Dokter yang mengatakan Veli hanya bisa bertahan 90 hari. Kenyataannya Veli masih bisa bertahan sampai hari ini. Maafin Veli juga karena sudah gegabah membuat keputusan dengan memberikan semua aset keluarga Arista pada Arnold yang tadinya Veli kira merupakan lelaki yang dulu selalu menjadi pelindung Veli setelah Mama dan Papa pergi. Ternyata Veli salah orang Mah, Pah. Sekarang Veli sudah tahu siapa orangnya. Dan Veli cuma bisa berharap, Veli bisa menemukan kebahagiaan Veli sendiri." Ucapku dengan menahan air mata agar tak jatuh di pusara Mama dan Papa.
Setelah selesai ziarah ke makam Mama dan Papa, aku kembali ke mobil dan mengambil ponsel dan menelepon Bu Sumi.
"Bu Sumi lagi dimana?" Tanyaku.
"Saya sudah di rumah Nona, tengah bersih-bersih." Balas Bu Sumi.
"Apa Arnold masih di rumah?" Tanyaku lagi.
"Tidak. Tuan Arnold sudah pergi sejak tadi." Jawab Bu Sumi.
"Baiklah. Terima kasih." Ucapku lalu memutuskan panggilan telepon.
'Baguslah kalau dia sudah pergi. Jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk mencari penginapan yang lain.' pikirku.
Setelah mengemudi beberapa saat, mobilku berhenti tepat di depan gerbang sebuah bangunan tempat aku bersekolah dan bertemu Andreas untuk pertama kalinya.
Aku memarkirkan mobilku dan mulai berjalan masuk ke gedung sekolah. Para siswa pasti tengah belajar di dalam kelas saat ini, karena sekolah tampak sepi dari luar.
Aku bertemu seorang guru senior yang mengajariku dulu. Rambutnya sudah mulai memutih. Tak ku sangka beliau masih mengajar sampai saat ini.
"Kau Velicia Arista kan?" Tanya guru senior bernama Pak Budi itu.
Aku mengangguk dan menyalaminya dengan hormat.
"Pak Budi sehat?" Tanyaku.
"Seperti yang kamu lihat, saya masih awet muda." Jawabnya.
Aku tertawa mendengar jawaban Pak Budi.
"Apa yang membuat nona muda keluarga Arista datang ke sekolah ini?"
"Rindu saja dengan suasana sekolah Pak." Jawabku asal.
Padahal kenyataannya aku hanya kebetulan lewat dan jadi ingin bernostalgia dengan mampir ke sekolah ini.
"Pak, di ruang musik. Apa masih ada piano yang sering saya mainkan dulu?" Tanyaku.
"Masih. Kebetulan hari ini anak-anak tengah belajar musik dari seorang pianis terkenal alumni sekolah ini juga. Kalau berkenan melihat, ayo ikut saya. Kebetulan saya juga mau lewat sana."
Aku tersenyum seraya mengangguk dan mengikuti langkah Pak Budi berjalan menuju ruangan yang merupakan studio musik bagi para siswa.
Mendekati ruang studio, telingaku mendengar dengan jelas suara dentingan tuts piano yang tengah memainkan lagu yang sangat familiar di telingaku. Aku mempercepat langkah kakiku, bahkan mendahului Pak Budi dan segera masuk.
Mungkin suara pintu yang aku buka terlalu keras membuat para siswa menatap ke arahku yang berdiri mematung di pintu masuk.
Mataku menangkap sosok Andreas yang tengah duduk di depan piano dengan jarinya yang masih menempel pada tuts piano. Sorot matanya tampak terkejut menatap diriku.
"Ma-maaf." Ucapku canggung.
Tepat setelah itu suara bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa mulai berhamburan keluar, melewati tubuhku yang tetap berdiri mematung di tengah-tengah pintu.
"Gadis kecil. Sampai kapan kau akan terus berdiri disitu. Kemari lah, apa kau ingin bermain piano bersamaku?" Ucap Andreas.
Tanpa menjawab, aku melangkah dengan begitu ringan mendekati dirinya. Ada rasa bahagia sekaligus takut yang aku rasakan.
Aku mulai duduk disampingnya, sama-sama menghadap piano yang sejak dulu sering kami mainkan. Degup jantungku berdebar begitu cepat. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini.
"Ayo, ikut bermain bersamaku. Sama seperti dulu." Ucap Andreas membuyarkan lamunanku.
Dengan tangan bergetar, aku mulai memainkan tuts piano bersama Andreas. Kenangan masa lalu kembali terbayang. Aku sangat menghayati permainan piano kami dengan lagu 'Sleep in the deep sea.' Tanpa terasa air mataku mulai jatuh bercucuran.
Lagu ini sering dimainkan Mama untukku. Dan, setelah Mama tiada, Andreas lah orang yang sering memainkannya untukku. Bahkan dialah yang mengajariku bermain piano.
Hingga lagu berhenti air mataku terus saja mengalir. Masih jelas dalam ingatan, hari dimana aku harus kehilangan Mama dan Papa. Lalu bertemu dengan Andreas yang menjadi penyemangat ku. Tapi, takdir mempermainkan aku dengan membuat aku harus menikah dengan Arnold yang kala itu ku pikir dia adalah Andreas.
Bodohnya aku yang dulu, tak pernah menanyakan namanya. Aku hanya memanggilnya Kakak, sedangkan dia menyebutku dengan gadis kecil.
3 tahun harus aku lewati hubungan pernikahan dengan orang yang salah. Dan kini, orang yang selama ini ku kagumi duduk di sampingku, bermain piano bersamaku. Tapi, kenapa aku justru merasa dia terlalu jauh untuk aku gapai.
Sebuah sentuhan lembut membelai pipiku. Saat membuka mata, aku melihat Andreas tengah menyeka air mataku dengan tangannya. Saat pandangan kami beradu, ia sontak menghentikan aksinya.
"Maaf." Ucapnya dengan raut wajah yang canggung.
Sepertinya Andreas merasa bersalah karena telah menyentuhku.
'Apa sebegitu menjijikkannya aku baginya?'
Andreas kemudian berdiri dan memilih duduk di bangku yang disediakan untuk para siswa.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Andreas.
"Aku baik." Balasku seraya berjalan dan duduk di kursi siswa yang agak berjarak dengannya.
Hening.
Kami berdua tak bersuara. Dari raut wajahnya, aku dapat melihat, ia sangat canggung dengan suasana yang tercipta.
"Sejak kapan mulai mengajar anak-anak disini?" Tanyaku mencoba membuat suasana mencair.
"Sejak aku kembali dari luar negeri." Jawab Andreas singkat.
Suasana kembali hening, aku tak tahu harus bertanya apa lagi. Sedangkan Andreas, ia nampak tak ingin mengucapkan apapun padaku.
'Apa aku langsung menanyakan saja padanya tentang perasaannya terhadapku.'
"Andreas...."
"Gadis kecil..."
Kami memanggil disaat yang bersamaan.
"Kau duluan." Ucapnya.
Aku mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Apa kau sudah tahu siapa orang yang sebenarnya aku sukai?" Tanyaku.
Padahal aku sebenarnya sudah tahu jawabannya. Tapi, tetap saja aku ingin mendengarkan pengakuan darinya secara langsung.
"Aku tahu." Balasnya singkat.
"Apa kau tahu saat aku memutuskan menikah dengan Arnold?" Tanyaku lagi.
"Aku tahu..." Jawabnya lagi.
"Lalu, jika kau mengetahui semuanya. Kenapa kau tak mencegah aku menikahi orang yang salah?"
Kali ini aku mengumpulkan seluruh keberanian ku untuk menanyakan hal itu. Ku tatap tepat ke wajah Andreas, dan dia hanya menunduk dan berkata,
"Maafkan aku gadis kecil."
Jawaban macam apa itu, bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku ingin dia mengatakan apa alasannya tidak mencegah pernikahan antara aku dan Arnold, jika selama ini dia memang sudah mengetahui perasaanku padanya.
"Apa itu karena kau tidak menyukai aku?" Ucapku tiba-tiba.
"Bu-bukan begitu." Andreas menjawab ku dengan terbata-bata.
"Lalu kenapa? Bukankah kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya adalah menyukaimu. Dan kau malah membiarkan aku menikahi orang yang salah dan bahkan harus menjalani 3 tahun hidupku dengan orang yang sama sekali tidak pernah menghargai adanya diriku. Bukankah itu artinya kau tidak menyukaiku?" Ucapku dengan dada yang bergemuruh.
Aku berharap, dia bisa menjawab semua rasa penasaran di hatiku, tapi nyatanya tidak.
"Maafkan aku." Hanya itu jawaban yang terlontar dari bibirnya.
"Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu Kakak Andreas." Ucapku penuh penekanan pada kata 'kakak'. "Yang ingin aku tanyakan adalah, apa kau menyukai aku atau tidak? Itu saja." Lanjut ku.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu." Ucap Andreas lalu berjalan pergi melewati pintu dan keluar dari ruang studio musik.
Ingin sekali aku berteriak memanggil namanya. Tapi, mulutku seolah terkunci. Aku tak bisa mengucapkan satu patah katapun lagi. Yang ada hanya air mataku yang jatuh berlinang.
'Kenapa susah sekali baginya untuk mengatakan kata iya atau tidak. Agar aku tak lagi berharap padanya.'
Bersambung...
Terima kasih atas kesediaan kalian membaca karya receh ini. Jangan lupa berikan.....
Like 👍
Komen 💭
Hadiah 🎁
Vote 🎟️
Salam sayang....
La-Rayya ❤️
kasian suami ya punya istri kayak kamu
apakah suamimu boking kamar dengan sahabat wanitanya, pangkuan, curhat, dan pelukan kau anggap hal normal juga
miris pola pikir yang tidak bermoral sampai hal menjijikan kayak gini kau benarkan
jiiik
persahabatan endra dan claudia
pesan kamar hotel, berduaan dikamar, curhat berduaan, duduk dipangkuan, peluk dari belakang, tidur berduaan di atas ranjang, kau anggap ini persahabatan yang normal, kau sehat kan thor
coba kau bayang suami baca novel ini, dia berarti boleh donk bersikap kayak endra, punya teman wanita, curhat curhatan, boking hotel, pangkuan, pelukan
miris sifat munafik wanita di bawa kedalam novel, suami perhatikan ponakan wanita saja udah salah, tapi dia sebagai istri kayak wanita murahan, dianggap hal biasa
miris kemunafikan yang tidak bermoral, menjijikan