Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Panggilan Manis
Cuaca pagi begitu cerah, seolah ikut menyambut pasangan pengantin baru yang baru saja terbangun dari tidur mereka.
Revan masih memeluk Eliana dari belakang, enggan melepaskan kehangatan itu.
“Selamat pagi, Adek,” sapa Revan lembut.
Eliana tersenyum malu mendengar sapaan itu.
“Selamat pagi juga, Abang,” jawabnya pelan.
Ia sedikit bergeser, lalu menoleh menatap wajah suaminya.
“Emm… Abang tidak keberatan dipanggil seperti itu?” tanyanya ragu.
Revan tersenyum, matanya berbinar.
“Tidak. Abang justru suka,” jawabnya.
“Terdengar lebih manis.”
Ia lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.
“Manis? Memangnya gula,” gumam Eliana, membuat Revan terkekeh pelan.
Mereka masih berada di balik selimut, menikmati momen itu tanpa terburu-buru untuk bangun.
“Bang,” panggil Eliana lembut.
"Apa hari ini Abang sudah ke perusahaan?”
“Belum,” jawab Revan.
“Mungkin setelah kita pindahan nanti baru Abang mulai aktif ke kantor.”
“Kenapa?” tanya Revan, menyadari nada suara istrinya.
“Tidak apa-apa,” jawab Eliana cepat.
“Cuma ingin bertanya saja.”
Ia lalu tersenyum kecil.
“Ayo bangun, Bang. Kita sudah agak terlambat.”
Revan mengangguk.
“Ayo. Hari ini Abang ingin mengajak Adek ke rumah baru kita.”
“Abang ingin memastikan semuanya sesuai dengan selera Adek. Kalau ada yang kurang cocok, Adek bebas mendesain ulang sesuai keinginan.”
Eliana tersenyum senang mendengarnya.
Setelah itu, mereka beranjak ke kamar mandi. Waktu pagi yang seharusnya singkat terasa berjalan lebih lama dari biasanya, bukan sekadar mandi, tetapi penuh dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Begitu segala kegiatan selesai, mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarga, membawa serta senyum dan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
Sesuai dengan yang Revan janjikan tadi pagi, kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah yang telah ia persiapkan untuk mereka.
Mobil melaju perlahan memasuki halaman rumah yang cukup luas. Di sisi kanan dan kiri, berbagai tanaman hias tumbuh rapi, ada bougenvil, kamboja Jepang, dan aneka perdu hijau yang tertata apik, menciptakan suasana sejuk dan menenangkan.
Eliana berdecak kagum. Ia tak menyangka selera Revan begitu sejalan dengan seleranya.
“MasyaAllah…” lirihnya, matanya berbinar.
Begitu mobil berhenti tepat di depan rumah, Eliana turun dan kembali memandangi sekeliling. Senyum tak lepas dari wajahnya.
“Ayo, kita masuk,” ajak Revan lembut.
Eliana mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Saat pintu utama terbuka, Eliana kembali tercengang.
Rumah itu terdiri dari dua lantai dengan desain elegan modern. Dominasi warna krem dan putih gading berpadu dengan aksen kayu. Ruang tamu terasa lapang dengan langit-langit tinggi, lampu gantung kristal sederhana, serta jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan bebas.
“Suka?” tanya Revan sambil menatap wajah istrinya.
“Suka,” jawab Eliana spontan.
“Suka sekali.”
Revan tersenyum puas.
Mereka melangkah lebih dalam. Ruang keluarga berada di tengah rumah, menyatu dengan ruang makan berkonsep terbuka. Dapur modern terletak di belakang, didominasi warna putih dan abu-abu lembut, lengkap dengan kitchen set dan peralatan yang tertata rapi.
“Ayo ke atas,” ajak Revan lagi.
Mereka menaiki tangga dengan pegangan kayu dan kaca transparan. Di lantai atas terdapat beberapa ruangan. Ruang kerja, kamar tamu, dan kamar utama mereka.
Kamar utama terlihat luas dan nyaman. Tempat tidur berukuran besar dengan headboard empuk, jendela lebar menghadap taman, serta balkon kecil yang memungkinkan mereka menikmati udara pagi. Kamar mandi di dalamnya dilengkapi bathtub dan shower kaca.
Eliana terdiam beberapa saat, menikmati setiap detail.
“MasyaAllah, bang… semuanya indah,” ucap Eliana jujur.
"Alhamdulillah, kalau adek suka."
Mereka melanjutkan ke belakang rumah. Ternyata halaman belakang tak kalah luas dari halaman depan. Di sana terdapat kolam renang berukuran sedang, taman kecil, dan area duduk dengan pergola kayu, tempat yang terasa begitu sesuai untuk bersantai.
Setelah puas berkeliling, mereka kembali ke ruang tamu dan duduk berdampingan.
“Semoga di rumah ini,” ucap Revan pelan,
“kita bisa membangun kebahagiaan kita. Semoga hubungan kita semakin kuat, saling menguatkan dalam suka dan duka.”
Dan Revan berharap… "suatu hari Mama bisa menerima semuanya dengan lapang dada.”
Eliana menoleh, menatap suaminya penuh ketulusan.
“Aku juga berharap begitu,” ucapnya lembut.
“Kita jalani semuanya bersama, bang. Pelan-pelan, tapi dengan kepastian dan keyakinan.”
Revan menggenggam tangan istrinya erat.
Sebelum pulang, Eliana meminta Revan untuk mampir ke butik terlebih dahulu. Sudah cukup lama ia tidak datang ke sana.
“Assalamu’alaikum,” sapa Eliana begitu memasuki butik.
Nadia yang sedang merapikan gaun di sebuah manekin langsung menoleh.
“Wa’alaikumsalam.”
“El!” seru Nadia antusias. Ia segera menghampiri Eliana dan memeluknya.
“Maaf ya, Nad,” ucap Eliana.
“Aku belum sempat ikut mengurus butik.”
“Tidak apa-apa,” jawab Nadia sambil tersenyum.
“Ada Dewi juga. Kamu tenang saja, semua aman terkendali.”
Eliana mengangguk lega.
“Nad, insyaAllah lusa kami pindahan,” kata Eliana.
“Kamu datang ya. Ajak Dewi sekalian.”
“Pasti,” jawab Nadia cepat
“Aku dan Dewi pasti datang.”
Tak terasa hari mulai sore.
“Aku pulang dulu ya,” pamit Eliana
Nadia mengangguk dan mengantar Eliana serta Revan sampai ke depan butik.
“Hati-hati di jalan,” pesan Nadia sebelum mereka masuk ke mobil.
Eliana tersenyum dan melambaikan tangan.
---
Malam ini Celin bermalas-malasan di atas ranjangnya. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya terus berputar pada kejadian dan pemandangan saat makan malam kemarin.
Dadanya terasa panas setiap kali mengingat interaksi Revan dan Eliana.
"Kenapa wanita itu begitu mudah mendapatkan perhatian Revan?
Apa hebatnya dia?
Padahal aku yang sudah lama mengenalnya… tapi justru aku yang tak pernah berhasil memilikinya."
Rasa cemburu bercampur amarah membuat napasnya terasa berat.
Di tengah kekalutan pikirannya, terdengar ketukan di pintu kamar.
Celin bangkit dengan malas.
“Ada apa, Ma? Kalau mengajak makan, aku masih kenyang,” katanya tanpa semangat.
“Ada yang mencarimu,” jawab Dian dari balik pintu.
“Mencariku? Siapa?” tanya Celin, kini sedikit tertarik.
“Dia bilang namanya Aldo. Katanya ingin bertemu denganmu,” lanjut Dian.
“Aldo?” gumam Celin pelan.
Untuk apa dia ke sini? Dari mana dia tahu alamat rumahku?
“Ayo, cepat turun,” panggil sang ibu lagi.
“Iya, sebentar,” sahut Celin sambil menutup pintu.
Beberapa menit kemudian, Celin turun ke ruang tamu. Ia sudah berganti pakaian dan terlihat siap untuk pergi.
“Celin,” sapa Aldo begitu melihatnya.
“Aku ingin mengajakmu keluar. Ada yang ingin aku bicarakan.”
Nada suara Aldo terdengar tenang, berbeda dengan raut wajah Celin yang dingin.
"Aku pun begitu,” jawab Celin ketus.
Aldo lalu menoleh pada kedua orang tua Celin.
“Om, Tante, saya izin mengajak Celin keluar sebentar.”
“Jangan pulang terlalu malam dan hati-hati di jalan,” pesan Dian.
Begitu Aldo dan Celin melangkah pergi, Dian menatap punggung putrinya dengan harap.
“Mama berharap pria itu bisa membuat Celin melupakan Revan,” ucapnya lirih.
“Papa juga berharap begitu,” sahut ayah Celin singkat.
Di dalam mobil, suasana terasa kaku.
“Kita mau ke mana?” tanya Celin tanpa menoleh.
“Kamu mau makan malam dulu atau langsung ke tempat lain?” tanya Aldo sambil tetap fokus menyetir.
“Terserah. Aku sedang tidak berselera,” jawab Celin dingin.
Aldo tetap membawa Celin ke sebuah restoran. Ia sengaja memesan ruang VIP agar mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa.
Begitu masuk ke ruangan, Celin langsung duduk dan meletakkan tasnya dengan kasar.
“Aku kira kamu sudah melupakanku,” ucap Celin tiba-tiba.
“Kamu menghilang sejak Revan belum menikah, lalu baru muncul setelah mereka pulang bulan madu. Kamu ke mana saja? Keliling dunia?”
Nada suaranya sarat emosi.
Aldo menarik napas panjang.
“Tenang, Celin.”
“Mereka sudah menikah. Itu berarti mereka memang berjodoh.”
Celin menatap Aldo tajam.
“Aku tahu kamu sudah beberapa kali menyusun rencana,” lanjut Aldo.
“Bahkan bekerja sama dengan mama Revan. Tapi semuanya gagal, bukan? Mungkin sudah saatnya kamu mengikhlaskan Revan. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya.”
Wajah Celin berubah keras.
“Apa yang kamu katakan, Aldo?”
“Bukankah awalnya kamu sendiri yang mengajakku bekerja sama untuk memisahkan mereka?”
“Sekarang kamu bilang aku harus ikhlas? Yang benar saja!”
“Aku berubah pikiran karena aku sadar, Celin,” jawab Aldo tenang namun tegas.
“Sebesar apa pun usaha kita, kalau mereka memang ditakdirkan bersama, semua rencana hanya akan sia-sia.”
Celin mengepalkan tangannya.
“Terserah apa pun yang kamu ucapkan,” katanya dingin.
“Aku tetap pada keinginanku.”
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana