Memiliki anak terlahir tidak sempurna membuat rumah tangga dalam tokoh utama tergunjang, hanya ada satu pilihan yang harus ditentukan. penyakit apakah yang diderita bayi malang hingga menjadi alasan sang suami menerima jodoh yang diajukan ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisfi_triplets, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Tinggalkan jejak
💕 Like dan komentar 💕
Setelah lelah menangis, Aku tertidur dan tersadar setelah sampai di depan rumah yang cukup mewah.
"Kita turun sekarang." Ia mencondongkan tubuhnya untuk membuka sabuk pengaman yang masih terpasang di tubuhku seraya tersenyum dan mengelus pipiku, setelah sabuk pengaman telah terbuka, ia memegang wajahku dan mencium kedua mataku yang sembab. "Tetap cantik walaupun matamu terlihat sembab, jangan menangis dan tetaplah bersamaku."mendengar ucapannya, aku hanya bisa memejamkan mata, menarik nafas dalam untuk menetralisir semua perasaan sedihku.
"Ini rumah siapa?"
"Keluarga Tasya." Ia tetap menampilkan senyum hangatnya padaku. "Kita akan temui mereka. Ayo turun!" Akupun menganggukan kepala sebagai persetujuan.
"Saya ingin bertemu dengan Tasya dan juga pak Herman." ucap Rama kepada salah satu penjaga rumah keluarga Tasya.
"Maaf, Tuan dan non Tasya sedang tidak berada di rumah."
"Kalian jangan membohongi aku, katakan pada bos kalian, Rama ingin menemui mereka." Ekspresi Rama saat ini sangat menakutkan, tatapan mata yang tajam dan menyiratkam kemarahan.
"Maaf, kami sudah mengatakannya dengan jujur, silahkan periksa sendiri jika tuan tidak percaya." jawab salah satu penjaga. Rama langsung menerobos masuk ke dalam tanpa persetujuan mereka, aku hanya bisa mengikuti langkah Rama karena ia tidak melepaskan genggaman tangannya ditanganku.
Salah satu penjaga menghentikan langkah Rama ketika Rama menendang pintu masuk rumah itu dengan keras.
"Jaga sikap anda tuan, jangan membuat keributan di rumah ini." Tanpa jawaban apapun, Rama langsung melayangkan pukulan pada penjaga tersebut, aku hanya bisa berteriak melihat tindakan Rama, emosi benar-benar menguasainya. Saat penjaga itu ingin membalas pukulan Rama, seorang pria paruh baya berteriak cukup keras dari lantai dua rumah ini.
"Hentikan, penjaga silahkan kalian keluar," ucapnya tegas. "Kenapa kamu membuat keributan di rumahku?"
"Katakan dengan jujur semua yang kalian rencanakan pada istriku." Rama mengambil foto yang berada di sakunya lalu melemparkan ke wajah ayahnya Tasya, ia langsung memungutnya dan senyum menyeringai ke arah kami.
"Apa hubungannya foto ini dengan saya dan Tasya? Jangan menjadikan kami kambing hitam dalam masalah rumah tanggamu, jika memang kelakuanmu di luar seperti yang ada dalam foto itu, akui saja pada istrimu."
"JAGA BICARAMU!!!" Wajah putih Rama terlihat merah dengan rahang yang mengeras. "Kalian yang menjebakku dan memberikan obat tidur pada minuman yang kalian suguhkan, aku tidak akan ke rumah anda untuk mencari pembenaran jika memang aku salah."
"Saya sudah berlapang dada ketika kamu memutuskan pernikahan dengan Tasya, merelakan kamu menikah dengan wanita lain, tapi tolong jangan memfitnah kami, sudah cukup penderitaan Tasya, mencintaimu sejak lama tapi kamu malah menyia-nyiakan anakku, ia hamil tanpa seorang suami. Dan sekarang kamu masih mau menjelekkan nama kami dengan menuding kami ingin menghancurkan rumah tanggamu, padahal kelakuanmu ya memang seperti itu saat di luar terutama dunia bisnis yang sama-sama kita geluti." ucap Ayah Tasya santai, tapi di setiap kalimat yang terucap membuat hati ini terasa nyeri, sebagai seorang Ayah yang menimpa Tasya bukanlah hal yang mudah untuknya, tersirat banyak luka dari tatapan seorang Ayah. Aku tidak bisa mendengar apapun lagi darinya, segera aku melepaskan genggaman tangan dari Rama dan berlari keluar rumah. Benar saja kenyataan pahit yang Aku dapat ketika mencari suatu kebenaran.
"Amanda ...." Teriak Rama memanggil namaku, dan mengejar langkahku keluar rumah keluarga Tasya. "Kumohon Amanda jangan percaya ucapan om Herman, ia hanya bermain peran, sungguh Amanda ini semua fitnah dari mereka untuk menghancurkan rumah tangga kita.
"CUKUP ..." Aku mendorong tubuh Rama agar tidak semakin mendekat. "Jangan kamu fitnah orang lain untuk mencari sebuah pembenaran, Mas. yang dikatakan ayahnya Tasya benar, kamu sudah mengecewakan keluarga mereka dan sekarang ingin menjadikan mereka kambing hitam untuk masalah ini."
"Kamu lebih mempercayai mereka dibandingkan aku? Iya?" tanya Rama dengan frustasi dan kekecewaan.
"Iya, sekarang antar aku pulang, jangan temui aku setelah ini." Aku masuk kedalam mobil meninggalkan Rama yang masih berdiri terpaku dengan ucapanku. Kejadian ini menjadi pukulan berat untukku, saat baru saja merasakan kebahagiaan berumah tangga bersamanya, ternyata kenyataan pahit yang kini aku dapat.
Aku seorang istri yang bukan satu-satunya menjadi teman tidur suamiku. Hatiku benar-benar hancur saat ini, jika tidak mengingat Atma dan Ibu mungkin Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Rama.
Dalam perjalanan kembali kerumah, tidak ada pembicaraan antara aku dan Rama. Kami hanya bisa diam dengan pemikiran masing-masing, sesekali menoleh sekilas, wajah Rama yang tampak lelah dan frustasi, terkadang ia mengacak rambutnya dan memukul stir mobil berkali-kali. Aku hanya bisa diam tanpa berniat memulai pembicaraan.
Setelah dua jam lebih dalam perjalanan, kami sudah sampai di rumah, Atma menyambut kami dengan pelukan dan senyuman mengembang di wajahnya.
"Mama ... Papa ...." teriaknya senang, memanggil kami saat kami baru keluar dari dalam mobil. Ia langsung memelukku dan kemudian beralih memeluk Rama.
"Pa, kita main game baru, yuk ...." ucap Atma bergelayut manja. "Dari sore Atma menunggu Papa, kenapa Papa pulang malam?"
"Tadi Papa dan Mama ada urusan, kita mainnya besok saja ya, gimana?"
"Papa lelah?" tanya Atma
"Sangat lelah, bukan tubuh Papa saja yang lelah, hati Papa juga lelah meyakinkan Mama."
"Kalau hati yang lelah obatnya apa? Sembuh tidak kalau Atma memijat hati Papa?"
"Hmm .... Mau tahu caranya?"
"Tentu."
"Dengan ini," Rama menunjuk pipinya sebagai isyarat agar Atma menciumnya, "dan ini," ia mengangkat tubuh Atma. "peluk Papa dengan erat" Atma mengikuti ucapan Rama, dan Rama memutar tubuhnya dengan tetap menggendong Atma hingga ia tertawa.
Hubungan yang hangat dan dekat antara Rama dan Atma, sedikit menjadi obat kekecewaan yang kini tengah aku rasakan.
"Atma sudah makan?" tanyaku pada Atma
"Sudah tadi bersama Omma."
"Mas, kamu mau Aku masakkan apa?" Bagaimana pun kondisinya, aku tetaplah harus melakukan tugas sebagai seorang istri untuk menyiapkan kebutuhan suamiku.
"Tidak perlu, aku hanya ingin istirahat, jika kamu lapar makanlah sendiri tanpaku, bukankah itu yang kamu mau?" ia meninggalkan aku, masuk ke dalam lebih dulu dengan Atma. Mendengar ucapan dinginnya membuat aku merasa kehilangan sosok suami yang bersikap hangat, yang beberapa bulan ini menemaniku. Sedih, itulah yang aku rasakan ketika Rama bersikap seperti itu.
Ketika baru saja selesai makan seorang diri di ruang makan, Ibu duduk di sebelah kursi yang aku duduki dengan tersenyum sebelum memulai pembicaraan.
"Amanda ...."
"Iya, Bu."
"Sabarlah menghadapi ujian dalam rumah tangga kalian, setiap rumah tangga pasti akan ada ujian agar bertambah cinta dan sayang kalian satu sama lain."
"Amanda sedang mengontrol diri, agar tetap sabar Bu. Amanda juga tidak ingin rumah tangga ini hancur, hanya saja Amanda butuh waktu, ingin sekali Amanda mempercayai Mas Rama, tapi itu sangat sulit ketika semua bukti menunjukkan Mas Rama bermain dengan wanita lain."
"Jika kamu meragukan Rama, apa kamu juga meragukan Ibu?" Ia menggenggam tanganku. "Percayalah pada Ibu, Rama tidak melakukan hal itu, wanita yang paling berharga untuknya ada dua, yaitu Ibu dan kamu. Dia tidak akan menyakiti orang yang disayanginya, meskipun Ibu akui dunia bisnis tidak jauh dari wanita bayaran mungkin itu menjadi salah satu gaya hidup para pengusaha, tapi tidak untuk Rama, Ibu yakin dengan pendidikan agama sedari kecil yang Ibu tanamkan padanya akan selalu ia jadikan pegangan hidup untuknya."
"Tapi bukti dan perkataan om Herman?"
"Herman adalah tetangga dekat Ibu saat Rama kecil, almarhum ayahnya Rama tidak dekat dengannya dengan alasan kepribadian om Herman yang tidak ia sukai, tapi bukan dengan begitu beliau melarang anaknya bermain dengan Tasya. Tasya salah satu teman perempuan yang mendekati Rama dan mengikuti Rama kemanapun. Rama kecil terkadang marah ketika Tasya terus saja mengikutinya. Namun, semua berubah ketika Ibu kandung Tasya meninggal dalam sebuah kecelakaan, Tasya sangat terpuruk dengan kesedihan saat itu. Sejak saat itu Rama menuruti semua keinginan Tasya dan berusaha menghiburnya di kala Tasya sedih, ketergantungan Tasya terhadap Rama semakin besar ketika mereka dewasa, padahal Rama termasuk acuh terhadapnya tapi Tasya sangat agresif pada Rama, Ibu yang melihat sendiri keagresifan Tasya. Ia tidak segan menyakiti perempuan yang mendekati Rama."
"Benarkah Bu?"
"Iya, Amanda. Percayalah pada Ibu jika kamu tidak mempercayai Rama saat ini."
"Aku membutuhkan waktu untuk menerima dan meyakinkan semuanya, Bu."
"Hal yang sangat wajar jika kamu membutuhkan waktu, karena ini tidak mudah untukmu, Ibu sangat mengerti. Tapi jangan terlalu lama, karena selalu ada pihak ketiga dibalik renggangnya hubungan suami dan istri."
"Iya, Bu, akan Amanda usahakan meyakinkan semuanya, jika Amanda belum mempercayai Mas Rama, setidaknya Amanda akan mempercayai ucapan Ibu."
"Terimakasih sayang, Ibu menyayangimu seperti anak sendiri, jangan kecewakan Ibu dan Atma, bahagia lah selalu." Ibu memelukku erat, tidak terasa air mata jatuh dari pelupuk mata, air mata bahagia, karena memiliki sosok seorang Ibu yang benar-benar menyayangi Aku.
🌹🌹🌹🌹🌹
Rama
vote Thor ✌️