[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Berkat obat tidur yang ia beli semalam, Gabby dapat berselancar dengan mudah ke alam mimpinya. Ia hanya bisa berharap semoga George tak akan mengatakan sisi lain dari dirinya kepada orang lain. Karena sisi lainnya menunjukkan kelemahan yang ia miliki.
Pagi menyapa, burung-burung telah berkicau membangunkan siapa saja yang masih setia bergelung di bawah selimut.
“Engh ....” Gabby meregangkan otot-otot tubuhnya.
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu diketuk terdengar nyaring ditelinga Gabby. Ia langsung beranjak turun dari ranjang untuk membuka pintu.
Klek!
Gabby menghembuskan nafasnya malas, ia ingin sekali langsung menutup pintunya lagi. Namun sudah dicekal oleh George.
“Apaan sih, ganggu hidupku terus!” seru Gabby. Ia merasa terusik dengan George yang selalu saja muncul di hadapannya, entah itu disengaja ataupun tidak.
George juga tak tahu kenapa dirinya selalu saja ingin dekat dengan Gabby. Seolah nalurinya yang menuntun jiwanya. “Aku cuma mau kasih tahu, kita akan pergi jalan-jalan lagi, kau mau ikut atau tidak?” Ia tak menatap Gabby, meskipun matanya sangat ingin. Sekuat tenaga ia menahannya untuk mempertahankan citranya sebagai pria dingin.
“Tidak!” tolak Gabby dengan lantang.
Entah mengapa mendapatkan penolakan seperti itu membuat George sedikit kecewa. “Kenapa?” Ia pun kini mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik di hadapannya.
George akui, memang Gabby terlihat cantik meskipun dengan kondisi acak-acakan setelah bangun tidur. Ia gelengkan kepalanya untuk menepis fikirannya itu. Wanita tomboi dan kasar, bukan tipeku!
“Kenapa? Tentu saja karena aku tak mau dibonceng oleh kau!” tegas Gabby tanpa ragu menunjuk George dengan telunjuknya. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. “Kecuali jika kau menyewakanku satu motor lagi, atau aku yang mengendarai di depan, baru aku mau.”
“Oke, kau yang di depan.” Spontan saja George mengatakannya. Ia sungguh tak berfikir panjang dalam menjawab.
Gabby menaikkan sebelah alisnya, ada rasa tak percaya manusia seperti George mau mengalah begitu saja. Namun seketika ia tersenyum sinis, ada angin sepoi-sepoi untuknya membalas perbuatan George kemarin.
“Pergilah, aku akan bersiap-siap,” usir Gabby mengibaskan tangannya.
George tak langsung pergi, membuat Gabby membanting pintu dengan kasar.
Brak!
“Semoga aku tak berjodoh dengan wanita sepertinya,” gumam George sebelum ia berlalu meninggalkan kamar Gabby.
George, Davis, dan Diora sudah menunggu Gabby di resto yang ada di villa itu.
“Maaf, lama,” ujar Gabby sedikit merasa bersalah.
“Kau membuang waktu kami yang berharga ini,” kesal Davis yang sudah siap satu jam lalu di sana.
Diora menginjak kaki suaminya dan memberikan pelototan. Lalu ia mengulas senyuman untuk sahabatnya. “Tak masalah, kau tak apa-apa kan? Asisten dingin itu tak melakukan apapun denganmu, kan?” Ia mencecar Gabby, takut terjadi hal yang buruk dengan sahabatnya hingga membuatnya menunggu lama.
Gabby menatap sekilas ke arah George yang acuh dengannya, kemudian mengalihkan lagi ke Diora seraya bergeleng kepala. “Aku baik-baik saja,” bohongnya. Ia lama karena mandi harus menghindari lukanya dan dia juga harus mengganti perbannya sendiri.
“Syukurlah, kau tumben pakai celana panjang?” tanya Diora yang sedari tadi mengamati penampilan Gabby.
“Di sini panas, kulitku bisa hitam jika terpapar sinar matahari,” kilah Gabby. “Sudah, ayo kita berangkat,” ajaknya.
Mereka pun berjalan bersama menuju tempat parkir.
“Mana kuncinya?” Gabby menengadahkan tangannya ke hadapan George.
George langsung memberikan kunci motor itu. “Nih!”
Gabby memberikan senyum penuh artinya pada George, namun George sudah tahu arti dibalik senyuman itu. Pria itu pun membalas senyuman penuh arti juga pada Gabby yang membuat wanita itu memudarkan senyumannya karena tak tahu apa isi otak George.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor