Suatu hari Reka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Zikri, seorang laki-laki yang ia tolong karena memiliki penyakit gula atau diabetes.
Pertemuan kedua mereka berawal dari Reka diterima bekerja di perusahaan milik Zikri. Lalu mengetahui Zikri sudah memiliki istri dan anak perempuan yang menyebutnya "mamah". Namun setelah istrinya meninggal dunia, Zikri semakin ketat mendekati Reka.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Reka? akankah Reka melabuhkan hatinya pada Zikri?
"Maukah kamu menjadi ibu dari anakku?" tanya Zikri pada Reka.
Selamat membaca 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Artis
"Permisi, mak mau pesan lotek 2."
"Pedes ape kagak?"
"Mas kamu pedes gak?"
"Jangan terlalu pedes ya, sama minum air putih ya cin."
"Cin?"
"Iya cin, cinta," Reka pun terkekeh pelan saat mendengar Zikri memanggilnya dengan sebutan itu.
"Baiklah."
"Sedeng aje mak dua-duanye ye same air mineral botol 2 ye mak."
"Iye, udah sono duduk dulu ye. Biar mak bikinin loteknye."
"Oke mak."
Reka pun menarik Zikri ke meja yang nasih kosong. Warung Mak Perah ini sudah berdiri sejak Reka belum lahir. Saat Reka kecil, bunda dan ayah sering mengajak Reka makan disini. Selain makanannya enak, tempatnya pun cukup luas namun masih sangat kental nuansa betawi. Selain lotek, disini juga ada asinan betawi, pesor bumbu dan sayur dan masih banyak lainnya. Kalau menjelang malam biasanya warung ini pun menyediakan masakan yang benar-benar khas betawi yaitu gabus pucung.
"Mas, apa kamu punya pantangan makanan?"
"Pantangan? apa itu?"
"Maksudnya hal yang dilarang mas."
"Oh, paling aku gak bisa makan makanan manis. Ya kalau hanya mencicipi sedikit masih bisa tapi kalau banyak aku angkat tangan."
"Oh seperti itu, terus mas suka pedes gak?"
"Suka tapi tingkat rasa pedas disetiap lidah orang kan berbeda-beda, jadi ya aku suka pedas ya memang menurutku pedas mungkin bagi orang yang begitu menggilai pedas bukan apa-apa. Kamu sendiri suka makan pedas hun?"
"Eng.. gak terlalu sih, ya samalah kayak kamu. Agak aneh gak sih kalau aku asli betawi kamu juga kan asli Jakarta tapi aku manggilnya mas?"
"Menurutku sih sah-sah aja, selama kamu nyaman. Toh kamu juga ada keturunan Jawa kan?"
"Iye juga sih."
"Neng ini pake lontong kagak?" teriak mak Perah sembari menghaluskan bumbu dengan cobeknya.
"Mas kamu suka lontong gak? apa mau diganti nasi?"
"It's okay, aku gak usah pakai lontong ataupun nasi."
"Serius?" Zikri pun mengangguk.
"Mak pake lontong 1 porsi aje ye," teriak Reka spontan dari mejanya membuat ia mendapat tatapan tajam dari Zikri karena semua orang yang memakan di warung tersebut menoleh ke arah Reka.
"E..hehe..hehe maap ye maap."
"Lain kali kamu ke sana aja jangan teriak seperti itu. Kamu itu perempuan loh."
Reka menahan nafasnya setelah mendapat teguran dari Zikri. Meski nada bicara Zikri biasa saja, namun bagi Reka itu adalah sindiran keras baginya. Reka bersusah payah menelan salivanya.
"Maafin aku ya mas," Reka menunduk karena ia merasa tak kuasa melihat mata Zikri.
"Iya, aku maafin. Sekarang liat aku dong."
Dengan ragu Reka mengangkat wajahnya menatap wajah Zikri. Zikri tersenyum melihat tingkah Reka lalu meraih tangan Reka. Tiba-tiba seorang laki-laki yang membantu mak Perah di warung mengantarkan pesanan Reka ke mejanya.
"Silahkan teh, abang."
"Makasih ya."
Reka memberikan sepiring lotek dan sebotol air mineral kepada Zikri. Mereka pun menikmati makan siang bersama. Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun telah menyelesaikan makan siangnya.
Zikri pun membayarnya. Lalu keduanya keluar dari warung dan berjala menuju mobil.
Ceklek.
Reka dan Zikri sudah memasang seatbelt masing-masing.
"Sekarang mau kemana mas?"
"Bismillahirrohmanirrohiim, liat aja nanti."
Zikri langsung melajukan mobilnya sementara Reka langsung memasang wajah kecut. Zikri hanya terkekeh kecil saat ia melihat raut wajah Reka.
...🍂🍂🍂🍂...
...IVAN BRIDAL FASHION...
Reka langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat mobil yang Zikri kendarai telah terparkir rapih didepan butik mewah milih salah seorang selebritis yang cukup terkenal di negeri ini.
"Ayok."
"Mas yakin kita gak salah tempat tujuan?"
"Enggak, ayok."
Reka dan Zikri keluar dari mobil lalu berjalan bersamaan tak lupa Zikri menggenggam tangan Reka membuat Reka menatap Zikri sembari mengulas senyum tipis.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"
"Kami mau ketemu pemilik butik ini," ucap Zikri dengan raut wajah datar.
"Apakah sudah ada janji sebelumnya?"
"Sudah."
"Maaf atas nama siapa?"
"Zikri Prasetya Sakti."
"Baik, mohon ditunggu."
Pegawai butik itu pun langsung melakukan panggilan melalui telepon yang ada di meja. Tak lama pemilik butik tersebut pun datang menghampiri Zikri dan juga Reka.
"Bos!"
"Eh bang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ini calon bini lu bos?"
"Iya."
"Cantik bener, gak salah berarti ye ente nyarinye."
"Bisa aja om Igun."
"Mas ini bener Ivan Gunawan yang artis itu?" bisik Reka sembari menarik lengan Zikri.
"Iya benar. Kenalan dulu makannya. Dia ini anak sahabat mommy," Zikri sengaja menjawab dengan membesarkan nada suaranya sehingga Ivan Gunawan pun mendengarnya.
"Kenalan dulu dong calon nyonya Sakti. Aku Igun, salam kenal ya," Igun pun mengulurkan tangannya, dengan ragu-ragu Reka membalas uluran tangan Igun.
"Reka Mahasti, panggil aja Reka.. om.. Igun."
"By the way and the bus way.. ada ape nih kalian kemari ? ke gubuk ekye yang acakadul berundul ini."
"Bisa ada om, kita ke sini mau pesan sepasang pakaian pengantin."
"Kapan emangnye acaranye bos?"
"Ya kurang lebih 2 mingguan lagi lah om."
"Akhir tahun dong, sini sini ekye punya katalognya. Atau mbak Reka nya punya ramcangan sendiri? nanti sebisa mungkin ekye wujudin kalau semisal ada."
"Oh gak ada om Igun.. aku liat-liat katalognya dulu aja ya."
Kemudian Igun pun memberikan Reka dan Zikri katalog gaun pengantin dan juga toxedo. Reka menatap kagum Ivan Gunawan karena baru pertama kali ia melihat artis secara langsung. Kekaguman Reka bukan karena ia jatuh cinta pada orangnya namun pada setiap rancangan yang telah ia kumpulkan dalam beberapa album foto.
Ternyata aslinya om Igun baik juga ya. Gak kalah lucu sama yang di tipi. hihi.. MasyaAllah rancangannya bagus.. bagus banget.. pasti mahal deh ini.
Reka bersusah payah menelan salivanya saat ia lihat harga yang tertera disetiap foto tersebut.
Gila! ini harga kenape diatas dua ratus juta semuanye? perasaan kalo di rumah aye hajatan tinggal beres. Punya calon laki orang kaya sampe puyeng aye liat angka nol banyak bener.
"Eh bos, ekye turut berduka cita yey karena sewaktu istri yey meninggal ekye gak sempet dateng karena banyak pesenan."
"Iya gak apa-apa om," Zikri pun lalu melirik Reka sekilas.
"Tapi bos cepet juga yey udah langsung nemu penggantinya aja."
"Sebenernya Reka ini orang yang pernah ada di hidup saya. Jadi kita dipertemukan kembali."
"Yasalam.. ternyata sebelum bos nikah kalian udah pernah saling ketemu toh?"
"Kurang lebih begitu om," jawab Zikri dengan raut wajah datar.
Hampir setengah jam mereka memilih pakaian pengantin. Akhirnya Reka maupun Zikri menjatuhkan pilihan mereka pada warna silver yang berpadu padankan dengan putih.
"Terima kasih udah mempercayai rencana pernikahan kalian sama ekye. InsyaAllah jika kami akan semaksimal mungkin menyelesaikan tepat waktu," ucap Igun saat mereka telah berada di depan meja reservasi butik.
"Sama-sama om, oh iya untuk pakaian beskap sama kebaya menyusul ya om. Nanti sekalian sama pakaian orangtua dan juga kerabat dekat kami yang lainnya."
"Siap bos. Bisa diatur, semoga dilancarkan dan dimudahkan sampai hari pernikahan tiba."
"Aamiin ya Robbal'alamiin."
"Kalau begitu kami permisi om," pamit Zikri namun seketika tangannya langsung ditahan oleh Reka.
"Ada apa hunny?"
"Mas ih tadi cinta kenapa sekarang hunny!" pekik Reka seraya mencubit pelan lengan Zikri namun Zikri pun tertawa sedangkan Igun tersenyum melihat pasangan yang ada dihadapannya itu.
"Aku mau foto sama om Igun," pinta Reka malu-malu.
"Ya Allah, kirain kenapa. Kita foto bertiga ya?" pinta Zikri karena ia tak ingin Reka hanya foto berdua dengan Igun. Kemudian Reka pun mengangguk.
"Gita, tolong fotoin kita dong," ucap Igun pada salah satu pegawainya.
Zikri pun langsung memposisikan untuk berfoto memberi jarak antara Reka dan Igun. Igun maupun Reka langsung mengulum bibitnya seraya menahan tawanya saat Zikri berada di tengah-tengah mereka.
"Satu..duaa.. ciss.."
"Zikri.."
Bersambung..
semangat 💪