Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20.
“Pagi,” jawab Bu Retno singkat. “Kamu datang lebih awal.” Lanjutnya masih menatap sosok Aurely.
“Iya Bu, tapi Bu Retno lebih awal dari saya.” Ucap Aurely. Dan Bu Retno hanya tersenyum tipis.
Aurely berdiri beberapa langkah dari meja. Ia tidak langsung menyerahkan map itu. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menahannya.
“Bu Wiwid menitipkan pesan,” ucap Aurely hati-hati. “Surat lamaran ini… diminta diserahkan ke Ibu pagi ini.”
Ia maju satu langkah dan meletakkan map itu di atas meja, dengan hati hati. Tidak didorong, dan sudah pasti tidak dilempar.
Map itu diletakkan dengan rapi, di dekat buku Bu Retno.
Bu Retno menatap map itu beberapa detik tanpa menyentuhnya.
“Ya, Bu Wiwid juga sudah mengatakan pada aku. Dia hari ini belum bisa ke sini.” katanya.
“Iya, Bu. Saya tahu. Anaknya masih opname.”
Bu Retno mengangguk tipis. Tidak ada komentar lebih jauh.
Akhirnya ia membuka map itu. Membaca halaman pertama. Lalu kedua. Tidak tergesa. Setiap baris seolah diberi bobot.
Aurely berdiri tegak, tapi lututnya terasa lemah.
Beberapa karyawan sudah masuk membersihkan lantai dan etalase. Rolling door toko pun sudah dibuka. Suara karyawan karyawan di rumah makan dan ruang belakang sudah terdengar. Tapi suasana di sudut show room terasa terpisah dari keramaian.
Bu Retno menutup map itu perlahan. “Kamu tahu,” katanya datar, “surat ini tidak menjamin apa pun.”
“Iya, Bu,” jawab Aurely tanpa ragu. “Saya paham.”
“Kami tidak butuh orang yang hanya rajin di depan atasan.”
Aurely menelan ludah. “Saya tidak berniat begitu, Bu.”
Bu Retno menatapnya lurus. “Bu Wiwid memang yang memiliki usaha ini.” Ucap Bu Retno pelan, “Tapi aku ikut memberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan penting.” Lanjutnya sambil masih menatap tajam wajah Aurely.
“Termasuk dalam penerimaan karyawan.” Ucapnya lagi lebih tegas.
Aurely mengangguk. “Iya Bu.
“Okey, sekarang kamu kembali kerja.” Kata Bu Retno sambil memasukkan map Aurely ke dalam laci.
“Baik Bu, saya hari ini kerja di mana Bu?” tanya Aurely , “saya belum punya jadwal pasti. “ ucapnya lagi.
“Kerja di ruang packing, hari ini ada banyak pesanan.” Jawab Bu Retno tanpa menoleh ke arah Aurely.
Mendengar jawaban Bu Retno, hati Aurely begitu lega. Kerja di ruang packing itu artinya, ia bisa bernafas lega. Sebab tidak satu ruang dengan Bu Retno. Yang terasa selalu mengawasi setiap ucapan dan gerak geriknya.
“Baik Bu.” Ucap Aurely lalu cepat cepat membalikkan tubuhnya.
Aurely terus melangkah menuju ke ruang packing. Dadanya masih berdebar. Tangannya masih dingin. Tapi ada satu hal yang kini jelas, surat itu sudah berpindah tangan. Tidak ada lagi yang bisa ia kendalikan selain sikap dan kerjanya sendiri.
Aurely mengenakan apron cokelat muda dan mengambil posisi di sudut ruang packing. Beberapa karyawan sudah lebih dulu bekerja. Suara kardus dilipat, dan plastik pembungkus saling bergesek memenuhi ruangan.
“Rel, sini aja,” panggil Santi karyawan yang sebaya dan rumahnya agak dekat, “dekat aku .”
Aurely mendekat. “Makasih.”
Mereka mulai bekerja berdampingan. Aurely memasukkan mika tempat makanan ke dalam kardus, lalu membungkus sendok dengan plastik kecil. Tangannya masih gemetaran, tapi hasil kerja tetap rapi.
“Tanganmu kok gemetaran Rel.” Ucap Santi selanjutnya sambil melirik tangan Aurely.
“San…” suara Aurky agak ragu-ragu.
“Hmm?” Santi tidak menoleh, masih fokus pada pekerjaannya.
“Bu Retno itu…” Aurely berhenti sebentar, mencari kata. “Orangnya memang selalu begitu ya?”
Santi meliriknya sekilas. “Begitu gimana?”
“Serius. Terus… rasanya kayak semua diperhatiin.”
Santi menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Dia kan harus bertanggung jawab di sini, kalau nggak ada Bu Wiwid .”
“Beliau galak ya?” tanya Aurely pelan, hampir berbisik.
“Enggak juga,” jawab Santi sambil merapikan kardus. “Lebih ke… tegas.”
Aurely mengangguk pelan. “Aku takut salah.”
“Wajar, aku juga takut salah.” Santi menurunkan suaranya.
Aurely terdiam sejenak. Tangannya tetap bekerja, tapi pikirannya kembali pada ucapan Bu Retno.
“Beliau pernah… nentuin nasib orang?” tanya Aurely hati-hati.
Santi terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Pernah. Ada karyawan lama yang dipindah. Ada juga yang nggak diperpanjang.”
“Itu yang aku takutkan,” ucap Aurely jujur. “Aku sedang butuh pekerjaan, bantu orang tua.”
Santi menatap Aurely sebentar. “Kalau kamu niatnya kerja bener, harusnya aman.”
Aurely mengangguk, tangannya masih terus kerja, “Tapi aku pernah salah.” Ucapnya lirih.
“Aku juga pernah salah Rel,” lanjut Santi, “yang penting jangan diulangi lagi.”
Aurely menarik napas pelan. Sedikit berat di dadanya terasa berkurang.
“Terima kasih, San,” ucapnya tulus.
“Santai. Semua juga pernah deg-degan pertama kali.” Ucap Santi sambil tersenyum, “Tapi mungkin Bu Retno sendang seleksi calon mantu.” Lanjutnya sambil menyikut pinggang Aurely.
Pipi Aurely merona, “Apa sih kamu San..” Ucapnya lirih tersipu. Santi memang sudah tahu Rizky yang menolong Aurely saat terjatuh, dan Rizky yang mengantar Aurely pulang.
Aurely dan Santi kembali fokus pada pekerjaannya. Makanan makanan yang harus dimasukkan ke dalam kardus sudah berdatangan dibawa masuk oleh karyawan bagian produksi.
Siang hari jam istirahat makan siang pun tiba. Aurely tetap duduk di tikar ruang packing. Ia bernafas lega. Setengah hari telah berlalu tanpa kesalahan.
Akan tetapi jantung Aurely kembali berdetak lebih kencang. Karena ada satu sosok manusia yang masuk ke dalam ruang packing itu. Bukan karyawan catering. Namun bukan juga Bu Retno.
Rizky berdiri di ambang pintu ruang produksi. Wajahnya terlihat lelah. Pandangannya menyapu ruangan, tampak sedang ada yang ia cari.
“Mas Rizky. “ gumam Aurely dalam hati, sambil menoleh ke arah Rizky.
“Mas gimana Rembulan?” tanya beberapa karyawan.
“Sudah turun demamnya.” Jawab Rizky. Sesaat pandangan matanya bertemu dengan Aurely..
“Mbak...” ucap Rizky sambil melangkah mendekati Aurely yang duduk di pojok.
“Ada apa Mas?” tanya Aurely tak jadi membuka kotak makan.
“Mbak,” jawab Rizky sambil duduk di dekat Aurely. “Catering ini akan membuka cabang baru.” Lanjutnya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Aurely menoleh. “Di mana Mas?”
“Di kampus”
“Kampus mana?”
“Kampus wilayah kecamatan sini dulu. Kampus di luar kota. Tapi lumayan. Banyak kos-kosan. Ramai mahasiswa.”
Aurely mengangguk. Itu masuk akal kios catering dengan kampus pasti ramai.
“Terus?”
“Aku sewa satu kios,” lanjut Rizky. “Buat cabang catering. Skala kecil dulu. Dan aku mengusulkan kamu di sana.”
Aurely terdiam sejenak.
“Mas serius?”
Rizky mengangguk.
“Serius.”
“Kenapa aku?” tanya Aurely jujur.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting