Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 34
Setelah membereskan meja makan yang saat itu bertambah satu anggota baru, Suci keluar dari dapur dengan membawa pakaian untuk dijemur di belakang rumah, ia tampak lebih semangat saat merasakan embun dan menghirup aroma wangi dari taman bunga di sekitaranya. Satu per satu pakaian dengan warna yang berbeda-beda itu digantungkannya.
"Perlu bantuan?" Fery datang dan ikut menjemur pakaiannya, ia berdiri di samping Suci yang masih acuh seolah tidak ada Fery di sana.
Suci mengambil keranjang pakaian yang sudah kosong itu, tapi Fery lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan Suci.
"Apa'an sih, Kak? Ganggu aja!" Suci masih saja ketus dan merasa risih dengan semua tingkah Fery.
"Aku akan menyingkirkan semua penghalang diantara kita!" Jawab Fery, sebelum Suci semakin menjauh, Fery merengkuh dan memeluk Suci yang sudah sangat dirindukannya, dari kemarin ia sudah berusaha menahan diri, tapi saat ini Fery tidak ingin melepaskan Suci.
Suci memberontak dan terus memukul dada Fery, "lepaskan aku, Kak. Jangan seperti ini!" Seru Suci yang tidak mau diam tapi Fery semakin memeluknya erat.
"Biarkan seperti ini, aku mohon. Percaya atau tidak, aku sangat merindukanmu. Biarkan aku memelukmu," pinta Fery seakan ia takut kehilangan Suci untuk yang kedua kali.
Suci tidak lagi memberontak, ia membiarkan Fery memeluknya, bahkan Suci sudah merasakan kalau Fery mencium puncak kepalanya, namun Suci masih enggan membalas pelukan Fery.
"Aku tahu, kalau kamu sudah memaafkan aku. Bahkan aku masih ingat semua kata cintamu, aku tahu, saai ini tidak mudah bagimu untuk menerima masa laluku, aku minta kesempatan kedua, ikutlah pulang ke Indonesia, kita akan menikah di sana."
Suci sudah tidak tahan dengan semua ini, karena sejujurnya ia juga sangat merindukan Fery, tidak mudah baginya untuk melupakan cinta pertamanya yang sudah kandas, dan sekarang Fery datang dan memeluknya sangat erat, Suci sudah mulai menangis.
"Sudah banyak waktu yang kita buang percuma, sudah banyak impian kita yang hancur begitu saja, aku tidak akan pernah berhenti dan memohon untuk mendapatkanmu lagi, ikutlah denganku, aku tahu kalau kamu masih mencintaiku, perasaanku pun tidak pernah berubah terhadapmu."
Tangisan Suci semakin pecah saat mendengar semua ucapan Fery, ia mendongak menjadikan keduanya saling beradu pandang, saat itu mata Fery juga sudah mulai berkaca-kaca.
"Aku akan menikah, Kak!"
Fery merenggangkan pelukannya, mendadak tubuhnya menjadi lemas, ini untuk yang kedua kalinya Fery mendengar gadisnya akan menikah, akankah dirinya benar-benar sudah kehilangan cinta Suci?
"Siapa dia?"
"Kakak, tidak mengenalnya!"
"Justru itu aku tanya, siapa dia?"
Suci gamang seperti memikirkan sesuatu, dan tanpa berniat menjawab, ia mengambil keranjang pakaian dan kembali masuk ke dapur, tapi Fery mengejarnya.
"Suci, tunggu! Kita harus bicara, jangan lagi menghindar seperti ini?" Fery menarik tangan Suci, tapi Suci menepisnya.
"Ada apa ini?" Tanya Ibu Suci yang baru saja masuk ke dapur dan saat itu ia mencium gelagat yang tidak biasa diantara Fery dan Suci.
"Kita cuma ngobrol, Bu," jawab Suci, ia melirik Fery. Fery hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah ibu mau belanja, kamu jaga rumah, ya!" Ibu Suci pamit, kalau saja Suci tidak ada janji dengan seseorang, lebih baik ia ikut dari pada harus tinggal berdua di rumah dengan Fery.
💮💮💮💮
Matahari sudah mulai menampamkan wujudnya, cahayanya menyinari taman bunga yang ada di depan rumah Yogi, bunga-bunga cantik dengan warna warni yang cerah ini sudah mekar di musim semi, dua puluh menit yang lalu, Yogi keluar rumah dengan membawa Alice bersamanya, sementara Hani dan Ibu Suci belanja keperluan dapur mereka.
Tidak ada satu pun bunga yang dilewati Suci, gadis yang memakai dress warna putih yang panjangnya hanya sampai selutut ini tampak memegang gembor untuk menyiram tanaman, sementara Fery menyandarkan punggungnya di kusen pintu, laki-laki yang usianya sudah semakin matang ini, melipat kedua tangan di dada dan terus memperhatikan setiap gerakan Suci yang saat ini memunggunginya.
Gerakan Suci terhenti dan ia meletakkan gembor yang masih berisi setengah air itu ke tanah, saat melihat mobil yang cukup mewah warna putih, baru saja berhenti di tepi jalan rumah itu, seorang laki-laki muda keluar dari mobil dan membuka kaca mata yang tadi bertengger di hidungnya, ia tersenyum saat melihat Suci yang sudah menyadari kedatangannya, sembari berjalan digantungkannya tangkai kaca matanya di cela kancing kemejanya.
"Bunga yang cantik." Laki-laki yang bernama David ini memuji dan memberikan paper bag untuk Suci.
"Ini untukku?" Suci membuka dan melihat sekilas isinya, terdapat gaun cantik di dalam paper bag itu.
"Pakai di hari pernikahan nanti, ya!"
"Terima kasih, aku pasti akan memakainya."
David dan Suci terlibat percakapan, saat itu Fery cemburu dan ingin menghampiri, namun tiba-tiba ponselnya berdering, sudah tertera nama Ferel yang menghubunginya
"Hallo, sayang!" Fery kembali masuk ke dalam rumah dengan masih mengaktifkan panggilan vidio itu, ia duduk di sofa dan tersenyum saat melihat wajah Ferel terpampang nyata.
"Papa, kapan pulang? Felel lindu, Papa." Ferel merengek karena merindukan Fery.
"Sebentar lagi, Papa pulang!"
"Kenapa lama jemput Mama Felel?"
Fery menggaruk pelipis matanya, ia teringat akan janjinya menjemput Suci, namun sayang Suci sedang bersama dengan calon suaminya.
"Itu Mama Felel 'kan, Pa...? Mama Suci!"
Ferel teriak saat melihat Suci yang saat itu ada di belakang Fery, sedangkan langkah Suci terhenti saat mendengar namanya disebut.
"Hallo, Mama...!" Ferel melambai ke kamera, di mana wajah Suci sudah terpampang nyata disana.
Fery menoleh lalu ia menarik tangan Suci dan mengajaknya duduk disampingnya, Fery semakin mengarahkan kamera itu tepat di wajah Suci.
"Suci, kamu apa kabar?" Nyonya Farida sudah menyapa, ia semakin yakin kalau Suci dan Fery memiliki hubungan.
"Baik, tante," jawab Suci singkat, ia masih takjub melihat wajah polos anak kecil yang memanggilnya mama.
"Mama, kapan puyang? Felel lindu, mama huaaaaaa mama felel lindu," Ferel sudah menangis, walaupun belum bertemu secara langsung tapi anak ini sudah yakin kalau Suci memang mamanya.
"Sayang jangan nangis ... anak papa gak boleh nangis!" Fery mencoba menenagkan anaknya, mendengar itu Suci menjadi yakin kalau anak tampan ini adalah anak yang sudah dilahirkan Tasya.
"Huaaaaa puyang, Pa ... Felel mau Mama Suci. Mama puyang, Ma huaahuuuuu...." Ferel masih menangis dan melihat itu Fery menjadi tidak tega, lalu Fery mengakhiri vidio itu.
Fery dan Suci masih duduk berdampingan, mereka menjadi canggung, saling diam untuk beberapa saat, dan menciptakan keheningan diruangan itu.
"Dia ... Tasya. Apa dia anak Tasya?" Suci bertanya dan menantikan jawaban Fery.
"Iya. Namanya Ferel dan dia anakku!" Jawab Fery.
Lalu Suci berkata, jangan lupa jempol digoyang gaes.....
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah