Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gudang dijalan kencana
Pesan itu membuat tangan Nayla terasa mati rasa.
**Datang ke gudang lama di Jalan Kencana pukul sebelas. Datang sendiri. Jangan bawa polisi. Jangan beri tahu siapa pun.**
Di bawahnya, kalimat terakhir masih terlihat jelas.
**Kalau kamu tidak datang, dia tidak akan pulang.**
Nayla membaca pesan itu berulang kali, seolah kata-katanya akan berubah jika ia menatapnya cukup lama.
Namun tidak.
Ancaman itu tetap nyata.
Raka mungkin benar-benar berada di tangan seseorang yang ingin membalas dendam.
Dan orang itu ingin Nayla datang.
“Tidak,” kata Pak Hendra dengan tegas. “Kamu tidak akan pergi.”
Nayla mengangkat wajah. Air mata masih membasahi pipinya.
“Tapi mereka punya Pak Raka.”
“Kita tidak tahu apakah foto itu benar-benar menunjukkan dia ditahan,” jawab ayahnya. “Bisa saja itu jebakan untuk membawa kamu ke sana.”
“Jamnya milik Pak Raka, Pa.”
“Papa tahu.” Pak Hendra menahan emosi dalam suaranya. “Justru karena itu kita tidak boleh bertindak gegabah.”
Bu Ratih menggenggam tangan Nayla.
“Mama tahu kamu takut terjadi sesuatu pada Pak Raka,” katanya pelan. “Tapi orang yang mengirim pesan itu ingin memisahkan kamu dari orang-orang yang bisa melindungi kamu.”
Nayla menunduk.
Ia tahu Mama dan Papa benar.
Datang sendiri ke gudang kosong bukan tindakan berani. Itu tindakan berbahaya.
Namun bayangan Raka dalam ruangan gelap membuat dadanya semakin sesak.
“Kalau aku tidak datang dan dia benar-benar—”
“Kita akan cari dia dengan cara yang benar,” potong Pak Hendra. “Papa sudah menghubungi teman Papa. Sekarang kita beri semua bukti ini kepada pihak yang berwenang.”
Nayla menatap ayahnya.
“Tapi pesan itu bilang jangan bawa polisi.”
“Orang yang melakukan kejahatan selalu berkata begitu.”
Kalimat tersebut membuat Nayla terdiam.
Ponselnya kembali bergetar.
Dimas menelepon.
Nayla segera mengangkat.
“Halo, Mas Dimas.”
“Bu Nayla, saya baru menerima informasi dari Pak Hendra.” Nada Dimas terdengar sangat serius. “Tolong jangan pergi ke alamat itu.”
“Mereka punya Pak Raka.”
“Kami sedang memeriksa lokasi gudang dan nomor pengirim. Tim keamanan sudah menghubungi kepolisian.”
Nayla menarik napas gemetar.
“Pak Raka benar-benar diculik?”
“Kami belum bisa memastikan. Tapi mobil beliau ditemukan sekitar enam kilometer dari apartemennya.”
Nayla menutup mata.
“Di mana?”
“Di dekat jalan menuju kawasan industri. Tidak ada tanda kecelakaan, tetapi ponsel beliau tidak ditemukan di dalam mobil.”
Dunia Nayla seperti berhenti.
Pagi tadi, Raka mungkin keluar dari rumah seperti biasa. Mungkin ia tidak menyangka ada orang yang menunggunya. Mungkin ia pergi sendirian agar tidak melibatkan siapa pun.
Lalu seseorang mengambilnya.
Karena ia membela Nayla.
“Mas Dimas,” kata Nayla dengan suara pecah, “ini salah saya.”
“Bukan, Bu.” Nada Dimas menjadi tegas. “Jangan menyalahkan diri sendiri. Orang yang melakukan ini bertanggung jawab penuh atas tindakan mereka.”
Kalimat itu mirip dengan yang selalu Raka katakan kepadanya.
Namun kali ini, Nayla sulit memercayainya.
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Berikan semua pesan, rekaman, foto, dan informasi lokasi kepada polisi. Jangan membalas pengirim lagi tanpa arahan dari petugas. Dan jangan keluar dari rumah.”
Nayla menatap pesan di layar.
Pukul sebelas.
Masih ada sekitar dua jam.
Jika pelaku tidak menerima jawaban, apa yang akan terjadi pada Raka?
“Baik,” jawab Nayla pelan.
Panggilan berakhir.
***
Satu jam kemudian, rumah orang tua Nayla didatangi dua petugas kepolisian berpakaian sipil dan seorang petugas dari unit siber.
Pak Hendra mengajak mereka ke ruang tamu.
Nayla duduk di sofa dengan Bu Ratih di sisinya. Di atas meja, ponselnya diletakkan bersama catatan semua ancaman yang telah ia simpan.
Petugas perempuan bernama Inspektur Wina memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“Kami akan membantu memeriksa semua bukti yang Ibu terima,” katanya tenang. “Kami tahu situasi ini membuat Ibu takut. Tapi mohon ikuti arahan kami.”
Nayla mengangguk.
Petugas siber memeriksa pesan, nomor pengirim, rekaman suara, dan metadata foto. Ia meminta Nayla tidak menghapus apa pun dari ponselnya.
“Nomornya memakai kartu prabayar,” kata petugas itu setelah beberapa saat. “Namun lokasi pengiriman terakhir mengarah ke area Jalan Kencana.”
Jantung Nayla berdebar.
“Jadi Raka memang ada di sana?” tanyanya.
“Kami belum dapat memastikan,” jawab Inspektur Wina. “Tapi kami akan memeriksa lokasi itu.”
“Kalau mereka melihat polisi, mereka bisa menyakiti Pak Raka.”
“Kami memahami risikonya.” Inspektur Wina menatap Nayla. “Karena itu, kami tidak akan bertindak terbuka. Tetapi Ibu harus tetap berada di sini.”
Nayla memandang jam di dinding.
Pukul 10.21.
Kurang dari empat puluh menit menuju waktu yang diminta pelaku.
Ponselnya kembali bergetar.
Nomor tidak dikenal menelepon.
Semua orang di ruang tamu langsung menegang.
Inspektur Wina memberi isyarat agar Nayla mengangkat panggilan dan mengaktifkan pengeras suara.
Nayla menarik napas dalam, lalu menekan tombol terima.
“Halo.”
“Sudah siap berangkat?” suara perempuan terdengar dari seberang.
Nayla mengenal nada itu.
Siska.
“Saya tidak akan datang sendiri ke tempat kosong,” jawab Nayla. Suaranya gemetar, tetapi ia berusaha menjaga kata-katanya.
Terdengar tawa pendek.
“Kamu pikir kamu punya pilihan?”
“Saya mau bicara dengan Pak Raka.”
Hening beberapa detik.
Lalu terdengar suara seperti benda diseret.
Setelah itu, suara Raka terdengar sangat pelan dan serak.
“Nayla… jangan datang.”
Air mata Nayla langsung jatuh.
“Pak Raka!” panggilnya.
Ada suara benturan.
Kemudian panggilan kembali diambil Siska.
“Dengar?” katanya. “Kalau kamu tidak datang sebelum pukul sebelas, aku tidak menjamin dia masih bisa bicara lagi.”
Nayla menggenggam ponselnya.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
“Karena semua orang selalu memilih dia.” Suara Siska berubah tajam. “Raka selalu terlihat bersih, benar, dan berkuasa. Dia menghancurkan Bayu. Sekarang dia mencoba menghancurkan aku. Dan kamu? Kamu datang membawa bukti, membuat Arga takut, membuat semuanya runtuh.”
“Saya tidak menghancurkan hidup kamu.”
“Kamu ada di jalan aku.”
Panggilan terputus.
Ruang tamu kembali sunyi.
Nayla menangis sambil menutup mulutnya.
Inspektur Wina segera memberi instruksi kepada petugas lain melalui alat komunikasi. Suaranya cepat, tetapi tetap terkendali.
“Kita punya suara korban. Lokasi kemungkinan sesuai area gudang. Tim bergerak.”
Nayla menatap petugas itu.
“Saya mau ikut.”
“Tidak.”
“Tapi Siska meminta saya datang.”
“Dan itu alasan utama Ibu tidak boleh datang.” Inspektur Wina menatapnya tegas. “Pelaku ingin menggunakan Ibu sebagai alat tekan. Kami tidak akan membiarkan itu.”
“Apa saya hanya menunggu di sini?”
“Ibu membantu dengan tetap aman. Jangan meremehkan itu.”
Kalimat tersebut terasa sulit diterima, tetapi Nayla tahu ia tidak memiliki pengalaman menghadapi situasi berbahaya. Ia tidak akan membantu jika nekat. Ia hanya akan menambah korban.
Pukul 10.43, polisi mulai bergerak.
Pak Hendra berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Bu Ratih terus memegang tangan Nayla. Nayla sendiri duduk diam dengan ponsel di pangkuan, menatap layar tanpa benar-benar melihatnya.
Setiap menit terasa panjang.
Pukul 10.51.
Pukul 10.56.
Pukul 11.00.
Tidak ada kabar.
Pukul 11.07.
Ponsel Nayla berbunyi.
Nomor tidak dikenal mengirim pesan.
**Nomor tidak dikenal:** Kamu tidak datang.
Nayla menahan napas.
Pesan kedua masuk.
**Nomor tidak dikenal:** Sekarang lihat akibatnya.
Sebuah foto dikirim.
Foto itu memperlihatkan Raka duduk di lantai gudang dengan tangan terikat di belakang. Wajahnya terlihat pucat. Ada luka kecil di pelipisnya.
Nayla menjerit kecil.
Bu Ratih langsung memeluknya.
Pak Hendra mengambil ponsel dengan wajah tegang.
“Polisi harus lihat ini,” katanya.
Nayla mengangguk sambil menangis.
Ia tidak tahu lokasi persis foto itu diambil. Tidak tahu apakah Raka baik-baik saja. Tidak tahu apakah polisi sudah cukup dekat.
Namun di balik rasa takut yang nyaris melumpuhkannya, Nayla mengingat satu hal.
Raka menyuruhnya tidak menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain.
Dan jika ia ingin benar-benar menghormati pria itu, Nayla harus tetap berpikir jernih.
Ia membuka foto tersebut lagi.
Di belakang Raka, terdapat tumpukan kardus tua. Di dinding, tampak logo pudar berbentuk huruf **K** berwarna biru. Di sudut lantai, ada stiker merah dengan tulisan yang tidak sepenuhnya jelas.
Nayla memperbesar gambar.
Huruf-hurufnya perlahan terlihat.
**Kencana Logistik Blok C.**
Nayla langsung berdiri.
“Pa,” katanya dengan napas gemetar. “Aku tahu tempatnya. Ini bukan sekadar Jalan Kencana.”
Pak Hendra menoleh.
Nayla menunjuk stiker dalam foto.
“Gudang Kencana Logistik, Blok C.”
Inspektur Wina yang baru kembali untuk mengambil informasi tambahan segera melihat layar ponsel Nayla.
Wajahnya berubah serius.
“Ini petunjuk yang bagus,” katanya.
Ia langsung memberi instruksi melalui radio.
“Tim satu, periksa Kencana Logistik Blok C. Ulangi, Blok C.”
Nayla berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa bisa melakukan sesuatu.
Bukan dengan datang ke gudang.
Bukan dengan mempertaruhkan dirinya.
Tetapi dengan melihat, berpikir, dan membantu menemukan Raka.
Namun beberapa detik setelah instruksi itu dikirim, ponsel Nayla kembali bergetar.
Panggilan video dari nomor Siska.
Nayla menatap layar dengan jantung berdetak liar.
Inspektur Wina mengangguk singkat.
“Angkat,” katanya. “Dan buat dia tetap berbicara.”