Siapa yang ingin bercerai? Bahkan jika hubungan pelik sekalipun seorang wanita akan berusaha mempertahankan rumah tangganya, terlebih ada bocah kecil lugu, polos dan tampan buah dari pernikahan mereka.
Namun, pada akhirnya dia menyerah, ia berhenti sebab beban berat terus bertumpu pada pundaknya.
Lepas adalah jalan terbaik meski harus mengorbankan sang anak.
Bekerja sebagai sekertaris CEO tampan, Elen tak pernah menyangka jika boss dingin yang lebih mirip kulkas berjalan itu adalah laki-laki yang menyelamatkan putranya.
laki-laki yang dimata Satria lebih pantas dipanggil superhero.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - PESTA CASSANDRA DAN NOAH
Divine menatap Wijaya lama, sepertinya baik Wijaya maupun Morena sama sekali tak keberatan jika ia bersama Elen.
Ia jadi kembali berfikir, mungkinkah Cassandra memang tak pernah sedikitpun tulus mencintainya? Mungkinkah benar kata Bunda jika wanita itu hanya ingin mendampingi penerus tahta?
Memikirkan hal itu membuat kepalanya semakin sakit.
"Apa Ayah setuju jika aku bersama Elen?" tanyanya pada Wijaya.
"Kenapa tidak setuju? Elen bukan hanya cantik, tapi juga baik dalam hal apapun," puji Wijaya, kembali menyeruput tehnya.
Divine mengangguk, ia pamit menyusul Morena.
Morena selesai mandi, akan tetapi wanita paruh baya itu bukan kembali bergabung dengan anak dan suaminya tapi malah pergi ke ruang baca. Membiarkan pelayan yang menyiapkan makan malam untuk mereka. Hari ini, hanya ingin bersantai sejenak tanpa memikirkan apapun.
"Bunda marah?" tanya divine, ia sudah berusaha mendorong pelan kursi rodanya sampai ruang baca. Mendapati wanita tercantiknya itu sedang melamun menatap kosong sebuah buku.
"Enggak, siapa yang marah?" Morena melembut, ia tak tega jika harus marah-marah dengan Divine.
Terlebih kondisi Divine sedang terpuruk.
"Maaf," ujar Divine.
Morena mendekat, berjongkok di hadapan Divine mensejajarkan tubuhnya. Bagi Morena, sebesar apapun Divine tetaplah putra kecilnya.
"Bunda hanya mau yang terbaik buat kamu Sayang. Lusa datanglah bersama kami ke pertunangan Noah. Bagaimanapun, kalian adalah sepupu dan kita masih satu keluarga," ujar Morena hanya mampu diangguki lesu oleh Divine.
Terus terang, ia belum siap menghadapi semuanya. Menghadapi Cassandra dan Noah yang bahagia.
"Ya, Bunda."
***
Tiba hari dimana pertunangan Noah dan Cassandra tiba. Bukan hanya Divine dan keluarganya yang akan datang. Rafael bahkan juga harus menghadirinya malam nanti.
"Elen, aku butuh bantuanmu!" ujar Rafael.
"Apa?" tanya Elen.
"Sini!" Rafael mengisyaratkan mendekat, sebab saat ini mereka tengah makan siang bersama di kantin kantor.
"Apa???" kejut Elen dengan suara tinggi hingga memancing sekitar menoleh ke arahnya.
"Please," mohon Rafael.
"Jangan gila, aku nggak mau kalau tanpa Satria!" tegas Elen tak setuju. Pasalnya, Rafael meminta dirinya turut datang ke acara pertunangan Noah dan Cassandra untuk menjadi pasangannya.
"Ya ajak Satria juga, kenapa?" Rafael mengedip-ngedipkan matanya memohon.
"Ajak Keyra saja lah, dia kan single!" usul Elen.
"No! Aku malu kalau harus mengajaknya," ujar Rafael tak menyerah.
"Hm, baiklah! Tapi bajuku..." Elen kembali berfikir, ia mana punya baju yang pantas untuk ke acara kalangan atas.
"Aku beliin, buat kamu dan Satria. Deal ya, kali ini saja!"
"Hm, kang maksa. Iya deh iya," ujar Elen.
Pulang kerja, Rafael sengaja mengajak Elen mampir ke butik. Sebuah butik merk branded yang harganya mungkin diatas satu juta perbajunya.
"Rafael, gak usah repot-repot! Aku bisa beli sendiri," ujar Elen tak enak saat assisten pribadi boss itu memberinya satu set jazz untuk Satria dan satu buah gaun pilihannya untuk Elen.
Elen belum tahu jika Divine lah yang memerintahkannya.
Bukan kaleng-kaleng, lebih dari sepuluh juta ia mentransfer Rafael hanya demi membawa Elen dan Satria datang ke acara Noah.
"Elen! Dengarkan baik-baik, gaji kamu simpan saja. Ini masalah laki-laki, kamu cukup bilang iya dan semua akan beres."
"Hah?" Elen membola karena sama sekali tak paham maksud pembicaraan Rafael.
"Sekarang masuklah, dan bersiap. Jam tujuh aku jemput," ujarnya lagi.
"Momy..." teriak Satria menyambut kehadiran Momy-nya.
Keyra celingukan, mencari sosok Rafael barangkali pria itu ikut kesini.
"Ehm, sudah pulang kok. Dia gak sempet nganter aku dan Satria karena buru-buru," jelas Elen yang tahu maksud pergerakan Keyra.
"Aku nggak nyari kok, tadi cuma penasaran aja kamu pulang pake apa!" alibi Keyra, padahal yang dikatakan Elen benar adanya.
Setelah mengobrol lama, Elen akhirnya pamit pulang bersama Satria sebab waktu bersiapnya hanya tinggal satu jam lebih sedikit.
***
Megahnya pesta pertunangan Noah dan Cassandra membuat hampir setiap tamu undangan, kolega bisnis dan para kalangan atas berdecak kagum.
Pesta dengan dekorasi bertema korea dengan berbagai macam bunga lavender di setiap sudut ball room membuat pesta Noah dan Cassandra terlihat estetic.
Bukan hanya itu, senyum sepasang kekasih juga terpatri hingga siapapun yang memandang merasa takjub akan pasangan satu ini. Cassandra, wanita cantik bermata sipit, gadis blasteran Indo korea itu menjelma menjadi ratu, sedangkan Noah lebih pantas disebut pangeran hari ini.
"Apa mau memberi ucapan sekarang?" tanya Wijaya.
Divine tampak ragu, akan tetapi memaksa mengangguk. Berjalan dengan tongkat bersama Morena dan Wijaya ke depan dimana berdiri Noah dan sang mantan berada.
Berusaha menahan diri untuk mengabaikan tatapan remeh orang-orang padanya. Divine terus melangkah meski pelan.
"Selamat," ujarnya singkat dan jelas.
Noah tersenyum menyambutnya, meski Divine sangat cuek, kehadiran saudaranya cukup berarti.
"Hai Div, apa kabar?" suara lembut Cassandra mengalun merdu di telinga. Namun, ekspresi wajahnya seolah tengah mengejek, menjatuhkan harga diri Divine di depan Noah.
Belum sempat menjawab, panggilan bocah kecil mengalihkannya.
"Om baik," panggil Satria, Divine menoleh. Rupanya Rafael, Elen dan Satria juga memberikan ucapan selamat.
Menatap Rafael sebagai isyarat, rasanya Divine ingin berujar terima kasih.
Membiarkan Morena dan Wijaya berbincang hangat dengan orang tua Noah. Divine memilih bergabung dengan Elen dan Rafael.
"Om sudah sembuh?"
Bukan menjawab, Divine malah tersenyum.
"Kamu tampan sekali boy, kalau pakai jass,"
"O iya kah Om, Om baik juga keren." Satria menyunggingkan senyum.
"Keren apanya, pakai tongkat gini!"
"Keren itu karena om sangat baik, bukan pakai tongkat atau tidak!"
Divine tertegun, pun dengan Elen yang sedari tadi tak fokus pada Satria.
"Anak pintar!" puji Divine.
Divine melirik Elen, wanita itu lebih banyak diam. Hingga saat Rafael membawa Satria mengambil makanan, ia mencoba membuka suara.
"Elen, apa kamu tidak berencana menikah lagi?" tanyanya berbasa-basi.
"Lihatlah Rafael, dia begitu dekat dengan Satria," sambungnya.
"Tidak, Pak! Saya hanya ingin mencurahkan seluruh cinta saya untuk Satria. Jangankan menikah lagi, punya pacar pun tak terbesit."
"Tapi Rafael?" tanya Divine, sulit sekali rasanya mendekati Elen, ia bukan hanya kehabisan ide tapi juga kata-kata tuk sekedar berbasa basi.
"Kami hanya teman!" tegasnya singkat.
"Bagaimana dengan mempertimbangkanku?" ucap Divine pelan, lebih mirip seperti gumaman.
"Hah? Maksud Pak Divine?" tanya Elen.
"Ehm, aku sangat menyayangi Satria, kamu tahu kan? Dari pertemuan singkat kami, dan semua cerita perihal ayahnya. Entah kenapa, rasanya aku ingin menjadikannya anakku saja!" jelas Divine.
Elen tampak berfikir, kemudian menghela napas pelan.
"Bapak bisa menganggap Satria sebagai anak, saya sangat bersyukur jikalau banyak orang yang menyayangi Satria!"
Kini giliran Divine menghela napas panjang, susah sekali pikirnya! Dulu ia tak pernah sekaku ini dengan wanita.
"Aku mau yang resmi, tentu aku harus menikahi ibunya bukan?" Divine seketika menutup mulutnya yang keceplosan.
"What?" reflek Elen. Suasana mendadak canggung, dua orang duduk bersisihan akan tetapi saling diam.
Berulang kali melirik Satria, bocah itu justru asik berkeliling dengan Rafael.
RAHIM ELEN JUGA SUBUR....