Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ayden, tolong...
Langkah kaki Ayden terhenti seketika di ambang pintu kamar tidur utama. Ia memutar sedikit tubuhnya, membiarkan cahaya lilin menyoroti separuh wajahnya yang kelam.
"Maka kamu akan belajar," bisik Ayden dengan nada dingin yang teramat mengerikan, "bahwa rumah ini bisa terasa jauh lebih menyiksa daripada jalanan tempatmu berasal."
Aisyah terpaku di tempatnya berdiri, merasakan dinginnya ubin lantai merambat naik menembus kakinya hingga ke dalam relung hatinya.
***
Angin malam di lantai paling atas gedung pencakar langit itu bertiup cukup kencang, membelai lembut gaun malam sutra merah marun yang dikenakan Aisyah. Restoran berkonsep rooftop yang disewa secara pribadi oleh Ayden malam itu menyajikan pemandangan spektakuler hamparan lampu kota yang berkelap-kelip bagai lautan bintang di bawah kaki mereka. Lilin-lilin aromaterapi dan susunan bunga lili putih menghiasi meja makan bulat di sudut terbaik.
Namun, di balik suasana romantis yang dirancang begitu sempurna, ada bayang-bayang ketegangan dari malam badai lalu yang masih menyisa tipis di udara.
Ayden duduk di hadapan Aisyah, mengenakan kemeja hitam linen yang dua kancing atasnya terbuka, menampilkan kesan santai namun tetap elegan. Jemarinya yang panjang dan tegas memutar perlahan tangkai gelas kristal berisi anggur merah.
"Bagaimana rasa steak hidangan utamanya, Aisyah?" tanya Ayden, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka. Senyuman tipis terpahat ramah di bibirnya.
Aisyah meletakkan pisau dan garpunya di atas porselen putih, lalu mengusap sudut bibirnya dengan serbet kain. "Dagingnya sangat lembut, Ayden. Bumbunya meresap sempurna. Terima kasih sudah membawaku ke tempat semegah ini."
"Aku senang jika kamu menikmatinya, Istriku," sahut Ayden halus. "Aku hanya ingin membuat suasana hatimu lebih baik setelah kejadian listrik padam dan badai kemarin malam."
Aisyah menatap mata suaminya, mencoba mencari riak rasa bersalah atas gertakan dingin kemarin di ruang kerja, namun matanya hanya menangkap kehangatan buatan yang tertata sangat rapi. Aisyah membuang pandangannya ke arah pemandangan kota di bawah sana, mendesah pelan.
"Lampu-lampu kota ini..." gumam Aisyah lirih, matanya melembut oleh serbuan nostalgia. "...selalu mengingatkanku pada masa kecil."
Ayden menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Aisyah dengan raut tertarik yang dibuat-buat. "Kenapa begitu? Apakah ada kenangan manis di balik pemandangan lampu kota ini?"
"Sangat manis," bisik Aisyah, tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari kejauhan. "Dulu, sewaktu Dinantara Utama masih berjaya dan Papa belum sakit-sakitan, Papa sering membawaku ke restoran rooftop seperti ini setiap kali aku mendapatkan nilai terbaik di sekolah."
"Begitu ya...?" tanggap Ayden pelan. "Lalu apa yang biasa kalian lakukan?"
"Papa selalu memangku aku di tepi pembatas," lanjut Aisyah, suaranya dipenuhi kehangatan kenangan lama yang begitu rindang. "Beliau akan menunjuk gedung-gedung tinggi itu satu per satu dan berbisik, 'Aisyah, lihatlah kota ini. Suatu hari nanti, kamu harus menjadi wanita kuat yang tidak bisa ditundukkan oleh siapa pun di bawah sana.' Papa adalah sosok yang sangat hangat, Ayden. Dia selalu mencium keningku setiap malam dan bilang kalau aku adalah harta paling berharga dalam hidupnya."
Aisyah terkekeh pelan, air mata kerinduan merembes tipis di sudut matanya. "Setiap kali melihat pemandangan kota dari ketinggian, aku selalu merasa Papa berada dekat di sampingku..."
Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Ayden, berharap menemukan simpati dari pria yang kini memegang status sebagai suaminya. "Ayden? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Ayden membisu. Alih-alih merespons cerita hangat itu dengan belas kasih atau pelukan hangat, wajah pria itu justru membeku secara perlahan. Iris mata hitamnya menyipit tajam, memancarkan kilat dendam membara yang begitu pekat dan kelam—sebuah luapan kebencian lama yang tersimpan rapat di dasar jiwanya saat mendengar nama Pak Rahardja dipuji setinggi langit. Bagi Ayden, pria yang dipuja Aisyah sebagai ayah penyayang itu tak lain adalah penjahat kejam yang telah membumihanguskan hidup keluarganya.
Namun, ketajaman mata itu berlangsung begitu cepat sebelum akhirnya Ayden mengerjapkan mata dan memaksakan senyumannya kembali.
"Tidak ada apa-apa, Aisyah," ujar Ayden dengan nada suara yang terkontrol rapat, meski intonasinya terdengar sedikit kaku. "Aku hanya suka melihat matamu saat menceritakan kenangan masa kecilmu."
"Benarkah?" tanya Aisyah ragu, merasa ada jeda dingin yang sempat melintas di wajah suaminya. "Tapi wajahmu tadi tampak... sangat tegang."
"Mungkin aku hanya sedikit lelah karena pekerjaan kantor minggu ini," alibi Ayden cepat, memotong keraguan Aisyah. Ia berdiri dari kursinya, merapikan letak kemejanya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Aisyah. "Instrumen musik di belakang kita sangat indah. Maukah kamu berdansa denganku, Istriku?"
Aisyah menatap uluran tangan tegap itu. Selarik keraguan menyenggol benaknya, namun melihat senyuman manis Ayden, ia mengangguk pelan. "Tentu, Ayden."
Aisyah menyambut jemari Ayden dan bangkit dari duduknya. Pria itu menuntun Aisyah menuju area lantai kayu di tengah rooftop yang dinaungi pendar lampu-lampu gantung temaram. Alunan musik instrumental biola dan piano bergema pelan, mengalun lembut membelah keheningan malam.
Ayden meletakkan tangan kirinya di pinggang Aisyah, sementara tangan kanannya menggenggam jemari wanita itu, mengangkatnya setinggi dada. Aisyah meletakkan tangan kirinya di atas bahu tegap Ayden. Mereka mulai mengayunkan langkah perlahan menyelaraskan irama musik.
"Kamu berdansa dengan sangat anggun malam ini," bisik Ayden tepat di depan wajah Aisyah.
"Terima kasih," balas Aisyah pelan, menatap simpul kemeja suaminya. "Ayden... soal dokumen kemarin malam—"
"Bukankah aku sudah minta agar malam ini kita lupakan dulu masalah itu?" potong Ayden halus, namun terdengar sangat mutlak. "Malam ini hanya ada kita berdua, Aisyah. Jangan merusaknya dengan pertanyaan dari masa lalu."
Aisyah mendesah, menundukkan kepalanya. "Aku hanya merasa sulit untuk melupakannya begitu saja. Hati kecilku terus bertanya-tanya..."
Sensasi gesekan gerakan dansa mereka mendadak berubah. Tangan kiri Ayden yang semula bertengger di pinggang Aisyah perlahan bergeser memutar ke belakang punggung wanita itu. Tanpa peringatan, Ayden menarik tubuh Aisyah secara mendadak, mengikis rapat seluruh jarak di antara mereka hingga dada mereka menempel erat.
"A-Ayden?" desah Aisyah kaget oleh pergerakan agresif tersebut.
Tangan Ayden di belakang punggung Aisyah tidak sekadar memeluk, melainkan mulai memperketat cengkeramannya secara perlahan namun masif. Lengan tegapnya mengunci pinggang dan tulang rusuk Aisyah dengan tekanan luar biasa kuat—sebuah cengkeraman penuh kendali posesif yang tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Aisyah untuk bergerak bebas.
"Aww... Ayden, pelukanmu..." ringis Aisyah pelan, membuang napas tersendat. "Ini terlalu kencang..."
Ayden tidak mengendurkan pelukannya. Malah, ia menundukkan kepalanya lebih dalam, menyandarkan dagunya di atas bahu Aisyah, berbisik tepat di samping daun telinga istrinya dengan napas hangat yang berembus dingin.
"Terlalu kencang?" bisik Ayden dengan nada datar yang mengerikan. "Aku hanya sedang memeluk istriku. Apakah memelukmu dengan erat adalah sebuah kesalahan?"
"Tapi... tulang rusukku terasa sakit, Ayden!" picit Aisyah, jemarinya meremas kain kemeja di bahu Ayden untuk menahan rasa nyeri yang mulai menjepit dadanya. "Lepaskan sedikit... aku susah bernapas!"
Dekapan itu terasa bukan lagi lahir dari rasa cinta yang membuncah, melainkan sebuah cengkeraman kekuasaan—sebuah demonstrasi kekuatan fisik di mana Ayden ingin menegaskan bahwa raga dan jiwa Aisyah berada sepenuhnya dalam kendali jemarinya.
Ayden menarik kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Aisyah dari jarak beberapa sentimeter. Pandangan matanya begitu pekat, kosong, dan dipenuhi oleh kepemilikan yang beracun.
"Ingatlah rasa sakit ini, Aisyah," bisik Ayden halus, ibu jarinya mengelus pipi Aisyah yang pucat, kontras dengan dekapan tangannya di punggung yang tetap mengunci kaku. "Ini adalah bukti bahwa kamu ada di pelukanku. Kamu tidak akan pernah bisa lari atau bersembunyi dariku. Ke mana pun kamu memandang, hanya ada aku."
"Ayden, tolong..." pintaku Aisyah dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sesak di dadanya. "Kamu menyakitiku..."
Melihat air mata yang mulai berkilau di pelupuk mata Aisyah, Ayden mengendurkan cengkeraman tangannya secara perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan Aisyah melangkah mundur satu pijakan sambil memegang dadanya yang naik turun.
"Maafkan aku," kata Ayden pelan, topeng kehangatan itu terpasang kembali dengan keahlian yang menakutkan. "Aku hanya terlalu terbawa suasana. Aku sangat takut kehilanganmu, Aisyah."
Aisyah menatap Ayden dengan pandangan ngeri yang tersembunyi. Pelukan hangat yang dulu selalu memberinya rasa aman, kini perlahan-lahan mulai terasa asing, dingin, dan mengancam.