Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Palsu
Malam di Kota Solo turun membawa udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang pengap, Eda duduk di tepi kasur busanya yang kempis. Suara jangkrik dari balik dinding papan bersahut-sahutan dengan riuh televisi di ruang tamu tempat Doni dan Rini menonton acara dangdut.
Pintu kamar berderit pelan. Agus masuk tanpa menguapkan salam. Bau asap rokok murah menempel kuat di kaus oblongnya yang lecek. Pria itu tidak menatap Eda sedikit pun, melainkan langsung menuju lemari kayu kecil di sudut ruangan, mengambil sarung, lalu merebahkan diri di atas kasur di sisi yang berseberangan.
"Gus," panggil Eda pelan. Suaranya serak, sisa tangis sore tadi masih membayang di tenggorokannya.
Agus menyilangkan kedua tangannya di balik kepala, menatap langit-langit kamar yang penuh bercak bekas bocoran air hujan. Ia diam, seolah-olah Eda cuma selembar udara kosong di ruangan itu.
Eda menghela napas, berusaha menahan letupan amarahnya. "Agus, dengar dulu. Soal uang rokok dan buku LKS Bagas tadi sore... kita perlu bicara."
Agus memiringkan badannya menatap dinding, memunggungi Eda. "Mau bicara apa lagi? Kan kamu yang pegang uang gaji. Kalau kamu bilang tidak ada, ya sudah. Tidak usah bikin rumah ini seperti neraka pakai omongan tinggi ke Mama."
Dada Eda berdesir panas. Bikin rumah seperti neraka? Kata-kata itu meluncur begitu mulus dari mulut pria yang selama ini hanya menumpang hidup dan membiarkannya diperas oleh keluarganya sendiri.
"Kamu pikir aku senang dipojokkan begitu di depan Mbak Rini sama Mama?" cecar Eda, suaranya gemetar menahan emosi.
"Gajiku itu dipotong angsuran bank tiga juta lima ratus ribu per bulan, Gus! Itu utang siapa? Utang Mas Doni waktu mobil sewaannya ditabrak orang lima tahun lalu, dan utang berobat kamu waktu harus terapi ke RSUD Moewardi! Aku yang nanggung semuanya pakai nama PPPK-ku!"
Agus balik membalikkan badannya dengan cepat. Matanya melotot tajam, raut wajahnya yang biasanya datar kini berubah dingin dan penuh amarah.
"Jangan bawa-bawa nama Kakakmu dan sakitku ya, Ed!" sahut Agus dengan nada menekan, berbisik keras agar tidak terdengar ke luar. "Aku ini suamimu! Waktu kamu belum jadi PPPK, waktu kamu cuma honorer yang digaji tiga ratus ribu dan dibilang mandul sama tetangga-tetangga di Solo ini, siapa yang tetap bertahan sama kamu? Siapa yang mau masak dan urus rumah ini kalau bukan aku?!"
Kalimat Agus menghantam dada Eda bagai pukulan telak. Kata mandul yang dilemparkan suaminya sendiri terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pisau. Lima belas tahun ia menutup mata atas ketidakmampuan Agus memberi nafkah lahir yang layak, lima belas tahun ia membela pria itu di hadapan teman-teman gurunya di SD Harapan Bangsa, dan kini kekurangan fisiknya dijadikan senjata untuk membungkam mulutnya.
"Kamu selalu ungkit-ungkit masalah rumah," bisik Eda dengan mata memerah menahan air mata yang hendak menetes. "Tapi pernah tidak kamu berpikir, Gus? Kamu ini suami yang mendampingi aku... atau cuma beban yang sengaja membiarkan keluargamu menguras habis tenagaku?"
Agus menarik selimut luriknya sampai ke dada, lalu membalikkan badan kembali menghadap dinding.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Besok pagi aku mau minta uang lima puluh ribu buat beli bensin motor. Kalau tidak ada, ya aku tidak usah antar kamu ke depan gang," potong Agus dingin, lalu menutup matanya rapat-rapat.
Eda mematikan lampu kamar, menyisakan pendar remang-remang dari lampu jalan yang menerobos celah ventilasi. Ia berbaring miring, membelakangi Agus. Air matanya menetes pelan menembus kain bantal.
Di dalam kegelapan malam Kota Solo, Eda menyadari satu hal dengan sangat jelas: tidak ada lagi cinta atau rasa saling menghargai di kasur ini. Yang tersisa hanyalah keputusasaan dan tembok pembatas yang kian hari kian tinggi.