Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA
## Bab 3: Akhir Pekan yang Biasa
Sabtu pagi selalu menjadi waktu favoritku. Tidak ada alarm yang harus dipatuhi, tidak ada laporan keuangan yang harus dikejar sebelum jam sepuluh. Hanya aku, Bayu, dan secangkir kopi yang bisa dinikmati pelan-pelan sambil duduk di teras belakang rumah.
"Enak ya, Mas, kalau tiap hari kayak gini," kataku, menyeruput kopi sambil memandangi tanaman-tanaman kecil di pot yang kutanam beberapa bulan lalu.
Bayu tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau tiap hari libur, kita nggak akan bisa beli rumah kayak gini, Yu."
"Iya juga sih," aku ikut tertawa. "Tapi boleh dong sesekali ngayal."
Akhir pekan itu kami habiskan dengan hal-hal sederhana—bersih-bersih rumah, belanja bulanan di pasar, lalu makan siang di warung soto langganan dekat rumah. Bayu tampak santai, jauh dari kesan orang yang menyimpan beban berat di pikirannya. Ia bahkan sempat menggodaku soal berat badan yang katanya "makin berisi belakangan ini," yang langsung kubalas dengan cubitan kecil di lengannya.
"Awas ya, Mas. Nanti kalau aku diet beneran, kamu yang report masakannya."
"Nggak, nggak, aku suka kok yang berisi," ia buru-buru meralat sambil terkekeh, memelukku dari samping.
Momen-momen kecil seperti inilah yang membuatku semakin yakin, pernikahan kami baik-baik saja. Tidak sempurna, tapi cukup hangat untuk membuatku merasa aman.
---
Sore harinya, sahabatku sejak kuliah, Tika, datang berkunjung. Sudah lama kami tidak bertemu langsung karena kesibukan masing-masing—Tika bekerja sebagai desainer grafis lepas, sering keluar masuk kota untuk proyek klien.
"Yu, rumahmu makin cakep aja," katanya sambil melihat-lihat ruang tamu yang baru saja kurenovasi sedikit bulan lalu.
"Ah, biasa aja. Hasil nabung bareng Bayu kok," jawabku sambil menyiapkan minuman untuknya.
Kami duduk di ruang tamu, mengobrol banyak hal—mulai dari pekerjaan, gosip teman-teman lama, sampai rencana liburan yang sudah lama ingin kami wujudkan bersama pasangan masing-masing.
"Eh, Yu," Tika tiba-tiba mengubah topik, suaranya sedikit lebih pelan. "Bayu akhir-akhir ini sering keluar kota ya? Kemarin aku ketemu dia di daerah pinggiran kota, kayaknya lagi buru-buru gitu."
Aku mengangkat alis, sedikit bingung. "Oh iya, dia emang sering ke luar kota buat urusan proyek. Kamu ketemu di mana emangnya?"
"Lupa persisnya di mana, soalnya aku juga buru-buru waktu itu. Cuma sempet lihat sekilas dari mobil," jawab Tika sambil mengangkat bahu. "Ya udah, mungkin emang kerjaan kali ya."
"Iya kali," aku mengangguk santai, tidak terlalu memikirkannya lebih jauh. Bayu memang sering bepergian untuk urusan kerja, jadi kabar semacam itu tidak terdengar aneh bagiku.
Obrolan kami kembali berlanjut ke topik lain, dan aku sama sekali tidak menyimpan informasi kecil itu sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan lebih dalam. Bagiku, itu hanya sepotong informasi biasa, seperti ribuan potongan informasi kecil lainnya yang lewat begitu saja dalam obrolan sehari-hari.
---
Malam harinya, setelah Tika pulang, aku dan Bayu duduk bersama di ruang keluarga, menonton acara televisi sambil sesekali mengobrol ringan. Di tengah obrolan, ponsel Bayu berbunyi—sebuah pesan masuk yang membuatnya buru-buru meraih ponsel dan mengunci layarnya lebih cepat dari biasanya.
"Siapa, Mas?" tanyaku, lebih karena refleks daripada rasa curiga.
"Temen kantor, nanya soal proyek besok," jawabnya singkat, memasukkan ponsel ke saku celana.
"Oh," aku hanya mengangguk, kembali fokus ke acara televisi.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ada sedikit ketergesaan dalam caranya mengunci layar ponsel malam itu—sesuatu yang berbeda dari kebiasaannya yang biasanya santai membiarkan ponsel tergeletak begitu saja di meja, bahkan sesekali memintaku membacakan pesan masuk kalau tangannya sedang sibuk.
Tapi malam itu, aku tidak menaruh curiga sedikit pun. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan laporan kantor yang harus kuselesaikan Senin depan, terlalu nyaman dengan rutinitas akhir pekan yang baru saja kami lalui bersama, untuk berhenti sejenak dan bertanya-tanya kenapa gerakan kecil semacam itu terasa sedikit berbeda.
"Udah ngantuk, Yu?" tanya Bayu, melihatku menguap kecil.
"Iya, Mas. Besok Senin, harus fresh," jawabku sambil bangkit dari sofa.
Kami pun tidur seperti biasa, berdampingan, tanpa ada percakapan lebih lanjut soal pesan singkat yang sempat membuat Bayu sedikit terburu-buru tadi. Bagiku malam itu hanya malam biasa—penutup akhir pekan yang menyenangkan, sebelum kembali menjalani rutinitas kerja seperti biasa.
Aku tidak tahu, bahwa pesan singkat itu datang dari Wulan, yang malam itu mengabari Bayu bahwa anak mereka demam dan butuh dibawa ke dokter esok pagi—sebuah kabar yang membuat Bayu, sepanjang malam, berbaring di sampingku dengan pikiran yang sama sekali tidak ada di ruangan yang sama dengan tubuhnya.
---
*Bersambung ke Bab 4*