Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Cemburu pada sang istri
"Mas... Ini bajunya sudah aku masukin ke koper semua. Kira- kira ada barang lain yang harus masuk koper nggak...?'' tanya Suzan sebelum dia menutup koper berisi baju milik sang suami yaitu Bagas.
Iya, hari ini Bagas akan bertolak ke Surabaya untuk menangani masalah yang terjadi di anak cabang perusahaan.
"Kayanya nggak ada deh sayang..." jawab Bagas sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
Suzan pun menutup kopernya lalu menurunkannya dari tempat tidur.
"Kamu udah siap, sayang...? Kita ke bawah yuk, papa, mama dan Alfaro pasti sudah nunggu kita di bawa untuk sarapan..." ucap Suzan sambil berdiri di belakang sang suami yang belum juga selesai menyisir rambutnya.
Bagas tersenyum lalu dia membalikkan badannya ke arah Suzan. Bagas lalu mendekati sang istri kemudian dia memeluknya dengan erat. Tak lupa Bagas juga mengecup kening Suzan dengan lembut.
"Nanti dulu ke bawahnya, aku masih ingin mesra- mesraan dengan istriku yang paling cantik sedunia..." ucap Bagas sambil mendekap erat tubuh Suzan.
Suzan pun tersenyum bahagia mendengar pujian dari sang suami. Iya, sebenarnya Suzan bukan kali ini saja mendengar pujian dari mulut sang suami. Tapi setiap hari. Tentu saja karena di mata Suzan, Bagas adalah pria yang paling romantis dan penuh dengan kasih sayang. Jadi tak heran jika Bagas sangat pandai membuat hati Suzan berbunga- bunga dengan kata- kata romantisnya.
"Mulai deh gombalnya..." Suzan mencubit pelan perut sang suami.
"Lho kan emang istriku ini paling cantik sedunia. Bukan cuma paling cantik, tapi paling manis, paling baik dan ibu yang paling baik sedunia..." sahut Bagas sambil mencolek hidung mancung Suzan.
"Udah... Udah... Jangan memuji aku terus sayang, nanti lama- lama aku bisa terbang..." ucap Suzan.
Bagas pun tertawa.
"Aku pasti bakal kangen sekali sama kamu sayang..." Bagas menatap wajah Suzan lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Aku juga... Aku juga akan merindukan kamu. Nanti kalau urusan kamu di Surabaya sudah selesai, kamu langsung pulang ya mas..." sahut Suzan sambil mengusap dada sang suami.
"Iya tentu saja sayang..." jawab Bagas.
"Kalau sudah sampai, jangan lupa hubungi aku..." ucap Suzan.
"Iyaaa sayangku..." Bagas menempelkan dahinya ke dahi Suzan, kamudian kembali mengecup bibirnya dengan lembut.
"Papa..." tiba- tiba terdengar suara anak kecil dari arah pintu kamar yang terbuka.
Suzan dan Bagas pun menoleh ke sumber suara di mana anak semata wayang mereka yaitu Alvaro berdiri menatap ke arahnya sambil bertolak pinggang. Seperti biasa, Alvaro merasa cemburu jika papa dan mamanya sedang bermesraan.
"Aaahhh... Papaaa... Papa genit...Jangan cium- cium mama..." Alvaro berjalan ke arah kedua orang tuanya lalu mendorong Bagas agar melepaskan tangannya dari pinggang Suzan. Dan kini gantian Alvaro yang memeluk sang mama.
"Ini mama aku, papa nggak boleh genit- genit sama mama..." ucap Alvaro sambil memeluk pinggang sang mama.
"Tapi ini istri aku..." sahut Bagas sambil memegangi tangan Suzan ,sengaja untuk mengusili sang putra.
"Iih nggak boleh... " Alvaro menepis tangan Bagas.
"Ini istri aku..." ucap Bagas.
"Ini mama akuuuuu..."
"Istri akuuuuu..."
"Eh sudah- sudah...ngapain kalian jadi ribut sih....Sayang...udah deh suka banget kamu usil sama anak sendiri...." ucap Suzan karena suami dan anaknya sudah seperti tom and jerry.
"Mami... Mami... Kalau papi genit lagi sama mami, mami bilang Alvaro ya, biar Alvaro cubit papi..." ucap Alvaro dengan suara cadelnya.
Bagas dan Suzan pun tertawa melihat tingkah menggemaskan anak semata wayang mereka yang sebentar lagi akan berusia lima tahun.
Alvaro mendengus karena ditertawakan oleh kedua orang tuanya.
"Iya...iya... Sayang..." Suzan jongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Alvaro.
Sedangkan Alvaro masih manyun.
"Emang kenapa sih Alvaro nggak suka kalau papa genit sama mami...?'' tanya Bagas.
"Karena hanya Alvaro yang boleh genit sama mami, papi nggak boleh, iya kan mami..." jawab Alvaro sambil mengecup pipi sang sama. Lalu Alvaro menjulurkan lidahnya pada Bagas.
"Oh astaga... Nggak mau kalah dia..." sahut Bagas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lihatlah sayang, Alvaro sudah ketularan genit dari kamu..." ucap Suzan.
Bagas pun terkekeh.
Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga keluarga Hartanto datang dan memberitahu Suzan dan Bagas bahwa tuan dan nyonya Hartanto sudah menunggu di bawah untuk sarapan.
Sebenarnya tadi Alvaro masuk ke kamar kedua orang tuanya untuk memanggil mereka agar segera turun ke lantai bawah. Namun berhubung Alvaro melihat kedua orang tuanya sedang bermesraan, Alvaro jadi lupa tujuannya datang ke kamar orang tuanya.
Bagas, Suzan dan Alvaro lalu turun ke bawah, menghampiri tuan dan nyonya Hartanto yang sudah sejak tadi menunggu mereka untuk sarapan bersama. Dan asisten rumah tangganya mengikuti di belakang sambil membawa koper Bagas. .
"Bagaimana Bagas, kamu sudah siap untuk berangkat ke Surabaya...?'' tanya tuan Hartanto sambil menyuapkan makana ke mulutnya.
"Sudah pah..." jawab Bagas yang juga sudah mulai makan.
"Ingat pesan papa, kamu harus melakukan tugas kamu di sana dengan baik. Selesaikan masalah di sana sampai ke akar permasalahannya. Jangan lupa kamu kasih kabar papa soal perkembangan pekerjaan kamu nanti..." ucap tuan Hartanto.
"Iya pah, percayakan semuanya sama Bagas..." sahut Bagas.
"Dan kamu harus ingat, kamu harus fokus. Dan juga teliti..." ucap tuan Hartanto sambil menunjuk ke arah wajah Bagas.
"Nanti Fikri menemanimu ke Surabaya biar dia bisa membantumu di sana. Kamu pasti akan kerepotan jika mengurus pekerjaan di sana seorang diri..." sambung tuan Hartanto.
Bagas menghela nafas, merasa tidak suka dengan sikap sang papa yang terkesan tidak percaya padanya. Suzan yang menyadari perubahan raut wajah suaminya pun mengusap lengannya. Begitu juga dengan nyonya Hartanto yang paham jika sang putra sedang kesal pada sang papa yang selalu bersikap berlebihan padanya.
"Pa... jangan memperlakukan Bagas seperti anak kecil dong. Papa ini kenapa sih selalu saja bersikap seolah papa tidak percaya dengan Bagas..." ucap nyonya Hartanto yang selalu membela Bagas jika diperlakukan tidak baik oleh tuan Hartanto.
"Papa harus kasih kepercayaan dong sama Bagas. Bagas kan sudah dewasa, tidak sepantasnya papa bersikap seperti itu sama anak sendiri..." sambung nyonya Hartanto yang sering tidak sejalan dengan jalan pikiran sang suami.
"Memangnya kapan papa tidak percaya sama Bagas. Papa selalu percaya sama dia. Tapi Bagas sendiri yang tidak bisa menjaga kepercayaan yang papa berikan..." sahut tuan Hartanto sambil melirik sekilas ke arah Bagas.
Bagas menghela nafas. Iya, tuan Hartanto memang tidak begitu percaya pada Bagas. Dia sudah beberapa kali memberikan kepercayaan pada sang putra untuk memegang perusahaan. Namun di mata tuan Hartanto, Bagas kurang teliti dan juga kurang kompeten dalam menjalankan sebuah perusahaan. Sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Bahkan kelalaian dan ketidak telitian Bagas sering mengakibatkan kerugian buat perusahaan.
Dan hal itulah yang membuat tuan Hartanto kurang percaya pada Bagas. Tuan Haryanto tidak berani melepas Bagas dalam urusan pekerjaan.
"Dan kamu Suzan..." ucap tuan Hartanto.
"Iya pah..." jawab Suzan.
"Nanti siang ada klien dari Australia, tapi sepertinya papa tidak bisa menemui mereka karena papa ada janji dengan tuan Darius dari perusahaan Sinar Utama. Jadi papa minta kamu yang menemui klien dari Australia. Papa percaya padamu..." ucap tuan Hartanto.
"Baik pah..." jawab Suzan sambil mengangguk sopan pada papa mertuanya.
Mendengar sikap berbeda tuan Hartanto pada Suzan, Bagas kembali menghela nafas. Iya, Bagas memang sering dibuat cemburu oleh sikap sang papa. Karena di mata Bagas papanya lebih percaya pada Suzan yang hanya berstatus sebagai menantunya untuk menghandle perusahaan dari pada percaya padanya yang notabene anak kandungnya sendiri.
Iya, memang tuan Hartanto menaruh kepercayaan yang besar pada Suzan. Dulu Suzan adalah pegawai biasa di perusahaannya. Namun karena kepintaran yang Suzan miliki dalam menangani klien, tuan Hartanto pun mengangkat Suzan sebagai orang kepercayaannya.
Dan tak sampai di situ, Suzan semakin memperlihatkan kepiawaiannya dalam bekerja sehingga tuan Hartanto sangat terkesan padanya. Hingga tuan Hartanto pun memperkenalkan Suzan dengan Bagas, untuk saling mengenal lebih dekat. Dan akhirnya mereka saling tertarik satu sama lain, dan sampailah mereka pada pernikahan.
Rumah tangga mereka pun sangat harmonis, apa lagi setelah kehadiran anak pertama mereka Alvaro. Orang- orang di sekitar mereka juga terkesan pada rumah tangga Suzan dan Bagas yang sangat romatis dan bahagia .
Iya tentu saja semua orang terkesan pada Bagas karena dia tak canggung memperlihatkan sisi romatisnya di khalayak ramai. Seperti saat makan malam bersama klien, atau pun acara keluarga.Hingga Bagas dijuluki sebagai suami paling romatis dan setia pada pasangan.
Tuan dan nyonya Hartanto juga begitu bahagia melihat rumah tangga sang putra terlihat harmonis. Mereka juga sangat menyayangi Alvaro sebagai cucu laki- laki pertama, dan tentu saja dia akan menjadi pewaris perusahaan Cakra Mandala.
Namun di sisi lain ada satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh khalayak ramai. Iya, Bagas merasa diperlakukan tidak adil oleh tuan Hartanto. Karena tuan Hartanto justru memberikan posisi di perusahaan lebih rendah dari pada Suzan.
Sebenarnya Suzan menolak saat diberi jabatan tinggi di atas Bagas oleh papa mertuanya, karena tidak enak hati pada Bagas. Namun, tuan Hartanto punya alasan sendiri yang tidak dapat diganggu gugat. Karena semua keputusan perusahaan maupun urusan keluarga semuanya ada ditangan tuan Hartanto. Dialah yang punya kendali. Dan semua orang harus tunduk dengan aturannya.
Di mata tuan Hartanto Suzan lebih kompeten dari pada Bagas. Maka dari itu tuan Hartanto sengaja memberikan jabatan kepada Suzan lebih tinggi dari Bagas.
"Aku pergi dulu..." Bagas yang sudah tidak berselera makan bangun dari kursi meja makan.
"Sayang..." Suzan menahan tangan Bagas.
Iya, tentu saja Suzan paham jika sang suami sedang kesal akibat ucapan sang papa.
Suzan menganggukkan kepala, memberi kode pada Bagas agar dia tidak terbawa emosi. Apa lagi di dekat mereka ada Alvaro. Suzan tidak ingin Alvaro bingung melihat sang papi yang tiba- tiba pergi begitu saja.
Suzan kembali memberi kode pada Bagas agar dia pamit pada Alvaro. Iya, Alvaro memang sering berdebat dengan Bagas, namun jika Bagas pergi keluar kota, Alvaro selalu rindu padanya, dan selalu bertanya kapan papi pulang.
"Alvaro, papi pergi dulu ya... Kamu jadi yang baik ya, jagain mami..." Bagas mengusap pipi Alvaro.
"Iya, tapi papi jangan lama- lama perginya... Nanti Alvaro nggak ada teman main bola..." sahut Alvaro.
"Iya... Papi nggak lama kok perginya..." Bagas mencolek hidung Alvaro.
Setelah berpamitan dengan semua anggota keluarga, Bagas pun pergi dengan menggunakan mobilnya menuju Bandara.
Sebenarnya Bagas pergi bersama Fikri namun mereka menaiki pesawat dengan kelas yang berbeda. Bagas meminta Fikri naik pesawat kelas ekonomi. Sedangkan untuknya, dia memesan first class yang menawarkan kenyamanan dan kemewahan di dalamnya.
Fikri yang tentu saja tidak berani untuk komplen pun hanya menurut saja. Dan nanti mereka akan ketemu di Surabaya dan menginap di hotel yang sama.
"Baby... Kamu di mana...? Aku sudah sampai di Bandara..." Bagas menghubungi seseorang lewat sambungan telpon.
Suzan
Bagas.
Bersambung.....
🥰Jangan lupa kasih like, vote dan komen.🥰