Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
.
Pagi itu, suasana kantor Wijaya Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejumlah staf berlalu-lalang memastikan seluruh dokumen dan proposal yang dibutuhkan untuk mengikuti tender proyek KA Grup telah disiapkan dengan sempurna. Arsen sendiri terlihat begitu bersemangat. Setelah beberapa minggu menghadapi tekanan akibat mundurnya sejumlah mitra bisnis, tender tersebut menjadi kesempatan besar untuk mengembalikan kejayaan perusahaan keluarganya.
“Pastikan tidak ada dokumen yang tertinggal. Aku tidak ingin kesalahan kecil menggagalkan kesempatan sebesar ini,” ujar Arsen kepada Mario yang berdiri di sampingnya.
“Semua sudah diperiksa, Pak. Tim juga sudah siap mempresentasikan proposal kita jika diperlukan,” jawab Mario yakin.
Darma yang sejak tadi duduk di sofa ruang kerja putranya ikut berdiri. Wajah pria paruh baya itu terlihat begitu puas. Ia bahkan sengaja membatalkan beberapa agenda penting demi menghadiri acara pelelangan tersebut secara langsung.
“Aku ingin menyaksikan sendiri saat Wijaya Group kembali mendapatkan kepercayaan dari KA Grup,” katanya dengan bangga. “Sudah bertahun-tahun kita bekerja sama dengan mereka. Aku yakin hubungan baik itu akan menjadi salah satu pertimbangan penting.”
Arsen mengancingkan jasnya, kemudian tersenyum tipis. “Kita memang memiliki hubungan bisnis yang kuat dengan mereka, Ayah. Tapi tetap saja, kita harus menunjukkan bahwa proposal kita layak dipilih.”
“Ngapain pegang seperti itu, Arsen.” Darma tertawa kecil sambil menepuk bahu putranya. “Tuan Daren bukan orang asing bagi kita. Selama ini, dia selalu mendukung Wijaya Group. Kali ini juga pasti begitu.”
Arsen tidak membantah. Meskipun penolakan Daren untuk bertemu dengannya sempat membuatnya rasa, tapi ia percaya hubungan bisnis mereka selama bertahun-tahun tidak akan berubah hanya karena beberapa persoalan yang sedang terjadi.
Setelah memastikan seluruh persiapan selesai, Arsen bersama Darma dan Mario peserta tim direktur yang di mereka pilih berangkat menuju lokasi acara. Di sepanjang perjalanan, Darma terus membicarakan betapa bangga dari saya grup jika berhasil memenangkan tender tersebut. Pria paruh baya itu juga membayangkan betapa besar keuntungan yang akan mereka dapatkan.
“Kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,” ujar Darma ketika mobil mereka memasuki kawasan gedung tempat acara diselenggarakan. “Begitu proyek ini berhasil kita dapatkan, para mitra yang mulai meragukan perusahaan kita pasti akan kembali mempertimbangkan kerja sama.”
Arsen mengangguk sambil memandang gedung megah di hadapan mereka. “Aku juga berharap begitu, Ayah.”
Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju ruang pelelangan yang telah dipersiapkan oleh pihak KA Grup. Sejumlah pengusaha dari berbagai perusahaan besar telah hadir, sebagian di antaranya merupakan nama-nama yang cukup dikenal dalam dunia bisnis. Para peserta berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling menyapa dan berbincang sebelum acara dimulai.
Kehadiran Arsen dan Darma segera menarik perhatian beberapa pengusaha yang mengenal mereka. Tak sedikit yang langsung menghampiri untuk menyampaikan salam dan berbasa-basi mengenai tender yang akan segera berlangsung.
“Pak Darma, akhirnya kita bertemu lagi. Saya dengar Wijaya Group ikut dalam tender kali ini,” ujar seorang pengusaha yang bergerak di bidang konstruksi sambil menjabat tangan Darma.
“Tentu saja. Kami tidak mungkin melewatkan proyek sebesar ini,” jawab Darma dengan senyum lebar.
“Kalau begitu, sepertinya kami sudah harus bersiap untuk menerima kekalahan. Selama ini KA Grup selalu mengutamakan Wijaya Group. Jadi sepertinya kehadiran kami ini hanya sebagai formalitas saja.”
Darma tertawa bangga. “Ah, Anda terlalu merendah.”
Pengusaha lain yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut menyahut. “Saya juga berpendapat begitu. Selamat ya Tuan Darma. Nanti jangan lupakan kami yang kecil ini ya?”
“Itu bisa diatur,” sahut Darma penuh percaya diri.
Arsen hanya tersenyum mendengar percakapan itu. Ia tidak ingin terlalu banyak berkomentar, tetapi ucapan para pengusaha tersebut membuatnya semakin percaya diri bahwa Wijaya Group pasti akan memenangkan tender.
Mario yang berdiri di belakang mereka juga terlihat lega. Saat ini Wijaya group berada dalam posisi sulit. Jika mereka berhasil memperoleh proyek ini, setidaknya akan ada harapan baru untuk memperbaiki kondisi keuangan yang mulai terguncang.
“Sepertinya semua orang sudah yakin kita akan menang,” ujar Mario pelan ketika mereka akhirnya duduk di salah satu deretan kursi yang telah disediakan.
Darma terkekeh. “Tentu saja. Mereka tahu bagaimana hubungan kita dengan KA Grup. Bahkan, beberapa perusahaan sudah paham tender ini hanya formalitas.”
Arsen melirik ayahnya. “Jangan terlalu yakin, Ayah. Kita tetap harus menunggu keputusan resmi.”
“Kenapa tidak?” balas Darma santai. “Lagipula, selama ini Tuan Daren selalu mendahulukan Wijaya Group.”
Arsen kembali mengalihkan pandangan ke arah panggung kecil di bagian depan ruangan. Di sana telah disiapkan meja panjang untuk jajaran pimpinan KA Grup dan panitia penyelenggara. Beberapa staf terlihat sibuk memeriksa perangkat presentasi serta menata dokumen yang akan digunakan selama proses penilaian.
Tak lama kemudian, seorang pengusaha yang duduk di sebelah Darma kembali mengajak mereka berbincang. Pembicaraan pun berlanjut mengenai nilai proyek, persaingan antarperusahaan, dan peluang masing-masing peserta. Namun, setiap kali nama Wijaya Group disebut, Darma selalu menanggapinya dengan senyum penuh kebanggaan.
“Kalau boleh jujur, saya sebenarnya tidak terlalu terkejut jika Wijaya Group kembali menjadi pilihan KA Grup. Biasanya juga begitu,” ujar pengusaha itu.
Darma tertawa semakin lebar. Bahkan Arsen yang semula masih ragu pun akhirnya lebih percaya diri.
Beberapa menit kemudian, suasana ruangan perlahan berubah ketika pembawa acara naik ke panggung dan meminta seluruh peserta menempati kursi masing-masing. Percakapan yang semula ramai mulai mereda. Para pengusaha mengalihkan perhatian ke bagian depan, menunggu kedatangan jajaran pimpinan KA Grup yang akan memimpin proses pelelangan.
“Sepertinya mereka akan segera datang,” ujar Mario sambil melirik pintu utama.
Darma membetulkan posisi duduknya, lalu merapikan jas yang dikenakannya. Arsen pun melakukan hal serupa. Keduanya tampak siap menyambut pihak penyelenggara, terutama Daren Antasena yang selama ini dianggap sebagai salah satu rekan bisnis paling dekat dengan keluarga Wijaya.
Pintu besar di sisi ruangan akhirnya terbuka. Sejumlah staf KA Grup memasuki ruangan diikuti beberapa orang dari jajaran direksi dan pimpinan perusahaan. Daren Antasena berjalan di antara rombongan itu dengan langkah tenang, mengenakan setelan jas gelap yang membuat penampilannya tampak berwibawa.
Darma segera menegakkan tubuh. Senyum lebar terukir di wajahnya, sementara Arsen memperhatikan kedatangan pria yang selama beberapa hari terakhir berusaha ditemuinya.
Namun, senyum mereka perlahan memudar ketika melihat seorang wanita yang berjalan di samping Daren.
Arsen seketika berdiri dengan mata membelalak, seolah tidak percaya dengan sosok yang baru saja memasuki ruangan itu. Mario yang berdiri di belakangnya pun langsung menegang, sementara Darma menatap wanita tersebut dengan wajah yang mendadak pucat.
Keira Anindita.
Wanita yang beberapa waktu lalu mereka campakkan kini berjalan dengan anggun di tengah rombongan pimpinan KA Grup dengan mengenakan setelan formal yang elegan, dengan ekspresi tenang dan penuh wibawa.
Daren berhenti di dekat kursi pimpinan, kemudian sedikit menundukkan kepala kepada Keira sebelum mempersilakannya duduk di kursi utama yang berada tepat di sampingnya.
“Silakan, Bos. Semua peserta sudah menunggu,” ucap Daren dengan penuh hormat.
Keira mengangguk ringan, lalu mengambil tempat duduk di samping pria itu.
Arsen membeku. Darma bahkan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya, sementara Mario menatap Keira bergantian dengan Daren, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Kenapa Keira duduk di kursi pimpinan KA Grup?
Di tempatnya, Keira mengangkat pandangan dan tanpa sengaja bertemu mata dengan Arsen. Namun, ia segera mengalihkan perhatiannya kepada panitia yang mulai membuka acara.
Setelah acara resmi di buka oleh MC yang bertugas, Keira mengangguk kemungkinan mengedarkan pandanganku pada seluruh hadirin.
“Selamat pagi, semuanya,” ujar Keira dengan suara tenang. “Terima kasih telah hadir dalam proses pelelangan proyek yang diselenggarakan oleh perusahaan kami. Hari ini perusahaan kami akan memilih mitra terbaik berdasarkan kemampuan dan proposal yang telah diajukan.”
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏