NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Rukmini berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah merah menahan amarah. Di sampingnya, Lukman menyilangkan tangan di dada, ekspresinya penuh cemooh. Rumah yang biasanya ramai oleh suara mereka kini terasa tegang setelah Mia pergi membawa hampir seluruh barangnya.

“Rian, sana temui Mia,” perintah Rukmini, suaranya tajam dan tidak memberi ruang untuk dibantah. “Bujuk dia agar membatalkan menjual rumah ini. Bila perlu kamu tuntut saja dia ke pengadilan. Rumah ini milik keluarga kita. Dia tidak berhak semena-mena!”

Lukman mengangguk cepat, menambah tekanan. “Iya, Kak. Kamu jangan diam saja. Kamu sebagai suami harus tegas. Kalau perlu, ancam dia. Wanita seperti itu harus disadarkan. Dia pikir bisa pergi begitu saja setelah menikmati semua uangmu"

Rian yang sejak tadi duduk di sofa hanya menatap lantai. Wajahnya lelah, mata merah, dan bahunya terkulai. Ia tidak langsung menjawab. Suara ibu dan adiknya terdengar seperti gema jauh di telinganya. Di kepalanya, yang berputar justru wajah Mia saat terakhir kali menatapnya, penuh luka, kecewa, dan keputusasaan yang sudah tidak bisa ditebus dengan janji-janji kosong.

“Rian!” Rukmini menaikkan volume. “Kamu dengar tidak? Kalau rumah ini terjual, kita mau tinggal di mana? Mama tidak mau kembali ke kampung. Lukman belum punya pekerjaan tetap. Kamu harus bertindak sekarang juga!”

Rian mengangkat wajah pelan. Tatapannya kosong. “Aku lelah, Bu,” ujarnya pelan, hampir serak. “Aku benar-benar lelah.”

“Lelah apa?” bentak Lukman. “Istrimu yang bikin masalah, kok kamu yang lelah? Cepat temui dia. Atau biar saya yang—”

“Cukup,” potong Rian, kali ini suaranya sedikit lebih tegas meski masih lemah. Ia berdiri dari sofa. “Aku mau istirahat. Jangan ganggu aku dulu.”

Rukmini ingin menyahut lagi, tapi Rian sudah berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Langkahnya berat, seolah setiap anak tangga menanggung beban yang tidak terlihat. Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu mengunci dari dalam.

Di dalam kamar yang sunyi, Rian menyandarkan punggung di daun pintu. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Suara Rukmini dan Lukman masih samar terdengar dari bawah, masih membicarakan rumah, masih menyalahkan Mia, masih menuntutnya bertindak. Tapi Rian tidak lagi punya tenaga untuk membela siapa pun.

Ia berjalan menuju ranjang, lalu terduduk di tepinya. Pandangannya jatuh pada sisi ranjang yang kosong, tempat Mia biasanya tidur. Bantalnya masih ada, tapi sudah tidak ada aroma yang familiar. Lemari terbuka, sebagian kosong karena Mia sudah mengemasi pakaiannya.

Rian menutup wajah dengan kedua tangan. Di dadanya, rasa bersalah dan penyesalan bercampur menjadi satu. Ia tahu ibu dan adiknya tidak masuk akal. Ia tahu Mia sudah terlalu lama menderita di rumah ini. Tapi ia juga tahu, dirinya terlalu lemah untuk memilih dengan tegas selama ini.

Malam itu, Rian berbaring menyamping, menghadap dinding. Ia tidak tidur. Hanya terdiam, membiarkan suara tawa sinis Lukman dan omelan Rukmini dari lantai bawah menjadi latar belakang kesunyian yang menyesakkan. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri dengan jujur:

Apakah ia masih punya hak untuk meminta Mia kembali… setelah semua yang ia biarkan terjadi?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Satu minggu berlalu, kini Mia kembali mendatangi kantor Agen, bertemu dengan pembeli rumahnya.

Pagi itu langit cerah, tapi dada Mia terasa berat. Ia berdiri di depan kantor Agen Properti Mandiri dengan tas berisi dokumen lengkap di tangan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang meski kantung matanya sedikit terlihat. Ia sudah memutuskan, dan hari ini adalah hari di mana keputusan itu menjadi resmi.

Andi, sang agen, sudah menunggu di ruang meeting kecil di lantai dua. Begitu melihat Mia masuk, ia berdiri dan menyalami.

“Selamat pagi, Bu Mia. Silakan duduk. Semua dokumen sudah siap. Pembeli juga sudah transfer pelunasan kemarin sore. Kita hanya perlu tanda tangan balik nama dan serah terima kunci.”

Mia mengangguk, lalu duduk. Ia membuka tas dan mengeluarkan map coklat yang berisi sertifikat asli, KTP, dan beberapa surat pendukung. Tangannya sedikit gemetar ketika menyerahkan dokumen itu, tapi suaranya stabil.

“Saya sudah siap,” ujarnya pelan.

Andi memeriksa satu per satu. “Sertifikat bersih, tidak ada catatan sengketa. Pembeli adalah pasangan suami istri yang sudah survey dua kali. Mereka sangat tertarik dengan lokasi dan kondisi rumah.”jelas Andi.

Mia hanya tersenyum tipis. “Bagus. Semoga mereka menjaganya dengan baik.”

Tidak lama kemudian, notaris yang sudah ditunjuk masuk ke ruangan. Proses penandatanganan dimulai. Mia membaca setiap lembar dengan teliti, meski ia sudah hafal isinya.

Ketika pena diulurkan kepadanya, ia terdiam sejenak.

Di kepalanya, bayangan rumah itu muncul, ruang tamu yang pernah ia tata, halaman yang dulu ia tanami bunga, kamar yang pernah menjadi tempatnya menangis diam-diam. Lalu bayangan keluarga kecilnya yang sempat harmonis muncul begitu saja. Sebelum ipar dan mertuanya menginap di rumahnya, kehidupannya bersama Rian tampak baik-baik saja. Mereka hampir tidak pernah bertengkar seperti sekarang.

Mia menarik napas dalam, ia membuka satu persatu halaman sambil membubuhkan tanda tangan di dokumen tersebut.

Ketika selesai, notaris mengangguk. “Dengan ini, sertifikat resmi berpindah nama. Selamat, Bu. Transaksi selesai.”

Andi menyerahkan amplop tebal berisi sisa hasil penjualan setelah dipotong biaya admin dan pajak. “Ini bagian Ibu. Sudah saya hitung ulang. Silakan dicek.”

Mia membuka amplop itu, memeriksa jumlahnya, lalu mengangguk. “Terima kasih, Pak Andi. Atas bantuannya selama ini.”

Ia berdiri, menyalami Andi dan notaris, lalu keluar dari ruangan. Di lift, ia bersandar di dinding logam dingin, menutup mata sejenak. Ada rasa lega yang besar, tapi juga kosong yang sulit dijelaskan. Rumah yang selama ini menjadi sumber penderitaannya… resmi bukan miliknya lagi.

Di luar gedung, angin pagi menerpa wajahnya. Mia memasukkan amplop ke dalam tas, lalu berjalan menuju mobilnya. Di dalam mobil, ia duduk diam beberapa menit, menatap ke depan.

Ponselnya bergetar. Ada beberapa pesan dari Rian yang sejak seminggu lalu terus masuk, meminta bicara, meminta maaf, meminta kesempatan. Mia tidak membuka satupun. Ia hanya mengunci layar, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan kawasan itu.

Satu babak sudah ditutup.

Sertifikat sudah berpindah nama, dan sekarang giliran mendatangi rumah itu untuk memberikan sesuatu kepada suaminya.

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit Mia tiba di rumahnya. Kedatangannya langsung di sambut Rukmini.

"Mau apa kamu kesini?" seru Rukmini sambil berkacak pinggang.

"Saya hanya ingin memberikan ini pada Rian" ucap Mia dan menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Rukmini. "Suruh Rian menandatanganinya, jika tidak aku akan menjebloskan Lukman ke kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan" ancam Mia.

1
Lee Mba Young
Trus Rian di pecat krn kerjanya jd lelet 🤣. tmbh mnderita 🔥
Oma Gavin
tinggal tunggu waktu keluarga rukmini jadi gembel jalanan
Ma Em
Bagus Mia kamu hrs berani dan tegas ambil keputusan jgn mau dijadikan pembantu di rumahmu sendiri , ada suami tdk pernah membela istrinya malah selalu berpihak pada keluarganya , daripada rumah tangga Mia selalu bertengkar dan tdk bahagia keputusan Mia sdh tepat untuk bercerai dgn Rian .
Agus Tina
Thor double up kalau bisa ya ...
Oma Gavin
jgn goyah jgn mundur jgn luluh sama rian bila perlu pakai pengacara yg baik biar proses cerai mu cepat dan tutup semua akses mediasi
Agus Tina
Bagus Mia
Anonim
rumah punya sendiri mobil punya sendiri orh tua juga punya…ngapain mia gpblok bget msih bertahan sm keluarga benalu suaminya…jd bosan baca ceritanya muter2 terus
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuuut
Putri Wulandari
lanjut thor udah dipukulin numpang tapu ga ada karmanya
Anita Rahayu
SI MIA BEGO KEBANGETAN UDAH TAU MASUK SARANG HARIMAU HABISLAH BODOH YG GK BERSUDAHAN 😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Susan Paulina
Lanjut Thor
Lee Mba Young
di pukul bisa buat laporan ke polisi itu.
Oma Gavin
laporkan polisi biar dipenjara orang ngga guna banget hidup cuma numpang napas aja
Lee Mba Young
mia lbih baik jng pulang apa lagi bawa anak nya, nnti pasti Ada pertengkaran kasian Kayla akn trauma.
Oma Gavin
sukurin kalian benalu parasit silahkan angkat kaki tanpa uang sepersen pun hbs ini mia gugat cerai jgn mau lagi hidup dgn suami ketoy plin plan ngga tegas
Agus Tina
Syukurin, nanti kalau Rian marah ajukan proses cerai saja langsung
Agus Tina
Jenf .. jeng .. jeng
Lee Mba Young
Surat Surat penting bawa rumah ortu, mending jng pulang lah. anakmu mental down nnti bisa bisa trauma. mending tinggal di rumah ortu mu lah.
Oma Gavin
sertifikat asli lebih baik disimpan di rumah ortu mu demi keamanan jgn sampai dibawa pulang lagi nanti di curi grandong
Agus Tina
Pergi saja, cerai ... ambil milikmu kembali ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!