Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Seseorang di Depan Pintu
Tiga jam kemudian, seluruh revisi akhirnya selesai. Satu per satu laporan kembali diperiksa sebelum diserahkan kepada Ares.
Setelah membaca hasil akhirnya, Ares menutup berkas di tangannya. “Sudah sesuai.”
Para staf yang sejak tadi menunggu dengan tegang langsung mengembuskan napas lega.
Ares berdiri. “Kirimkan versi finalnya ke saya sebelum sore.”
“Baik, Tuan.”
Ares meninggalkan ruang meeting bersama Reki.
Begitu pintu tertutup, beberapa staf langsung bersandar di kursi masing-masing.
“Gila...” salah satu dari mereka mengusap wajah. “Akhir-akhir ini Tuan Ares beda, ya?”
“Lebih tenang?” sahut yang lain.
“Iya. Biasanya tiap rapat selalu ada berkas terbang atau bentakan. Hari ini gak ada sama sekali.”
“Meski tetep tegas.”
“Bukan cuma itu.” Staf lain ikut menyela. “Auranya juga beda.”
“Beda gimana?”
“Wajahnya kelihatan lebih seger.”
Beberapa orang saling pandang.
Salah seorang staf perempuan menahan tawa sebelum akhirnya bercelatuk, “Kayak aura suami yang baru dapet jatah.”
Ruangan langsung dipenuhi tatapan kaget.
“Ah, mana mungkin!” bisik rekannya cepat. “Tuan Ares 'kan alergi perempuan.”
“Iya juga, ya.”
“Lagipula emangnya siapa yang berani deket sama dia?”
Staf perempuan tadi hendak menjawab, tetapi ingatannya kembali pada tangan Ares yang tadi mengambil berkas sebelum keluar ruangan.
“Eh, kalian tadi lihat gak?”
“Lihat apa?”
“Jari manisnya. Kayak ada cincin.”
“Cincin?” Salah seorang staf mengernyit. “Jangan-jangan cincin kawin?”
Mereka kembali saling pandang.
“Gak mungkin, 'kan?”
“Kalo bukan cincin kawin, kenapa dipakai di jari manis?”
“Bisa aja cuma aksesori.”
“Tapi Tuan Ares bukan tipe orang yang suka pakai aksesori.”
Mereka terdiam.
Beberapa detik kemudian, salah seorang staf mengangkat bahu. “Apa pun alasannya, yang penting akhir-akhir ini dia lebih baik. Semoga ke depannya makin baik.”
“Setuju.”
“Yang penting kita juga gak kena lempar berkas lagi.”
Mereka tertawa kecil.
Staf perempuan tadi kembali menahan senyum. “Jangan-jangan emang benar.”
“Benar apanya?”
“Kalo Tuan Ares sudah punya seseorang.”
“Mustahil.”
“Kenapa?”
“Karena kalo bener, kita semua pasti bakal tau.”
Mereka kembali terdiam.
Tidak ada yang menyadari bahwa justru karena Ares menyembunyikannya, tidak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa dugaan mereka mungkin tidak sepenuhnya salah.
Di ruang kerjanya, Ares baru saja meletakkan berkas ketika ia meraih ponselnya.
Ia menghubungi pengurus rumahnya. “Pak Darto.”
“Iya, Tuan.” Suara Pak Darto terdengar dari seberang.
“Alisha masih di rumah?” tanya Ares.
“Masih, Tuan. Nyonya belum keluar.”
Ares mengangguk kecil meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Baik.”
Sambungan berakhir. Ares membuka percakapan dengan Alisha.
Ares:
> Tetap di rumah. Jangan ke mana-mana.
Beberapa saat kemudian, balasan masuk.
Alisha:
> Iya.
Hanya satu kata. Namun entah kenapa, Ares mengembuskan napas lega. Setidaknya Alisha masih berada di rumah dan tidak pergi ke mana-mana setelah kejadian dengan Arga tadi malam.
Tok. Tok.
Ketukan terdengar dari pintu.
“Masuk.”
Reki membuka pintu sambil membawa beberapa berkas. “Tuan, ini revisi yang Anda minta.”
Ares menerima berkas itu. Ia langsung membacanya, memeriksa beberapa bagian sebelum akhirnya mengangguk. “Sudah benar.”
Reki meletakkan satu berkas lain di atas meja. “Ini juga.”
Ares mengangkat pandangan.
“Informasi tentang Yudhis," jelas Reki.
Tatapan Ares langsung berpindah ke berkas tersebut. Ia membukanya dan membaca beberapa halaman.
“Dia masih deketin Alisha?”
“Nggak ada indikasi seperti itu, Tuan.” Reki menjawab setelah memastikan catatannya. “Sejauh ini interaksi mereka biasa aja. Yudhis lebih banyak berhubungan dengan Nyonya karena menangani Raka.”
Ares kembali membaca.
“Selain itu, Nyonya juga gak terlalu lama di rumah sakit. Jadi kemungkinan interaksi mereka di luar urusan Raka cukup kecil.”
Ares menutup berkas. “Bagus.”
Reki hendak mengambil kembali berkas tadi ketika tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, ya, Tuan.”
Ares menatapnya.
“Orang yang saya minta mengawasi Nyonya juga sudah melapor soal Arga.”
Sorot mata Ares langsung berubah. “Dia deketin Alisha?”
“Iya," jawab Reki. "Sejauh yang dilaporkan, Arga sengaja nyari kesempatan untuk ketemu Nyonya.”
Ares bersandar di kursinya. “Awasi saja.”
“Baik.” Reki mengangguk, tetapi tidak langsung pergi.
Ares memerhatikannya. “Ada lagi?”
Reki menarik napas pelan. “Kemarin saat anak buah saya melapor langsung ke Tuan, karena saya sedang bersama Tuan Rendra. Tuan ingat 'kan?”
“Iya," sahut Ares. "Aku ingat."
“Beliau sempat nanya sesuatu soal Tuan.”
Ares mengangkat alis. “Apa?”
“Beliau nanya kenapa kondisi Tuan sejak kuliah semakin parah.”
Ares terdiam.
Reki melanjutkan dengan hati-hati, “Beliau juga bilang, menurutnya masalah Tuan bukan cuma soal ibu dan bibi Anda.”
Ares menyandarkan punggungnya lebih dalam. “Terus?”
“Saya dipaksa cerita.”
Ares menatap Reki beberapa detik. Ia tahu pamannya akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya.
“Kamu bilang apa aja?”
“Cuma soal Rania dan Arga.”
Ares terdiam. Rahangnya mengeras sesaat sebelum kembali tenang. “Bagus.”
Reki masih terlihat ragu. Ia menarik napas sebelum akhirnya berkata, “Tuan...”
Ares mengangkat wajah.
“Gimana kalo suatu saat beliau tau soal Nyonya?”
Jari Ares yang sejak tadi berada di atas meja berhenti bergerak. Pertanyaan itu sebenarnya sudah beberapa kali muncul di kepalanya.
Rendra bukan orang yang mudah dibohongi. Terlebih lagi, pria itu mengenal Ares sejak kecil dan tahu hampir semua kebiasaannya.
“Dia belum perlu tau.”
“Tapi Tuan Rendra mulai curiga.”
Ares menghela napas pelan. “Aku tau.”
“Kalau beliau nyari tau sendiri?”
Ares terdiam cukup lama. Tatapannya turun pada cincin di jarinya. Dulu benda itu hanya bagian dari kesepakatan yang tidak perlu diketahui siapa pun. Sekarang cincin yang sama justru menjadi sesuatu yang semakin sulit ia sembunyikan.
“Aku akan mengurusnya.”
Reki mengangguk, tetapi sebelum berbalik, Ares kembali memanggil.
“Reki.”
“Ya, Tuan?”
“Mulai sekarang, kalo Om Rendra nanya sesuatu soal aku...” Ares berhenti sebentar. “Jangan bohong terlalu banyak.”
Reki mengerutkan kening.
“Jawab seperlunya. Jangan kasih alasan yang bikin dia makin curiga.”
“Baik.” Reki hendak keluar.
Namun Ares kembali berkata, “Dan jangan sampai dia tau soal Alisha dari orang lain.”
Reki menoleh.
“Kalo beliau sampai tau,” lanjut Ares dengan suara rendah, “aku yang bakal jelasin.”
Reki mengangguk. “Mengerti, Tuan.”
Pintu kembali tertutup. Ares bersandar di kursinya. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Pesan dari Alisha masuk.
Alisha:
> Aku bosan.
Sudut bibir Ares terangkat tipis. Ketegangan yang tadi memenuhi pikirannya sedikit mencair.
Ia mengetik balasan.
Ares:
> Pengen aku temenin?
Di tempat lain, tanpa diketahui Ares, Arga berdiri di depan sebuah rumah sederhana.
Rumah Alisha.
Tatapannya tertuju pada pintu di hadapannya. Tangannya terangkat, lalu mengetuk.
...✨“Jangan mengira rahasia akan selalu aman hanya karena tak pernah diucapkan. Sikap, perubahan, bahkan sebuah cincin bisa berbicara lebih banyak daripada kata-kata.”✨...
.
To be continued
Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.
Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.
Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.
Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.
Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.
Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.
Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.
Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.
Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.
Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.
Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.
Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.
Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.
Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.
Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.
Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.
Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.
Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.
Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.
Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.
Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.
Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.
Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏