NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di saat yang bersamaan, SUV kedua melesat maju dan berhenti melintang tepat di depan moncong taksi, mengunci posisi mereka secara mutlak.

Pintu kedua mobil SUV hitam itu terbuka hampir bersamaan. Dan dari dalamnya, sepuluh orang pria berbadan tegap dengan pakaian taktis serba hitam dan kacamata gelap keluar secara serentak.

Tanpa peringatan, beberapa di antara mereka langsung menggedor kaca pintu depan taksi dengan kepalan tangan dan pangkal pipa besi secara brutal.

BAM! BAM! BAM!

"Bawa taksi ini jalan ke arah pelabuhan tua di kawasan utara kalau kau masih sayang nyawamu!" bentak salah seorang pria berbadan kekar dengan bekas luka di pipinya.

Wajah sang sopir taksi semakin pucat pasi, lututnya lemas dan tubuhnya gemetar hebat hingga kakinya yang goyah tak lagi sanggup menekan pedal gas.

Sopir taksi yang sudah berkeringat dingin itu menatap Darius melalui spion tengah dengan penuh ketakutan. "T-Tuan... bagaimana ini? Saya tidak ingin mati hari ini..."

Darius kemudian menepuk pelan sandaran kursi depan dengan gerakan tenang yang misterius. "Ikuti saja kemauan mereka. Kemudikan taksimu ke arah pelabuhan tua di kawasan utara."

"T-Tapi, Tuan..." Suara sang sopir taksi bergetar hebat. Matanya juga membelalak menatap dua mobil SUV hitam itu.

"Lakukan saja," potong Darius dengan nada yang teramat dingin namun memiliki aura intimidasi yang memaksa sang sopir untuk patuh tanpa bantahan lagi.

Dengan tangan yang masih gemetar, sopir taksi itu memindahkan tuas transmisi dan perlahan melaju. Dua mobil SUV hitam segera mengawal ketat di depan dan belakangnya.

Rombongan mobil itu segera bergerak meninggalkan keriuhan lalu lintas Ibukota, melaju menuju pelabuhan tua di kawasan utara.

Empat puluh menit berlalu. Taksi berbelok memasuki area Pelabuhan Tua Muara Karang yang sepi dan terisolasi. Bau air laut berpadu dengan aroma karat besi tua menyambut kedatangan mereka.

Suara derit ban beradu tajam dengan aspal terdengar saat dua SUV hitam itu mendadak mengerem, mengurung taksi tepat di tengah area lapang yang terhimpit di antara dua kontainer.

Sepuluh pria berbadan tegap serba hitam turun dari mobil. Sang pemimpin, pria berbekas luka di pipi, melangkah maju lalu menggetok kaca jendela belakang taksi dengan ujung pipa besi tebal.

"Turun, Anak Muda!" gertak pria itu dengan suara nyaring dan senyum menyeringai sadis. "Tempat ini adalah akhir dari perjalananmu!"

Sang sopir taksi seketika memejamkan matanya erat-erat, karena ketakutan. Namun, Darius hanya menghela napas pendek lalu mendorong pintu taksi dan melangkah keluar secara perlahan.

Darius berdiri dengan tegap di bawah terik matahari, ia menyapu pandangannya ke arah sepuluh pria yang mengepungnya dengan berbagai senjata tajam dan pipa besi.

"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Darius datar. Suaranya bergema tenang di tengah deburan ombak yang menghantam dermaga.

Mendengar hal itu, pria berbekas luka di wajah itu seketika tertawa terbahak-bahak, diikuti gelak tawa mengejek dari sembilan anak buahnya yang lain.

"Kau tidak perlu tahu siapa bos kami!" ujar sang pemimpin seraya mengayun-ayunkan pipa besinya. "Perintah yang kami terima sangat sederhana, membuatmu cacat permanen."

Darius tidak sedikit pun terkejut. Bibirnya justru menyunggingkan senyum yang sarat akan aroma kematian. "Cacat permanen? Sayang sekali, perintah dari bos kalian terlalu dangkal."

"Keparat sombong!" teriak salah satu pria berbadan gempal dari sisi kanan. "Dalam situasi terkepung begini kau masih sempat berpura-pura tenang?! Hajar dia sampai berdarah-darah!"

Pertarungan seketika pecah. Tiga pria paling depan menerjang maju secara serentak.

Pria berbadan gempal mengayunkan pipa besi ke arah leher Darius dengan cepat, sementara dua lainnya mengincar tubuh bagian bawah menggunakan belati yang terhunus.

Melihat hal tersebut, Darius tetap tenang. Saat pipa besi itu melayang hanya beberapa milimeter dari lehernya, ia cukup merendahkan bahunya sedikit, hingga pipa besi itu menghantam udara kosong

Sebelum pria gempal itu sempat menyadari apa yang terjadi, tangan kanan Darius melesat menangkap pergelangan tangan sang lawan, lalu meremukkannya dan merebut pipa besi tersebut.

KRAK!

"AAAAAGGHH!"

Setelah itu, Darius langsung memutarkan pipa besi itu dengan kuat dan cepat, mengibaskannya secara horizontal ke arah dua penyerang yang memakai belati di bawah.

BAM! BAM!

Hantaman telak pipa besi itu mengenai rahang kedua penyerang tersebut secara beruntun. Kedua pria itu melayang tiga meter sebelum jatuh terhempas dan tak sadarkan diri.

Tanpa memberi jeda, Darius kembali menghantamkan pipa besi ke arah kepala pria yang tangannya telah ia remukkan. Hantaman keras itu seketika merobohkan sang pria gempal ke tanah.

Keheningan seketika mencengkeram area pelabuhan tua itu. Sang pemimpin dan enam orang yang tersisa, membeku di tempat dengan mata membelalak tak percaya.

"B-Bagaimana mungkin... Tiga orang roboh hanya dalam waktu tiga detik?!" gumam salah satu pria dengan bibir yang bergetar hebat.

"Tunggu apa lagi?!" jerit sang pemimpin dengan suara yang melengking panik, menyembunyikan rasa takutnya. "Gunakan senjata kalian! Habisi dia sekarang juga!"

Enam pria yang tersisa itu merangsek maju secara bersamaan, bergerak dengan cepat membentuk lingkaran demi menutup rapat setiap celah melarikan diri bagi Darius.

Dua belati melayang mengincar ulu hati dan lambung, sementara sisanya menghantamkan pipa besi secara membabi buta dari arah belakang dan samping.

Darius kemudian memiringkan tubuhnya menghindari ayunan belati pertama, lalu melangkah maju. Dengan siku kanannya, ia menghantam rahang si penyerang dengan kuat.

KRAK!

Pria itu terhuyung ke belakang dengan rahang terdislokasi. Di saat yang sama, Darius segera menyambar pipa besi yang melayang dari samping kiri dengan telapak tangannya.

Ia menarik pipa tersebut ke arahnya, menyentak pemiliknya hingga tertarik ke depan, lalu mendaratkan tendangan lurus yang menghantam dada sang lawan hingga terlempar cukup jauh.

Darius terus bergerak bagaikan kilat. Setiap pergerakannya mematikan dan presisi. Dalam kurun waktu tidak sampai dua menit, jeritan kesakitan terdengar bersahutan dengan bunyi hantaman

Satu per satu penyerang itu terkapar dan mengerang kesakitan, hingga akhirnya hanya tersisa sang pemimpin yang berdiri gemetar sendirian. Pipa besi di tangan pria itu terlepas dan jatuh ke atas tanah.

"K-Kau... siapa kau sebenarnya?!" pekik sang pemimpin dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin yang mengucur deras membasahi wajahnya.

Darius melangkah mendekat secara perlahan. Ia lalu berhenti tepat di depan sang pemimpin, mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat tubuh pria itu hanya dengan satu tangan.

"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku," ucap Darius dengan suara yang amat rendah, namun sarat akan aura intimidasi. "Siapa yang menyuruh kalian?"

Pria itu berjuang meraup udara, matanya menatap sorot kelam di balik manik mata Darius. Rasa takut akan kematian seketika meruntuhkan seluruh harga dirinya.

"T-Tuan Devran..." pekik sang pemimpin dengan suara tercekat dan mata yang mendelik lebar. "Tuan Devran Zavian! Dia... dia yang memerintahkan kami untuk membuatmu menjadi cacat!"

Mendengar hal itu, sebuah senyum tipis yang amat dingin terlihat di bibir Darius. Rupanya, pacar dari Adelina Atmadja yang berada dibalik semua ini.

"Devran Zavian..." gumam Darius dengan suara rendah yang menakutkan. "Dia bertindak terlalu cepat, tapi dengan cara yang amat dangkal."

Darius menghempaskan tubuh sang pemimpin dengan keras. Tanpa memberi jeda, kaki kanannya mengayun dengan kuat dan langsung menghantam kepala pria itu hingga membuatnya pingsan seketika.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!