Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keingin Azalia
Gavin keluar dari mobil dengan langkah besar, tubuhnya menegang. "Azalia!"
Azalia menoleh. Matanya tampak kosong, penuh kebingungan dan ketakutan.
Tanpa pikir panjang. Gavin berjalan cepat ke arahnya. Tapi saat dia mendekat, Azalia justru melangkah mundur, mengambil jarak darinya.
"Jangan mendekat," bisiknya, pelan. Nyaris tak terdengar.
Gavin tak peduli. Dia tetap melangkah. "Azalia, kau..,"
"Jangan bersikap seperti ini, Gavin." Suaranya bergetar. Napasnya pendek. "Aku tahu kenapa kau berubah."
Gavin mengerutkan kening, menunggu Azalia melanjutkan.
"Kau tahu aku akan segera mati, kan?"
Tenggorokannya terasa tercekat.
"Itu sebabnya kau melakukan ini. Kau merasa kasihan padaku." Lanjut Azalia. Matanya mulai berkaca-kaca.
Gavin mendekat. Kali ini Azalia tidak mundur, hanya menatapnya dengan mata yang dipenuhi rasa sakit.
Dada Gavin terasa berat. Dia tidak bisa menjawab. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Yang dia tahu hanya satu hal. Gavin tidak bisa membiarkan Azalia pergi.
Tangan Gavin terangkat. Dia menarik Azalia ke dalam pelukannya.
Azalia tersentak. Dia berusaha mendorong, tapi tenaganya tidak sebanding dengan Gavin.
"Lepaskan aku, Gavin." Suaranya hampir tak terdengar.
Tapi Gavin memeluknya lebih erat. Dia bisa merasakan betapa ringkih tubuh Azalia di dalam pelukannya. Bisa merasakan napas gadis itu yang tidak stabil.
Dia menundukkan kepala, suaranya rendah dan penuh ketegasan.
"Dengar, Azalia. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Bahkan jika aku harus menyeretmu pulang. Terserah apa yang kau pikirkan. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku akan membawamu pulang bersamaku."
Azalia membeku dipelukannya.
Detik berikutnya, tubuhnya melemas.
"Azalia?"
Tidak ada jawaban.
Sial.
Gavin langsung mengangkatnya ke dalam gendongan. Tanpa memedulikan orang-orang di sekelilingnya, tanpa memperdulikan lalu lintas yang kacau, dia membawa Azalia ke dalam mobilnya.
"Bertahanlah, Azalia," gumamnya lirih.
"Jangan berani-berani pergi dariku lagi."
Lalu Gavin segera memacu mobilnya, menuju rumah mereka.
Azalia sadar kembali begitu mereka tiba di apartemen. Dia masih merasa lemah, tapi kesadaran penuh membuatnya langsung teringat dengan kejadian di jalan tadi. Saat Gavin menatapnya cemas, pelukan pria itu yang terasa begitu erat seolah dia takut kehilangan Azalia. Semua itu masih terpatri jelas dalam pikirannya.
Begitu matanya terbuka, dia menemukan dirinya kembali di kamar apartemen. Ada Abu di sana, tapi Gavin tidak terlihat.
"Nyonya, Anda harus banyak istirahat," kata Abu saat menyelipkan selimut untuknya.
Azalia menatap tangannya sendiri, masih gemetar sedikit. Dia merasa semakin frustasi. Bukan hanya karena tubuhnya, tapi karena perasaannya sendiri yang makin sulit dia kendalikan.
Ketika Abu meninggalkan ruangan, Azalia mencoba bangun, tapi sebelum dia bisa melangkah keluar, pintu terbuka.
Gavin berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kau sudah bangun?" nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu dalam tatapan pria itu.
Azalia berpaling, mengalihkan pandangan ke mana saja. "Aku tidak mau di sini."
Tapi sebelum dia berhasil berjalan melewati Gavin, pintu tertutup, Gavin menghalangi jalan keluar.
"Aku tidak mengizinkanmu!" Tuturnya, penuh penekanan.
"Kenapa? Bukankah kau yang selalu menginginkan aku pergi?"
"Tidak untuk sekarang," Gavin menelan ludah. "Tidak untuk sekarang dan selamanya. Sudah kukatakan padamu, terserah bagaimana kau memikirkan alasanku melakukan ini, tapi aku tidak akan berhenti. Kau masih istriku, dan aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Sekarang aku mau minta mau beristirahat, kembali ke tempat tidurmu."
Azalia menggigit bibirnya. Dia tidak ingin berdebat dengan Gavin, tidak dengan kondisinya yang sekarang. Tapi dia juga tidak ingin tinggal di sini lagi.
"Aku tidak mau Gavin." Tolaknya.
"Tidak mau?" Kutip Gavin. "Kalau begitu aku tidak akan kemana-mana akan menjagamu di sini sampai kau tidur."
Azalia menatap Gavin dengan cemberut. Dia berbalik, mengambil tasnya lagi. Tidak peduli apa yang dikatakan pria itu, dia akan tetap pergi dari rumah yang bukan rumahnya ini.
Namun saat dia melihat ke dalam isi dompetnya, bahkan tidak ada selembar pun yang tersisa. Dia sama sekali tidak punya uang.
Ragu-ragu dia kembali ke Gavin. Kepalanya sedikit tertunduk, menyembunyikan perasaan malunya.
"Tadi kau bilang aku masih istrimu, kan?" Katanya lirih. "Kalau begitu tolong pinjamkan aku sedikit uangmu, tidak banyak hanya untuk membayar taksi pulang."
Azalea menadahkan telapak tangan, tapi kepalanya terus menunduk, menatap kakinya sendiri.
Gavin menatap telapak tangan itu dengan diam, tapi hatinya terasa geli.
Sebelum dia mengatakan apa-apa, Abu mengetuk pintu kamar mereka. Dan mengatakan bahwa dokter Wahyu sudah tiba.
Seharusnya tadi Gavin yang menemui Dokter Wahyu karena mereka sudah memiliki janji di rumah sakit untuk membicarakan kondisi Azalia. Namun Abu menghubunginya, membuat Gavin memutar kemudi dan meminta pria itu untuk datang ke rumahnya.
Saat pintu dibuka Gavin, Dokter Wahyu sudah berdiri di hadapannya. Ekspresi pria paruh baya itu terlihat cemas dan takut. "Azalia, aku mendengarmu pingsan. Kenapa tidak istirahat? Ayo, berbaringlah ke sana, biar aku memeriksamu."
Tidak peduli apa yang terjadi pada mereka, Dokter Wahyu mendorong Azalia kembali ke tempat tidurnya, memintanya berbaring.
Dokter Wahyu memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan kondisi fisik Azalia dengan teliti. Sesekali, dia melirik Gavin yang masih berdiri di sisi ranjang. Tatapan pria itu penuh perhatian.
"Tadi siang dia kesulitan menggerakkan tangannya."
Dokter Wahyu menghentikan gerakannya. Dia beralih ke tangan Azalia, mengangkatnya perlahan, menekan beberapa titik di sepanjang lengan dan pergelangan tangannya.
"Apakah kau merasa kesemutan atau mati rasa?" Tanyanya pada Azalia.
Azalia mengangguk pelan. "Tadi siang aku sulit menggerakkannya. Aku tidak bisa menggenggam sesuatu dengan baik."
Dokter Wahyu mengangguk paham.
Dokter Wahyu menoleh pada Gavin. "Aku membawa seorang perawat untuk membantumu merawatnya. Sesuai permintaanmu, dan dia juga bersedia tinggal di sini untuk memastikan kondisi Azalia tetap stabil."
"Tentang tangannya?" Ternyata Gavin masih ingin tahu kondisi Azalia.
"Itu bisa jadi karena beberapa hal, atau efek dari kondisi Azalea yang semakin menurun."
Gavin mengangguk pelan. "Dia bersikeras ingin pulang ke rumahnya. Menurut dokter, apa dia bisa melakukan itu?" Nada Gavin ringan, tapi ada sedikit kekesalan di dalamnya saat dia melirik Azalia.
Dokter Wahyu menatap Azalia, lalu menghela napas. "Aku tidak menyarankan dia tinggal sendirian. Dia butuh seseorang untuk memastikan dia beristirahat dengan baik, minum obat tepat waktu, dan tidak memaksakan diri."
Gavin menoleh ke Azalia. "Kau dengar itu?"
Azalia menghindari tatapannya.
Dokter Wahyu berdiri, merapikan alat-alatnya. "Aku akan memberinya resep tambahan. Pastikan dia tidak terlalu stress dan mendapatkan cukup istirahat."
"Aku akan memastikan itu," jawab Gavin tanpa jeda.
Dokter Wahyu tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Gavin sebelum pergi. Perawat yang datang bersamanya juga mundur setelah mengatur beberapa obat di meja samping ranjang Azalia.
Setelah ruangan kembali, Azalia akhirnya bicara.
"Aku tetap ingin pulang."
Gavin menatapnya dalam diam. "Kau sudah di rumah."
"Aku ingin kembali ke rumah lamaku." Nadanya tegas, tapi ada ketakutan dalam suaranya.
"Azalia."
"Kenapa?" Akhirnya Azalia berani menatapnya. "Selama ini aku juga tinggal seorang diri. Apa bedanya dengan sekarang? Bahkan saat itu pun, keadaanku juga sama. Aku bisa....,"
"Cukup, Azalia!" Gavin memotongnya dengan nada tinggi.
Azalia bungkam. Kepalanya tertunduk takut sambil meremas jarinya. Gavin memang selalu bersikap dingin padanya, tapi dia tidak pernah membentaknya seperti ini. Nada tingginya membuat tubuhnya sedikit gemetar.
Melihat Azalia seperti itu, Gavin menarik napas dalam-dalam. "Baiklah jika kau memang sangat ingin pergi dari sini."
Dia mengeluarkan dompetnya, memberi Azalia beberapa lembar. "Untuk memanggil taksi pulang," katanya, lalu berbalik dan pergi begitu saja. Membuat Azalia terdiam.
#######
Masih mau lanjut???
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...