NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KEMBALI BERMIMPI

---

Sementara itu, di Lembah Feng Yin, Beifeng Yao baru saja selesai menata kamar dan ruangannya dengan bantuan Xiong Yan.

Rumahnya sekarang terlihat lebih hidup. Ada untaian bunga yang menjuntai di beberapa sudut. Batu-batu alam kecil menghiasi meja dan rak kayunya. Di sudut kamar, lampu berbentuk teratai memberikan cahaya lembut.

"Nah... selesai," ucap Feng Yao semangat.

"Ya... selesai."

Xiong Yan baru saja memasang lampu teratai di kamar Feng Yao. Feng Yao melihat sekeliling, tersenyum senang dan puas.

Xiong Yan yang melirik ke arahnya tiba-tiba membeku. Senyuman Feng Yao terlihat begitu manis di bawah cahaya lampu teratai. Namun angin dingin lembah yang berhembus membuatnya tersadar. Malam sudah semakin larut.

Xiong Yan berdiri. "Feng Yao, angin lembah kali ini lebih dingin." Ia mengambil sesuatu dari kursi. "Aku punya mantel. Tolong kau pakai." Ia menyerahkan mantel kulit beruang.

Feng Yao menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Xiong Yan. Kau benar-benar teman yang baik." Feng Yao tersenyum manis sambil memeluk mantel itu.

Xiong Yan kembali membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat. *Teman yang baik...* Anehnya, ia tidak merasa kecewa. Justru senang. Setidaknya Feng Yao merasa nyaman bersamanya.

"Apa kau makan sesuatu, Xiong Yan? Atau mau minum teh?" tanya Feng Yao.

Xiong Yan langsung tersadar. "Oh... tidak. Tidak." Ia buru-buru berjalan menuju pintu. "Hari sudah malam. Aku pergi dulu." Ia menoleh sebentar. "Selamat malam, Feng Yao."

"Ya. Hati-hati!" Feng Yao berdiri di depan pintu dan melambaikan tangan.

Xiong Yan keluar dari pondok. Namun begitu menjauh beberapa langkah, ia langsung berlari. Cepat sekali. Jubahnya berkibar diterpa angin.

Feng Yao yang masih berdiri di depan pintu sampai bingung. "Hah?" Ia berjalan kembali ke dalam dan melihat dari jendela. Xiong Yan masih berlari semakin jauh menuju markas Klan Beruang Hitam.

Feng Yao mengedipkan mata. "Kenapa Xiong Yan berlari begitu cepat?"

Sementara itu, Xiong Yan terus berlari. Satu bukit. Dua bukit. Sampai akhirnya ia tiba di markas Klan Beruang Hitam. Begitu masuk ke kamarnya, ia langsung berhenti. Kedua tangannya bertumpu di lutut.

"Hah... hah..."

Ia menarik napas panjang. Baru sekarang jantungnya sedikit tenang. Xiong Yan berdiri tegak, wajahnya masih memerah. Tangannya kembali menyentuh dada.

"Gawat..."

Ia terdiam sebentar, kemudian tersenyum sendiri. "Dia bilang aku teman yang baik." Senyumnya semakin lebar. "Setidaknya... aku sudah selangkah lebih dekat."

Xiong Yan menghela napas lega. Namun kemudian ia teringat senyuman Feng Yao. Jantungnya kembali berdetak kencang.

"Ah!" Ia langsung menjatuhkan diri ke kursi. "Kenapa jantungku tidak bisa diajak kompromi?!"

Di luar kamar, salah satu penjaga yang kebetulan lewat hanya menatap pintu dengan bingung. "Ketua... kenapa?"

Xiong Yan langsung menjawab. "Tidak ada apa-apa!"

Penjaga itu mengangguk dan pergi.

Xiong Yan kembali menyandarkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum puas. Ia memang belum menjadi orang yang spesial bagi Feng Yao. Tapi baginya, menjadi teman yang baik saja sudah cukup membuatnya bahagia.

---

Beifeng Yao hanya menghela napas sambil menutup pintu jendela, setelah melihat tingkah laku Xiong Yan. Ia kemudian menuju tempat tidurnya, duduk bersila, dan mulai bermeditasi.

Beberapa saat kemudian, pikirannya menjadi tenang. Namun tiba-tiba, dalam meditasi itu, ia melihat sosok Zhuin.

Zhuin berlari di tengah hutan. Di belakangnya seekor babi hutan mengejar dengan ganas.

"Zhuin..." Feng Yao berbisik.

Namun sebelum ia sempat mendekat, pandangannya kembali berubah. Kini ia berada di sebuah hutan yang dipenuhi pohon-pohon pinus. Udara terasa dingin. Di antara pepohonan, terlihat seseorang berbaju putih tergeletak di tanah.

Feng Yao mencoba melihat wajahnya. Namun sosok itu terlalu jauh. Beberapa ekor ular merayap meninggalkan tubuhnya.

Feng Yao melihatnya dengan tatapan bingung. "Apa...?"

Seketika pandangan itu menghilang.

Feng Yao membuka matanya. "Agh... h-hah?" Napasnya sedikit memburu. Ia menatap sekeliling kamar.

"Apakah Zhuin sudah hidup kembali?"

Tangannya menggenggam selimut. "Tapi... di mana dia?"

Ia terdiam. Bayangan sosok berbaju putih tadi kembali terlintas di pikirannya.

"Terus tadi itu siapa?" Feng Yao mengerutkan kening. "Kenapa ada ular yang menyerangnya?"

Ia menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meditasi yang biasanya memberinya ketenangan justru meninggalkan lebih banyak pertanyaan.

"Zhuin... sebenarnya kau berada di mana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!