NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. KATA-KATA TERAKHIR

Gagang pintu utama bergerak perlahan.

Arka berdiri membeku di tempatnya. Di sampingnya, Sara mencengkeram ujung lengan bajunya, sementara Bastian memberi isyarat agar mereka tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Klik.

Gagang pintu berhenti bergerak.

Ketiganya menahan napas.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian, terdengar langkah kaki menjauh dari pintu utama. Suaranya semakin samar, sebelum akhirnya lenyap ditelan kesunyian malam.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Bastian masih mengarahkan pandangannya ke pintu. Ia menunggu beberapa saat, memastikan orang di luar benar-benar pergi.

“Sepertinya mereka sudah pergi,” bisiknya.

Sara mengembuskan napas panjang. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram lengan Arka perlahan mengendur.

“Syukurlah...” gumamnya.

Arka tidak menjawab. Ia masih menatap pintu itu dengan wajah tegang.

“Jangan terburu-buru,” katanya pelan. “Kita belum tahu apakah mereka benar-benar pergi.”

Bastian mengangguk.

Mereka menunggu hampir satu menit sebelum akhirnya berani keluar dari balik tumpukan peti tempat mereka bersembunyi.

Bastian menyalakan senternya kembali, lalu memeriksa keadaan di sekitar pintu utama.

Kosong.

Tidak ada siapa pun.

“Baiklah,” ucapnya. “Kita keluar sekarang. Setelah itu, aku akan menghubungi petugas untuk mengamankan tempat ini.”

Arka mengangguk.

Ia melirik Sara.

“Kau baik-baik saja?”

Sara membalas tatapannya, lalu mengangguk kecil.

“Ya. Aku hanya ingin segera keluar dari sini.”

Arka mengulurkan tangannya.

Sara menyambutnya.

Mereka berdua berjalan mengikuti Bastian menuju pintu utama. Untuk sesaat, Arka merasakan genggaman Sara menguat.

Ia menoleh kepadanya.

“Jangan takut. Kita akan keluar bersama-sama.”

Sara memaksakan senyum.

“Aku tahu.”

Namun, baru beberapa langkah sebelum mereka mencapai pintu—

DOR!

Suara tembakan meledak di dalam gudang.

Bastian terhuyung.

“ARGH!”

Tubuhnya jatuh ke lantai. Senter yang dipegangnya terlepas dan berguling beberapa meter, menerangi langit-langit gudang dengan cahaya yang berputar-putar.

“BASTIAN!” teriak Arka.

Ia langsung berlari menghampiri sahabatnya.

Bastian mencengkeram kaki kanannya. Darah mulai merembes di antara jemarinya.

“Brengsek...” desis Bastian, menahan rasa sakit. “Mereka benar-benar tidak bisa membiarkan orang pulang dengan tenang, ya?”

“Jangan banyak bicara!”

Arka berlutut di sampingnya.

Sara ikut berjongkok, wajahnya pucat pasi.

“Bastian! Kau baik-baik saja!”

“Terima kasih atas informasinya, Sara. Aku hampir mengira ini hanya gigitan nyamuk.”

Bastian masih mencoba bercanda, tetapi suaranya terdengar lemah.

Arka menekan kain pada luka Bastian untuk membantu mengendalikan perdarahan.

“Kita harus membawamu ke rumah sakit.”

“Ya, tentu. Itu rencana yang sangat bagus.”

Bastian mencoba bangkit, tetapi rasa sakit membuatnya kembali meringis.

Saat itulah terdengar suara tepuk tangan pelan dari sudut gudang.

Plak... plak... plak...

Arka langsung mengangkat kepala.

Sara membeku.

Dari balik bayangan di ujung ruangan, seseorang melangkah keluar.

Cahaya senter yang tergeletak di lantai perlahan menerangi wajahnya.

Arka merasa seluruh tubuhnya mendadak kehilangan tenaga.

“Tidak mungkin...”

Pria itu berdiri dengan pakaian kusut dan wajah lelah. Rambutnya berantakan, sementara matanya menatap mereka dengan sorot yang sulit diartikan.

Pak Thom.

Arka berdiri perlahan.

“Pak Thom?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Selamat malam, Tuan Arka.”

Arka menatapnya tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah kau masih ditahan polisi?”

“Benar.”

Pak Thom melangkah maju.

“Tetapi ternyata tidak sulit meninggalkan tempat yang dijaga orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya mereka tahan.”

Sara menutup mulutnya.

“Anda melarikan diri dari penjara?”

Pak Thom menoleh kepadanya.

“Kalau kau ingin menyebutnya begitu, silakan.”

Bastian, yang masih terbaring di lantai, mengangkat wajah.

“Pak Thom... kau sadar apa yang sedang kau lakukan?”

Pak Thom tertawa pendek.

“Justru aku sangat sadar, Pak Kepala Polisi.”

Ia mengangkat tangannya.

Sebuah pistol terlihat di genggamannya.

Sara langsung mundur.

Arka berdiri di depan mereka berdua.

“Letakkan senjatamu.”

Pak Thom menggeleng.

“Maaf, Tuan. Aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kenapa kau menembak Bastian?”

“Karena kalian seharusnya tidak datang ke sini.”

Pak Thom mengarahkan pandangannya kepada kotak logam yang masih berada di atas rak.

“Kalian menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kalian temukan.”

Arka mengikuti arah pandangannya.

Kotak bertuliskan SAGARA — 15.

Seketika, pikirannya kembali dipenuhi nama-nama orang yang hilang.

Pak Braun.

Gudang ini.

Dan keluarganya.

Semuanya saling terhubung, tetapi setiap kali ia merasa sudah mendekati kebenaran, seseorang muncul untuk menghentikannya.

Arka menatap Pak Thom.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Pak Thom diam.

“Apakah Ayahku?”

Tidak ada jawaban.

“Phat?”

Rahang Pak Thom mengeras.

Arka tertawa kecil tanpa kegembiraan.

“Begitu rupanya.”

“Jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak kau pahami, Tuan.”

“Lalu apa yang harus kupahami?”

Suara Arka mulai meninggi.

“Orang-orang menghilang dari desa ini! Pak Braun meninggal di kebunku! Kau mengakui telah memukulnya dengan sekop! Sekarang kau melarikan diri dari penjara dan menembak sahabatku hanya karena kami menemukan sebuah petunjuk!”

Pak Thom tidak bergerak.

Arka mengepalkan tangannya.

“Berapa banyak lagi orang yang harus menderita sebelum semuanya berakhir?”

Untuk sesaat, wajah Pak Thom berubah.

Ada sesuatu yang menyerupai penyesalan melintas di matanya.

Namun hanya sesaat.

Kemudian ekspresinya kembali dingin.

“Sudah cukup, Tuan Arka.”

“Belum!”

Arka melangkah mendekat.

“Kau akan menjelaskan semuanya malam ini.”

Pak Thom menggeleng perlahan.

“Aku tidak bisa.”

“Tidak bisa atau tidak mau?”

“Keduanya.”

Keheningan menyelimuti gudang.

Sara berdiri di belakang Arka, air mata mulai menggenang di matanya.

“Pak Thom, tolong...” katanya lirih. “Kami hanya ingin mengetahui kebenarannya.”

Pak Thom menatap Sara.

Untuk sesaat, pistolnya sedikit turun.

“Aku minta maaf, Nona.”

Sara menggeleng.

“Kalau kau menyesal, berhentilah melakukan ini.”

Pak Thom memejamkan mata.

“Aku sudah terlambat untuk berhenti.”

Arka menatap pria itu dengan dada sesak.

Ia teringat bagaimana Pak Thom pernah menyambutnya dengan hormat, bagaimana pria itu selalu bekerja untuk keluarganya, dan bagaimana ia dahulu menganggap Pak Thom sebagai seseorang yang bisa dipercaya.

Kini, pria yang sama berdiri di hadapannya dengan senjata di tangan.

“Jadi, selama ini...” Arka berbisik. “Selama ini kau mengetahui semuanya?”

Pak Thom tidak menjawab.

“Orang-orang yang hilang itu... kau tahu ke mana mereka dibawa?”

Pak Thom menunduk.

“Aku tahu.”

Sara terisak pelan.

Arka merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh.

“Kalau begitu, katakan!”

“Aku tidak bisa!”

“KENAPA?!”

“Karena aku juga takut!”

Suara Pak Thom menggema di dalam gudang.

Ia menatap Arka dengan mata merah.

“Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kulakukan? Kau pikir aku bisa tidur nyenyak setelah malam itu?”

Napasnya memburu.

“Aku memukul Tuan Braun. Aku melaksanakan perintah itu. Dan ketika semuanya berakhir, aku hanya memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan diriku sendiri.”

Arka terdiam.

Pak Thom menatap pistol di tangannya.

“Sekarang aku datang ke sini karena mereka mengatakan kepadaku bahwa jika kalian menemukan bukti itu, semua orang yang terlibat akan dihancurkan.”

“Siapa mereka?” tanya Arka.

Pak Thom kembali diam.

Arka menggeleng, hampir putus asa.

“Kau masih melindungi mereka?”

“Aku tidak sedang melindungi siapa pun.”

“Lalu kenapa kau terus berbohong?”

Pak Thom menatapnya lama.

“Karena terkadang, Tuan Arka, kebenaran tidak menyelamatkan siapa pun.”

Arka merasakan amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu.

Ia sudah terlalu lelah.

Terlalu banyak orang yang berbohong kepadanya.

Terlalu banyak pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban.

Dan sekarang Bastian terbaring bersimbah darah, sementara Sara berdiri gemetar di belakangnya.

“Sudah cukup,” ucap Arka.

Pak Thom mengangkat pistolnya kembali.

“Maafkan aku.”

Arka membeku.

“Pak Thom, jangan—”

DOR!

Suara tembakan kembali mengguncang gudang.

Pak Thom terhuyung. Tubuhnya mundur satu langkah sebelum akhirnya jatuh ke lantai.

Pistol terlepas dari tangannya.

Arka berdiri terpaku.

Ia tidak langsung memahami apa yang baru saja terjadi.

Kemudian ia melihat Pak Thom menembak dirinya sendiri.

Tangannya gemetar hebat.

“Tidak...” bisiknya.

Sara menjerit.

“ARKA!”

Arka berlari menghampiri Pak Thom.

“Pak Thom! Pak Thom, dengar aku!”

Pria itu terbaring dengan napas yang semakin lemah.

Arka menekan luka di dadanya, tetapi darah terus membasahi tangannya.

“Bertahanlah! Aku akan memanggil bantuan!”

Pak Thom menggeleng lemah.

“T-tidak...”

“Jangan bicara!”

Arka mulai panik.

“Jangan berani-berani mati sebelum kau menjelaskan semuanya!”

Pak Thom justru tersenyum tipis.

Senyum yang terasa begitu menyedihkan.

“Tu-tuan Arka...”

“Aku di sini.”

“Dengarkan aku.”

Arka menunduk mendekat.

Pak Thom berusaha menarik napas.

“J-j-jangan... m-membenci semua orang hanya karena dosa satu keluarga.”

Arka membeku.

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Pak Thom...”

“A-aku tahu... aku tidak pantas meminta pengampunan.”

Napasnya semakin pendek.

“Te-tetapi jika suatu hari kau menemukan kebenarannya... jangan biarkan kebencian membuatmu menjadi seperti kami.”

Jari Pak Thom bergerak lemah, mencengkeram lengan Arka.

“O-orang-orang yang hilang itu... mereka bukan sekadar nama dalam sebuah kertas.”

Matanya mulai kehilangan fokus.

“M-mereka punya keluarga... punya seseorang yang menunggu mereka pulang...”

Arka menggigit bibirnya.

“Cukup, Pak. Tolong bertahan.”

Pak Thom menggeleng pelan.

“M-maafkan aku...”

Tatapannya perlahan beralih ke arah Sara, lalu kembali kepada Arka.

“D-dan jangan percaya... pada semua yang kau lihat.”

Genggamannya melemah.

“K-karena orang yang paling dekat denganmu...”

Ia berhenti untuk menarik napas terakhirnya.

“...bisa menjadi orang yang paling kau takuti.”

Tangan Pak Thom terlepas dari lengan Arka.

Matanya terpejam.

Dan tubuhnya tidak bergerak lagi.

“Pak Thom?”

Arka mengguncang bahunya pelan.

“Pak Thom?”

Tidak ada jawaban.

“Pak Thom!”

Suara Arka pecah di dalam gudang.

Sara berlutut di sampingnya sambil menangis. Beberapa langkah dari mereka, Bastian masih menahan luka tembaknya, menatap kejadian itu dengan wajah pucat.

Arka menatap kedua tangannya yang berlumuran darah.

Ia tidak tahu apakah Pak Thom masih bisa diselamatkan.

Ia tidak tahu apakah tembakan itu telah membunuh pria itu.

Dan ia tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada polisi.

Yang ia tahu hanyalah satu hal.

Malam ini, ia telah kehilangan satu-satunya orang yang mungkin bisa menjelaskan sebagian kebenaran kepadanya.

Arka menundukkan kepala.

Air matanya jatuh ke lantai gudang.

Di luar, suara angin kembali terdengar melewati perkebunan anggur.

Namun kali ini, suara itu tidak lagi terasa seperti angin malam biasa.

Bagi Arka, suara itu terdengar seperti bisikan dari seluruh rahasia yang belum terungkap.

Dan di antara semua kebohongan yang mengelilinginya, kata-kata terakhir Pak Thom terus bergema di dalam pikirannya.

"Jangan percaya pada semua yang kau lihat.

Karena orang yang paling dekat denganmu bisa menjadi orang yang paling kau takuti."

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!