Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBAH MAYAT
Malam turun seperti kain hitam yang berat di atas gunung Awan Langit. Kabut tidak lagi berwarna putih pucat di bawah sinar bulan yang tipis, kabut itu terlihat kelabu, seakan bernapas sendiri.
Liu Xuanyuan berjalan perlahan di jalan setapak yang licin. Kakinya telanjang, tertusuk batu dan duri, tapi dia tidak merasakannya. Di dadanya, jantungnya berdetak kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang bangun di dalam dirinya sejak semalam.
Cincin perak tua di jarinya terasa hangat, menuntun langkahnya.
"Teruslah berjalan. Tempat ini dilarang oleh sekte bukan karena berbahaya bagi mereka tapi karena berbahaya bagi siapa yang menyembunyikan kebenaran." suara Lang Wuyan berbisik lembut di benaknya.
Setelah berjalan hampir satu jam, dia sampai di perbatasan sekte sebuah lembah dalam yang dipenuhi kabut abadi dan tulang-belulang yang menonjol dari tanah. Ini adalah Lembah Mayat, tempat di mana sekte membuang murid yang mati dengan cara yang tidak layak dikenang.
Xuanyuan berhenti di tepi jurang. Angin berhembus kencang, membawa bau tanah lembap dan kesedihan kuno.
"Di sini?" bisiknya. "Di antara tulang-tulang yang terlupakan?"
"Di sinilah leluhurmu meninggalkan jejak. Mereka tahu sekte ini tidak akan pernah mengajarimu apa yang sesungguhnya penting. Mereka hanya ingin kau tetap lemah, tetap patuh, tetap tidak tahu apa-apa."
Xuanyuan melangkah masuk. Tanah di bawah kakinya terasa lunak, seperti daging yang membusuk. Di sekelilingnya, bayangan-bayangan samar melayang sisa kesadaran mereka yang mati tanpa nama. Matanya yang tertutup kain mantra berdenyut pelan. Pupil Gandanya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan bukan bahaya, bukan ketakutan, tapi... kesamaan.
"Turunlah ke dasar lembah. Ada sebuah batu yang tidak tertutup lumut. Di situlah segel pertama mulai retak."
Dia menuruni lereng yang curam. Saat kakinya menyentuh tanah paling bawah lembah, dia melihatnya sebuah batu datar berwarna hitam pekat, bersih, di tengah tumpukan tulang. Di permukaannya, ada ukiran yang samar dua lingkaran konsentris yang saling bertautan.
Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Itu... persis seperti matanya.
Dia mendekat, lututnya menyentuh tanah dingin. Tangannya gemetar saat menyentuh batu itu. Saat kulitnya menyentuh permukaannya, dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar.
Bayangan melintas di depannya cepat, terputus, tapi nyata.
Seorang pria dan wanita berdiri di tempat yang sama, ribuan tahun yang lalu. Mereka memandang ke arah yang sama ke arah langit yang tidak bisa dilihat Xuanyuan. Wanita itu memegang sebuah cermin yang terbelah dua. Pria itu menempelkan tangannya ke perutnya sendiri di mana ada cahaya yang berdenyut, seperti benih yang hidup.
"Maafkan kami, anak kami," suara wanita itu terdengar seperti angin yang jauh. "Kami tidak memberimu kekuatan untuk berkuasa. Kami memberikannya agar kau bisa bertahan hidup saat Langit turun menuntut nyawamu."
Bayangan itu lenyap. Xuanyuan terjatuh ke belakang, napasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Ibu... Ayah..." suaranya pecah, bergetar di keheningan lembah.
"Mereka adalah penjaga terakhir dari Benih Primordial. Dan kau, Liu Xuanyuan, adalah pewaris terakhir. Sekarang letakkan tanganmu di batu itu lagi. Kali ini, dengan niat yang jelas. Katakan pada dirimu: aku tidak meminta kekuatan. Aku hanya mengambil kembali apa yang milikku."
Xuanyuan mengangkat kepalanya. Air mata jatuh dari matanya, menembus kain hitam, membasahi tanah di bawahnya. Dia mengusap pipinya dengan lengan yang kasar, lalu kembali meraih batu hitam itu.
"Aku tidak meminta kekuatan," katanya pelan tapi tegas. "Aku hanya mengambil kembali apa yang milikku."
Saat tangannya menempel, batu itu menyala. Cahaya ungu tua memancar dari ukiran dua lingkaran, menyelimuti seluruh tubuhnya. Rasanya bukan seperti kekuatan yang masuk tapi seperti tembok yang menghalangi dirinya sendiri runtuh perlahan.
Di dalam dirinya, di tempat yang paling dalam, ada suara yang selama ini dibisukan kini mulai berbicara.
Segel Pertama Retak.
"Sekarang kau bisa mulai berlatih. Tapi ingat apa yang terjadi malam ini tidak boleh diketahui siapa pun. Sekte Awan Langit bukan tempat yang tidak tahu. Mereka hanya menunggu sampai kau cukup kuat untuk... dimakan."
Xuanyuan berdiri. Tubuhnya terasa berbeda tidak lebih kuat secara instan, tapi lebih hidup. Dia bisa merasakan aliran udara di sekitarnya, denyut nadi di tanah, bahkan kesedihan dari tulang-belulang di kakinya.
Dia melihat ke arah tebing lembah. Di sana, di antara semak-semak yang gelap, ada bayangan yang tadi tidak ada. Sesosok tubuh tinggi yang berdiri diam, menonton.
Jantungnya mencelos.
Siapa itu?
Bayangan itu tidak bergerak, tapi satu tangannya terangkat perlahan melambai. Lalu lenyap seketika, seakan terserap kabut.
Xuanyuan menelan ludah. Siapa yang tahu dia ada di sini? Dan sejak kapan?
"Pergi. Malam semakin tua. Dan mata-mata di gunung ini... lebih banyak dari yang kau kira." suara Lang Wuyan terdengar serius, ada peringatan di dalamnya.
Dia berbalik dan berlari kembali menanjak keluar dari lembah. Di belakangnya, batu hitam itu kembali gelap, seakan tidak pernah menyala. Tapi satu hal berubah malam ini, seorang anak yang dianggap sampah tidak lagi pulang dengan tangan kosong. Dia pulang membawa sebuah kebenaran yang akan membakar seluruh langit.
Di puncak gunung tertinggi Sekte Awan Langit, di dalam aula yang sepi, seorang tetua membuka matanya. Dia menatap ke arah Lembah Mayat, lalu menghela napas panjang.
"Akhirnya dimulai," bisiknya pelan, penuh kesedihan. "Semoga jiwamu cukup kuat menanggung apa yang akan datang, anak kecil."
Dan di bawah tanah, jauh di dalam kedalaman yang tidak diketahui siapa pun, empat pilar bercahaya samar satu di antaranya kini retak tipis.