Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpecahan
Norman langsung keluar dari mobil. Dia hendak mengejar sosok berpakaian serba hitam yang baru saja mengambil uangnya. Namun, baru beberapa langkah Norman berlari, sebuah mobil melintas dan menghalangi pandangannya.
Saat mobil itu kembali melaju, sosok tersebut sudah tidak terlihat.
Norman berhenti dan menatap jalanan dengan napas memburu.
"Ke mana dia pergi?" geramnya.
Norman berjalan beberapa langkah sambil terus mencari-cari sosok itu. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Norman mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Wajahnya memerah menahan amarah yang membuncah dalam dadanya.
"Sialan!" teriak Norman kemudian.
Dia pun mulai menendang ban mobil dengan kasar sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.
Dengan wajah penuh kemarahan, Norman menyalakan mesin dan langsung melajukan kendaraannya.
"Kurang ajar!" geram Norman sambil mencengkeram kemudi. "Berani-beraninya mempermainkanku seperti ini!"
Tangannya bahkan sempat menghantam kemudi.
"Dia pikir aku bisa dipermainkan begitu saja?!" Norman terus mengumpat sepanjang perjalanan.
Beberapa saat kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah.
Norman turun dengan langkah cepat.
Namun, sebelum masuk, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di dekat pintu.
Sepasang heels berwarna hijau.
Norman langsung mengenalinya. Heels yang dipakai wanita di kafe tadi. Dia menyipitkan mata sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
Di ruang televisi, Mona sedang duduk bersama Ellian. Mereka tengah menonton televisi ketika tiba-tiba Norman masuk dengan wajah penuh amarah.
Mona langsung menoleh dengan kening berkerut kuat. "Norman, ada apa?"
Norman tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Mona.
Ellian yang melihat wajah papanya langsung terlihat takut.
"Ellian!" bentak Norman seketika.
Mona dan anak laki-laki itu tersentak bersamaan.
"Masuk ke kamar sekarang!" perintahnya lagi.
Ellian menatap papanya dengan ragu. Wajah Norman yang memerah membuatnya ketakutan.
"Tapi, Papa Elli—"
"Masuk!" bentak Norman sekali lagi.
Ellian akhirnya menurut dan berlari menuju kamar.
Begitu Ellian menghilang dari pandangan, Norman langsung menghampiri Mona.
Tangannya mencengkeram rambut Mona dengan kasar. Mona terlihat sangat terkejut.
"Akh!" Mona berteriak kesakitan ketika Norman menarik rambutnya hingga tubuhnya hampir terjatuh.
"Wanita tidak tahu diri!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Mona.
"Norman!" Mona berteriak dengan wajah tampak kebingungan sekarang.
Plak!
Tamparan kedua kembali mendarat.
"Kau yang selama ini menerorku, hah?!" teriak Norman.
"Apa maksudmu?!"
Plak!
Mona kembali ditampar. Kali ini tamparan terdengar begitu kuat.
"Norman, ada apa denganmu? Aku tidak mengerti!"
Norman mencengkeram lengan Mona dengan kasar. "Jangan pura-pura tidak tahu! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?!"
"Aku benar-benar tidak tahu!"
Mona mencoba melepaskan diri, tetapi Norman semakin emosi.
"Video-video itu! Ancaman-ancaman itu! Sekarang kau bahkan berani meminta dua ratus miliar dariku!"
"Aku tidak pernah meminta uang dua ratus miliar!"
"Pembohong!"
Norman kembali menampar Mona.
Pipi wanita itu mulai memerah. Air matanya langsung mengalir deras.
"Aku tidak berbohong, Norman!"
"Kau masih berani membantahku?!"
Norman mendorong Mona hingga tubuhnya terhuyung.
"Apa uang yang selama ini kuberikan masih kurang?! Aku sudah memberimu begitu banyak!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
"Lalu siapa yang mengambil uang itu?!"
"Aku tidak tahu!" Mona menjerit histeris. Ini kedua kalinya Norman melakukan kekerasan padanya. Sebelum-sebelumnya, Norman tak pernah melayangkan tangan kepadanya.
Norman kembali menghampiri Mona.
"Di mana komplotanmu?!"
"Aku tidak punya komplotan!" Mona benar-benar tidak tahu.
Plak!
Tamparan berikutnya membuat kepala Mona menoleh ke samping. Bibirnya terluka dan mulai mengeluarkan sedikit darah.
Mona memegang bibirnya sambil menangis.
"Kau sudah gila!" teriaknya.
Norman melototkan mata. "Aku akan membuatmu menyesal kalau terus bermain-main denganku!"
Norman kembali mengangkat tangannya.
Namun, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah kamar.
"Papa!"
Norman menoleh.
Ellian berlari keluar dari kamarnya.
Dia melihat mamanya menangis dengan pipi memerah dan bibir yang terluka.
"Mama!"
Ellian langsung berlari dan berdiri di depan Mona. "Jangan pukul Mama!"
"Ellian, pergi!" perintah Norman.
"Papa jangan pukul Mama!"
Norman yang masih dikuasai amarah menggerakkan tangannya secara spontan.
Plak!
Tamparan itu justru mengenai pipi Ellian.
Seketika Norman terdiam.
Ruangan mendadak sunyi.
Ellian memegang pipinya dengan mata berkaca-kaca.
Norman menatap anak laki-lakinya dengan wajah yang perlahan berubah.
"Ellian …"
Amarah di wajah Norman seketika memudar. Dia angsung berlutut dan menarik Ellian ke dalam pelukan.
"Maafkan Papa."
Norman memeluk tubuh kecil itu erat-erat.
"Papa tidak sengaja. Maafkan Papa," kata Norman sambil mengelus punggung Ellian.
Ellian hanya terdiam dalam pelukannya.
Mona yang melihat kejadian itu kembali menangis. "Kau sudah gila, Norman!" teriaknya. "Apa salahku?! Aku benar-benar tidak mengerti!"
Norman masih memeluk Ellian, tetapi tatapan tajam kembali mengarah pada Mona.
"Aku bukan asal menuduh!"
Suaranya masih penuh amarah.
"Kau pikir aku tidak ingat heels hijau yang kau pakai untuk mengambil uang di kafe tadi?!"
Mona terdiam.
"Heels itu limited edition!" lanjut Norman. "Hanya diproduksi empat pasang! Dan aku sendiri yang membelikannya untukmu!"
Norman menunjuk ke arah pintu.
"Aku melihat heels yang sama di depan rumah ini! Kau pikir aku bodoh?!"
Mona melongo. "Aku tidak pergi keluar untuk mengambil uangmu."
"Lalu untuk apa kau pergi?"
"Aku membeli makanan untuk Ellian! Percayalah padaku, Norman!" Suara Mona terdengar parau.
Norman terdiam.
Mona mengusap air matanya. "Untuk apa aku menerormu, Norman? Kau tahu sendiri aku tidak menginginkan uangmu. Aku hanya ingin status darimu," sahutnya dengan penuh emosional.
Mona menggeleng sambil terisak kuat."Lagipula, tadi aku pergi keluar karena membeli makanan untuk Ellian. Aku tidak tahu apa pun tentang uang dua ratus miliar itu."
Norman menatap Mona cukup lama.
Tidak ada kebohongan yang terlihat di mata wanita itu. Untuk pertama kalinya, kemarahan Norman mulai bercampur dengan keraguan. Dia menatap Mona, kemudian melirik ke arah pintu itu lagi.
Heels hijau itu masih terbayang di benaknya.
Kalau bukan Mona, lalu siapa sebenarnya wanita yang mengambil uangnya?
***
Di tempat lain, tepatnya di butik Grace.
"Uh, panas sekali."
Carmen langsung melepas wig hitam yang menutupi kepalanya sejak tadi.
Grace yang duduk di sofa hanya tersenyum sambil menggeser beberapa lembar uang di atas meja.
Berbekal informasi dari Eva mengenai catatan pembelian heels dari brand terkenal. Grace dapat menjalankan rencana tanpa hambatan.
"Tapi wig itu cocok denganmu, Carmen," kata Grace sambil memperhatikan Carmen sejenak.
"Sebelumnya, terima kasih. Aku sedikit takut akan ketahuan tadi. Untung saja kau cepat bergerak," sambungnya.
Carmen baru saja menceritakan bagaimana proses pengambilan uang di Cafe Belmont tadi kepada Grace.
Carmen menghela napas panjang sejenak.
"Kau benar. Norman sangat menakutkan. Jantungku hampir saja melompat keluar saat dia mulai keluar dari mobil."
Grace hanya tersenyum kecil. "Sekali lagi, terima kasih."
Carmen mengangguk.
"Tapi Grace, kenapa aku harus memakai wig berwarna hitam ini dan heels hijau ini?" Carmen mengangkat salah satu kakinya. "Ugh, jelek sekali heels ini."
Grace terkekeh pelan sambil memperhatikan penampilan Carmen dari atas sampai bawah.
"Apa kau tahu postur tubuhmu mirip sekali dengan Mona?"
"Hah?"
Grace terkekeh melihat ekspresi Carmen.
"Kalau dilihat sekilas, kalian memang mirip. Yang membedakan hanya rambut kalian."
Carmen melongo. "Serius?"
"Sudahlah. Jangan kau pikirkan sekarang. Ambillah uang ini."
Carmen langsung tersenyum senang. "Terima kasih, Grace!"
Carmen spontan memeluk Grace. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, katakan padaku."
Grace hanya tersenyum.
"Oh ya, ini heels-nya," kata Carmen sambil berusaha melepas heels tersebut.
"Dibuang saja, Carmen."
Grace menatap heels itu dengan serius.
"Itu barang palsu. Jangan sampai kita meninggalkan jejak."
"Baiklah. Aku akan membakarnya sekarang."
Carmen membawa heels tersebut. "Aku pergi ke belakang."
Setelah Carmen pergi, Grace kembali duduk sendirian.
Tak lama kemudian, ponsel Grace berdering.
Grace melihat layar ponselnya. Nama Eva tertera.
Grace pun segera mengangkat panggilan.
"Grace, mari bertemu. Aku punya informasi terbaru lagi tentang keluarga Turner. Aku rasa kau akan tercengang setelah mendengarnya."
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣