Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Saudara Seperguruan di Ujung Jalan
Dua hari pemulihan diberikan sebelum babak semifinal dimulai, waktu yang cukup bagi Lin Mu untuk memulihkan sebagian besar qi yang terkuras habis dalam duel melawan Lei Zhen. Tetua-tetua sekte bergiliran memeriksa kondisinya, memastikan tak ada kerusakan meridian permanen akibat menyerap sembilan kilatan petir sekaligus—sebuah keajaiban tersendiri yang membuat namanya semakin melegenda di kalangan tiga sekte.
Semifinal pertama mempertemukan Lin Mu dengan Meng Tian, murid terkuat Sekte Lembah Naga yang belum pernah kalah sekali pun sepanjang kariernya di turnamen-turnamen sebelumnya, dikenal karena jurus elemen bumi tingkat tinggi yang mampu mengubah seluruh permukaan arena menjadi medan pertempuran yang menguntungkan baginya.
Pertandingan itu berlangsung jauh lebih singkat dibanding duel epik sebelumnya—bukan karena kurang berbahaya, melainkan karena Lin Mu, setelah belajar banyak dari pertarungan melawan Lei Zhen, kini bertarung dengan efisiensi yang jauh lebih matang, memilih untuk tidak membiarkan pertarungan berlarut-larut menguras qi yang belum sepenuhnya pulih.
Ia membiarkan Meng Tian mengubah medan arena menjadi rangkaian bukit-bukit batu kecil yang menyulitkan pergerakan, namun alih-alih melawan medan itu, Lin Mu justru memanfaatkannya—melompat dari satu formasi batu ke formasi lain dengan gerakan minimal, mendekati Meng Tian dari sudut-sudut yang sulit ia antisipasi karena terlalu fokus mempertahankan kendali medan pertempurannya sendiri.
Pada percobaan ketiga, Lin Mu berhasil menyentuh titik vital di belakang leher Meng Tian, teknik akupuntur yang kini sudah menjadi tanda tangannya di seluruh turnamen, mengakhiri pertandingan tanpa perlu pertukaran serangan besar-besaran.
"Efisien seperti biasa," Xuan Bo berkomentar puas saat Lin Mu turun dari arena, disambut sorak sorai tribun Awan Putih yang kini menjadi salah satu yang paling ramai di antara ketiga delegasi.
Kabar baik menyusul tak lama setelahnya—semifinal kedua, yang mempertemukan Han Zhengyu melawan salah satu murid senior Sekte Puncak Kilat, juga berakhir dengan kemenangan, meski melalui pertarungan yang jauh lebih alot dan melelahkan dibanding pertandingan Lin Mu.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah lima tahunan Pertemuan Tiga Sekte, babak final individu akan mempertemukan dua murid dari sekte yang sama—Lin Mu dan Han Zhengyu, keduanya dari Sekte Awan Putih.
Malam itu, kedua sahabat itu duduk berdampingan di tepi lembah, menikmati ketenangan sejenak sebelum pertandingan besar keesokan harinya.
"Siapa yang menyangka kita berdua akan bertemu lagi di final," Han Zhengyu berkata, tersenyum sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. "Beberapa bulan lalu, kau baru saja tiba di sekte, dan aku menantangmu karena merasa terhina oleh kehadiranmu."
"Banyak hal berubah dalam waktu singkat," Lin Mu menjawab, tersenyum tipis mengingat kembali kesombongan Han Zhengyu di hari pertama mereka bertemu.
"Aku tidak akan berpura-pura yakin bisa mengalahkanmu besok," Han Zhengyu melanjutkan, nada suaranya lebih serius. "Kau sudah membuktikan diri melawan Lei Zhen, melawan Meng Tian, melawan hampir semua orang yang seharusnya jauh lebih kuat darimu berdasarkan realm semata. Tapi aku juga tidak akan menyerah tanpa perlawanan sungguhan. Kau pantas mendapatkan lawan terakhir yang benar-benar memberikan yang terbaik, bukan sekadar formalitas."
Lin Mu menepuk pundak sahabatnya itu. "Itulah yang aku harapkan darimu, Han Zhengyu. Pertandingan besok bukan tentang siapa yang lebih kuat—kita berdua sudah tahu itu bukan lagi masalah sederhana. Ini tentang siapa yang mampu bertarung dengan hati paling murni, membawa kehormatan bagi sekte kita berdua sekaligus."
Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati kebersamaan yang jarang bisa dirasakan seseorang seperti Lin Mu sejak kejatuhannya tiga abad lalu—persahabatan yang tumbuh bukan dari kepentingan atau kekuasaan, melainkan dari rasa hormat murni antar sesama yang saling menguatkan.
"Apa pun hasilnya besok," Han Zhengyu akhirnya berkata, bangkit untuk kembali ke paviliunnya, "aku bersyukur menjadi rival pertamamu di sekte ini, Lin Mu. Dan aku lebih bersyukur lagi kau menjadi sahabatku sekarang."
"Sama-sama, Han Zhengyu," Lin Mu menjawab tulus, menyaksikan sahabatnya berjalan menjauh dalam kegelapan malam.
Ia menatap kembali ke langit berbintang, pikirannya melayang sesaat pada kehidupan lalunya sebagai Ye Xuan—betapa banyak murid dan sahabat yang pernah ia miliki di masa kejayaannya, dan betapa cepat semuanya lenyap dalam satu malam pengkhianatan.
semngat thor/Determined/