Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Tok Tok!
Masuk!
Mae membuka pintu setelah di persilahkan dan langsung terbengong di tempat. Ia terkejut melihat tamu atasannya adalah orang yang kemarin membantunya.
"Oh! Tunjuk King yang juga terkejut melihat Mae.
Prince yang bingung bertanya. "Mae, kamu kenal dengan tamuku?"
Mae dengan cepat menggeleng. "Tidak tidak, Pak. Sebenarnya dia orang yang telah membantu kita kemarin. Jadi dia tamu bapak?" tunjuknya.
"Ya, apakah benar Pak King? Kamu orang yang membantu kami kemarin?" jawabnya lalu beralih bertanya pada King.
King mengangguk. "Ya Pak, pantas saja tadi sepintas seperti pernah melihat bapak. Lalu bagaimana keadaan bapak sekarang?"
"Sudah lebih baik, terima kasih."
"Terima kasih Pak King." Mae ikut menunduk mengucapkan terima kasih padanya.
"Tidak masalah," ucap King ramah.
"Oh ya hampir lupa, ini silahkan di nikmati." Mae yang kelupaan dengan tugasnya segera menaruh beberapa minuman dan cemilan ke meja.
"Wah tak perlu repot-repot, tapi sepertinya saya jadi enak ini hehe," canda King sambil duduk di sofa.
Prince menggeleng tertawa dan ikut duduk di sebelahnya. Saat Mae hendak kembali, Prince melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk bergabung. Ia memerlukan sekretarisnya untuk mencatat hal-hal penting yang mereka bahas.
"Jadi, bagaimana pendapat Pak Prince tentang hasil karya toko kami?" King bertanya setelah menunjukkan beberapa karyanya di layar laptop.
"Menurutku ini luar biasa, iya kan E?_ puji Prince sambil bertanya pendapat pada sekertaris nya.
Mae dengan cepat mengangguk. "Ini bagus banget, sangat unik dan kreatif," pujinya juga.
"Sungguh?" King terkejut tak mempercayainya.
Mae mengangguk-angguk lagi begitu juga dengan Prince. "Syukurlah jika kalian puas dengan hasil karya ku," celetuk King lega.
"Oh iya kalau boleh tau, Pak Prince ingin bekerjasama dengan toko kami karena apa ya?" Lagi-lagi King bertanya karena penasaran.
"Sebenarnya ayah saya lah yang merekomendasikan toko tembikar keluarga Pak King untuk diajak bekerjasama dalam bisnis furniture ini, kebetulan juga ayah saya katanya teman dekat Pak Rafansya," tuturnya.
"Ayah saya?" King terkejut kembali karena tak menduganya jika ayah mereka berteman.
"Bukan hanya itu saja, setelah saya telusuri ternyata toko tembikar milik Anda adalah yang terbaik di kota ini. Jadi kami memutuskan untuk bekerjasama agar usaha kita sama-sama maju," lanjut Prince.
"Ku setuju. Terima kasih atas kepercayaan bapak pada toko kami," ucap King merasa senang.
"Sama-sama dan senang bekerjasama dengan Anda," balas Prince padanya.
"Senang bekerja sama dengan bapak juga."
Pertemuan mereka akhirnya selesai. King lalu berdiri untuk berpamitan.
"Kalau begitu saya permisi dulu, jika ada hal lain silahkan hubungi ku saja," ujarnya.
"Baik Pak King. Biar kami antar ke depan," tawar Prince pada tamunya.
King mengangguk. "Terima kasih."
Pak King atau yang bernama panjang Kingston Rafansya ini adalah seorang pengrajin alat dapur kuno berbahan dasar tanah liat yang ingin memperluas bakatnya lewat toko keluarganya. Ia diketahui baru saja datang dari Jepang setelah menyelesaikan studinya di sana. Lelaki berwajah tampan berkulit sawo matang ini, nantinya akan menjadi penerus usaha tembikar milik keluarganya. Toko tembikar Rafansya adalah nama usahanya, toko yang khusus menjual barang-barang berbahan tanah liat dengan kualitas yang baik. Toko Tembikar Rafansya memutuskan untuk kerja sama dengan perusahaan Green Heaven Design yang telah mempercayainya. Diketahui juga bahwa pemilik dari toko tembikar ini adalah teman karib Yahya, ayah Prince.
Bukan hanya itu saja, Raka rupanya mengenal seseorang bernama King ini. Ia dengan cepat berdiri dari kursi kerjanya saat melihat Prince, Mae dan tamunya keluar secara bersamaan.
"Kamu King....ston Rafansya kan? Ketua OSIS idaman ciwi-ciwi Nusa Bakti," tebak Raka mengejutkan ketiganya.
"Tunggu!" King sedikit berpikir mengingat. "Kamu.... Raka Supriono, siswa yang telah membawaku ke UKS pasca kejadian bola nyasar," tebaknya menunjuk.
Raka mengangguk-angguk. "Betul, apa kabar Lu?"
"Baik-baik. Tak di sangka kita ketemu di sini," ucap King cukup senang.
Mae dan Prince menjadi bingung dengan suasana di sana. Mae dengan cepat menarik Raka untuk bertanya
"Rak, lu kenal sama Pak King?"
"Oi Mae, kenal lah. Lu juga harusnya kenal, dia tuh ketua OSIS SMA kita dulu," jawabnya.
"Ha?" Mae langsung menunjuk dirinya.
"Maaf, apa Mae juga satu sekolah dengan kita dulu Rak?" sela King bertanya.
"Ya dan dia cewek yang bikin pala lu bocor dulu." Jawaban Raka membuat Mae langsung menepuknya.
"Hush Rak, ngarang lu bukan gue itu," tukas Mae karena merasa bukan dirinya.
"Oh lu lupa rupanya, sini sini gue bakal bawa lu balik ke masa lalu," ucap Raka yang langsung merangkul sahabatnya itu.
Mae yang lupa akan kejadian 10 tahun lalu saat di SMA, akhirnya di bawa oleh Raka untuk mengingatnya. Prince masih terdiam dan belum mengerti dengan kisah diantara mereka bertiga. Sedangkan, King cukup terkejut ketika mengetahui Mae adalah murid yang membuatnya terluka hingga harus di jahit kepalanya.
......................
Flashback masa SMA
Hari itu adalah hari di mana kelas 11B yakni kelas Mae dan Raka melakukan kegiatan pelajaran olahraga. Mae tentu saja sangat berbeda dengan murid gadis lainnya, ia justru bergabung dengan Raka dan Bayu dalam permainan sepak bola.
"Oper E!" Teriak Raka padanya.
Mae yang membawa bola di kakinya masih belum juga mengoper karena ada lawan yang menghalanginya.
Sementara di sisi lapangan, para gadis mendadak berteriak memanggil seseorang di sana. "Kingston!!!"
Heboh para siswi karena mendapati seorang siswa dengan aura yang tampan dan menawan sedang berjalan melewati lapangan. Mereka diketahui adalah penggemar berat ketua OSIS SMA yang tak lain adalah Kingston Rafansya.
King yang berjalan mendadak berhenti dan menoleh untuk menyapa penggemarnya. Dengan senyum menawannya, ia berhasil membuat siswi-siswi tersebut berteriak girang.
"Aaa, kau sangat tampan King!" teriak mereka kompak memuji.
"Terima kasih." King menjawabnya dengan sopan di sertai senyuman manisnya. Lagi-lagi para siswi di buat melayang karena pesona ketua OSIS yang indah.
"Kalian sedang olahraga?" Bertanya King pada mereka.
Para siswi dengan cepat mengangguk-angguk.
"Oi Mae! Oper!" teriak Raka lagi pada Mae. Ia merasa bahwa teman perempuannya sangatlah lambat untuk mengoper bola ke arahnya.
Peluang di temukan disana, namun Mae belum mengopernya karena penasaran dengan kelakuan para gadis yang di pinggir lapangan.
"Mae!!!" Sekali lagi Raka memanggilnya.
"Ckk heboh banget dah pada, nih Rak!" Decak Mae menggeleng. Ia akhirnya mengoper bolanya untuk Raka.
Mae tak tahu jika ada Ketua OSIS tampan mampir di sana. Karena merasa terganggu dengan kehebohan para siswi, dan Raka yang memanggilnya terus-terusan, membuat konsentrasinya pecah. Dengan tenaga kencang Mae mulai menendang bola. Raka sudah siap-siap menerima operan sahabatnya itu. Namun ia harus di buat melongo karena bolanya justru melambung tinggi melewatinya dan tiba-tiba....
"Aduh!!" Bola dengan tepat mengenai kepala Ketua OSIS dan berhasil membuatnya pingsan di tempat.
Para siswi yang melihatnya langsung berdiri dan berteriak. "King!!!"
Raka menoleh sedangkan Mae segera menutup mulutnya karena terkejut.
"Oi E, lu kena anak orang tuh!" Tunjuk Raka langsung. Permainan sepak bola pun mendadak berhenti dan mereka semua bubar untuk melihat keadaan siswa tersebut. Raka juga segera berlari menghampiri.
"Eh lu tak apa?" tanya Raka pada King yang setengah sadar.
"Tak apa gimana? Lihat noh kepala ketua OSIS tampan kita berdarah. Pokoknya lu harus tanggung jawab!" omel para siswi padanya.
"Eh kok gue sih, noh si Mae!" tukas Raka segera. "E, tanggung jawab lu!" Saat menoleh, ternyata Mae sudah menghilang dari tempatnya. Ia pergi begitu saja karena takut di laporkan ke kepala sekolah. Diketahui King adalah ponakan kepala sekolah mereka makanya ia langsung kabur dengan jurus andalannya.
Flashback off
"Astaga! Sungguh?" Mae tampak terkejut setelah berhasil mengingatnya.
Raka mengangguk-angguk. "Ya lu bahkan kagak minta maaf dulu," jawabnya.
Mae menepuk pelan kepalanya sendiri. Ia lalu mencoba untuk meminta maaf pada King. "Anu.... Maaf Pak King atas kejadian dulu. Gue terlalu takut ma pak kepala sekolah hehe." Sambil terkekeh, Mae tampak malu-malu mengakui kesalahannya.
"Tak apa Bu Mae, itu sudah sangat lama dan kepala saya sudah baik-baik saja, "ucap King memaafkan.
"Dunia kita sempit ternyata, gak sangka kita bertiga reunian di mari," ujar Raka yang senang.
"Jadi, utang maaf gue lunas kan?" Mae memastikan.
King mengangguk. "Tapi.... untuk tambahan menebusnya, ku ingin mengundang mu untuk melihat karya toko kami," tawarnya.
"Wih boleh tuh. Gue juga ya?" samber Raka menunjuk dirinya.
"Mampir saja, ku banyak waktu bebas juga," jawab King padanya.
"Good friend!" Puji Raka langsung mengangkat jempolnya.
"E, lu terima kagak undangan si King?" tanya Raka pada sahabatnya yang terdiam.
"Hmmm." Mae masih berpikir rupanya.
Prince merasakan ada yang aneh dengan gaya Mae saat berbicara pada King, tamunya. Mereka berdua menjadi terlihat akrab apalagi setelah mengetahui jika mereka adalah teman satu sekolah dahulu. Prince yang terdiam di tengah-tengah reuni mereka bertiga mendadak dibisiki oleh Jumi yang sudah berada di sampingnya.
"Ehem!" Prince menoleh.
"Pak Prince, sepertinya ini acara reuni mereka. Lihat Mae tampak senang," tuturnya pelan.
"Diam kamu Jum, kembali sana!" Perintah Prince padanya dengan suara pelan namun tegas.
"Jangan cemburu Pak!" ledek Jumi padanya sebelum ia kembali.
Prince langsung memberikan tatapan tajam padanya membuat Jumi merinding dan memilih segera kembali. Mae masih terdiam di sana, setelah berpikir sepertinya ia harus menerima ajakan King padanya.
"Baiklah aku akan datang berkunjung besok," pungkas Mae setelah berpikir.
"Bagus, akan ku tunggu Minggu ini," ucap King senang.
Mae mengangguk-angguk sambil tersenyum begitu juga King yang membalasnya.
Tatapan tajam Prince kini beralih ke arah Mae dan tamunya. Sepertinya ada rasa cemburu yang timbul di dalam hatinya saat ini.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂