Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Trauma dan Jejak Shakila
Dalam keheningan yang tak kasatmata. Hubungan antara Arkan dan Aira perlahan merenggang, menciptakan jarak tak berwujud yang kian melebar. Arkan menyadari perubahan itu, dan di dalam sudut hatinya yang paling dalam, ia tahu konsekuensi ini memang tak terelakkan.
Bagi Arkan, kehadiran Aira ibarat secercah cahaya hangat yang meretas hari-harinya yang kaku. Namun, bayang-bayang trauma masa lalu terlalu perkasa. Ketakutan akan kegagalan dan rasa kehilangan yang berulang menahannya untuk melangkah lebih jauh.
Batalnya pertunangan di masa lalu sejatinya bukan hal paling berat. Pria itu sudah memaafkan keputusan mantan kekasihnya, meski luka atas rasa kehilangan itu sempat tergores kembali. Kehilangan terbesar dalam hidup Arkan luka berdarah yang tak pernah benar-benar menyembuh berada jauh di masa lalunya, tepat sebelas tahun yang lalu.
Arkan melangkah perlahan menuju kamarnya. Ia meraih sebuah kotak kayu kecil dari dalam laci meja, memutar kuncinya, dan mengeluarkan sebuah kalung perak berliontin ukiran nama Arkanza.
Jemari Arkan bergetar hebat saat menggenggam kalung dingin itu. Penyesalan terdalam yang menggerogoti jiwanya adalah kenyataan bahwa ia gagal melindungi orang yang paling ia cintai. Kesalahan fatal yang membuat Arkan tak pernah mampu memaafkan dirinya sendiri hingga detik ini.
Satu tetes air mata jatuh mendahului helaan napasnya yang sesak.
"Bang..."
Suara langkah kaki menginterupsi keheningan. Bayu berdiri di ambang pintu kamar. Remaja itu menatap kakak sepupunya dengan sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran mendalam.
"Kenapa Kau begini lagi, Bang?" Bayu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. "Mau sampai kapan Kau menyalahkan diri sendiri? Ini sama saja menyiksa batinmu sendiri."
Arkan menunduk, tak bersuara. Luka itu terlalu rapuh untuk disentuh oleh kata-kata.
"Bang, aku yakin Abang bisa menjaga Aira dengan baik. Aku juga yakin Aira tidak akan pernah meninggalkan Abang. Tolong, jangan mengurung diri lagi. Aku tidak akan membiarkan Abang hidup dalam bayang-bayang luka ini seumur hidup," tutur Bayu tegas namun penuh simpati.
Bayu mengulurkan tangan, menarik pelan kalung perak itu dari genggaman Arkan yang lemas.
"Kalau Kau masih terus merasa bersalah, jangan simpan barang-barang yang terus mengingatkanmu pada kejadian itu. Om dan almarhumah Tante sudah berulang kali minta Abang berhenti menyalahkan diri. Jangan buat Tante sedih di alam sana, Bang."
Arkan memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya bergemuruh menahan sesak. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia bersedia menukar posisinya detik itu juga agar tidak perlu menanggung rasa bersalah yang menggerogoti nyawanya.
"Adrian... tolong keluar. Saya ingin sendiri," bisik Arkan dengan suara serak.
"Untuk apa mengurung diri di kamar?" Bayu menepuk bahu Arkan pelan. "Sudah, cuci muka sekarang. Aira sudah menunggu di bawah."
Arkan mendongak, matanya yang memerah menatap Bayu heran. "Aira? Kenapa dia bisa ada di sini?"
"Kalau Kau mau tahu, menemui dia langsung jauh lebih baik daripada mengurung diri di sini," sahut Bayu santai.
Arkan memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Bayangan masa lalu yang berputar liar di kepalanya menyisakan pening yang tajam.
"Aku cuma berharap Abang tidak melakukan kesalahan yang sama lagi," tegas Bayu mencengkeram erat bahu Arkan. "Aku tahu Abang juga punya perasaan padanya. Abang cuma takut mengulang luka yang sama."
"Jangan buang kalung itu," pesan Arkan pelan sebelum berdiri dan melangkah keluar kamar.
Bayu menatap kalung di tangannya, membuang napas panjang. Ia tahu betapa berharganya benda itu bagi Arkan, tetapi ia jauh lebih ingin melihat sepupunya berhenti menghukum diri sendiri.
Arkan melangkah menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Awalnya ia mengira Bayu hanya membual untuk memancingnya keluar, tetapi sosok gadis yang tengah duduk bersila di sofa ruang tamu itu membuktikan sebaliknya.
"Aira?"
Aira mendongak, pandangannya beradu dengan mata Arkan yang tampak memerah dan sembap. Gadis itu tertegun sejenak.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Arkan menuntut.
Aira mengerutkan dahi heran. "Lho? Bukannya Aira yang harus bertanya kenapa Kak Arkan menyuruh Aira ke sini?"
"Saya?"
"Iya! Kak Arkan baru saja chat Aira, katanya ada urusan mendesak dan suruh Aira datang sekarang juga," jawab Aira sembari menunjukkan layar ponselnya.
Arkan membisu. Ia teringat ponselnya ditinggalkan di meja ruang keluarga sejak tadi pagi. Sesaat kemudian, rahangnya mengetat menyadari ini adalah ulah konyol Bayu yang membajak ponselnya.
Tak lama, Bayu melangkah santai dari arah dapur membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.
"Bang Arkan tadi tidak bilang kalau Aira mau datang, jadinya cuma ada teh hangat saja. Ya sudah, aku keluar sebentar beli cemilan. Jangan lupa tehnya diminum, ya!" ujar Bayu tanpa rasa bersalah, menaruh nampan di meja.
Sebelum melangkah pergi, Bayu sempat mengedipkan sebelah matanya pada Arkan, meninggalkan kedua orang itu dalam canggung yang pekat.
"Maaf... Ponsel saya tertinggal di ruang keluarga tadi. Sepertinya Adrian yang menghubungi kamu," terang Arkan memecah keheningan.
Aira menghela napas panjang, bersandar di sofa. "Astaga... Tahu begitu Aira di rumah saja. Kak Dinda sedang ngidam dan minta dimasakkan sesuatu tadi."
"Dinda... hamil?" tanya Arkan agak terkejut.
"Iya, kebobolan katanya, hehehe," sahut Aira mencoba mencairkan suasana.
Setelah perbincangan singkat itu, kecanggungan kembali menyelimuti mereka. Aira memilih diam, enggan memicu rasa tak nyaman pada pria di hadapannya. Beruntung, beberapa menit kemudian ponsel Arkan berdering nyaring panggilan darurat dari rumah sakit.
"Aira pulang dulu kalau begitu, Kak. Sampai jumpa," pamit Aira berdiri.
"Tunggu," potong Arkan cepat. "Biar saya antar. Tunggu sebentar, saya bersiap dulu."
Arkan bergegas ke kamar untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil membelah jalanan kota. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang terucap. Keduanya larut dalam hening dan lamunan.
𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸
Malam harinya, rumah Arkan yang sepi mendadak riuh. Atas inisiatif Bayu, Zara dan Panji diundang berkumpul bersama Aira di ruang tengah.
"Jadi... maksud kamu menyuruh kita datang ke sini cuma mau memberi tahu kalau Aira baru saja ditolak?" tanya Panji polos sembari mengunyah kacang.
"Panji! Sembarangan saja kalau bicara!" semprot Aira tak terima. "Aku tidak ditolak, ya! Cuma... aku sengaja menjahilinya karena tahu dia batal bertunangan. Dan setelah tahu dia punya trauma, aku jadi makin bersemangat buat membantu dia bangkit!"
"Bilang saja ditolak, apa susahnya sih, Ra?" goda Panji lagi.
"Terserah kau, Panji!" seru Aira gemas, melempar gulungan tisu yang langsung ditangkis Panji.
"Bayu, kamu beli makanan sebanyak ini buat kita?" tanya Zara mengamati jejeran bungkus makanan di atas meja.
Bayu yang duduk bersandar di sofa menatap mereka datar. "Aku mengajak kalian ke sini buat patungan membayar semua makanan ini. Rencanaku gagal total dan aku rugi bandar. Makanan ini dihabiskan, nanti uangnya taruh di meja."
Panji yang sedang mengunyah kacang langsung melempar kulitnya ke arah Bayu. Sementara Panji dan Bayu sibuk berebut cemilan, Zara dan Aira memilih mengabaikan mereka dan membicarakan serial drama yang sedang hangat tayang.
"Oke, kita mulai serius sekarang," sela Bayu tiba-tiba, mengubah raut wajahnya.
"Jangan mengajak serius, Bay. Aku belum siap," sahut Panji santai, yang langsung dihadiahi lemparan bantal sofa oleh Bayu.
"Tadinya aku kira Bang Arkan bakal menjelaskan semuanya langsung ke Aira. Tapi ternyata dia dapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Jadi aku kumpulkan kalian di sini karena ada hal penting yang harus aku jelaskan," tutur Bayu.
"Jelaskan soal apa?" tanya Zara penasaran.
Bayu membetulkan posisi duduknya, menatap Aira yang berpura-pura sibuk membolak-balik layar ponselnya. Sejujurnya, Bayu tak tega melihat kerenggangan di antara sepupunya dan Aira.
"Sebenarnya... Bang Arkan itu juga punya perasaan padamu, Aira," kata Bayu berterus terang.
Aira mendongak seketika, menatap Bayu tajam. "Bagaimana bisa? Kak Arkan sendiri yang bilang kalau selama ini dia bersikap baik dan menolongku murni karena aku ini adik ipar sahabatnya."
"Aku lebih mengenal dia daripada kau, Ra. Kau harus dengarkan ini sampai selesai termasuk kalian berdua, supaya tidak ada salah paham lagi," tegas Bayu melirik Zara dan Panji.
"Kamu sebenarnya mau bicara apa, sih? Jangan bertele-tele!" Zara mulai tidak sabar.
"Sebenarnya Bang Arkan itu... Ah! Aduh, mendadak mules! Aku ke toilet dulu, kalian tunggu di sini!" seru Bayu tiba-tiba memegangi perutnya.
"Astaga, Bayu! Kamu ini beneran serius atau tidak, sih?!" omel Panji gemas.
"Beneran serius! Tapi ini sudah pembukaan terakhir, aku harus ke kamar mandi dulu! Awas kalau kalian pulang, aku doakan pantat kalian bisulan!" ancam Bayu sembari berlari terbirit-birit menuju kamar mandi belakang.
Panji menggelengkan kepala heran. "Ya ampun... Sejak jomblo, Bayu kenapa makin aneh begini, ya?"
𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸𓇢𓆸
Sepuluh menit berlalu hingga Bayu kembali ke ruang tamu dengan wajah yang jauh lebih lega. Beruntung, ketiga temannya masih setia menunggu.
"Oke, sekarang aku beneran mau bicara serius," kata Bayu kembali duduk di karpet.
"Sudah cebok belum?" celetuk Panji.
"Belum! Kenapa? Kau mau membantu membasuhnya?" balas Bayu asal.
"Najis!" ringis Panji geli.
Zara menepuk meja pelan, memberi instruksi agar Bayu segera melanjutkan ceritanya tanpa interupsi konyol lagi.
"Jadi begini... Bang Arkan itu sebenarnya punya perasaan pada Aira. Cuma dia masih sangat takut pada trauma masa lalunya. Dia takut melakukan kesalahan yang sama lagi, makanya dia tidak berani menjalin hubungan," terang Bayu.
"Trauma karena ditinggal almarhumah mamanya?" tebak Panji serius.
"Trauma karena Tante memang ada. Tapi ada trauma lain yang jauh lebih dalam," sahut Bayu pelan.
Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah hening. Aira memperbaiki posisi duduknya, menatap Bayu lekat-lekat.
"Kalian ingat kan waktu Aira bilang Kak Arkan trauma karena mamanya meninggal, dan aku bilang itu cuma salah satunya?" tanya Bayu, yang dibalas anggukan serentak oleh ketiga temannya.
"Selain kehilangan ibunya, Bang Arkan itu dulu punya adik perempuan... Namanya Shakila. Usianya seumuran kita sekarang. Bang Arkan sangat sayang pada adiknya. Dulu, Om dan almarhumah Tante sibuk bekerja Tante seorang pengacara dan Om seorang dokter. Jadi Bang Arkan yang selalu menjaga Shakila, membelikan apa saja yang adiknya mau, sampai rajin antar-jemput sekolah," cerita Bayu sembari meneguk air dari botolnya.
Zara, Panji, dan Aira terdiam, menunggu kelanjutan cerita itu dengan napas tertahan.
"Kejadiannya waktu Bang Arkan masih kelas 9 SMP. Hari itu Bang Arkan terlambat menjemput adiknya karena ada kegiatan organisasi di sekolah. Dia sudah menelepon pihak sekolah agar Shakila menunggu di dalam area sekolah. Waktu itu orang tua mereka sedang luar kota," lanjut Bayu dengan suara melunak.
"Lalu apa yang terjadi?" desak Zara pelan.
"Selesai urusan di sekolah, Bang Arkan langsung memacu motornya untuk menjemput Shakila. Tapi begitu sampai di sekolah, adiknya sudah tidak ada. Kata gurunya, Shakila keluar jajan bersama temannya. Bang Arkan mencari ke mana-mana, sampai akhirnya di ujung jalan... dia melihat Shakila ditarik paksa masuk ke dalam mobil asing. Bang Arkan berteriak dan mengejar mobil itu pakai motor, tapi dia malah terjatuh. Mobil itu berhasil kabur membawa adiknya."
Ketiga remaja di hadapan Bayu membeku. Rasa terkejut terpancar jelas dari raut wajah mereka.
"Keluarga mencari Shakila ke mana-mana. Kepolisian di berbagai daerah dikontak untuk melacak mobil itu. Tapi hasilnya nihil. Seminggu kemudian... potongan seragam sekolah Shakila ditemukan di dekat jurang di luar kota. Di lokasi yang sama, polisi menemukan beberapa potongan jenazah korban lain. Saat itu memang sedang maraknya kasus penculikan anak di bawah umur oleh jaringan perdagangan organ," jelas Bayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maksudmu... adiknya diculik dan..." Panji tak sanggup melanjutkan kalimatnya, terperanjat hebat.
"Sampai sekarang, jenazah Shakila yang utuh tidak pernah ditemukan. Tapi dari potongan pakaian dan bukti DNA saat itu, kepolisian mengonfirmasi Shakila sudah meninggal. Dan sejak hari itu Bang Arkan selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelematkan adiknya. Hanya kalung pemberian Shakila yang masih disimpan dan dikenang Bang Arkan sampai sekarang," tutur Bayu dengan nada sendu.
Zara menutup mulutnya yang bergetar, sementara Aira terpaku membisu. Ia tak pernah membayangkan ada luka sedalam dan selama ini di balik sosok dokter Arkan yang selalu tampak tenang dan tegap.
"Bukan cuma Bang Arkan, almarhumah Tante juga terpukul hebat. Beliau tidak pernah benar-benar bisa menerima kenyataan itu hingga akhirnya sakit-sakitan dan menyusul Shakila beberapa tahun kemudian. Sejak dua peristiwa itu, Bang Arkan berubah total. Dia menjadi dingin, menyendiri, dan selalu menganggap dirinya membawa petaka bagi orang-orang yang dicintainya."
"Kasian sekali... Dua kali Dokter Arkan harus kehilangan orang yang paling disayanginya," gumam Panji prihatin.
"Tapi itu kan bukan murni kesalahan Dokter Arkan..." sela Zara prihatin. "Dia masih sangat muda saat itu."
"Iya, tapi karena dia merasa bertanggung jawab atas adiknya, rasa bersalah itu mengendap sampai sekarang," jawab Bayu. "Makanya dia takut sekali jatuh cinta lagi. Dia takut orang yang dia cintai bakal terluka atau pergi gara-gara dia. Sampai akhirnya beberapa tahun setelah lulus SMA, dia sempat dekat dengan seorang wanita bernama Dira."
"Dira?" ulang Aira pelan.
"Iya. Dira itu satu-satunya wanita yang sempat membuat Bang Arkan coba membuka hati lagi. Dira yang mendukung dia masuk kedokteran, sementara Dira sendiri menjadi pramugari internasional. Mereka sempat bertunangan dan menjalani hubungan jarak jauh. Tapi karena trauma Bang Arkan belum sepenuhnya sembuh dan sikapnya yang cenderung tertutup, Dira merasa diabaikan. Diam-diam Dira menjalin hubungan dengan seorang pilot. Saat kembali ke Indonesia, Dira datang bersama pria itu, meminta maaf, dan mengakhiri pertunangan mereka secara sepihak."
Panji menggelengkan kepala. Rasa iba menyusup makin dalam ke dadanya. Di balik benteng es yang dingin itu, tersimpan reruntuhan luka yang disangganya seorang diri.
"Jahat sekali... Padahal Dokter Arkan sedang berusaha menyembuhkan lukanya, tapi malah ditambah luka baru," cetus Zara kesal.
"Itulah alasan kenapa dia kembali menjadi manusia es. Dia merasa tidak layak untuk dicintai, karena pada akhirnya orang-orang yang dia sayangi pasti akan meninggalkannya," pungkas Bayu sembari mencengkeram erat botol minumnya.
Zara beralih menatap Aira yang masih terdiam seribu bahasa. "Ra... kamu tidak apa-apa?"
Aira menarik napas panjang, mencoba meredam getaran di dadanya. "Sekarang aku makin yakin... alasan selama ini aku harus banyak tingkah dan manja di depan dia. Supaya dia bisa tersenyum lagi."
"Kau sampai rela mengorbankan perasaanmu sendiri cuma buat membuat dia tersenyum?" tanya Panji menatap Aira tak percaya.
Aira menyunggingkan senyum tipis. "Memangnya kenapa? Lagipula... usia adiknya kan seumuran dengan kita. Daripada dia terus-terusan merasa kehilangan adiknya, kenapa kita tidak jadi adiknya saja?"
"Kau saja! Aku tidak mau punya kakak galak model kulkas sepuluh pintu begitu," sahut Panji mencoba mencairkan suasana yang terlanjur berat.
"Sebenarnya Bang Arkan sudah mulai membuka hati untukmu, Aira," tambah Bayu menatap gadis itu hangat. "Cuma karena rasa takutnya yang terlalu besar, dia tidak berani menunjukkan perasaannya secara terbuka. Dan tanpa disadari, sikap bertahan itu justru melukai kalian berdua."
Malam kian larut. Di ruang tamu yang hangat itu, mereka berempat menghabiskan sisa makanan sembari berbincang banyak hal mendoakan dari jauh agar pria pemilik rumah yang sedang dinas di rumah sakit itu kelak bisa menyembuhkan lukanya sendiri.
Bersambung__
_____
Kalung pemberian adek Shakila untuk Arkan😊