NovelToon NovelToon
Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:312
Nilai: 5
Nama Author: shkira

Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.


pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.

SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 26

Tidak lama setelah itu, Ares melangkah cepat menemui Hansen yang sedang berada di kamar untuk mengambil ponsel nya.

"Bos, gawat nona Ana.." Seru nya Dengan wajah cemas. Menerobos masuk kedalam kamar.

Hansen menoleh dingin pada Ares yang tiba-tiba masuk tanpa permisi. ketika ia akan mengambil ponsel nya "Ada apa!" Tanya nya, datar.

"Aku dapat kabar dari mansion kalau nona Ana, melarikan diri!" Ucap nya, panik.

Hansen tertegun kaget, ekspresinya marah sampai rahang nya mengeras. Langkah nya cepat, keluar dari vila.

bibi wei dan cucu nya bingung ketika melihat Hansen pergi terburu-buru dengan expresi marah.

"Ada apa dengan tuan?" Gumam bibi wei, memperhatikan mobil milik Ares menjauh dari vila.

Bibi wei menoleh pada cucu nya yang terlihat gugup sejak ia keluar dari kamar hansen saat itu. "Lisa, nenek perhatikan sejak tadi Kamu terus gelisah, ada apa?" Tanya bibi wei. Khawatir.

Lisa terdiam panik, tangan nya terus gemetar meremas ujung baju nya. Sehingga membuat bibi wei cemas.

"Lisa, jangan buat nenek takut, katakan ada apa dengan mu?"

Lisa menoleh cepat pada nenek nya dengan wajah pucat, bibi wei Sampai bisa merasakan tangan Lisa yang terasa dingin.

"Nenek, aku.. aku membuat kesalahan besar! Tadi aku tidak sengaja menjawab panggilan di ponsel tuan dari istri nya, aku.." kalimat nya terhenti lantaran sangat ketakutan.

Bibi wei tertegun pucat mendengar ucapan cucu nya. " Lisa.. sudah berpa kali nenek peringatkan jangan pernah berbuat macam-macam kenapa kamu tidak dengar ucapan nenek!" Sentak bibi wei, kemarahan nya tak terbendung sehingga membuat nya tergolek lemas di lantai.

Lisa berlutut di samping nenek nya dengan wajah panik "Aku.. aku hanya terbawa rasa cemburu, nek!" Ucap nya tertunduk, menyesal.

Bibi wei benar-benar sangat marah Dengan sikap cucu nya yang lancang. "Jadi, apakah tuan pergi hari ini ada hubungan nya dengan apa yang kamu lakukan?" Tanya nya, khawatir.berharap itu bukan kerna ulah cucu nya.

"A..aku tidak tau nek," balas Lisa, takut.

Bibi Wie hanya bisa menarik nafas dalam dengan perasaan cemas, ia berharap apa yang di lakukan cucu nya tidak akan menimbulkan masalah besar.

Di sisi lain, Hansen memantau pergerakan lewat ponsel, sebelum nya ia pernah memasang pelacak diam-diam di ponsel Ana, sehingga ia tidak mengetahui nya.

"Bos titik lokasi nona Ana menunjukan ke arah perbatasan kota! Jarak kita saat ini 1 kilometer! " Seru Ares, sambil terus fokus menyetir.

"Hentikan mobilnya!"

Ares langsung menghentikan mobil nya di tepi jalan, saat Hansen meminta nya untuk berhenti, mereka tukar posisi.

Hansen mengambil alih kemudi, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hingga bisa mengejar titik lokasi Ana hanya dengan waktu 30 menit.

Lokasi ana terlihat tepat di depan nya saat ini berada di bus angkutan umum.

Hansen menyalip bus itu lalu berhenti menghadang tepat di depan bus, sehingga membuat sang sopir harus menghentikan mobil nya secara mendadak.

Para penumpang termasuk Ana yang berada di kursi tengah, Samapi terkejut saat bus mengguncang mereka. Bus yang awal nya tenang berubah ricuh.

"Haduh..Pak sopir kenapa anda menyetir tidak hati-hati!" Keluh seorang pria paruh baya, yang duduk di baris depan kursi Ana.

Di susul beberpa keluhan dari penumpang lain nya.

Sang sopir beranjak dari kursi nya menenangkan para penumpang nya " Maaf membuat kalian tidak nyaman, saya juga terkejut sebab ada mobil yang berhenti mendadak di depan bus!" Ucap sang sopir. Memenangkan.

Beberpa Para penumpang beranjak untuk melihat kearah depan bus dari dalam.

Ana yang melihat keributan itu, ikut penasaran dengan apa yang terjadi, ia beranjak dari kursi nya nya berusaha melihat ke depan dari kerumunan para penumpang yang menghalangi nya. Pandangan nya sulit untuk melihat Karan terhalang. Akhirnya ia kembali duduk di kursi nya, rasa penasarannya nya hilang begitu saja.

Di tempat yang sama, Hansen bergegas masuk ke dalam bus melewati sang sopir yang baru saja ingin keluar menegur sikap nya.

"Hei tuan, tunggu! Apa yang ingin anda lakukan?" Seru sang sopir melangkah masuk mengejar Hansen kedalam bus.

Para penumpang masih berdiri memperhatikan apa yang terjadi sehingga pandangan ana dan hansen saling terhalang oleh mereka.

Sang sopir menarik pergelangan tangan Hansen menahan langkah nya "Tunggu apa yang ingin anda lakukan, jangan-jangan kamu mau.."

"Aku mencari istri ku!" Tegas Hansen, datar memotong kalimat sang sopir yang berpikir buruk tentang nya.

Ana yang saat itu mendengar jelas suara Hansen, langsung di buat panik kebingungan berusaha menyembunyikan diri.

"Astaga, maaf tuan aku salah paham, tapi.. apa anda yakin salah satu penumpang saya ada istri anda?" Ucap sang sopir, malu.

Ana diam-diam berjalan membungkuk menuju pintu bus belakang saat sang sopir masih menahan nya, Namun sial nya saat ia akan sampai di pintu belakang, Hansen yang punya tubuh tinggi bisa melihat nya mengendap dari kerumunan orang di depan nya.

Expresi nya menatap dingin, sampai tengkuk Ana terasa merinding. "Aku merasa seperti di awasi.," gumam nya, mengusap kasar tengkuk nya, sambil terus berjalan menuju pintu.

"Ana! Berhenti di sana!" Seru Hansen, suara nya terdengar tegas. Sehingga langkah Ana terhenti begitu saja.

Ia tidak menyangka akan tertangkap begitu cepat, setelah susah payah melarikan diri dari mansion.

Para penumpang bersama langsung menolah ke arah yang di lihat Hansen, mereka langsung memberi jalan untuk nya.

Sang sopir dan beberpa penumpang memberi komentar pada Ana.

"Nona, jika ada masalah rumah tangga, sebaik nya di selesai kan baik-baik!" Seru sang sopir. Menasehati.

"Benar, kenapa malah kabur dari rumah, haduhh anak jaman sekarang.. apa tidak bisa bicara di selesaikan di rumah!"

"Nak, sebaik nya kamu kembali kerumah bersama suami mu, pertengkaran dalam rumah tangga itu adalah bumbu pernikahan. Selesaikan dengan hati dingin!" Ucap peria paruh baya yang duduk di kursi depan.

Ana tertunduk malu lantaran banyak orang tua, yang mengomentari sikap nya yang, kurang baik lantaran kabur dari rumah.

Hansen berjalan menghampiri nya yang terdiam pasrah berharap cepat di bawa keluar dari dalam bus lantaran ia hampir tidak punya muka lagi untuk berdiri di sana.

Pergelangan tangan nya di tarik pelan, Ana mengikuti langkah Hansen menuju mobil nya.

Ia merasa lega setelah keluar dari bus, namun Kemabli tegang saya masuk kedalam mobil bersama Hansen, yang sejak tadi menunjukan expresi marah.

"Kembali ke mansion!" Perintah nya, pada Ares yang Muali mengemudikan mobil nya.

Ana tertunduk diam di Sampang Hansen. Yang terlihat lelah namun jauh lebih tenang dari sebelum nya saat mendengar kabar Ana melarikan diri.

Sepanjang perjalanan menuju mansion, suasana di mobil hening. Ares terus fokus menyetir tanpa memperdulikan kursi belakang. Sedangkan Ana terus tegang sebab Hansen, tidak bicara sepatah kata pun dengan nya dan hanya memejamkan kan mata.

Ana diam-diam melirik Hansen yang mata nya masih terpejam. Ia tersentak kaget melihat mata Hansen terbuka saat ia sedang menatap nya.

Dengan cepat ia memalingkan wajah jantung nya hampir copot karna terkejut.

"Ares, hentikan mobil nya!" Perintah Hansen,. Tiba-tiba. Ares segera menepikan mobil nya di jalan yang cukup sore itu.

Ia tahu apa yang akan di lakukan bos nya, sehingga ia keluar tanpa harus di minta.

Ana kebingungan saat Hansen meminta Ares menghentikan mobil dan Ares keluar dari mobil begitu saja.

Saat ia akan bertanya tiba-tiba Hansen langsung mencium nya bibirnya lalu melumatnya dan menggigit bibir Ana.

"Ahhh.. kenapa kamu menggigit ku!" Keluh Ana, menyeka darah yang keluar dari bibir nya.

"Itu hukuman, karena kamu berusaha lari lagi dari ku!" Balas Hansen, marah.

"Hari ini aku pergi karena mu, dan dulu juga aku pergi karena kamu. Semua karena sandiwara mu yang berhasil menipu ku!" Ketus nya memalingkan wajah.

Hansen mengernyit bingung, tidak mengerti apa yang di katakan oleh Ana " Dulu memang aku yang salah, tapi kali ini.. sudah ku katakan berulang kali, aku benar-benar mencintai mu!"

"Bohong, dulu dan sekarang semua nya bohong, kamu mempermainkan aku lagi!" Ketus Ana. Menyeka air mata nya yang jatuh.

Hansen mencubit dagu Ana memaksa memalingkan wajah ke arah nya, "kamu menangis?" Ucap nya, sakit.

"Bukan urusan mu!" Balas Ana Kemabli memalingkan wajah, namun hansen menahan nya lalu mencium nya lagi.

Ana mencoba mendorong tapi kedua tangan nya di tahan oleh Hansen, yang terus melumat bibir nya yang mulai pasrah lantaran tak bisa berontak.

Hansen bermain lama dengan ciuman nya, sampai ia mengubah posisi Ana ke atas pangkuan nya. Tangan nya masuk kedalam baju Ana, lalu meremas dua buah milik nya. Hansen melepas ciuman nya. Suara nafas mereka yang cepat terdengar keras.

Hansen menghisap dua buah milik Ana, sehingga membuat ana mengeluarkan suara desahan yang cukup keras. Namun tiba-tiba mata Ana melihat keluar mobil, Ares berdiri tidak jauh dari sana menunggu mereka.

"Hentikan Hansen, Ares masih di sini.. aku malu!" Ucap nya, suara nya berat expresi nya terlihat menggoda.

Hansen mengehentikan kenikmatan nya, "jangan pedulikan dia!" Balas nya datar,

"Tidak Hansen, aku malu!" Ana menahan wajah Hansen yang ingin melanjutkan menghisap buah milik nya.

Hansen menatap dengan wajah merona. Nafas nya sangat cepat berulang kali ia menakan ludah, melihat ana yang sangat menggoda nya. Namun ia manahan keinginan nya saat itu. Sebab melihat Ana yang terlihat benar-benar tidak nyaman melakukan di dalam mobil.

"Baiklah, kita lanjutkan setalah sampai di rumah, soal kejadian hari ini kita bicara kan setalah kamu menerima hukuman nanti!" Ucap Hansen, menurunkan Ana Kemabli ke tempat duduk nya.

Hansen membuka kaca mobil nya dan meminta Ares Kemabli ke mobil.

Ana bergegas merapihkan baju nya yang berantakan. Ia berpaling menatap keluar jendela mengalihkan pandangan nya saat Ares masuk ke mobil.

Ares melirik kecil pada bos nya dengan expresi tidak percaya saat ia di minta Kemabli ke mobil ketika baru lewat lima menit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!