SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Bulan Madu Berkedok Ekspansi Jalur Sutra Laut
"Bos! Maksud gue, Suamiku yang hartanya unlimited! Lo bisa jelasin nggak kenapa biaya operasional kapal pesiar ini per harinya setara sama APBN kota kecil?!"
Suara melengking Aura membelah keheningan pagi di atas dek utama Kapal Pesiar Magis The Imperial Leviathan. Ia berdiri berkacak pinggang, masih mengenakan piyama sutra merah marun, tangannya memegang tablet hologram yang menampilkan deretan angka berwarna merah.
Pangeran Caden—yang kini resmi menjadi suaminya—sedang duduk santai di kursi malas berjemur. Ia hanya mengenakan kemeja putih tipis yang kancing atasnya terbuka, menampilkan kalung berliontin pelindung magis. Matanya tertutup kacamata hitam mahal.
"Itu karena kapal ini menggunakan inti kristal Leviathan asli sebagai bahan bakarnya, Elara sayang," jawab Caden dengan suara bariton yang dalam dan malas. "Kristal itu menstabilkan guncangan ombak agar kau tidak mabuk laut."
"Mabuk laut?! Gue lebih milih mabuk laut sampai muntah-muntah daripada ngeliat tagihan bahan bakar sepuluh ribu emas per jam!" omel Aura sambil berjalan mondar-mandir. "Ini kan katanya acara Honeymoon (Bulan Madu)! Kenapa kita nggak sewa vila murah aja sih di pegunungan utara?! Nggak efisien!"
Caden membuka kacamata hitamnya, menatap istrinya dengan senyum geli. "Kau lupa? Kau sendiri yang mengubah rute bulan madu kita ke Benua Barat karena ingin mengecek langsung jalur perdagangan laut yang baru kita buka. Jika kita menggunakan kapal kargo biasa, perjalanan akan memakan waktu tiga minggu. Dengan kapal ini, hanya butuh tiga hari. Bukankah kau yang selalu bilang: 'Waktu adalah Uang'?"
Aura terdiam sejenak. Mulutnya yang sudah terbuka untuk membalas, langsung tertutup rapat.
"I-iya sih," gumam Aura gengsi, membuang muka. "Tapi kan tetep aja mahal! Coba hitung Opportunity Cost-nya! Kalau uang sewa kapal ini kita investasikan ke deposito bank sentral..."
Sebelum Aura bisa melanjutkan hitungan matematikanya, Caden sudah menarik pergelangan tangan gadis itu hingga Aura jatuh ke pangkuannya.
"Berhenti memikirkan deposito di saat bulan madu, Istriku," bisik Caden posesif, melingkarkan lengannya di pinggang Aura. "Uang kas pribadiku masih lebih dari cukup untuk mensponsori gaya hidup bar-barmu sampai seratus generasi ke depan. Sekarang, diam dan nikmati angin lautnya."
"T-tapi Bos..." Aura mencoba meronta kecil, wajahnya memerah. Meski sudah menikah, serangan pesona sang Antagonis ini masih sering membuat otak kalkulatornya korslet. "Gue belum ngecek laporan laba bersih panen gandum bulan ini!"
"Lucas sudah mengurusnya. Kau sedang cuti."
"Cuti itu konsep yang diciptakan untuk melemahkan jiwa pengusaha!"
Caden tertawa lepas, mengecup puncak kepala Aura. "Hanya kau yang menganggap cuti berbayar sebagai sebuah ancaman. Jika kau tidak bisa diam, aku akan membawamu kembali ke kamar dan memberimu 'pekerjaan fisik' yang sangat menguras tenaga."
Aura langsung menegakkan punggungnya, matanya membelalak ngeri bercampur panik. "E-eh! Nggak usah! Angin lautnya seger banget kok! Tuh lihat, burung camar terbang! Wah, indah banget ya ciptaan Tuhan!"
Caden hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tiba-tiba, pintu kaca dek terbuka dengan tergesa-gesa.
"Permisi! Lapor, Yang Mulia! Lapor, Bu Bos!" Mia berlari keluar dengan napas tersengal, membawa sebuah perkamen berstempel lilin biru tua. Di belakangnya, Lucas mengikuti dengan wajah tegang.
Aura langsung melompat dari pangkuan Caden secepat kilat. "Ada apa, Mia?! Saham kita crash?! Ada inflasi dadakan?!"
"Bukan, Bu Bos!" Mia menyerahkan perkamen itu dengan tangan gemetar. "Ini surat balasan dari Kaisar Julian. Penguasa Benua Barat."
Caden yang tadinya santai, langsung duduk tegak. Hawa di sekitarnya mendadak mendingin. "Julian? Apa kata kaisar sombong itu?"
Aura merebut surat itu dan membacanya dengan suara lantang.
"'Kepada Pangeran Caden dan Asisten Keuangannya. Kami menolak proposal kerja sama perdagangan bebas cukai yang Anda ajukan. Benua Barat tidak akan tunduk pada monopoli gandum dari Benua Timur. Tertanda, Kaisar Julian'..."
Mata Aura melebar. Ia membaca ulang kalimat terakhir itu.
"TUNGGU DULU!" teriak Aura, urat di dahinya menonjol. "Dia nyebut gue apa tadi?! 'Asisten Keuangan'?! Woy! Gue udah sah jadi istri sah Pangeran, dan gue pegang 51% saham aset istana! Beraninya dia nge-downgrade jabatan gue di surat resmi diplomasi?!"
Lucas membetulkan letaknya kacamatanya yang merosot. "Sepertinya intelijen Benua Barat belum meng-update database mereka tentang status pernikahan Anda, Nyonya Elara. Bagi mereka, Anda masih dianggap pion pelayan yang dikendalikan oleh Yang Mulia Caden."
"Pion pelayan?! Wah, ngajak ribut ini kaisar baru netes!" Aura menggebrak meja kaca di dekatnya. "Bos! Lo denger nggak?! Harga diri divisi kita diinjak-injak!"
"Aku mendengarnya," jawab Caden sedingin es, matanya berkilat memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Ia berdiri dari kursinya. "Dan dia berani menolak proposal yang sudah kususun sedemikian rupa. Sepertinya Julian sudah bosan memiliki pelabuhan laut."
Aura menatap Caden dengan semangat berapi-api. "Bos! Kita cancel acara bulan madunya! Pasang mode perang dagang sekarang juga! Lucas, hubungi kapten kapal, ubah rute! Kita nggak jadi sandar di pelabuhan wisata, kita langsung sandar di Pelabuhan Utama Ibukota Benua Barat!"
"T-tapi Bu Bos," sela Mia ketakutan. "Kalau kita sandar di pelabuhan utama tanpa undangan resmi, itu dianggap sebagai tindakan invasi militer!"
"Invasi militer matamu!" omel Aura. "Kita datang sebagai perwakilan dagang yang sakit hati! Kasih tau kaptennya, kalau ada kapal patroli Barat yang berani ngehadang, tabrak aja pakai kristal Leviathan ini! Biar uang sewa mahal kita ada gunanya!"
"S-siap, Bu Bos!" Mia langsung lari kembali ke ruang kendali.
Caden berjalan mendekati Aura, membelai pipi istrinya yang sedang murka itu dengan penuh kasih sayang.
"Kau selalu tahu cara membuat bulan madu menjadi sangat mendebarkan, Elara," bisik Caden. "Aku akan menyiapkan pasukan bayanganku. Jika kaisar bodoh itu berani meremehkanmu lagi di depanku, aku akan memenggal kepalanya dan menjadikan mahkotanya sebagai asbak di ruang kerja kita."
"Jangan dipenggal, Bos!" larang Aura serius.
"Kenapa? Kau merasa kasihan padanya?" Caden menaikkan sebelah alisnya, sedikit cemburu.
"Bukan! Mahkota kaisar itu pasti ada berliannya! Kalau kecipratan darah pas dipenggal, nilai jual berliannya bisa turun karena dianggap barang kutukan! Mending kita suruh dia lepas mahkotanya dulu, baru Bos penggal. Gimana? Efisien, kan?"
Tawa Caden kembali meledak di bawah sinar matahari pagi. Sang Antagonis dan Ratu Kapitalisnya benar-benar pasangan yang diciptakan dari dasar neraka bisnis terdalam.
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein