NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:47.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Keluarga Impian

Seharian penuh, Raden Daksa dan Astri hanya menghabiskan waktu di kamar hotel. Meski Astri sudah merasa lebih baik setelah Raden Daksa memijat dan mengompres pahanya, namun suaminya itu tetap tak mengizinkan Astri untuk banyak berkegiatan.

"Mas...."

"Dalem, Dek Ayu."

"Aku bosen banget, Mas. Jalan-jalan sore di tepi pantai, yuk." Ajak Astri sore itu.

"Mas lihat deh, sunsetnya pasti bagus banget." Imbuhnya sembari menunjuk ke arah matahari yang mulai turun di ufuk barat.

"Memang sudah gak sakit lagi? Mas takut kamu kenapa-napa, Sayang." Kata Raden Daksa yang masih saja khawatir.

"Udah ndak sakit lagi kok, Mas. Aku udah bisa jalan dengan normal." Jawab Astri yang berusaha meyakinkan suaminya.

"Yasudah, ayo." Ajak Raden Daksa pada akhirnya. Ia tak kuasa melihat tatapan memohon istrinya yang mungkin merasa bosan berada di dalam kamar seharian.

Raden Daksa berjalan santai sembari menggenggam tangan istrinya. Mereka berjalan menyusuri lorong hotel, sebelum akhirnya keluar tepat di tepi pantai.

Hamparan pasir yang berwarna sedikit kehitaman, menyapa mereka ketika melangkah keluar dari pintu kaca besar. Hembusan angin yang membawa aroma khas pantai, memberikan sesuatu yang terasa menenangkan.

Astri menyunggingkan senyuman saat melihat pemandangan di hadapannya. Hamparan pasir yang berkilau di timpa matahari sore, berpadu indah dengan birunya air laut yang tak kalah berkilau.

Raden Daksa menatap wanita yang berdiri di sebelahnya. Senyuman bahagia sang istri, menular padanya. Pria gagah itu tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari wanita yang ia cintai.

"Mas, ayo..." Astri menarik pelan tangan Raden Daksa yang menggenggam tangannya. Raden Daksa mengangguk. Ia kemudian mengikuti langkah santai Astri yang tampak menikmati pemandangan pantai di sore hari.

"Mau minum air degan (kelapa muda), Dek Ayu?" Tawar Raden Daksa saat melihat tumpukan buah kelapa muda yang ada di tepi pantai.

"Mau, Mas." Jawab Astri yang kemudian tersenyum lebar. Memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.

"Ah! Ya Allah." Lirih Raden Daksa. Andai saja mereka ada di dalam kamar, sudah pasti Raden Daksa akan melumat bibir seksi istrinya yang menggoda itu.

"Kenapa, Mas?" Tanya Astri.

"Gak apa-apa, Sayang." Jawab Raden Daksa yang kemudian memimpin jalan menuju ke penjual kelapa muda.

Keduanya duduk di sebuah gazebo sembari menikmati kelapa muda yang terasa menyegarkan. Raden Daksa kemudian merebahkan diri di pangkuan istrinya. Ia memejamkan mata, merasakan kenyamanan yang ia dapatkan dari sosok Astri, cinta pertamanya.

"Capek ya, Mas?" Tanya Astri sambil mengusap lembut kepala Raden Daksa.

"Enggak, Sayang. Rasanya nyaman kalau seperti ini." Jujur Raden Daksa.

"Terima kasih karena sudah merawatku ya, Mas." Ucap Astri. Ia merasa bersyukur karena Raden Daksa bukanlah orang yang patriarki, meskipun keluarganya masih menganut sistem seperti itu.

"Mas yang harusnya berterima kasih. Karena kamu sudah hadir di dalam hidup Mas dan Sasa." Kata Raden Daksa. Raden Daksa meraih sebelah tangan Astri dan mengecup telapak tangan wanitanya.

"Dek Ayu..."

"Dalem, Mas." Jawab Astri yang kembali memandang wajah tampan suaminya, setelah beberapa saat memandang sunset yang begitu menawan.

"Mas boleh minta tolong?" Tanya Raden Daksa.

"Apa itu, Mas?" Tanya Astri.

"Tolong didik anak-anak kita dengan cara keluargamu mendidik. Mas mungkin akan lebih banyak waktu untuk bekerja dan tak memiliki waktu sebanyak kamu untuk mendidik anak-anak kita. Jangan ragu untuk menggunakan cara orang tuamu mendidikmu, Dek Ayu. Mas tidak ingin membedakan anak-anak kita. Baik itu perempuan atau laki-laki kedepannya, Mas ingin mereka semua mendapatkan sesuatu yang sama dan setara." Kata Raden Daksa.

"In Syaa Allah, Mas." Jawab Astri.

"Kamu tau..." Raden Daksa menggantung kalimatnya.

"Dulu, Mas sangat dekat dengan Mawar. Saking dekatnya, dia sampai ingin menjadi wanita mandiri dan bisa berkarir. Mawar dulu sering diam-diam menyusul Mas ke lokasi proyek atau perusahaan untuk sekedar belajar dan memuaskan rasa ingin taunya." Raden Daksa menghela nafas dan menatap ke arah langit yang bersemburat senja.

"Sayangnya, suatu hari dia ketahuan mengikuti Mas ke lokasi pekerjaan. Bapak dan Ibu marah, karena menganggap Mawar mengganggu pekerjaan Mas. Sampai akhirnya, kami dipisahkan dan jarak kami dijaga dengan ketat." Imbuh Raden Daksa.

"Karena itu, makanya Mas, Raden Dwipa dan Mawar terlihat tak saling dekat?" Tanya Astri yang dijawab anggukan oleh Raden Daksa.

"Berapapun anak yang kita miliki kedepannya, Mas berharap supaya bisa mendidik mereka tanpa membedakan gender dan tahta." Kata Raden Daksa.

"Kamu tau, kenapa Dwipa menjadi orang yang serakah dan ambisius?" Tanya Raden Daksa.

"Itu karena sejak kecil kami dibedakan." Raden Daksa menjawab pertanyaannya sendiri.

"Sejak kecil, Mas sudah ditetapkan menjadi seorang pewaris gurita bisnis Trah Soeradiningrat. Semua harapan ada pada Mas. Mas didik lebih keras, namun, apapun yang Mas inginkan tak pernah tak di wujudkan. Sejak kecil, mas selalu mendapatkan apa yang Mas mau. Sedangkan Dwipa harus memohon-mohon untuk memiliki barang yang sama dengan milik Mas." Kata Raden Daksa.

"Apapun yang Mas miliki, selalu membuatnya iri dan ingin memilikinya juga. Perbedaan kami terlalu kentara, hingga membuat kami semakin jauh. Padahal, Mas tidak ingin seperti itu. Mas ingin bisa berbagi dengannya. Mas ingin mengerjakan banyak hal dengannya. Tetapi, karena kerasnya Bapak dan Ibu, membuat Mas tidak bisa meraih tangan Dwipa." Imbuh Raden Daksa dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan kesedihan.

Dari sini, Astri bisa merasakan bagaimana besarnya rasa sayang Raden Daksa pada adik-adiknya. Ia juga bisa merasakan, bagaimana kesepiannya Raden Daksa karena jauh dari adik-adiknya.

"Alasan Mas melepaskan tahta sebagai pewaris Trah Soeradiningrat, bukan karena kemarahan Mas atas kepergian Siwi seperti apa yang keluarga Mas kirakan selama ini. Tetapi, karena Mas sudah lelah hidup di dalam aturan yang terasa begitu mencekik. Karena aturan itu, membuat Mas merasa seperti hidup sendirian. Mas memiliki saudara, tetapi tak pernah berinteraksi dengan baik. Setiap Mas mencoba untuk dekat dengan Dwipa, pada akhirnya hanya pertengkaran yang didapat." Kata Raden Daksa yang membuat atmosfer d sekitar mereka berubah menjadi sendu.

Astri terus mendengarkan apa yang diceritakan oleh suaminya. Semua yang diceritakan Raden Daksa, terasa begitu menggores hatinya. Sungguh berbeda dengan kehidupan keluarganya yang harmonis dan saling bekerja sama.

"Maka dari itu, Mas ingin menciptakan keluarga yang terasa hangat. Keluarga yang saling melengkapi dan selalu ada untuk satu sama lain. Keluarga yang saling mengasihi dan memberikan kebahagiaan. Bukan keluarga yang saling iri dan bersaing." Ujar Raden Daksa yang mengakhiri ceritanya.

"Kita wujudkan keluarga seperti apa yang Mas inginkan, ya. Kita akan usahaan keluarga itu." Lirih Astri sambil menggenggam tangan Raden Daksa.

"Matur suwun, Sayang." Ucap Raden Daksa yang kemudian mengecup punggung tangan Astri yang menggenggam tangannya.

1
This Is Me
Parah kelakuan Dwipa kalau benar ini ulahnya😤😤
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!