Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Kembali dan Sandiwara Baru
Dua tahun berlalu sejak helaan napas pertama Alexander Perkasa mengudara di pulau pribadi Kepulauan Seribu. Kehidupan di puncak kekaisaran Perkasa Nusantara Investama berjalan dalam kestabilan yang sempurna atau setidaknya, begitulah yang tampak dari balik jendela-jendela kaca tebal Perkasa Tower. Alexander kini telah tumbuh menjadi balita berusia dua tahun dengan manik mata hazel persis seperti ayahnya, dan rambut hitam pekat melambai yang mewarisi garis genetikku.
Mansion utama di kawasan Menteng tak lagi sekadar menjadi simbol kekuasaan dingin, melainkan benteng tak tertembus. Namun, bagi orang-orang seperti aku dan Raymond, ketenangan yang terlalu lama justru selalu membawa aroma badai yang mengintai di balik cakrawala.
Pagi itu, gerimis tipis membasahi kaca ruang kerja utama di lantai 50. Aku duduk di balik meja mahoni raksasa, mengenakan setelan blazer berpotongan tegas berwarna abu-abu arang. Cincin pernikahan platina murni dan cincin berlian canary yellow 10 karat membingkai jariku yang sedang meneliti lembar demi lembar berkas akuisisi portofolio energi terbarukan di Sulawesi.
Pintu ganda ruang kerja berderit halus. Raymond melangkah masuk. Pria 37 tahun itu memancarkan aura dominan yang kian terasah oleh waktu. Setelan jas serba hitam buatan Savile Row melekat sempurna di tubuh tegapnya. Langkah kakinya yang mantap terhenti di samping kursiku.
"Ada fluktuasi aneh pada transaksi pasar sekunder anak perusahaan kita di London sejak kemarin malam," ujar Raymond langsung pada inti masalah. Suara baritonnya yang berat dan dingin bergetar halus di udara ruangan.
Aku menengadah, mengunci tatapan mata hazel-nya. "Manuver dari sisa konsorsium Julian?"
"Bukan Julian," sahut Raymond datar, sudut bibirnya terangkat tipis dalam garis cemooh yang tajam. "Julian sudah terlalu hancur untuk sekadar membayar pengacara kelas dua di Singapura. Ini pergerakan rapi dari dana privat yang terdaftar atas nama Vance Heritage Trust."
Mataku menyipit. "Warisan keluarga Vance? Julian punya ahli waris yang tidak terdeteksi oleh radar kita?"
Raymond mengulurkan tangannya, meletakkan sebuah tablet digital di atas meja. Di layarnya, terpampang foto seorang pria muda berusia awal tiga puluhan berpenampilan sangat necis dengan setelan jas double-breasted, memegang segelas champagne di sebuah galeri seni di Jenewa.
"Adrian Vance," kata Raymond rendah. "Putra tunggal Julian dari pernikahan pertamanya di Swiss. Selama sepuluh tahun terakhir ia mengelola dana hedge fund di Zurich tanpa pernah menyentuh bisnis ayahnya di Asia. Tapi dua minggu lalu, ia melikuidasi tiga puluh persen portofolionya di Eropa dan mulai menyerap saham sisa Perkasa Group yang tersebar di bursa Frankfurt."
Aku menyandarkan punggung pada kursi kulit, mengusap pelan liontin blue sapphire di dadaku. "Dia datang untuk membalas dendam atas kehancuran ayahnya?"
"Atau untuk merebut kembali apa yang ia kira sebagai hak keluarganya," potong Raymond. Pria itu menunduk, meletakkan kedua telapak tangannya di sandaran tangan kursiku, mengurungku di antara tubuh tegapnya. Hembusan napas hangat bercampur aroma kayu cendana menyapu kulit pipiku. "Tapi apa pun alasannya, Clarissa... tidak ada seorang pun berinisial Vance yang boleh menginjakkan kaki di Jakarta tanpa izin kita."
Aku menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna. Tanganku terangkat, merapikan kerah kemeja hitam di balik jas Raymond.
"Jika Adrian Vance ingin bermain di papan catur yang sama dengan ayahnya," bisikku jernih dan sarat akan ancaman yang halus, "maka kita harus menyambutnya dengan permainan yang lebih beracun, Raymond."
Malam harinya, sebuah gala malam amal bertajuk Jakarta Heritage & Future Foundation digelar di ballroom utama Hotel Mandarin Oriental. Acara yang dihadiri oleh jajaran menteri, duta besar negara sahabat, dan para taipan papan atas ini menjadi arena sempurna bagi manuver perdana Adrian Vance.
Aku dan Raymond melangkah masuk beriringan saat pembawa acara baru saja membuka sambutan. Malam ini, aku mengenakan gaun malam haute couture berwarna hitam pekat berbahan beludru dengan potongan leher rendah yang mengekspos leher jenjangku. Rambut hitamku ditata dalam gaya chignon klasik, memberikan pendar anggun namun teramat dingin.
Raymond di sisiku tampak mengintimidasi dalam balutan tuxedo hitam klasik. Tangannya yang kokoh menggenggam pinggangku dengan ketat gestur kepemilikan mutlak yang tak pernah pudar sedikit pun selama bertahun-tahun.
Kehadiran kami seketika menyedot perhatian seluruh isi ruangan. Bisik-bisik segan dari para pengusaha papan atas terdengar sayup-sayup di antara pendar lampu kristal.
"Tuan Perkasa, Nona Clarissa," sapa Pak Herman yang sudah lebih dulu tiba di lokasi, melangkah mendekati kami dengan raut wajah waspada. "Adrian Vance berada di VIP lounge bersama beberapa anggota dewan komisaris lama yang dulu kita depak."
"Biarkan dia memamerkan pengaruhnya," jawab Raymond tenang namun amat mematikan. "Pria muda yang terlalu cepat memamerkan kartu truf-nya adalah mangsa yang paling mudah dikuliti."
Belum sempat Pak Herman membalas, sesosok pria jangkung berambut cokelat gelap dengan senyuman percaya diri melangkah keluar dari kerumunan VIP.
Adrian Vance.
Wajahnya memiliki kemiripan garis rahang dengan Julian, tetapi matanya memancarkan ketajaman yang lebih dingin dan penuh kalkulasi. Ia memegang gelas kristal berisi sparkling water, melangkah pasti menuju tempat kami berdiri.
"Mr. Raymond Perkasa... dan sang fenomenal Mrs. Clarissa Perkasa," sapa Adrian dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, meski beraksen Eropa yang kaku. Pria itu menghentikan langkahnya dua meter di hadapan kami, membungkuk kecil penuh simpati palsu. "Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan pasangan penguasa bisnis paling ditakuti di Asia Tenggara."
Raymond tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya. Pria itu tetap berdiri tegak bagaikan gunung batu, menatap Adrian dengan pandangan mengintimidasi yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Adrian Vance," suara bariton Raymond meluncur begitu rendah dan berat. "Aku tidak menyangka putra seorang terpidana akuisisi ilegal di Singapura memiliki keberanian untuk menampakkan diri di Jakarta."
Senyuman Adrian sempat tertahan selama sepersekian detik, sebelum ia kembali menguasai raut wajahnya dengan kekehan halus yang terkesan meremehkan.
"Ayahku melakukan kesalahan fatal karena meremehkan kombinasi antara keturunan darah dan dominasi lapangan," ujar Adrian seraya mengalihkan pandangan matanya lurus ke arahku. Manik matanya menyapu liontin blue sapphire di dadaku. "Tapi saya di sini bukan untuk mengulangi kebodohan Ayah, Mr. Perkasa. Saya datang untuk menawarkan restrukturisasi damai atas klaim aset konsorsium lama di Kalimantan."
Aku melangkah setengah senti ke depan, memotong jalur pandang Adrian pada Raymond. Gaun beludru hitamku berdesir halus di lantai.
"Klaim aset yang sudah hangus secara hukum internasional dua tahun lalu, Mr. Vance?" suaraku meluncur tenang, jernih, dan sangat sarat akan penghinaan yang elegan. "Jika Anda datang ke Jakarta hanya untuk mengais sisa dokumen yang sudah menjadi abu di mahkamah Jenewa, saya sarankan Anda membeli tiket penerbangan kembali ke Zurich malam ini juga."
Adrian menyipitkan matanya pelan. Senyuman di bibirnya memudar, digantikan oleh garis rahang yang memeras kemarahan yang tertahan.
"Nona Clarissa... atau harus kusebut Nyonya Perkasa," bisik Adrian seraya melangkah satu senti lebih dekat, menundukkan suaranya agar hanya terdengar oleh kami bertiga. "Anda mungkin telah menguasai seratus persen saham Perkasa Nusantara Investama. Tetapi Anda lupa bahwa sebelum ayah Anda wafat, ada satu entitas cangkang di Luxembourg yang memegang hak paten teknologi pemurnian nikel di Halmahera. Dan entitas itu... baru saja kubeli seluruh sahamnya kemarin pagi."
Atmosfer di sekitar kami mendadak membeku. Hak paten pemurnian nikel?
Sebelum Adrian sempat menikmati kilatan terkejut yang ia harapkan muncul di wajah kami, tangan Raymond sudah terangkat. Tanpa menyentuh tubuh Adrian, Raymond melangkah memotong ruang gerak pria muda itu dengan gestur yang teramat mengintimidasi hingga Adrian terpaksa mundur setengah langkah secara refleks.
"Kamu membawa mainan hukum dari Luxembourg ke kandangku, Adrian?" bentak Raymond rendah—sebuah bisikan membahayakan yang sanggup membuat pilar-pilar batu bergetar. "Aku membiarkan ayahmu pulang ke Singapura dalam keadaan bernapas. Tapi jika kamu berani mengusik satu izin operasional di Halmahera... aku pastikan nama Vance akan terhapus dari seluruh bursa finansial Eropa sebelum minggu ini berakhir."
Adrian menatap mata hazel Raymond yang menyala dengan pendar posesif dan kebuasan yang liar. Untuk pertama kalinya, binar percaya diri di mata pria muda itu goyah secara nyata. Ia menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya bukanlah politisi yang bisa diancam dengan kertas paten, melainkan seorang predator yang memegang kendali atas hukum di tanah ini.
"Kita lihat saja dalam sidang komisi arbitrase industri lusa depan, Raymond," sahut Adrian dingin, berusaha mempertahankan ketenangannya seraya merapikan jasnya. "Aku harap istri cantikmu siap melihat izin produksi Halmahera dibekukan sementara."
Dengan lambaian tangan yang kaku, Adrian memutar tubuhnya dan melebur kembali ke dalam kerumunan tamu VIP.
Satu jam kemudian, kabin SUV berlapis kaca anti-peluru milik Raymond membelah jalanan protokol Jakarta yang sepi. Udara di dalam mobil terasa begitu pekat oleh ketegangan yang baru saja terpecik.
Aku menyandarkan kepala pada jok kulit, jemariku tak berhenti memutar cincin pernikahan platina di jari manisku.
"Hak paten Luxembourg itu..." ujarku memecah kesunyian kabin, memutar tubuh menghadap Raymond. "Ayah memang pernah menyebutkan tentang lisensi teknologi Eropa saat Project Serpent pertama kali dirancang. Aku tidak menyangka Julian menyembunyikan berkas entitas cangkang itu atas nama keluarganya di Swiss."
Raymond meraih tanganku, menggenggamnya erat dengan keteguhan yang seketika mengusir setiap keraguan di dadaku. Tangannya yang besar menautkan jemari kami, memberikan kehangatan yang tak tergoyahkan.
"Itu hanya celah kecil yang ditinggalkan masa lalu, Clarissa," suara bass Raymond bergema tenang di dalam kabin. "Adrian berpikir ia bisa mengunci operasional Halmahera dengan paten tersebut. Tapi ia tidak tahu bahwa tim riset kita sudah mempatenkan pembaruan teknologi lokal atas namamu enam bulan lalu."
Aku tersentak pelan, menyunggingkan senyuman takjub yang tipis. "Pembaruan teknologi yang kita daftarkan di Kemenkumham?"
"Tepat," jawab Raymond dingin, mata hazel-nya berkilat di balik bayangan jendela mobil. "Paten Luxembourg milik Adrian sudah kedaluwarsa secara teknis karena tidak pernah diperbarui di wilayah hukum Indonesia. Pria muda itu baru saja menghamburkan belasan juta dolar untuk membeli dokumen kosong."
Sebuah kekehan halus meluncur dari bibirku. Pria di sisiku ini memang tak pernah membiarkan satu celah pun terbuka. Setiap langkah musuh selalu berada tiga langkah di belakang skenario yang telah dirancangnya.
Begitu kami tiba di mansion utama Menteng, keheningan malam menyambut dengan hangat. Setelah mengecek keadaan Alexander yang sudah tertidur lelap di kamar anak bersama pengasuhnya, kami melangkah masuk ke dalam master suite.
Raymond melepaskan jas tuxedo-nya, melemparkannya ke atas sofa kulit, lalu melangkah menuju meja bar pribadi untuk menuangkan dua gelas wiski tua.
Aku melangkah ke balkon kamar, membiarkan angin malam menyapu kulit wajahku. Pendar lampu-lampu Jakarta dari kejauhan tampak begitu tenang di bawah naungan langit malam.
Langkah kaki tegap Raymond terdengar mendekat. Dua gelas wiski diletakkan di meja balkon. Lengan berotot pria 37 tahun itu melingkar ketat di pinggangku dari belakang, menarik tubuhku bersandar rapat pada dada bidangnya yang hangat. Bibirnya menyusuri garis leherku yang terbuka, mengirimkan sengatan getaran liar yang membakar seluruh syaraf kesadaranku.
"Raymond..." hembusan napas parau meluncur dari bibirku saat jemari kasarnya menyusuri tali gaun beludru hitamku.
"Jangan pernah memikirkan gertakan Adrian, Clarissa," bisik Raymond rendah di dekat telingaku. Manik mata hazel-nya menyala dengan pendar kepemilikan mutlak saat ia memutar tubuhku dalam pelukannya. "Kekaisaran ini dibentuk dari darah, dendam, dan penyatuan kita. Tidak akan ada satu pun anak muda dari Swiss yang sanggup merobek mahkota di kepalamu."
Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang sarat akan dahaga, kebuasan, dan ketegasan pertaruhan. Ciuman itu adalah klaim penguasaan dari seorang predator yang tak akan pernah membiarkan ratunya tersentuh oleh bahaya apa pun.
Aku membalas ciumannya dengan keberanian yang sama membara. Jemariku meremas kemeja hitam yang membalut punggung berototnya, menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku di dalam pelukan pria yang telah menjadi benteng, pelindung, dan takdir abadirku.
Keesokan paginya.
Ruang sidang Komisi Arbitrase Industri di gedung Kementerian Perdagangan telah dipenuhi oleh tim hukum dari kedua belah pihak. Adrian Vance duduk di sisi seberang meja bersama empat pengacara internasionalnya, memamerkan raut wajah penuh kemenangan seraya memegang dokumen bersampul biru dari Luxembourg.
Di sisi ini, aku duduk dengan gaun blazer berwarna merah marun yang memancarkan ketegasan mutlak. Di sampingku, Raymond berdiri tegak bagaikan benteng yang tak tertembus, sementara Pak Herman dan tim hukum Perkasa Group bersiap di belakang kami.
"Sesuai gugatan yang diajukan oleh Vance Heritage Trust," ketua majelis arbitrase membuka persidangan dengan suara berat, "pihak pemohon meminta pembekuan sementara izin operasional pengolahan nikel di Halmahera atas dasar pelanggaran hak paten internasional teknologi pemurnian nomor 882-Lux."
Adrian menyunggingkan senyuman lebar, menatapku dengan binar kemenangan yang mendalam. "Kami menuntut penghentian seluruh kegiatan produksi Perkasa Nusantara Investama sampai ganti rugi lisensi sebesar seratus juta dolar dipenuhi."
Aku tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata kasar. Sudut bibir merah menyalaku hanya terangkat tipis, menyunggingkan senyuman paling beracun yang pernah kusimpan.
Pak Herman melangkah maju, meletakkan dua sertifikat bersampul merah dengan lambang Garuda di hadapan majelis hakim dan tim hukum Adrian.
"Sesuai Undang-Undang Hak Paten dan Teknologi Nasional Nomor 13," suara Pak Herman meluncur tenang dan tegas, "teknologi yang diklaim oleh pemohon telah dinyatakan usang di wilayah hukum Republik Indonesia. Hak paten pembaruan teknologi pemurnian ramah lingkungan nomor 049 secara resmi telah terdaftar dan disahkan atas nama Nona Clarissa Perkasa sejak enam bulan lalu."
Para pengacara Adrian mendadak panik. Mereka membolak-balik sertifikat merah tersebut dengan jemari yang gemetar. Wajah segar Adrian Vance seketika berubah pucat pasi, bagaikan seluruh darah di tubuhnya tersedot keluar dalam sekejap.
"Ini... ini tidak mungkin!" gagap Adrian, matanya melotot menatapi dokumen pengesahan negara tersebut. "Paten Luxembourg kami masih berlaku secara internasional!"
"Paten Anda berlaku di Luxembourg, Mr. Vance," potongku dingin, suaraku mengudara begitu jernih dan sarat akan dominasi yang membakar. "Tapi di tanah ini... di atas seluruh fasilitas pengolahan Perkasa Nusantara Investama... hukum Indonesia dan keputusan saya adalah aturan mutlak."
Raymond melangkah satu senti lebih dekat ke meja persidangan, menundukkan tubuhnya sedikit hingga pandangan mata hazel-nya mengunci wajah Adrian yang hancur.
"Kamu menghamburkan belasan juta dolar untuk membeli paten mati, Adrian," ujar Raymond rendah—suara bariton yang sarat akan penghinaan paling mematikan. "Dan sekarang... tim hukum kami telah mendaftarkan gugatan balik atas tuduhan pencemaran nama baik korporasi serta upaya sabotase objek vital nasional."
Majelis hakim mengetukkan palu sidang dengan keras. "Gugatan pemohon ditolak secara keseluruhan. Sidang ditutup."
Adrian terduduk lemas di kursinya, memandangi berkas-berkas biru yang kini tak lebih dari tumpukan kertas tanpa guna. Pria muda dari Zurich itu baru saja menyadari bahwa ia tidak sekadar kalah dalam sengketa hukum—ia telah digilas tanpa ampun oleh mesin kekuasaan yang tak memiliki celah sedikit pun.
Raymond mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut genggaman tangannya yang hangat dan kokoh, berdiri dari kursi dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran tanpa menyiramkan sedrop darah pun.
Kami melangkah keluar dari ruang sidang beriringan, meninggalkan sisa-sisa ambisi keluarga Vance yang kini telah musnah selamanya. Di luar gedung, pendar matahari siang menyinari Jakarta dengan kemegahan yang sempurna menyambut kembalinya pasangan penguasa abadi ke atas puncak tahta yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.