Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Kesadaran Adel perlahan pulih di dalam sebuah gudang tua yang remang-remang di area belakang sekolah.
Kedua tangannya terikat di belakang pada sebuah tiang besi, sementara mulutnya disumbat kain hitam.
Di depannya, seorang pria dengan tato ular naga berkepala dua di lehernya sedang memeriksa senjata api di tangannya.
Satu pria lagi bersandar di dekat pintu kayu yang terkunci.
"Bos Victor bilang tunggu sinyal sebelum kita bawa anak ini ke markas utama. Pengawalan di luar gila-gilaan. Semua jalan tol sudah diblokir anak buah Ardio," ujar pria bertato ular pada temannya.
"Tenang saja. Yang penting gadis ini sudah di tangan kita. Iblis Ardio itu pasti sedang menangis histeris sekarang," balas pria dekat pintu.
Adel Kerala ketakutan Dan cemas, tapi ingatan tentang Ardio seketika Ia menjadi tenang.
"Adel, dengar Papa. Dunia luar itu penuh musuh. Jika suatu hari kamu terjebak dan Papa tidak ada di sampingmu... jangan pernah panik. Manfaatkan kelengahan musuh, gunakan sendi terlemah mereka, dan pukul tanpa ragu,”bayangan suara Ardio teringat di kepalanya.
Adel menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan ikatan tali di pergelangan tangannya. Pria yang mengikatnya ternyata ceroboh, karena menganggap Adel hanya gadis sekolah yang lemah, simpul talinya tidak dikunci ganda.
Dengan perlahan Adel menggeser ibu jarinya, menekuk pergelangan tangannya ke dalam seperti teknik pelepasan kuncian yang diajarkan Paman Reno, lalu menarik jemarinya.
Sret!
Tali longgar itu terlepas dari pergelangan tangannya.
Pria bertato yang memegang senjata mendadak berbalik karena mendengar gesekan pelan. "Hei, kamu sudah sadar, Anak Kecil?"
Pria itu melangkah mendekat, hendak memeriksa ikatan Adel. Begitu jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, Adel melepas sumbat mulutnya dengan kilat, lalu melayangkan tendangan tumit telak tepat ke arah selangkangan pria itu!
BUGHH!
"ARRGGHH!" jerit pria bertato itu histeris, matanya melotot menahan sakit luar biasa saat senjatanya terlepas dan jatuh ke lantai.
Adel langsung melompat berdiri, lalu memutar tubuhnya dan menyikut rahang pria itu dengan seluruh kekuatannya!
BAM!
Pria bertato itu ambruk ke lantai, terkapar pingsan seketika dengan hidung berdarah.
Pria kedua di dekat pintu terperanjat shock melihat rekannya tumbang dalam hitungan detik oleh seorang gadis SMA.
"Kurang ajar! Anak haram!"
Pria itu menarik pisau lipat dari saku jasnya dan menerjang maju ke arah Adel. Namun, sebelum pisau itu menyentuh tubuh Adel, pintu kayu gudang mendadak didobrak keras dari luar!
BAMMM!
Pintu kayu terhempas menghantam tubuh pria kedua hingga tersungkur jatuh.
Dari balik pintu yang hancur, Devan menerobos masuk dengan linggis besi di tangannya, matanya membelalak panik.
"Adel! Kamu tidak apa-apa?!" jerit Devan terengah-engah, napasnya memburu cepat.
Adel tersentak kaget. "Kak Devan?! Kenapa kamu bisa ada di sini?!"
"Aku melihat dua orang aneh membawamu ke arah gudang belakang saat lampu padam tadi! Aku ikuti mereka dari lorong tikus dekat laboratorium! Kamu terluka tidak?!" seru Devan cepat, berlari mendekati Adel dan memeriksa kondisinya.
"Aku tidak apa-apa, Kak! Tapi kita harus pergi sekarang!" tegas Adel seraya mengambil senjata api yang tergeletak di lantai untuk diamankan.
Pria kedua yang tertimpa pintu mulai merangkak bangun dengan raut wajah murka.
"Kalian... tidak akan bisa keluar hidup-hidup...!"
"Awas, Del!" Devan langsung memasang badan di depan Adel, mengayunkan linggis besinya ke arah pria itu hingga si penculik terdorong mundur dan pingsan menabrak tumpukan kayu.
Devan menggenggam erat tangan Adel. "Ayo, Del! Lewat pintu belakang! Pengawal ayahmu sudah mulai merangsek masuk ke area sekolah!"
Mereka berlari di lorong belakang sekolah yang sepi, menyusuri rute rahasia yang dihafal Devan hingga akhirnya tembus ke area taman depan yang sudah dipenuhi sirine dan lampu mobil keamanan.
Di tengah lapangan depan, Ardio melangkah turun dari mobil dengan aura membunuh.
Reno dan puluhan pengawal bersenjata bergerak cepat masuk ke semua gedung.
"Bos Ardio! Non Adel terlihat di dekat taman depan bersama target Devan!" panggil seorang agen melalui radio.
Ardio langsung berlari cepat menuju area taman.
Saat matanya melihat Adel berjalan selamat tanpa luka sedikit pun, Ia seketika merasa lega.
"Adel!" panggil Ardio dengan suara bergetar.
"Papa!" Adel berlari dan langsung menubrukan tubuhnya ke dalam pelukan hangat ayahnya.
Ardio merengkuh tubuh putri tunggalnya erat-erat, mencium kepalanya berkali-kali. "Maafkan Papa, Sayang... Maafkan Papa karena terlambat..."
"Adel tidak apa-apa, Pa. Kak Devan dan latihan pertahanan diri dari Papa yang sudah menyelamatkan Adel malam ini," bisik Adel lembut dalam pelukan Ardio.
Devan yang berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan tubuh gemetaran menahan napas.
Ardio melepaskan pelukannya perlahan, lalu memutar pandangan matanya ke arah Devan.
Ia melangkah mendekati Devan.
"Devan Putra Dewanta," panggil Ardio berat.
Devan menelan ludah, membungkuk sopan. "T-Tuan Ardio..."
Ardio menepuk bahu Devan cukup keras sebagai ucapan terima kasih seorang ayah.
"Terima kasih... karena sudah menjaga dan melindungi putriku malam ini," ujar Ardio tulus.
Devan mengangguk mantap dengan senyum lega. "Sudah kewajiban saya untuk menjaga Adelia, Tuan."
Reno mendekati Ardio dan menyerahkan sebuah ponsel satelit.
"Bos... nomor tidak dikenal baru saja mengirimkan pesan suara," bisik Reno tegang.
Ardio memutar pesan suara tersebut. terdengar Suara Victor dari ponsel Reno.
"Ardio... ini baru serangan pembuka. Malam ini putrimu lolos, tapi lain kali... aku sendiri yang akan mencabut nyawanya di depan matamu!"
Ardio meremas ponsel satelit itu hingga hancur. Ia merasa sangat marah.
"Reno," panggil Ardio dingin.
"Siap, Bos Ardio!"
"Serangan balasan dimulai malam ini. Ratakan jaringan Black Cobra sampai tak tersisa!"