Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suasana canggung yang sempat membeku di ruang tamu perlahan-lahan mencair seiring berjalannya waktu. Rasa malu yang sempat menggelayuti Ji-eun menguap, digantikan oleh kenyamanan yang tak disangka-sangka. Rupanya, Seo Soo-yeon, kakak perempuan Tae-jun yang selama ini sangat jarang terekspos media dan dikenal sangat tertutup adalah sosok yang begitu hangat, humoris, dan rendah hati. Ji-eun dapat melihat dengan jelas betapa tulusnya Soo-yeon dan betapa besarnya rasa sayang serta kepedulian yang ia miliki untuk adik laki-lakinya itu.
"Ji-eun-ssi, biar aku saja yang memasak sarapan pagi ini!" seru Soo-yeon antusias seraya menyingsingkan lengan bajunya di dapur, mengambil bahan-bahan makanan segar yang tadi dibawa oleh Ji-eun.
"Ah, tidak apa-apa, Kak Soo-yeon... Saya bisa membantunya atau memasakkannya untuk kalian," sahut Ji-eun merasa tak enak hati.
"Tidak, tidak! Sebagai ucapan maaf karena sudah mengejutkanmu pagi-pagi begini dengan rambut mekar seperti singa, biarkan aku yang memasak," jawab Soo-yeon terkekeh renyah. "Tae-jun tahu betul, kemampuan memasakku tidak kalah dari koki bintang lima."
Tae-jun yang baru saja selesai merapikan penampilannya menyandarkan tubuh di ambang pintu dapur, menyunggingkan senyum tipis. "Percayalah padanya, Ji-eun-a. Kalau soal memasak, dia memang ahlinya."
Aroma wangi sup hangat segera memenuhi seluruh sudut apartemen. Mereka bertiga akhirnya menikmati sarapan bersama di meja makan dalam suasana yang teramat hidup. Soo-yeon tak henti-hentinya menceritakan kisah-kisah masa kecil Tae-jun yang terkesan kaku namun menggemaskan, membuat Ji-eun tertawa lepas di selang suapan makanannya.
Usai sarapan dan merapikan meja makan bersama, Tae-jun menyeduh tiga cangkir kopi hitam hangat. Mereka bertiga berpindah duduk di ruang tengah, menyesap kopi seraya menikmati pendar sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela besar apartemen.
"Jadi, Ji-eun-ssi..." buka Soo-yeon seraya memangku cangkir kopinya, menatap Ji-eun dengan binar mata penuh rasa ingin tahu yang hangat. "Bagaimana rasanya berpacaran dengan pria kaku seperti adikku ini? Apakah dia sering membuatmu kesal di hotel?"
Ji-eun melirik Tae-jun yang duduk di sampingnya, lalu tersenyum manis. "Awalnya memang sedikit menakutkan, Kak. Direktur Seo di kantor benar-benar sosok yang tegas dan dingin. Tapi... semakin saya mengenalnya, saya sadar beliau adalah pria yang sangat perhatian dan hangat."
"Aigoo, 'Direktur Seo'?" goda Soo-yeon terkekeh geli. "Kalian berdua benar-benar menjaga profesionalisme bahkan saat di dalam apartemen atau di depan staf lain, ya?"
"Itu demi kebaikan Ji-eun juga, Noona," pangkas Tae-jun tenang namun mantap. "Aku tidak ingin gosip murah di kantor mengganggu ketenangan dan kerja kerasnya."
Soo-yeon mengangguk-angguk paham, raut wajahnya berubah lembut. Ia menatap Ji-eun dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Jujur saja, Ji-eun-ssi... Aku sangat bersyukur Tae-jun bertemu denganmu. Selama bertahun-tahun, aku selalu cemas melihatnya hidup hanya untuk pekerjaan dan tuntutan tanggung jawab yang berat. Dia tidak pernah benar-benar memikirkan kebahagiaannya sendiri. Tapi semalam, untuk pertama kalinya, aku melihat matanya berbinar begitu terang saat menceritakan tentangmu."
Pipi Ji-eun mendadak merona hangat. Ia menoleh menatap Tae-jun yang kini menggenggam jemarinya di bawah meja kopi dengan erat, menyalurkan rasa cinta yang begitu pekat.
"Saya juga sangat beruntung bisa bersamanya, Kak Soo-yeon," sahut Ji-eun tulus dengan suara rendah.
"Melihat kalian seperti ini, rasanya hatiku ikut hangat," tambah Soo-yeon yang seketika mencairkan kembali suasana manis itu. "Mana mungkin aku membiarkan adikku melepaskan wanita secantik dan sebaik ini?"
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang ketika ponsel Soo-yeon bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari sopir pribadinya yang mengabarkan bahwa sopirnya sudah bersiap di pelataran parkir bawah apartemen.
Soo-yeon berdiri dari sofa, merapikan mantel cokelat mewahnya dan menyampirkan tas tangannya di bahu. Tae-jun dan Ji-eun ikut berdiri, mengantarkannya hingga ke depan pintu utama apartemen.
"Sopirku sudah sampai di bawah. Aku harus segera pulang dan mandi dengan benar," tutur Soo-yeon seraya memakai sepatu hak tingginya.
"Terima kasih untuk sarapannya hari ini, Kak Soo-yeon. Dan... terima kasih atas kebaikan Kakak," ucap Ji-eun seraya membungkukkan badannya dengan sangat sopan.
Soo-yeon tersenyum hangat. Tanpa ragu, ia memajukan langkahnya dan merengkuh Ji-eun ke dalam sebuah pelukan singkat yang sangat hangat.
"Jangan terlalu formal padaku, Ji-eun-a. Anggap saja aku seperti kakak kandungmu sendiri mulai sekarang," bisik Soo-yeon lembut sebelum melepaskan pelukannya." Kita harus sering bertemu kedepannya."
"Tentu, Eonnie," sahut Ji-eun dengan senyuman bahagia.
Soo-yeon beralih menatap Tae-jun yang berdiri tegap di samping Ji-eun. Ia menepuk bahu adiknya pelan. "Jaga Ji-eun baik-baik, Seo Tae-jun. Jangan sampai kau membuatnya menangis atau berbohong lagi soal 'olahraga dengan sweter rajut'."
Ji-eun spontan menutup mulutnya menahan tawa, sementara Tae-jun hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum pasrah mendengar godaan kakaknya itu.
"Aku tahu, Noona. Hati-hati di jalan," balas Tae-jun singkat namun penuh kehangatan.
"Aku pergi dulu!" pungkasi Soo-yeon melambaikan tangan, lalu melangkah keluar menelusuri koridor apartemen menuju lift.
Setelah pintu apartemen kembali tertutup rapat dan menyisakan keheningan yang damai, Tae-jun memutar tubuhnya. Ia menatap Ji-eun yang masih berdiri di dekat pintu dengan senyuman manis yang tak kunjung pudar dari bibirnya. Tae-jun merengkuh pinggang Ji-eun rapat ke dalam dekapannya, menyandarkan dahi mereka satu sama lain di bawah pendar hangat Minggu siang itu.
...****************...