NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Nasihat Ibu Yang Menenangkan

Kepulangan dari sekolah biasanya digunakan Mita untuk beristirahat, jika tidak ada jadwal kegiatan eksul di sekolah. Padahal hari ini sudah ada jadwal eksul voli bagi kelas 4 dan 5. Tetapi karena kondisi hatinya yang ‘tidak baik-baik saja’ membuat Mita menghubungi wakur untuk membatalkan jadwal latihan, melalui wali kelas masing-masing.

Sejak menerima pesan dari Denis beberapa jam lalu, ia merasa seperti kehilangan pijakan. Dunianya yang selama ini terasa begitu utuh mendadak runtuh hanya dalam hitungan menit. Kata-kata Denis masih terngiang di benaknya, berulang kali hadir seperti gema yang tak mau pergi. Lelaki yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya, seseorang yang telah ia percaya dan tempatkan dalam rencana masa depannya, justru memilih mengakhiri hubungan mereka melalui sebuah pesan singkat.

Tanpa pertemuan. Tanpa penjelasan yang layak. Bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyampaikan apa yang ia rasakan.

Mita telah berusaha menenangkan diri sejak tadi. Ia mencuci muka, duduk di tepi ranjang, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar kontrakannya. Sesekali ia membuka kembali percakapan dengan Denis, berharap menemukan kalimat lain yang mungkin terlewatkan. Namun, kenyataannya tetap sama. Denis telah membuat keputusan. Siska sedang mengandung anaknya, dan mereka akan menikah.

Sementara dirinya, perempuan yang selama ini menemani Denis melewati berbagai cerita, harus menerima kenyataan bahwa semua rencana mereka seolah tak pernah berarti.

Matanya sembab setelah puas menangis. Tiada tempat untuk curhat.  Mita tau, ia tidak bisa menyimpan dan menyembunyikan permasalah yang ia hadapi saat ini. Walaupun kekecewaan dan luka masih kuat terasa.

Dengan tangan gemetar, Mita meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada satu nama yang sejak tadi ingin ia hubungi, tetapi selalu ia tunda karena takut tak mampu menahan tangis. Nama itu adalah Riani, ibunya.

Mita menekan tombol panggilan. Beberapa detik terasa begitu panjang sebelum suara lembut yang sangat dikenalnya terdengar dari seberang sana.

“Assalamu’alaikum, Nak.”

“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab Mita lirih.

“Iya, Nak. Ada apa? Suaramu kenapa?” Pertanyaan sederhana itu membuat pertahanan Mita runtuh seketika.

“Bu....”

Hanya satu kata yang berhasil keluar dari bibirnya sebelum tangisnya pecah. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berusaha meredam suara isaknya, tetapi semakin ia berusaha menahannya, semakin deras air matanya mengalir.

“Mita, Sayang? Kamu kenapa?” Suara Riani berubah cemas. “Ada masalah di tempat kerja? Kamu sakit?”

Mita menggeleng meskipun ibunya tidak mungkin melihat gerakannya. Ia mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa sesak.

“Bukan, Bu. Bukan karena pekerjaan.”

“Lalu kenapa, Nak? Cerita sama Ibu.”

Mendengar kalimat itu, Mita kembali terisak. Selama ini ia selalu berusaha terlihat kuat di hadapan orang tuanya. Ia tidak ingin membuat mereka khawatir, terlebih karena jarak tempat tugasnya dengan rumah membuat mereka tidak bisa selalu berada di dekatnya. Namun, sore itu ia tidak sanggup lagi menyimpan semuanya sendirian.

“Mas Denis, Bu....” Suaranya nyaris tak terdengar. “Ia  bilang hubungan kami selesai. Siska hamil anaknya. Mereka akan menikah.”

Di seberang sana, Riani terdiam.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain isak Mita dan tarikan napas Riani yang terdengar pelan. Perempuan paruh baya itu seakan membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja didengarnya. Nama Denis bukanlah nama asing bagi keluarga mereka. Lelaki itu telah lama dikenal sebagai seseorang yang dekat dengan putrinya, bahkan kedua keluarga sudah mengetahui keseriusan hubungan mereka.

Selama ini, Riani percaya bahwa hubungan Mita dan Denis akan berakhir di pelaminan. Bukan karena ia ingin memaksakan kehendak, melainkan karena ia melihat sendiri bagaimana keduanya membangun kedekatan selama bertahun-tahun. Mereka pernah berbicara tentang masa depan, tentang pekerjaan, tempat tinggal, dan rencana mempertemukan keluarga untuk membicarakan pernikahan.

Karena itu, kabar yang disampaikan Mita terasa begitu mengejutkan.

“Ya Allah, Mita....” Hanya kalimat itulah yang akhirnya mampu diucapkan Riani.

“Dia bahkan tidak mau bicara denganku, Bu.” Mita mengusap pipinya yang basah. “Dia memutuskan semuanya lewat pesan. Padahal kami sudah sepakat membicarakan pernikahan akhir tahun ini. Kami sudah merencanakan banyak hal, Bu. Ku pikir selama ini kami sedang berjalan menuju tujuan yang sama.”

Suara Mita kembali pecah, “Kenapa dia melakukan ini kepadaku? Apa aku salah? Apa selama ini aku kurang baik menjadi pasangannya? Hu …. Huuu….”

“Jangan berkata begitu, Nak,” sahut Riani cepat, meskipun hatinya sendiri terasa perih mendengar putrinya menyalahkan diri sendiri. “Jangan buru-buru menganggap dirimu bersalah hanya karena seseorang mengambil keputusan yang menyakitkan.”

“Tapi, Bu, aku tidak mengerti. Kalau memang dia ingin putus, kenapa tidak mengatakan sejak awal? Kenapa membiarkanku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja?”

Riani menarik napas panjang. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Ia ingin memarahi Denis karena telah memperlakukan putrinya dengan cara yang begitu menyakitkan. Ia juga ingin segera mencari tahu kebenaran dari keluarga lelaki itu. Namun, ia sadar bahwa saat ini Mita tidak membutuhkan kemarahan tambahan. Putrinya sedang terluka, dan yang paling dibutuhkannya adalah seseorang yang bersedia mendengarkan.

Riani ingin mengatakan bahwa mungkin ada kesalahpahaman. Akan tetapi, ia tidak tega memberikan harapan yang belum tentu benar. Ia tidak ingin Mita menggantungkan hatinya pada kemungkinan yang bisa saja hanya memperpanjang luka.

“Dengarkan Ibu, Sayang,” ujarnya setelah beberapa saat. “Ibu tahu kamu sedang sangat sedih. Ibu juga tahu kamu pasti kecewa karena hubungan yang sudah kamu jaga selama ini berakhir dengan cara seperti itu.”

Mita terdiam, menyimak suara ibunya di antara isak yang perlahan mulai mereda.

“Tetapi, Nak, apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu kehilangan harga dirimu sendiri. Kamu boleh menangis. Kamu boleh kecewa. Kamu boleh merasa marah karena diperlakukan seperti ini. Semua perasaan itu wajar. Jangan memaksa dirimu untuk terlihat kuat kalau sebenarnya hatimu sedang terluka.”

Air mata Mita kembali mengalir, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kata-kata ibunya terasa seperti pelukan yang tidak dapat diberikan oleh jarak. Untuk pertama kalinya sejak membaca pesan Denis, ia merasa tidak harus berpura-pura baik-baik saja.

“Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian,” lanjut Riani dengan suara lembut. “Ibu juga tidak mau langsung menghakimi siapa pun sebelum mendengar penjelasannya. Namun, Ibu ingin kamu ingat satu hal. Hubungan yang baik seharusnya dibangun dengan kejujuran dan keberanian untuk bertanggung jawab. Kalau memang ada masalah, semestinya dibicarakan, bukan diselesaikan dengan cara yang membuat salah satu pihak terluka sendirian.”

Mita menggigit bibir bawahnya. Kalimat itu tepat menggambarkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.

“Aku cuma ingin mendengar penjelasan langsung darinya, Bu,” katanya pelan. “Aku ingin tahu apakah semua yang pernah dia katakan kepadaku memang sungguh-sungguh atau hanya sekadar janji.”

“Kalau itu yang kamu butuhkan, kamu berhak mendapatkan penjelasan yang layak.”

“Tapi, bagaimana kalau dia tetap tidak mau menemuiku?”

“Setidaknya kamu sudah berusaha mencari kejelasan. Setelah itu, kamu bisa menentukan langkahmu sendiri. Jangan pergi dengan harapan untuk memaksa seseorang kembali kepadamu, Mita. Pergilah kalau kamu memang membutuhkan jawaban agar bisa memahami apa yang terjadi dan melanjutkan hidupmu dengan lebih tenang.”

Mita menunduk. Ia menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Selama ini, ia membayangkan perjalanan menuju Pontianak sebagai perjalanan yang menyenangkan. Ia akan bertemu Denis, berbicara tentang rencana pernikahan, lalu menghabiskan waktu bersama keluarga yang telah mengenalnya sejak kecil.

Kini, bayangan itu berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ia harus kembali ke kota yang menyimpan begitu banyak kenangan, bukan untuk merayakan kebahagiaan, melainkan untuk mencari jawaban atas kehancuran hubungannya.

“Datanglah ke Pontianak, Nak,” ujar Riani kemudian. “Kalau kamu merasa perlu bertemu Denis dan keluarganya. Ibu dan Ayah akan menunggumu di rumah. Kami akan  berangkat ke Ponti untuk mendukungmu. Kamu berhak mendapatkan penjelasan yang layak.”

Mita mengangkat wajahnya. “Benarkah, Bu? Aku harus ke Ponti?”

“Tentu saja, Sayang. Kamu tidak perlu meminta izin untuk mencari jawaban pasti. Karena itu menyangkut masa depanmu.”

Kalimat itu membuat dada Mita terasa hangat. Selama beberapa saat, ia tidak mampu menjawab. Ia hanya menangis pelan sambil mendengarkan suara ibunya yang terus menenangkan.

“Kalau perlu, bicarakan dengan kepala sekolahmu untuk mengambil cuti beberapa hari,” lanjut Riani. “Jangan terburu-buru mengambil keputusan besar saat perasaanmu masih kacau. Istirahatlah, makan yang cukup, dan jaga kesehatan. Ibu tidak ingin kesedihan ini membuatmu mengabaikan dirimu sendiri.”

“Iya, Bu.”

“Dan satu lagi, Nak.”

“Apa, Bu?”

“Jangan pernah merasa bahwa nilai dirimu berkurang hanya karena seseorang tidak memilihmu. Kamu tetap Mita yang Ibu kenal. Kamu perempuan yang baik, yang berusaha menjalani hidup dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan Denis tidak menghapus semua kebaikan yang ada dalam dirimu.”

Mita menutup mata. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Sejak menerima pesan Denis, ia terus mempertanyakan dirinya sendiri. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang kurang darinya hingga lelaki yang dicintainya memilih perempuan lain. Ia bahkan mulai meragukan semua kenangan indah yang pernah mereka lalui.

Namun, suara ibunya mengingatkannya bahwa kegagalan sebuah hubungan tidak serta-merta menjadikan dirinya perempuan yang tidak layak dicintai.

“Terima kasih, Bu,” bisiknya. “Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak bisa cerita sama Ibu.”

“Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Ini ibumu. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

“Maaf sudah membuat Ibu khawatir.”

“Jangan meminta maaf karena sedang sedih. Kalau kamu punya masalah, ceritakan. Kalau kamu membutuhkan bantuan, katakan. Ibu dan Ayah mungkin tidak selalu bisa menyelesaikan semua persoalanmu, tetapi kami akan selalu berusaha mendampingimu melalui semua permasalahan yang terjadi.”

Mita mengusap air matanya dengan punggung tangan. Perlahan, napasnya mulai teratur. Luka itu belum hilang. Pertanyaan-pertanyaan tentang Denis masih memenuhi kepalanya, dan bayangan tentang Siska tetap terasa seperti duri yang menancap di hati. Namun, setidaknya ia tidak lagi merasa benar-benar sendirian.

Sebelum mengakhiri panggilan, Riani kembali berpesan agar Mita tidak melakukan sesuatu hanya karena dorongan emosi. Ia diminta menenangkan diri terlebih dahulu, memikirkan perjalanan dengan baik, dan memberi tahu orang tuanya ketika sudah menentukan jadwal keberangkatan.

Setelah sambungan telepon berakhir, Mita tetap duduk di tepi ranjang. Ponselnya masih berada dalam genggaman, sementara matanya menatap jendela yang mulai menggelap. Di luar, suara kendaraan terdengar sesekali melintas, seolah dunia tetap berjalan seperti biasa meskipun dunianya sendiri baru saja berubah.

Ia teringat kembali pada perkataan ibunya.

Jangan pernah merasa bahwa nilai dirimu berkurang hanya karena seseorang tidak memilihmu.

Mita mengulang kalimat itu dalam hati. Ia belum sepenuhnya mampu mempercayainya, tetapi ia ingin mencoba. Ia ingin belajar menerima kenyataan tanpa harus membenci dirinya sendiri.

Mungkin ia memang harus menemui Denis. Bukan untuk memohon agar lelaki itu membatalkan keputusannya, bukan pula untuk bersaing dengan Siska, melainkan untuk mengetahui kebenaran dari hubungan yang selama ini ia yakini akan berakhir bahagia.

Ia tidak tahu jawaban seperti apa yang akan diterimanya nanti. Ia juga tidak tahu apakah pertemuan itu akan membuatnya semakin terluka atau justru membantunya menemukan ketenangan.

Namun, satu hal mulai ia pahami: ia tidak bisa terus berdiam diri, membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menguasai hidupnya.

Malam itu, Mita mengambil buku catatan kecil dari dalam laci. Ia menuliskan beberapa hal yang harus diselesaikannya sebelum ke Pontianak, termasuk menghubungi kepala sekolah untuk mengajukan cuti dan mencari jadwal perjalanan yang sesuai.

Tangannya masih sesekali gemetar, tetapi ia terus menulis sampai semua yang perlu dilakukan tercatat dengan jelas. Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan Denis, ia memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan selain menangis.

Mita tahu perjalanan itu tidak akan mudah. Pontianak menyimpan terlalu banyak kenangan tentang Denis, tentang keluarga mereka, dan tentang masa depan yang pernah mereka impikan bersama. Namun, ia juga tahu bahwa di kota itu ada rumah yang selalu terbuka untuknya, ada ayah yang akan mendengarkan, dan seorang ibu yang tidak akan membiarkannya menghadapi kesedihan seorang diri.

Malam semakin larut ketika Mita menutup buku catatannya. Ia belum menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang berputar di kepalanya. Akan tetapi, nasihat ibunya telah memberinya sedikit kekuatan untuk melangkah.

Barangkali, sebelum ia mampu menerima kenyataan bahwa cintanya telah berakhir, ia perlu pulang terlebih dahulu—pulang kepada orang-orang yang akan mengingatkannya bahwa dirinya tetap berharga, bahkan ketika seseorang yang dicintainya memilih pergi.

Dan dari sanalah Mita akan memulai langkah pertamanya untuk mencari jawaban, sekaligus belajar berdamai dengan luka yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!