Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan
...⚜️⚜️⚜️...
Hari ini, Nicholas dan Anastasia resmi memulai perjalanan sembilan hari mereka menuju Kastil Swindon. Rombongan besar itu dikawal oleh 112 prajurit zirah lengkap dan empat dayang pribadi, termasuk Irene. Di gerbang utama Istana Riverdale yang megah, keduanya tengah berdiri tegak untuk berpamitan kepada Raja Luther dan Ibunda Permaisuri Hellen.
"Ibunda pasti akan sangat merindukanmu, Nicholas. Tolong camkan baik-baik pesan Ibunda," tutur Hellen lembut sembari menangkup kedua pipi putra bungsunya itu. "Jadilah pria yang baik, suami yang bertanggung jawab, dan pemimpin yang bijaksana. Jangan membuat kekacauan baru di luar sana yang bisa membuat Ibunda jantungan."
Hingga detik ini, jajaran penguasa istana memang tidak mengetahui seujung kuku pun tentang insiden memuakkan antara Nicholas dan Lady Vivian.
Nicholas dan Anastasia sepakat mengunci rapat-rapat skandal itu demi kelancaran birokrasi, sebab jika sampai bocor, keberangkatan mereka pasti akan dibatalkan dan Nicholas terancam dijebloskan ke penjara bawah tanah. Anastasia memilih memendam luka itu sendiri, tidak mengadu, dan Nicholas benar-benar berlutut syukur atas kebaikan hati istrinya yang luar biasa itu.
"Iya, Ibunda. Nicholas berjanji akan berusaha keras menepati semuanya," jawab Nicholas pasrah, membiarkan dahinya dikecup sayang oleh sang ibu.
Hellen memandang putranya dengan binar sendu, ada rasa berat harus melepas anaknya mandiri, namun ia tahu burung elang pun harus keluar dari sarangnya.
Pandangan hangat Hellen kemudian beralih sepenuhnya pada Anastasia. Ia merengkuh jemari menantunya itu lembut. "Anastasia, Sayang."
"Iya, Ibunda Permaisuri?"
"Ibunda menyayangimu sama besarnya seperti Ibunda menyayangi Nicholas. Doa Ibunda akan selalu menyertai pernikahan kalian dalam doa," bisik Hellen, memajukan wajahnya hingga berjarak se jengkal dari telinga Anastasia. "Ibunda tahu, sangat melelahkan menghadapi tabiat Nicholas yang masih suka semaunya dan berantakan. Tapi, Ibunda mohon, luaskan sabarmu ya, Nak? Nicholas punya banyak trauma masa lalu yang belum sembuh. Jangan biarkan dia mati dalam kegelapannya sendiri, tapi jangan juga biarkan dirimu terluka karena dia," bisiknya dengan suara agak serak menahan haru.
Anastasia tertegun. Mati? Apa maksud Permaisuri? Apakah Nicholas mengidap suatu penyakit kronis rahasia yang tidak ia ketahui?
"Aku tidak rela kau pindah, tahu!" Agast, yang turut hadir mengantar kepergian sahabatnya, mendadak menangis bombay layaknya anak kecil yang kehilangan permen. Tanpa aba-aba, ia menerjang maju dan memeluk erat leher Nicholas hingga sang pangeran terbatuk-batuk kehabisan oksigen.
"Kita tidak akan bisa minum bersama lagi setiap malam!" Ramond tidak mau kalah dramatis. Ia ikut bergabung, memeluk Agast sekaligus Nicholas dari belakang hingga membentuk gumpalan manusia yang solid.
"Yak! Lepaskan! Kalian berdua mau membunuhku sebelum aku jadi Duke, hah?!" bentak Nicholas kesal, menyentak kasar tubuh kedua sahabat bedebahnya itu hingga mundur beberapa langkah. Ia buru-buru merapikan kerah mantelnya yang kusut dengan raut masam.
Namun, saat netranya menyapu area pelataran, sudut matanya menangkap siluet Eknath yang sama sekali tidak berniat memberikan salam perpisahan kepadanya. Pria itu justru sedang melipir ke arah Anastasia.
Nicholas menyipitkan mata, mengamati gerak-gerik Eknath yang tiba-tiba merogoh saku jubah panjangnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas tipis yang dikemas rapi. Dari aromanya yang menguar, Nicholas tahu persis isinya. Itu paprika hijau segar.
Ekspresi Anastasia yang semula datar seketika berubah. Sepasang matanya berbinar cerah, dan sedetik kemudian, seulas senyum tulus yang sangat manis terbit di bibirnya. Mereka berdua tampak mengobrol dengan sangat akrab, bahkan Anastasia sempat tertawa kecil akibat candaan Eknath.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang mendadak terasa terbakar di dalam dada Nicholas. Rasa panas yang tidak nyaman langsung menjalar ke ubun-ubun.
Sejak kapan mereka seakrab itu? Nicholas membatin dongkol. Sejak kemarin malam, jangankan tersenyum, meliriknya saja Anastasia enggan meskipun Nicholas sudah sengaja bertingkah konyol menabrak tiang pintu demi memancing perhatiannya. Tapi hari ini? Hanya karena sebungkus paprika hijau dari Eknath, pertahanan istrinya runtuh begitu saja?
Sebagai sesama pria, insting Nicholas langsung menyala merah. Cara Eknath menatap Anastasia—lembut, dalam, dan penuh perhatian terselubung—jelas menandakan bahwa pria itu diam-diam menaruh ketertarikan pada istrinya.
Tidak sudi posisinya digeser, Nicholas sengaja mengambil langkah besar dan menyelinap masuk ke tengah-tengah obrolan mereka. Ia sengaja berdeham keras-keras sembari memasang senyum seringai andalannya, berharap Anastasia akan menoleh padanya.
Namun, ekspektasi tidak seindah realitas. Begitu Anastasia menyadari kehadiran Nicholas di sisinya, senyuman manis di wajah wanita itu langsung lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin yang kembali membeku. Perubahan gestur yang teramat instan itu sukses membuat ego Nicholas mencos drastis. Hatinya mencelos perih, Anastasia jelas-jelas masih menabuh genderang perang dengannya.
"Nicholas, sampai bertemu lagi. Semoga perjalanan kalian aman sampai ke Kastil Swindon," ucap Eknath tenang, mengalihkan pembicaraan dengan nada formal yang menyebalkan di telinga Nicholas.
"Hm. Terima kasih," jawab Nicholas ketus dan cuek bebek.
Demi menegaskan dominasi dan hak kepemilikannya di depan mata Eknath yang dianggapnya sebagai rival, Nicholas dengan sengaja mengulurkan tangan, mencoba menyusupkan jemarinya untuk menggenggam tangan Anastasia. Namun, dengan gerakan halus yang sengaja dicipatakan, Anastasia menarik tangannya menjauh, berpura-pura merapikan rambutnya.
Nicholas tidak menyerah. Ia mencoba meraba pergelangan tangan Anastasia lagi, tapi sang istri dengan tangkas menyembunyikan kedua tangannya di balik lipatan mantel bulu. Nicholas meringis jengkel dalam hati.
"Aku mau pamit sebentar untuk bertemu Joo Orange," ujar Anastasia tiba-tiba, mencari celah aman untuk memisahkan diri dari atmosfer pengap di antara dua pria itu.
Nicholas langsung mengernyitkan dahi dalam-dalam. Dahinya berkerut saking kesalnya. Joo Orange? Siapa lagi bajingan bermarga asing itu?! Pikirannya mendadak pusing tujuh keliling. Kenapa saingannya untuk mendapatkan perhatian istri sendiri mendadak tumbuh subur seperti jamur di musim hujan?
Memiliki istri yang terlalu cantik dan ramah pada semua makhluk memang teramat menguras emosi. Itu sama saja membuka gerbang lebar-lebar bagi para pria hidung belang di luar sana untuk berharap pernikahan mereka segera karam! Nicholas mendengus frustrasi, giginya bergeletuk menahan cemburu yang mulai tidak rasional.
"Joo Orange? Siapa pria itu? Pengawal baru?" tanya Nicholas dengan nada suara yang sengaja ditekan rendah, mencoba terdengar mengintimidasi.
Anastasia menatap Nicholas dengan tatapan heran, seolah suaminya baru saja kehilangan separuh akal sehatnya. "Itu nama ikan mas koi di kolam taman barat," jawab Anastasia datar, sembari menunjuk ke arah taman tempat kolam hias berada.
Nicholas mematung di tempat. Otaknya mendadak macet selama lima detik penuh. Ikan? Jadi dari tadi ia sudah mengibarkan bendera perang, memaki habis-habisan, dan menderita batin di dalam hati... hanya untuk seekor ikan hias berwarna oranye? Bukan pria simpanan atau selingkuhan berwajah tampan?
Astaga naga. Nicholas rasanya ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam adonan roti sekarang juga. Wajah tampannya mendadak memerah menahan malu yang luar biasa. Untung saja ia tidak sempat berteriak murka menyuruh pengawal menangkap 'pria' bernama Joo Orange itu, jika tidak, reputasinya sebagai Duke Swindon yang baru akan hancur lebur menjadi bahan lelucon sejarah kerajaan. Sialan betul!
"Oh... begitu," sahut Nicholas, berdeham salah tingkah sembari mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. "Ya sudah, pergi sana. Aku... aku akan menunggumu di dalam kereta kuda."
Anastasia hanya mengangguk cuek tanpa minat, lalu berbalik melangkah anggun menuju taman, meninggalkan Nicholas yang masih merutuki kebodohannya sendiri di tempatnya berdiri.