NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Yuna melangkah sedikit lebih dekat ke arah ayahnya, seolah mencari perlindungan di tengah riuhnya tatapan para bangsawan yang masih penasaran dengan hadiah sebelumnya. Senyum tipis tetap dia jaga, tapi jelas ada usaha untuk menghindari pertanyaan lanjutan yang bisa membuat suasana menjadi canggung.

Suara di aula masih ramai oleh percakapan kecil dan denting gelas, tapi di sudut tempat Yuna berdiri bersama ayahnya, suasana terasa seperti terpisah dari keramaian itu.

Tuan Satoshi sedikit mengangkat tangan, memberi isyarat halus agar percakapan tidak menyebar. Beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh segera memahami isyarat itu dan perlahan menjaga jarak, memastikan tidak ada telinga yang terlalu dekat.

Namun, belum sempat suasana kembali tenang, Tuan Yamato yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tidak menahan rasa penasarannya.

Tuan Yamato pun langsung menurunkan nada suaranya, kini hanya terdengar oleh lingkaran kecil mereka bertiga.

“Baik,” ucapnya pelan, lebih hati-hati.

“Aku pastikan ini tidak keluar dari percakapan kita.”

Dia lalu melirik sekilas ke sekeliling, memastikan tidak ada bangsawan lain yang memperhatikan mereka terlalu dalam. Setelah yakin, dia kembali menatap Yuna.

Tuan Satoshi kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya lagi, suaranya tetap rendah, hampir seperti angin.

“Lukisan itu adalah simbol yang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau melihat lebih dalam." ucap Yuna.

Di tempat seperti ini, kata-kata langsung bisa menjadi masalah. Maka Yuna memilih bahasa yang aman tapi tajam.

Yamato mengangguk kecil, kini benar-benar memahami maksudnya. Tatapannya kembali ke Yuna, kali ini lebih lembut, tanpa tekanan seperti sebelumnya.

“Aku mengerti,” gumamnya pelan.

Lalu dia menambahkan, kali ini dengan nada yang hanya ditujukan untuk mereka berdua. “Dan aku akan menjaga itu tetap di sini.”

Dia berhenti sejenak, kemudian menatap Yuna dengan ekspresi yang lebih hangat.

“Dan tentangmu, Nona Yuna… keberanianmu justru lebih jelas ketika kau berusaha menyembunyikannya. Itu sesuatu yang langka di kalangan ini.” puji Tuan Yamato.

Tuan Satoshi tidak menanggapi langsung, hanya tersenyum tipis tanda bahwa dia juga setuju, tanpa perlu mengucapkannya keras-keras.

---

Ryujin menyipitkan mata, menatap lukisan itu dari kejauhan.

“Jujur saja… aku bahkan tidak yakin ini lukisan tentang apa.”

Haru mengangguk pelan, ikut memperhatikan.

“Iya. Dari jauh terlihat seperti… burung? atau mungkin bukan.”

Yua sedikit mendekat, matanya fokus, lalu berkata pelan.

“Aku juga tidak bisa memastikan.”

Ryujin langsung mendengus kecil.

“Bagaimana mungkin mereka sampai menanyakan makna dari sesuatu yang bentuknya saja tidak jelas?”

Haru menjawab lebih hati-hati.

“Mungkin justru itu maksudnya. Karena tidak jelas, orang jadi mulai menafsirkan.”

Yua tetap diam sejenak, lalu mengamati lebih lama.

“Kalau dipaksa menilai… aku hanya melihat bentuk samar seperti makhluk di dalam pola emas. Tapi tidak ada detail yang benar-benar menunjukkan itu burung.”

Ryujin mengangkat alis.

“Jadi seperti sesuatu yang dikurung?”

“Benar.” jawab Yua singkat.

Haru terdiam sejenak lalu berkata, “Mungkin itu sebabnya kenapa Tuan Putri menyimpanya sendiri.”

Ryujin tersenyum miring.

“Karena di tempat seperti ini, sebuah argumen sedikit saja bisa meledak kemana-mana. Aku yakin lukisan itu bukan hanya lukisan biasa, tapi sebuah permainan politik yang melibatkan Tuan Putri".

Yua menatap lukisan itu sekali lagi, lalu berkata pelan, hampir seperti kesimpulan.

"Itulah mengapa Tuan Putri tidak melakukannya, agar dia tidak merusak citra acara malam ini."

Haru terdiam, lalu mengangguk pelan.

Putri Hikari melangkah sedikit ke depan, gaun mewahnya berkilau lembut di bawah cahaya aula. Suasana yang tadi penuh sorak dan perhatian kini perlahan mereda, memberi ruang pada ketenangan yang lebih dalam.

Dia menatap satu per satu para bangsawan yang hadir bukan dengan jarak seorang pewaris takhta, melainkan dengan ketulusan seseorang yang benar-benar memahami arti sebuah pemberian.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua hadiah yang telah kalian berikan hari ini,” ucapnya lembut, namun jelas terdengar hingga ke sudut ruangan.

Matanya menurun sejenak, seolah benar-benar menghargai beban makna di balik setiap bingkisan, setiap lukisan, setiap karya yang dipersembahkan untuknya.

“Setiap hadiah bukan hanya benda bagi saya. Di dalamnya ada waktu, ada usaha, ada niat baik yang tidak bisa diukur dengan nilai apa pun.”

Dia berhenti sebentar, lalu tersenyum kecil hangat, tidak dibuat-buat.

“Saya akan menjaga semuanya dengan hormat. Menggunakannya dengan sebaik mungkin, sesuai dengan makna yang kalian titipkan di dalamnya. Tidak satu pun dari pemberian ini akan saya anggap remeh.”

Pandangannya kembali menyapu aula.

“Terima kasih karena telah mempercayakan perasaan kalian dalam bentuk yang begitu indah. Saya menerimanya dengan penuh penghargaan, dan saya sungguh menyukainya apa pun itu, karena semuanya datang dari hati.”

Musik mulai berubah. Irama lembut dari alat musik istana perlahan naik, menandakan satu hal yang paling ditunggu dari seluruh rangkaian pesta. Pesta dansa resmi dimulai.

Seolah baru saja dilepaskan dari aturan formal, suasana aula langsung hidup.

Para gadis bangsawan mulai bergerak lebih dekat ke tengah ruangan. Kipas-kipas kecil mereka sedikit berayun, tawa halus terdengar di sela-sela bisikan. Tatapan mereka tidak lagi sekadar sopan melainkan penuh harap yang jelas ditujukan pada tiga sosok yang sejak tadi mencuri perhatian.

Haru, Ryujin, dan Jinsei.

Beberapa gadis sudah hampir terang-terangan mengatur posisi seolah pasangan dansa sudah mereka tentukan sejak awal pesta.

“Jika Tuan muda Haru tidak keberatan… mungkin saya bisa menjadi pasangan dansa pertama anda malam ini?” ucap salah satu gadis sambil tersenyum manis, terlalu terlatih untuk disebut kebetulan.

Gadis lain tak mau kalah, melirik Ryujin dengan sorot mata penuh tantangan halus.

“Tuan muda Ryujin saya sudah menunggu dari awal acara. Tidak adil kalau anda menolak bukan?”

Yua yang melihat kejadian itu langsung tersenyum tipis seolah menertawakan Haru dan Ryujin seolah mereka sudah banyak dipesan.

Yua berdiri tak jauh dari Jinsei. Tatapannya tidak terlalu terang-terangan, tapi cukup jelas bagi orang yang memperhatikannya. Ada ketenangan di sana dan sebuah “kode” yang hanya bisa dipahami oleh Jinsei sendiri.

Seakan mengatakan, datanglah ke sini kalau kau memang mengerti.

Jinsei menangkap itu.

Dan di saat yang sama, Ryujin juga menangkap arah pandangan Yua. Ia tidak langsung bereaksi. Hanya diam… tapi rahangnya sedikit mengencang. Ekspresinya tenang di luar, namun jelas ada sesuatu yang tidak sepenuhnya dia sukai.

Sementara itu, Haru terbawa para bangsawan muda di tengah kerumunan kecil para gadis yang mencoba menarik perhatiannya. Beberapa dari mereka tersenyum manis, ada yang sengaja sedikit mendekat, memainkan tatapan seolah itu adalah permainan yang sudah mereka menangkan.

“Tuan muda.. anda terlihat sedikit bingung. Atau… anda belum memilih?” ujar salah satu gadis dengan nada menggoda ringan.

Haru tersenyum kecil, agak canggung, seperti tidak terbiasa berada di pusat perhatian seperti ini.

“Ah… saya…” ucapnya pelan.

Namun, matanya tidak benar-benar fokus pada para gadis itu.

Tatapannya justru bergerak perlahan, menyapu ruangan melewati kerumunan, melewati kilauan gaun, melewati senyum-senyum yang mencoba menariknya seolah sedang mencari sesuatu yang lain.

Dan untuk sesaat, suasana pesta dansa yang semestinya riuh justru terasa seperti masing-masing hati sedang menentukan arah langkahnya sendiri.

Yua melangkah perlahan mendekati Jinsei. Sesaat perhatian dunia seolah menghilang dari benaknya. Yang ada di matanya hanya sosok pemuda itu.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Bruk.

Tuan Yamato tiba-tiba mendorong bahu Jinsei dari belakang.

Jinsei yang sejak tadi justru sibuk memperhatikan Yua sama sekali tidak siap. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke depan hingga tanpa sadar berada tepat di hadapan Putri Hikari.

Jinsei menoleh ke belakang dengan wajah bingung.

Di sana, Tuan Yamato hanya menatapnya tajam. Tatapan seorang ayah yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata. Sudut bibir Jinsei sedikit berkedut.

Dia ingin menolak.

Sangat ingin.

Namun sebelum sempat membuka mulut, suara sorakan mulai terdengar dari berbagai arah.

"Ayo!"

"Mulailah!"

"Jangan membuat Yang Mulia menunggu!"

Bahkan Kaisar sendiri tampak tersenyum penuh harap dari tempat duduknya. Putri Hikari lalu mengulurkan tangannya dengan anggun. Untuk beberapa detik, Jinsei hanya menatap tangan itu.

Lalu...

Dengan perasaan yang sangat berat, Jinsei menerimanya. Mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik.

Namun bahkan ketika tangannya menggenggam tangan Putri Hikari, mata Jinsei masih sempat melirik ke arah lain.

Ke arah Yua.

Dan Yua melihat semuanya.

Gadis itu terdiam.

Ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan muncul di dalam dadanya. Meski begitu, apa yang bisa dia lakukan. Bahkan Kaisar sendiri yang mendorong suasana itu.

Perlahan Yua memalingkan wajah.

Kesal.

Sedih.

Dan sedikit kecewa.

Namun saat dia menoleh ke samping, dia terkejut. Ryujin sudah berdiri tepat di belakangnya.

"Ka.. kapan kau di sini?!"

Ryujin hanya tersenyum tipis. Seolah memang sudah berada di sana sejak tadi. Tanpa banyak bicara, Ryujin melangkah satu langkah ke depan lalu mengulurkan tangannya. Gerakannya elegan dan penuh percaya diri.

"Jadilah pasangan dansaku malam ini."

Suara Ryujin terdengar lembut di tengah alunan musik.

Yua terdiam. Matanya turun menatap tangan yang terulur di hadapannya. Kemudian perlahan dia mendongakkan kepala. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Yua berpikir. Mungkin hanya beberapa detik. Namun terasa jauh lebih lama.

Lalu akhirnya senyum kecil muncul di bibirnya. Senyum yang lembut. Senyum yang berhasil membuat mata Ryujin sedikit melembut.

Yua meletakkan tangannya di atas tangan Ryujin. Ryujin tersenyum. Kali ini lebih tulus daripada sebelumnya.

Dan di tengah gemerlap aula yang dipenuhi musik serta cahaya lampu kristal, keduanya melangkah ke lantai dansa bersama.

Alunan musik istana semakin meriah memenuhi seluruh aula. Nada-nada elegan dari alat musik kerajaan lainnya berpadu menjadi harmoni yang indah. Cahaya lampu kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan kilau lembut ke gaun-gaun mewah dan jas para bangsawan yang memenuhi lantai dansa.

Satu per satu pasangan mulai bergerak mengikuti irama.

Jinsei berdansa bersama Putri Hikari di tengah sorotan banyak pasang mata. Gerakan mereka anggun dan sempurna, seperti yang diharapkan dari seorang putri kerajaan dan tamu kehormatan yang menjadi pusat perhatian malam itu. Namun tatapan mereka tajam dan tidak ada senyum yang terukir di wajah masing-masing.

Tak jauh dari sana, Ryujin memimpin Yua dengan tenang. Sesekali keduanya bertukar pandang, sementara langkah kaki mereka mengikuti irama musik yang terus mengalun.

Sementara itu, Haru justru menjadi pusat perhatian para wanita muda bangsawan.

"Tuan muda, giliran saya berikutnya!"

"Tidak adil, aku yang lebih dulu meminta!"

"Bukankah tadi kau sudah berdansa dengannya?"

Beberapa gadis bahkan saling berdebat kecil hanya untuk mendapatkan kesempatan berdansa dengannya.

Haru hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya sesekali.

"A..ah... jangan berebut seperti itu..."

Namun ucapannya sama sekali tidak membantu.

Akibatnya, sepanjang pesta dansa berlangsung, Haru hampir tidak pernah memiliki pasangan yang sama lebih dari satu lagu. Begitu satu tarian selesai, wanita bangsawan lain sudah siap mengambil alih dengan penuh semangat.

Di sudut aula yang lain, Yuna berdiri sendirian sambil menikmati suasana pesta.

Dia memperhatikan para penari dengan senyum lembut di wajahnya. Sesekali matanya mengikuti gerakan para bangsawan yang berputar mengikuti musik.

Namun tiba-tiba seseorang berhenti tepat di hadapannya. Yuna berkedip heran.

Sebuah tangan terulur ke arahnya.

Refleks, dia mendongakkan kepala. Seorang pemuda tampan berdiri di hadapannya dengan senyum sopan yang sulit ditolak.

Rambutnya tertata rapi, pakaiannya elegan, dan sikapnya menunjukkan pendidikan seorang bangsawan yang baik.

"Nona, maukah anda berdansa dengan saya?"

Yuna sedikit terkejut. Matanya berkedip beberapa kali. Dia tidak mengenali pemuda itu. Bahkan rasanya ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Namun tidak ada kesan buruk dari dirinya.

Justru sebaliknya. Pemuda itu terlihat sopan dan tulus. Yuna pun tersenyum kecil. Senyum hangat yang selalu menjadi ciri khasnya.

"Dengan senang hati."

Perlahan Yuna meletakkan tangannya di atas tangan pemuda itu. Pemuda itu membalas dengan senyum tipis sebelum membimbingnya menuju lantai dansa. Ternyata dia adalah Fumiro.

Dan di bawah gemerlap cahaya aula kerajaan, keduanya mulai menari mengikuti irama musik yang mengalun lembut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!