NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Hari Minggu Tanpa Senjata

Trauma visual Marco terhadap kemeja flanel merah dan sandal jepit hijau milik bosnya belum sepenuhnya hilang, tetapi hari Minggu ini membawa tantangan baru di mansion Ardiansyah.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Justin secara resmi mengosongkan seluruh jadwal bisnisnya selama dua puluh empat jam penuh.

Tidak ada rapat distrik, tidak ada audit pelabuhan, dan tidak ada pemeriksaan logistik.

Pagi itu, suasana di kediaman mewah tersebut terasa sangat tenang, Justin keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang atas kesepakatan damai dengan Kimberly jauh lebih kasual celana pendek kargo hitam dan kaos oblong putih polos tanpa kerah.

Tidak ada kemeja flanel merah yang menyiksa dadanya, tetapi sepasang sandal jepit hijau legendaris itu tetap bertengger setia di kakinya.

Saat melangkah ke ruang tengah, Justin menemukan Kimberly sedang sibuk menata beberapa botol kaca kecil, corong plastik, dan sebongkah es batu di atas meja marmer.

"Sedang membuat ramuan apa lagi hari ini, Kim?" tanya Justin, berjalan mendekat dan langsung mengambil posisi duduk di karpet tebal di samping sofa, menyamakan tingginya dengan Kimberly yang sedang lesehan di lantai.

"Bukan jamu herbal kok, Mas. Hari ini aku mau membuat es kunyit asam segar," jawab Kimberly riang, tangannya terampil menuangkan cairan kuning keemasan ke dalam gelas berisi es batu.

"Udara Jakarta kalau siang panas sekali, beda dengan di desa. Minum yang segar-segar begini pasti enak. Ini, Mas Justin coba dulu."

Justin menerima gelas kaca tersebut, dia menyesapnya perlahan, rasa asam yang menggigit berpadu dengan manisnya gula jawa dan sensasi dingin es batu langsung menyapu tenggorokannya.

"Segar sekali. Ini jauh lebih baik daripada cairan pahit yang kau cekoki padaku dua hari lalu." Kimberly tertawa renyah.

"Itu kan karena Mas Justin badannya sedang kaku. Kalau sekarang kan Mas sudah segar bugar."

Saat mereka sedang menikmati momen santai tersebut, pintu geser menuju halaman belakang terbuka.

Marco melangkah masuk dengan setelan jas hitam formalnya yang kaku seperti biasa, di tangannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam panjang yang tampak sangat familiar bagi Justin.

"Tuan Besar..," panggil Marco, buru-buru mengoreksi panggilannya begitu melihat kilatan tajam di mata Justin.

"Ini adalah kiriman paket khusus dari divisi persenjataan pusat. Senjata api custom pesanan Anda yang baru, kaliber sembilan milimeter dengan pelapis titanium, sudah selesai dirakit dan siap diuji coba di ruang bawah tanah."

Mendengar kata 'senjata api', insting alami Justin sebagai pemimpin tertinggi The Syndicate langsung bangkit.

Matanya berbinar tertarik, dia baru saja hendak mengulurkan tangan untuk menerima kotak tersebut ketika sebuah kemoceng berbulu ayam tiba-tiba mendarat dengan ketukan pelan di atas punggung tangannya.

Puk.

Justin menoleh dan menemukan Kimberly sedang menatapnya dengan kedua alis yang terangkat tinggi.

"Mas Justin," ucap Kimberly dengan nada lembut namun sarat akan penekanan yang tidak bisa dibantah.

"Hari ini hari apa?"

"Hari... Minggu," jawab Justin agak ragu.

"Dan janji Mas kemarin apa?" tagih Kimberly lagi, melipat kedua tangannya di depan dada.

Justin menghela napas pendek, menatap kotak senjata impiannya dengan pandangan berat hati, pria itu kembali menatap tangan kanannya.

"Bawa kotak itu ke gudang bawah tanah, Marco. Kunci rapat-rapat. Hari ini aku tidak menerima atau menyentuh logam apa pun yang bisa mengeluarkan peluru."

Marco tertegun, menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya, seorang pria yang separuh hidupnya dihabiskan dengan memegang pelatuk, kini menolak senjata baru hanya karena ketukan kemoceng seorang wanita.

"B-Baik, Tuan. Akan saya simpan," ucap Marco, buru-buru undur diri dari ruangan sebelum suasana berubah menjadi semakin aneh bagi akal sehatnya.

Setelah Marco pergi, Kimberly tersenyum puas, dia menyodorkan piring berisi camilan singkong goreng empuk yang baru saja diantarkan pelayan dapur.

"Nah, begitu dong. Hari Minggu itu waktunya santai, bukan main tembak-tembakan. Ayo, Mas, bantu aku potong daun pandan di belakang untuk hiasan gelas."

Sore harinya, cuaca di luar mulai meredup, menyisakan embusan angin sejuk yang menggoyang dedaunan di kebun herbal buatan mereka.

Justin dan Kimberly duduk bersama di kursi kayu panjang yang sengaja dipasang di area rumah kaca mini.

Justin menyandarkan punggung tegapnya, sementara Kimberly dengan nyaman menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya, menikmati wangi maskulin Justin yang sore ini bersih dari aroma cerutu.

"Mas," panggil Kimberly lirih, jemarinya memainkan cincin safir yang melingkar di jari manisnya.

"Ya?"

"Mas Justin merasa bosan tidak, kalau hari Minggunya cuma diisi dengan minum es kunyit asam dan duduk di kebun seperti ini? Maksudku... duniamu di luar sana kan sangat besar, sibuk, dan penuh dengan hal-hal yang menegangkan."

Justin terdiam beberapa saat, pandangannya lurus menatap hamparan tanaman hijau di depan mereka, lalu turun menatap wajah polos istrinya yang berada di dekapannya.

"Sebelum kau datang ke rumah ini, Kim, hari Mingguku tidak ada bedanya dengan hari Senin atau hari-hari lainnya," suara Justin terdengar rendah dan tenang.

"Pikiranku selalu dipenuhi tentang siapa yang harus disingkirkan besok, jalur mana yang harus diamankan, atau siapa yang sedang merencanakan pengkhianatan di belakangku. Tempat ini dulu hanya sebuah bangunan marmer yang mahal untuk tidur."

Justin meraih tangan kiri Kimberly, membawa jemari kecil istrinya ke bibirnya dan mengecupnya dengan penuh kelembutan.

"Tapi sekarang, duduk di sini bersamamu, melihatmu tertawa karena hal-hal sepele, bahkan memakai sandal jepit hijau ini... membuatku sadar bahwa inilah hidup yang sebenarnya. Sisi gelap di luar sana adalah pekerjaanku untuk melindungimu, tetapi di dalam sini, bersamamu, adalah hidupku yang sesungguhnya."

Mendengar pengakuan tulus yang begitu mendalam dari suaminya, hati Kimberly dipenuhi oleh rasa hangat yang membuncah.

Dia mempererat pelukannya di lengan Justin, menyembunyikan senyum bahagianya di dada bidang sang suami.

Di bawah langit sore yang perlahan meredup menuju malam, kehidupan rumah tangga mereka yang unik kembali membuktikan jalannya.

Di dalam dinding mansion yang megah ini, sang gadis desa berhasil membangun sebuah oase kedamaian yang kokoh, tempat di mana sang singa kota metropolitan bisa melepaskan seluruh senjatanya dan menjadi seorang pria biasa yang hanya ingin mencintai dan dicintai dengan tulus oleh istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!