Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Pengorbanan Kecil Pertama
Langit sore meredup menjadi warna merah tembaga yang muram.
Angin pegunungan bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon tua di perbatasan Desa Sungai Hitam dengan hutan terlarang.
Lin Fan menuntun seekor kambing jantan berbulu hitam lebat menggunakan tali tambang tebal.
Kambing itu memiliki sepasang tanduk melengkung yang kokoh tanpa cacat sedikit pun pada tubuhnya.
Sfx: Mbekkk! Mbekkk!
Suara kambing itu mengembik gelisah, seolah-olah binatang tersebut merasakan aroma kematian yang pekat dari arah pepohonan lebat di depan mereka.
Setiap kali Lin Fan menarik talinya, kambing itu sempat enggan melangkah, menancapkan keempat kukunya ke atas tanah basah.
Lin Fan menatap jarum jam digital di layar ponselnya.
[Waktu Tersisa: 01 Jam 15 Menit]
[Lokasi Ritual: Altar Kayu Hitam / Pusat Batas Hutan Terlarang]
"Sabar sedikit... ini harus dilakukan demi keselamatan ibu dan adikku," bisik Lin Fan dengan suara parau.
Ia mengelus kepala kambing hitam tersebut dengan gerakan perlahan.
Ada rasa tidak tega yang menyelinap di benak Lin Fan.
Sebagai seorang pemuda desa biasa yang dibesarkan dalam kesederhanaan, ia belum pernah membunuh hewan dengan tangannya sendiri untuk ritual gaib.
Namun bayangan mengenai kehancuran Pagar Perlindungan Rumah dan ancaman teror entitas liar yang siap memangsa keluarganya memaksa nurani Lin Fan untuk mengeras.
Lin Fan melangkah masuk menerobos rimbunnya semak belukar Hutan Terlarang.
Kegelapan di dalam hutan terasa jauh lebih pekat dibandingkan area luar.
Pohon-pohon raksasa dengan akar menjalar bagaikan ular raksasa berdiri menjulang, menutup pancaran cahaya matahari sore yang tersisa.
Suasana sangat hening, tidak ada suara kicauan burung ataupun serangga hutan yang biasanya riuh.
Hanya ada suara gesekan daun kering dan embikan gelisah dari kambing hitam di samping Lin Fan.
Sfx: Krasak... Krasak...
Setelah berjalan selama lima belas menit menembus hutan yang lembap, Lin Fan akhirnya tiba di sebuah area terbuka berbentuk lingkaran.
Di tengah-tengah area terbuka tersebut, berdiri sebuah altar tua yang terbuat dari susunan batu kali dan kayu hitam yang terukir rumit.
Altar ini adalah tempat yang sama di mana Lin Fan pertama kali menemukan gulungan serat lontar tua milik leluhurnya beberapa hari lalu.
Layar transparan dari [Sistem Pagar Iblis] mendadak muncul mengapung secara otomatis begitu Lin Fan melangkah mendekati altar tersebut.
[Lokasi Ritual Terkonfirmasi]
[Mendeteksi Persembahan: 1 Ekor Kambing Jantan Hitam Berdarah Murni]
[Persyaratan Pengorbanan Darah Diterima]
[Silakan Letakkan Persembahan Di Atas Altar Dan Ucapkan Mantra Pengikat]
Lin Fan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kian berdebar kencang.
Ia menuntun kambing hitam itu mendekati altar batu, lalu mengikatkan tali tambangnya ke tiang kayu hitam di sisi altar.
Kambing itu mengembik makin keras, matanya yang bulat menatap Lin Fan dengan pancaran ketakutan yang sangat nyata.
Lin Fan merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebilah pisau belati tua bermata tajam yang ia bawa dari gudang rumahnya.
Bilah besi pisau itu memantulkan cahaya suram hutan terlarang.
Tangan Lin Fan gemetar hebat saat memegang gagang pisau tersebut.
"Maafkan aku..." bisik Lin Fan pelan pada binatang di depannya.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan gulungan lontar tua.
Begitu lontar tua itu diletakkan di atas batu altar, ukiran-ukiran kuno di permukaannya mendadak menyala memancarkan cahaya merah kehitaman yang redup.
Sfx: Bzzzzzt!
Aura dingin yang sangat pekat langsung menyembur keluar dari sela-sela batu altar, membuat dedaunan kering di sekitar area terbuka itu beterbangan liar.
[Mantra Pengikat Kontrak: 'Darah Ditukar Perlindungan, Nyawa Ditukar Kekuatan']
Lin Fan memejamkan matanya sejenak, membuang sisa-sisa keraguan di dalam dadanya.
Ia melangkah mendekati kambing hitam yang terikat, memegang tanduknya dengan tangan kiri, lalu mengarahkan mata pisau belati ke leher hewan tersebut.
"Darah ditukar perlindungan... nyawa ditukar kekuatan," ucap Lin Fan dengan suara tegas yang bergema di keheningan hutan.
Sfx: Cres!
Darah segar berwarna merah pekat menyembur dari leher kambing hitam tersebut, menetes basah mengenai ukiran kayu hitam di atas altar.
Kambing itu menghentak-hentakkan kakinya sejenak sebelum akhirnya terkulai lemas tak bernyawa di atas tanah.
Sfx: Ssssssh...
Darah segar yang mengalir di atas batu altar tidak menetes ke tanah secara acak, melainkan terserap masuk ke dalam celah-celah ukiran kayu hitam bagaikan disedot oleh spons kering.
Cahaya merah kehitaman pada lontar tua mendadak meledak makin terang, memancarkan gelombang energi yang menggetarkan pepohonan sekitar.
[Pengorbanan Darah Berhasil Diterima]
[Dahaga Sistem Pagar Iblis Telah Terpuaskan]
[Ancaman Rusaknya Pagar Perlindungan Rumah Telah Dibatalkan]
[Bonus Ritual: Pemulihan Energi Vital Pengikat Kontrak (+12%)]
[Status Energi Vital Saat Ini: 100% (Kondisi Prima)]
Sfx: Wuuusss!
Hawa hangat yang sangat nyaman mendadak merambat dari telapak tangan kanan Lin Fan, mengalir ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya.
Rasa lelah, pusing, dan warna pucat di kulit wajahnya seketika sirna tanpa bekas.
Energi vital Lin Fan kembali berada pada kondisi seratus persen puncak kekuatan manusianya.
Bekas luka bakar lingkaran di telapak tangan kanannya kini tampak memancarkan warna keemasan samar yang memudar perlahan.
Lin Fan berdiri mematung di depan altar, menatap bangkai kambing hitam yang kini tampak mengering akibat seluruh darahnya diserap oleh sistem.
Rasa lega bercampur keriangan tipis sempat menyelimuti dadanya karena tubuhnya kembali bugar dan rumahnya aman.
Namun tak lama kemudian, rasa hampa dan bersalah yang mendalam merayap masuk menggantikan rasa lega tersebut.
"Ini baru pengorbanan kecil pertama..." gumam Lin Fan sambil menatap tangannya yang ternoda darah.
"Bagaimana dengan bulan depan? Bagaimana jika sistem ini menuntut darah yang lebih banyak lagi?" batinnya dengan cemas.
Lin Fan menyadari bahwa dirinya kini telah melangkah terlalu jauh ke dalam kegelapan.
Demi melindungi keluarganya dan membalaskan dendam atas ketidakadilan yang dialami ayahnya, ia telah menjual sebagian nuraninya pada kekuatan terlarang ini.
Ia membersihkan mata pisau belatinya menggunakan saputangan lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.
Lin Fan memungut gulungan lontar tua yang sudah kembali redup, merapikan pakainnya, dan bersiap untuk melangkah keluar dari Hutan Terlarang.
Namun tepat saat ia membalikkan badan, earphone atau indra pendengarannya yang dipertajam oleh fitur MATA IBLIS menangkap suara patahan ranting pohon di balik semak-semak.
Sfx: Krek!
Lin Fan seketika menghentikan langkahnya.
Mata Iblis milik Lin Fan menyala tajam, menembus kegelapan semak belukar di tepi area terbuka.
Garis transparan berwarna kebiruan terang muncul mengapung di balik pohon pinus tua.
[Nama: Chen Meng]
[Status: Teman Masa Kecil]
[Tingkat Niat Buruk: 0% (Sangat Terkejut Dan Ketakutan)]
[Keterangan: Chen Meng Mengikuti Lin Fan Dari Desa Dan Menyaksikan Seluruh Proses Ritual Pengorbanan Darah]
Jantung Lin Fan terasa bagaikan berhenti berdetak seketika.
"Chen Meng?!" batin Lin Fan dengan mata membelalak lebar.
Gadis itu ternyata benar-benar membuntutinya secara sembunyi-sembunyi dari desa hingga masuk ke dalam Hutan Terlarang!
Dari balik pohon pinus tua, Chen Meng keluar dengan langkah berguncang dan wajah yang pucat pasi tanpa warna.
Matanya yang berkaca-kaca menatap Lin Fan dan bangkai kambing kering di atas altar dengan rasa tidak percaya yang amat mendalam.
"Lin Fan... kamu... apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Chen Meng dengan suara bergetar hebat, air mata mulai menetes membasahi pipinya.