NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak

Keesokan paginya, ketika fajar baru saja menyingsingkan garis merah tipis di ufuk timur, Desa Karang Tumpuk masih dibalut kabut tebal yang dingin. Udara basah sisa hujan semalam menetes dari ujung-ujung daun pisang, menciptakan irama monoton yang menemani kesibukan tersembunyi di dalam rumah panggung tua.

Di dalam dapur, Sari sibuk menyiapkan perbekalan. Ia membungkus nasi kering, garam dapur, beberapa kerat daging asap, serta perbekalan air bersih ke dalam tas kain terpal yang tebal. Di pinggangnya terikat sebuah pisau belati berukir milik almarhum ayahnya—bukan untuk keperluan ghaib, melainkan sebagai senjata tajam biasa untuk menebas semak belukar di dalam hutan rimba.

Di sudut ruangan, Si Mbah tampak sangat serius mempersiapkan 'peralatannya' sendiri. Kera hitam itu mengikatkan sehelai kain merah tua di kepalanya bagaikan ikat kepala seorang prajurit. Di pundaknya, ia mencangklong sebuah tas rajut kecil berisi sekeranjang buah katuk kering dan batu-batu kali berukuran kepalan tangan yang telah ia pilih secara khusus karena ketajamannya.

Klek.

Pintu depan terbuka. Marno melangkah masuk dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Pande besi bertubuh kekar itu mengenakan jaket kulit tebal bekas penempa besi, sepatu boot kulit tinggi, serta memikul sebuah ransel kayu tua. Di punggungnya terikat sebuah parang tebas berukuran panjang yang mengkilap tajam, sementara di tangan kirinya ia memegang sebatang tongkat kayu jati berujung runcing.

"Sudah siap, Sari?" tanya Marno, suaranya berat dan rendah di tengah heningnya pagi.

Sari mengangguk mantap, mengencangkan ikatan tasnya. "Sudah, Kang. Semua perbekalan dan obat-obatan herbal dari Mbok Sumi sudah masuk tas."

Mbok Sumi berjalan perlahan mendekati mereka, dituntun oleh Pak Karto RT. Perempuan tua itu menyerahkan sebuah kantong kain kecil yang berbau wangi rempah menyengat kepada Sari.

"Ini serbuk belerang kunyit dan garam jimat," kata Mbok Sumi lembut, meremas jemari Sari dengan hangat. "Jika kalian bertemu dengan ular rimba atau jebakan asap ghaib murid-murid Tengger, taburkan serbuk ini ke udara. Dan ingat, Sari... jangan pernah menoleh ke belakang jika mendengar suara orang memanggil namamu saat menyeberangi Lembah Tengkorak."

"Terima kasih, Mbok Sumi. Kami pasti ingat," jawab Sari tulus.

Pak Karto RT memegang pundak Marno dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Jaga Sari baik-baik, Marno. Kami di desa akan terus memanjatkan doa dan berjaga malam untuk menahan serbuan asap belerang."

Dengan restu dari para sesepuh desa, bertiga—Sari, Marno, dan Si Mbah—melangkah keluar dari batas Desa Karang Tumpuk. Langkah-langkah kaki mereka menembus kabut pagi yang pekat, menuju ke arah utara, tempat deretan Pegunungan Tengger berdiri megah dan menyeramkan bagaikan raksasa tidur di kejauhan.

Perjalanan hari pertama membawa mereka menerobos batas hutan lindung yang jarang dijamah manusia. Pohon-pohon randu raksasa dan beringin gantung berjejer rapat, menciptakan atap hijau yang begitu tebal hingga sinar matahari pagi pun hampir tidak mampu menembus tanah basah di bawahnya.

Jalur yang mereka lalui bukan lagi jalan setapak warga, melainkan lereng-lereng curam penuh lumut licin dan akar-akar raksasa yang saling melilit. Bau tanah lembap, daun busuk, dan embun pegunungan memenuhi paru-paru mereka.

Marno berjalan paling depan, parang panjangnya berayun cepat menebas rantak-rantak berduri dan sulur-sulur liat yang menghalangi jalan. Otot-otot di lengan kirinya menegang ritmis, membuktikan bahwa meski tangan kanannya cacat akibat racun masa lalu, kekuatan fisiknya masih sangat dahsyat.

Di tengah perjalanan, Si Mbah melompat-lompat lincah dari satu dahan pohon ke dahan lainnya di atas kepala mereka. Kera hitam itu bertindak sebagai pemandu jalan alami, mendeteksi keberadaan jurang tersembunyi atau lubang lumpur hisap sebelum Marno dan Sari melangkah terlalu jauh.

Sekitar tengah hari, ketika perut mulai keroncongan, Marno memberi isyarat untuk berhenti di dekat sebuah celah tebing batu yang dialiri air terjun kecil. Airnya jernih dan dingin bagaikan es batu.

"Kita istirahat lima belas menit di sini," kata Marno sambil menurunkan ransel kayunya. Ia duduk di atas batu datar dan langsung mengasah kembali mata parangnya yang agak tumpul setelah menembus semak keras.

Sari membagikan nasi kering dan air minum kepada Marno dan Si Mbah. "Kang Marno, seberapa jauh lagi letak Lembah Tengkorak itu?"

Marno meneguk air dari tempat minum bambunya, lalu menatap lurus ke arah celah perbukitan di depan mereka. "Lembah Tengkorak adalah pintu masuk utama menuju wilayah kekuasaan Perguruan Tengger. Dulu, tempat itu adalah medan pertempuran antara para tuan tanah dan sekte-sekte ilmu hitam lima puluh tahun lalu. Banyak orang mati di sana dan mayatnya dibiarkan membusuk menjadi tengkorak tanpa pernah dikubur."

Sari menelan ludah. "Apakah utusan Mbah Jiwo Suro bakal menghadang kita di sana?"

"Pasti," jawab Marno tanpa ragu. "Lembah itu adalah satu-satunya celah melintasi tebing tinggi menuju Gua Sendang Biru. Utusan yang menyerang rumahmu semalam tahu kita akan lewat sana. Mereka pasti sudah menyiapkan sambutan."

Marno menatap tangan kanannya yang kaku dan keriput akibat bekas racun petunduk. Matanya memancarkan keteguhan yang sangat dingin. "Tapi aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu, Sari. Dulu aku gagal menyelamatkan keluargaku dari kekejaman ilmu hitam bibimu dan gurunya. Kali ini, aku tidak akan gagal lagi."

Sari menyentuh lengan Marno dengan iba. Di balik sosok pande besi yang pendiam dan garang itu, terdapat luka masa lalu yang begitu mendalam—luka yang kini dijadikan bahan bakar untuk melindungi kedamaian desa dan keselamatan Sari.

Sore hari menjelang senja, perbatasan Lembah Tengkorak akhirnya membentang di hadapan mereka.

Lembah itu adalah sebuah cekungan raksasa yang diapit oleh dua tebing batu cadas yang tinggi menjulang bagaikan dinding penjara. Udara di dalam lembah tidak seperti di dalam hutan rimba yang segar; udara di sini terasa sangat berat, berbau tengik dan berdebu, seolah-olah angin pun enggan bertiup melintasi tempat tersebut.

Pemandangan di dasar lembah sangat mengerikan. Di antara semak-semak kering dan pepohonan kamboja liar yang meranting tanpa daun, bertebaran ratusan tulang-belulang dan tengkorak manusia serta hewan yang telah memutih tertimpa cuaca puluhan tahun.

Kabut tipis berwarna kekuningan—kabut racun tingkat rendah—mulai merayap naik dari celah-celah batu di dasar lembah.

"Pakai kain penutup hidung kalian!" perintah Marno setengah berbisik. Ia mengambil kantong kain berisi serbuk belerang dari Sari, lalu menaburkannya ke sekeliling pakaian mereka bertiga.

Si Mbah merapat ke dekat leher Sari, kain merah di kepalanya terikat makin kencang. Kera itu tidak lagi bersuara, mengerti bahwa sedikit saja kesalahan bersuara di tempat ini bisa memancing perhatian penghuni ghaib lembah.

Mereka bertiga mulai melangkah memasuki celah lembah. Setiap injakan kaki mereka di atas tanah menghasilkan suara keretakan tulang-tulang kering yang patah: Krek... krek...

Sari memejamkan mata sejenak, memegang belatinya erat-erat sambil mengingat pesan Mbok Sumi: Jangan pernah menoleh ke belakang.

Baru beberapa ratus meter melangkah menyusuri lorong batu tebing, angin dingin yang sangat kencang mendadak bertiup dari arah belakang mereka. Kabut kekuningan berubah menjadi pekat dalam hitungan detik.

"Sarii..."

Sebuah suara memanggil nama Sari dari arah belakang. Suaranya sangat lembut, sangat familiar, dan dipenuhi nada kerinduan yang amat dalam.

"Sari... keponakanku... tolong Bibi..."

Jantung Sari berdesir hebat. Suara itu adalah suara Nyai Seruni! Suara bibinya sewaktu masih hidup dan meratapi kesakitannya sebelum meninggal!

Sari hampir saja menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya ke belakang karena dorongan rasa iba yang mendalam. Namun, Marno dengan cepat meremas pundak kiri Sari dengan cengkeraman besi yang kuat!

"Jangan menoleh, Sari! Itu bisikan Sumpah Tengkorak!" gertak Marno pelan namun tajam. "Itu bukan bibimu! Itu jebakan utusan Tengger untuk mencuri jiwamu!"

Sari tersentak sadar. Ia menatap lurus ke depan, menahan napasnya rapat-rapat sambil terus melangkah maju mengikuti Marno.

Namun musuh rupanya tahu bahwa trik bisikan suara tidak berhasil.

Sreeekkk!

Dari balik tebing batu di atas mereka, dua sosok berbalut kain mori kusam—dua utusan yang melarikan diri dari rumah panggung semalam—melompat turun dengan sangat cepat! Mereka mendarat di atas tumpukan tulang dengan gerakan tanpa bobot, menghalangi jalan keluar di ujung lembah.

Di tangan masing-masing utusan tersebut, tergenggam sebilah Keris Leres berlapis minyak hitam yang mengeluarkan asap berbau bangkai menengat!

"Kalian sungguh berani menyerahkan nyawa ke tempat ini," desis salah satu utusan dengan suara serak melengking. "Master Jiwo Suro sudah tahu kedatangan kalian. Lembah ini akan menjadi kuburan baru bagi pande besi cacat dan keponakan pembuat soto!"

Kedua utusan itu bergerak secara bersamaan dengan kecepatan yang tidak masuk akal manusia biasa. Mereka melayang melintasi tumpukan tulang, mengayunkan keris beracun mereka tepat ke arah leher Marno dan dada Sari!

"Si Mbah! Lindungi Sari!" teriak Marno nyaring.

Pande besi itu tidak sedikit pun gentar. Dengan gerakan reflek yang teruji puluhan tahun menempa besi panas, Marno mengayunkan parang panjangnya melingkar dari bawah ke atas!

CRANGGG!

Percikan api membumbung tinggi saat mata parang Marno bertabrakan keras dengan keris beracun sang utusan. Benturan logam yang sangat kuat itu menghasilkan gelombang angin yang menghempaskan tumpukan tulang di sekitar mereka!

Utusan pertama terdorong mundur tiga langkah, tangannya gemetar menahan kekuatan fisik Marno yang luar biasa. "Kekuatan apa ini?!"

Sementara itu, utusan kedua mencoba menusuk Sari dari arah samping. Namun sebelum keris beracun itu menyentuh pakaian Sari, sebuah batu kali berukuran besar melayang kencang melintasi udara!

BUKKK!

Batu tersebut menghantam telak di bagian pelipis kepala sang utusan kedua! Lemparan tajam dan presisi itu datang dari Si Mbah yang berdiri gagah di atas dahan kamboja kering!

"UUKKK! UUKKK!" jerit Si Mbah lantang sambil melemparkan batu kedua dan ketiga secara beruntun bagaikan tembakan meriam!

Utusan kedua yang kepalanya terhuyung akibat hantaman batu mendadak kehilangan keseimbangan. Sari tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan keberanian murni, Sari mengambil segenggam serbuk belerang kunyit dari kantongnya lalu melemparkannya tepat ke arah wajah utusan tersebut!

Srrsshh!

Serbuk belerang yang terkena hawa ghaib pada jubah mori sang utusan seketika meledak menjadi percikan api kecil yang membakar kainnya!

"ARGGGHHH! MATAKU! PANAS!" jerit utusan kedua histeris sambil berguling-guling di atas tanah basah mencoba memadamkan api yang membakar kain penutup wajahnya.

Marno yang melihat musuh kedua tumbang, langsung memfokuskan seluruh kekuatannya pada utusan pertama. Pande besi itu melangkah maju dengan derap kaki yang menggetarkan tanah. Ia tidak lagi menggunakan parangnya secara sembarangan, melainkan mengayunkan martil penempa besi berukuran raksasa yang baru saja ia tarik dari balik ransel kayunya!

Martil besi itu membara karena gesekan hawa panas dari keberanian Marno.

"Ini pembalasan untuk semua nyawa yang kalian racuni di Karang Tumpuk!" raung Marno.

HANTAMMMM!

Martil besi raksasa itu menghantam tepat di dada utusan pertama! Bunyi remukan tulang dada yang patah terdengar sangat jelas di tengah lembah. Utusan bertopeng mori itu terlempar belasan meter ke udara sebelum akhirnya menghantam dinding tebing batu dan jatuh tak berkutik di atas tumpukan tengkorak.

Udara lembah yang tadinya dipenuhi kabut kekuningan perlahan-lahan mulai terurai tersapu angin malam. Utusan kedua yang wajahnya terbakar belerang merangkak ketakutan ke arah semak-semak lebat, melarikan diri sambil melolong-lolong kesakitan.

Pertempuran singkat namun menegangkan di Lembah Tengkorak berakhir dengan kemenangan pihak Sari.

Marno menurunkan martil besinya, dadanya kembang kempis menahan napas yang memburu. Keringat bercucuran di wajah garangnya, namun matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat.

Si Mbah melompat turun dari dahan kamboja, mendarat di atas bahu Marno sambil menepuk-nepuk kepala pande besi itu—sebuah bentuk penghormatan tinggi dari sang kera hitam kepada sang prajurit.

Sari mendekati Marno, memeriksa kondisi pria kekar itu. "Kang Marno tidak apa-apa? Ada yang kena sabetan keris beracun?"

Marno mengusap darah kering di lengannya akibat percikan batu, lalu menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Sari. Minyak racun mereka tidak menyentuh kulitku. Tapi kita harus bergerak cepat."

Marno menunjuk ke arah ujung lembah. Di balik dinding tebing yang curam, tampak sebuah celah gua raksasa yang dialiri oleh air berwarna kebiruan yang memancarkan cahaya samar-samar di dalam kegelapan malam.

Gua Sendang Biru.

"Itu tempatnya," kata Marno pelan, matanya menatap mulut gua tersebut dengan rasa waspada yang tak berkurang. "Tempat di mana kitab penawar racun itu disembunyikan oleh bibimu. Tapi ingat, Sari... jika utusan-utusannya saja sudah selicin ini, musuh utama kita—Mbah Jiwo Suro—pasti sudah menunggu di dalam sana."

Sari mengencangkan pegangan belatinya, menatap mulut gua bernuansa biru ghaib itu dengan pandangan tanpa ragu. Mereka telah melintasi perbatasan maut Lembah Tengkorak, dan tidak ada kata mundur sebelum kitab penawar itu berada di tangan mereka demi menyelamatkan seluruh warga Desa Karang Tumpuk.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!