NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Belas

Setelah sesi salam pagi selesai, semua orang pergi satu per satu.

Lin Xiao menjadi orang terakhir yang bangkit.

Ketika ia baru mencapai ambang pintu, Nyonya Tua tiba-tiba memanggilnya.

"Qingyue."

Lin Xiao menoleh.

"Apakah Nyonya Tua masih punya perintah?"

Nyonya Tua memandangnya dalam diam beberapa saat.

"Kau sudah mendengar rumor di luar?"

"Aku sudah mendengarnya."

"Tidak marah?"

Lin Xiao berpikir sejenak.

"Marah." katanya. "Tapi marah juga tidak ada gunanya. Yang ingin mereka lihat bukanlah kemarahanku, melainkan aku kehilangan akal. Selama aku tidak kehilangan akal, mereka hanya akan menunggu sia-sia."

Tatapan Nyonya Tua berhenti sesaat di wajahnya, lalu berpaling.

"Kembalilah."

Lin Xiao memberi hormat sebelum berbalik pergi.

Ketika keluar dari halaman utama, sinar matahari tepat menyinari anak tangga. Ia menyipitkan mata dan mendongak ke langit. Tiba-tiba, ia merasa pagi itu berjalan cukup menyenangkan.

Qingxing berjalan di belakangnya dan bertanya pelan,

"Nyonya... apa maksud perkataan Nyonya Tua tadi?"

"Itu artinya beliau sedang mengamatiku." jawab Lin Xiao. "Beliau ingin melihat apakah aku akan kehilangan kendali karena rumor-rumor itu, apakah aku akan marah dan bertengkar dengan orang lain, atau melakukan hal bodoh."

"Dan Nyonya..."

"Aku tidak melakukannya." Lin Xiao tersenyum. "Jadi, aku lolos."

Mereka menuruni tangga dan berjalan menyusuri koridor menuju Halaman Timur.

Saat melewati taman, Lin Xiao melihat dua pelayan wanita sedang berbicara di dekat bebatuan hias. Begitu melihatnya mendekat, keduanya langsung terdiam dan berpura-pura merapikan ranting bunga.

Setelah Lin Xiao melewati mereka, terdengar bisikan dari belakang.

"...Lihatlah dia. Kemarin masih berpakaian mencolok, hari ini malah berdandan sesederhana itu. Pasti cuma berpura-pura..."

"Sudahlah, jangan bicara lagi. Bagaimana kalau dia benar-benar punya ilmu hitam?"

"Ilmu hitam apa? Menurutku dia cuma berpura-pura! Dulu bersikap penurut juga pura-pura!"

Lin Xiao tidak menoleh.

Ia hanya mempercepat langkahnya, sementara sudut bibirnya sedikit terangkat.

Qingxing yang berjalan di belakang tentu mendengar semua bisikan itu.

Ia menggenggam tangannya erat-erat, begitu marah hingga ingin berbalik dan bertengkar dengan kedua pelayan itu. Namun, majikannya terus berjalan dengan tenang, tanpa sedikit pun niat untuk menoleh.

"Nyonya..."

"Biarkan saja." kata Lin Xiao. "Biarkan mereka bicara."

Qingxing menahan amarahnya hingga mereka kembali ke Halaman Timur. Baru setelah masuk, ia mengembuskan napas panjang.

"Membuatku marah sekali! Mereka jelas-jelas tidak tahu apa pun..."

"Mereka tidak perlu tahu." Lin Xiao melepas pakaian luarnya dan menggantungnya. "Dulu aku adalah 'wanita beracun'. Sekarang aku menjadi 'monster'. Bagaimanapun, mereka selalu membutuhkan alasan untuk menjelaskan kenapa aku berbeda dari sebelumnya."

Ia duduk di dekat jendela dan memandangi pohon begonia di halaman.

"Sebenarnya, apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah."

Qingxing tertegun.

"Apa maksud Nyonya?"

"Aku memang berbeda dari sebelumnya." Lin Xiao memandang keluar jendela. "Shen Qingyue yang dulu tidak akan tersenyum dan berbicara dengan orang lain, tidak akan menatap orang secara langsung, dan tidak akan membawa kue osmanthus kepada Nyonya Tua. Sekarang aku melakukan semua itu. Wajar kalau mereka merasa aneh."

Ia menoleh dan memandang Qingxing.

"Tapi aneh bukan berarti monster. Aneh hanya berarti mereka belum pernah melihatnya."

Qingxing berdiri di ambang pintu, menatap majikannya yang begitu tenang. Tiba-tiba hidungnya terasa perih.

"Nyonya... memang benar Nyonya berbeda dari sebelumnya. Tapi menurutku... perubahan ini sangat baik."

Lin Xiao melihat ekspresinya yang hampir menangis dan tersenyum.

"Sudahlah, jangan berdiri di sana. Pergi ambil buku catatan kemarin. Masih ada beberapa halaman yang belum kubaca."

Qingxing menjawab pelan dan berbalik mengambil buku itu. Namun, tepat di depan pintu, ia berhenti.

"Nyonya."

"Hm?"

"Jangan khawatir." kata Qingxing. "Apa pun yang orang luar katakan, aku tidak akan pernah percaya bahwa Nyonya adalah monster."

Lin Xiao terdiam sesaat, lalu tersenyum.

"Aku tahu."

Angin dari luar jendela berembus masuk, meniup lembaran kertas yang sudah ditulisi setengah penuh. Ujung kertas itu terangkat, memperlihatkan satu baris tulisan kecil:

"Seluruh keluarga Marquis mengatakan aku monster. Kalau begitu, biarkan saja mereka bicara. Monster tidak memakan manusia. Monster memakan pelajaran."

*

Angin mulai bertiup kencang pada malam hari.

Jendela Halaman Timur tidak tertutup rapat. Angin menyelinap masuk melalui celah-celahnya, membuat lembaran-lembaran kertas di atas meja berdesir. Lin Xiao sedang duduk di bawah lampu sambil memeriksa buku catatan ketika suara itu membuatnya mengangkat kepala. Ia melihat daun jendela bergoyang pelan diterpa angin, sementara cahaya bulan menembus celah papan kayu dan membentuk bayangan panjang di lantai.

Ia bangkit untuk menutup jendela. Namun, baru saja tangannya menyentuh bingkai jendela, sudut matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang bergerak di halaman.

Bukan angin.

Melainkan bayangan seseorang yang menyusuri tembok Halaman Timur sambil membungkukkan badan dan bergerak cepat.

Gerakan orang itu sangat ringan. Kakinya nyaris tidak menimbulkan suara di atas batu-batu halaman, seperti seekor kucing yang berkeliaran di malam hari. Lin Xiao tidak dapat melihat wajahnya. Dari posturnya, ia hanya bisa menebak bahwa orang itu bertubuh kecil dan kurus, mengenakan pakaian gelap yang hampir menyatu dengan malam.

Sosok itu berhenti di sudut tembok belakang Halaman Timur, membungkuk seolah meletakkan sesuatu di tanah, lalu berdiri dan pergi melalui jalan yang sama.

Seluruh proses itu bahkan tidak memakan waktu setengah menit.

Lin Xiao berdiri di depan jendela, tangannya masih bertumpu pada daun jendela, tanpa bergerak sedikit pun.

Ia tidak berteriak memanggil orang, tidak membuka pintu untuk mengejar, bahkan tidak mengeluarkan suara apa pun.

Ia hanya berdiri di sana, memandangi bayangan itu menghilang di balik tembok belakang, lalu perlahan menutup jendela, memasang palang, dan kembali ke meja.

Qingxing sedang merapikan tempat tidur di ruangan luar. Mendengar suara jendela ditutup, ia menjulurkan kepala.

"Nyonya? Nyonya belum tidur?"

"Hm. Anginnya kencang, aku hanya menutup jendela." Lin Xiao kembali duduk. "Qingxing, kemarilah sebentar."

Qingxing masuk dengan mantel tipis di bahunya sambil mengucek mata.

"Nyonya belum beristirahat? Sudah lewat tengah malam..."

"Besok pagi, pergilah ke dekat tembok belakang dan lihat apakah ada sesuatu di sana."

Qingxing tertegun.

"Sesuatu apa?"

"Tidak tahu." jawab Lin Xiao. "Pokoknya lihat saja. Kalau ada hal yang berbeda, bawa kembali."

Meski penuh tanda tanya, Qingxing melihat ekspresi Lin Xiao yang tenang dan tidak tampak bercanda. Ia pun mengangguk patuh sebelum kembali tidur.

Lin Xiao duduk sendirian di bawah lampu dan kembali membuka buku catatan.

Tidak ada masalah pada angka-angka di dalamnya. Semua pengeluaran tercatat dengan jelas. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa janggal.

Enam bulan lalu, Halaman Timur memiliki pengeluaran cukup besar dengan keterangan "perbaikan tembok belakang" yang menghabiskan lima tael perak.

Namun sore tadi, Lin Xiao telah berjalan mengitari halaman belakang. Tembok itu terlihat sama seperti tembok-tembok lainnya. Tidak ada jejak bata baru atau bekas perbaikan.

Lima tael perak cukup untuk menghidupi keluarga biasa selama setengah tahun.

Tetapi tembok itu tampak tidak memiliki satu bata baru pun.

Ia menutup buku catatan, memadamkan lampu, lalu berbaring.

Dalam kegelapan, ia memandangi balok kayu di langit-langit sambil menyusun kembali kejadian beberapa hari terakhir di kepalanya.

Seseorang meracuni makanan Selir Zhou untuk menyebabkan keguguran.

Seseorang mencampurkan sesuatu ke obat Shen Qingyue selama tiga tahun hingga membuat tubuhnya terus melemah.

Seseorang mengirim semangkuk bubur sarang burung atas nama Nyonya Tua kepada Selir Zhou.

Dan malam ini, seseorang meletakkan sesuatu di dekat tembok belakang Halaman Timur.

Semua kejadian itu kemungkinan besar terhubung oleh satu benang yang sama.

Lin Xiao membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata.

Besok, semuanya akan mulai terungkap.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!