Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JIWA BARU
Rasa dingin yang merasuk hingga ke tulang adalah hal pertama yang dirasakan oleh Easter.
"Sialan! Kenapa neraka sedingin ini," batin Ester.
Ester adalah seorang pengacara, yang memiliki karir bagus, dia di bunuh saat menangani kasus salah satu kliennya.
Di atas permukaan air, bayangan remang malam memperlihatkan dua sosok yang berdiri saling merapat di tepi dermaga kayu.
"Apa dia benar-benar sudah mati, Pangeran?" suara seorang wanita terdengar bergetar, berpura-pura cemas.
"Tentu saja, Elisabeth, si bodoh itu sudah tenggelam lebih dari sepuluh menit. Tidak ada manusia yang bisa bertahan di dasar Danau dalam suhu seperti ini," jawab Pangeran Luis Caliber dengan nada penuh keangkuhan.
"Lagipula, besok seluruh kekaisaran hanya akan tahu bahwa Lady Aura Luminar bunuh diri karena stres menanggung beban statusnya sebagai calon permaisuriku," lanjut Pangeran Luis, tersenyum miring.
Suara tawa pelan dan remeh mengudara, diikuti langkah kaki kedua orang itu yang perlahan menjauh dari area danau.
Di dalam air, sepasang mata mendadak terbuka lebar, iris matanya yang semula redup kini berkilat tajam, dingin, pekat, dan tak menyisakan kepolosan milik Aura Luminar yang lama.
Memori milik pemilik tubuh asli berhamburan masuk, membuat sang pengacara genius itu langsung paham situasi yang sedang terjadi saat ini.
Ester tidak pergi ke neraka, tapi dia kini hidup kembali di tubuh seorang gadis bodoh yang baru saja di bunuh oleh tunangan nya sendiri.
Aura Luminar, gadis naif, putri tunggal dari Duke Luminar, dijebak, didorong hingga tenggelam oleh tunangannya sendiri, bersama selingkuhan nya.
"Cih! Benar-benar gadis bodoh," batin Ester berdecih sinis.
Sebagai wanita yang terbiasa hidup keras di dunia modern, mati konyol akibat cinta buta sama sekali tidak ada dalam kamusnya.
Jika tubuh ini diberikan kesempatan kedua, maka orang-orang yang membunuhnya harus membayar harganya sampai tuntas.
Secara perlahan, Ester, atau yang kini sudah menjadi Aura Luminar, dia berenang menuju tepi danau.
Tangan pucatnya mencengkeram rumput basah, menarik tubuhnya yang dingin naik ke daratan.
Dia duduk bersandar di bawah rindangnya pohon, mengabaikan gaun mewahnya yang basah kuyup, jemari lentiknya meremas helai rambutnya yang basah sembari menyusun ingatan tentang struktur kekaisaran ini.
"Luis Caliber... Elisabeth Velis..." gumam Aura lirih.
Suara Aura terdengar serak, namun bibirnya melengkungkan senyum tipis yang amat berbahaya di balik kegelapan malam.
"Nikmati kemenangan singkat kalian, sebelum aku hancurkan kalian berdua, seperti yang kalian lakukan pada pemilik tubuh ini," gumam Aura, tersenyum dingin.
Untuk meruntuhkan posisi tunangan nya dan wanita simpanannya, membalas dendam secara terang-terangan hanya akan membuang energi, dia butuh pelindung sekaligus senjata yang paling mematikan di kekaisaran ini.
Seseorang yang posisinya berada di atas Luis.
Satu nama muncul di kepalanya, Kaisar Zane Caliber.
Pria dingin, gila kerja, dan tidak tersentuh yang memegang kendali penuh atas takhta dan seluruh militer kekaisaran.
Pria yang membuat posisi Permaisuri kosong bertahun-tahun karena tidak pernah tertarik pada wanita mana pun, bahkan wanita yang sudah melahirkan Pangeran Luis, tidak mendapatkan status apapun di istana.
Aura mendongak menatap langit malam, tiga hari lagi adalah Perayaan Ulang Tahun Kaisar Zane, acara paling megah di mana seluruh bangsawan akan berkumpul, termasuk Luis dan Elisabeth yang pasti akan memamerkan kedekatan mereka di atas kematian Aura.
Itu adalah panggung yang sempurna.
"Tunggu aku di acara ulang tahunmu, Yang Mulia Kaisar," bisik Aura dingin sembari bangkit berdiri, melangkah menembus kegelapan malam untuk mempersiapkan kejutan terbesarnya.
Sementara itu di kediaman Duke Luminar, seorang wanita paruh baya sedang menangis, saat mendengar laporan dari pelayanan pribadi Putri nya.
"CARI PUTRI KU SAMPAI KETEMU! JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN WAJAH KALIAN SEBELUM PUTRI KU DI TEMUKAN!"
Bentak Duke Daren Luminar, dengan amarah yang meluap-luap.
"B-baik Duke!" jawab para prajurit langsung berlari pergi.
"Daren ku mohon, bawa Aura pulang, aku sangat menghawatirkan nya," ucap Duches Clara.
Duke Daren berusaha meredam emosi nya, dan menenangkan istri nya.
"Tenang lah sayang, aku bersumpah kalau sampai hal buruk terjadi dengan Aura, aku sendiri yang akan membunuh pria bajingan itu, tidak perduli walaupun dia seorang Pangeran," ucap Duke Daren, mengeram rendah.
Sebenarnya Daren dari awal memang tidak setuju dengan pertunangan putri nya dengan Pangeran Luis, kalau bukan karena putri nya memaksa dirinya, untuk menyetujui pertunangan itu, tidak akan pernah Daren biarkan putri nya bertunangan dengan Pangeran Luis.
Tidak jauh dari sana, Sora, pelayan pribadi Aura, tampak lebih menundukkan kepalanya, sambil terus meremas kedua tangan nya.
"Seharusnya tadi aku tidak membiarkan Nona Aura pergi sendiri untuk menemui Pangeran Luis," batin Sora menyesal.
Karena semua orang terlalu fokus dan takut dengan kemarahan sang Duke, sampai-sampai mereka tidak menyadari, bahwa Aura sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan basah kuyup dan bibir pucat nya karena kedinginan.
"Rupanya pemilik tubuh ini benar-benar disayang oleh keluarganya," gumam Aura pelan.
Sebagai Ester yang dulunya tumbuh tanpa kemewahan dan harus berjuang keras sendirian di dunia hukum yang kejam, melihat kepanikan Duke Daren dan Duchess Clara memberi rasa hangat yang asing di dadanya.
"Sayang sekali, Aura yang dulu terlalu buta karena cinta sampai tidak sadar punya keluarga se sayang ini," bisik Aura lagi. Bibirnya melengkung tipis.
"NONA AURA!"
Teriak salah satu pelayan yang menyadari keberadaan Nona muda nya.
Sontak saja teriakan pelayan itu membuat suasana ruang utama yang tadinya tegang dan penuh kepanikan langsung mendadak hening seketika.
Duke Daren, Duchess Clara, dan Sora secara bersamaan memutar tubuh mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk.
"Aura?!"
Pekik Duchess Clara histeris melihat putri nya.
Tanpa membuang waktu, sang Duchess langsung berlari mendekati putrinya dan memeluk tubuh Aura yang terasa sangat dingin.
"Astaga, Nak! Kamu dari mana saja?! Kenapa tubuhmu basah kuyup seperti ini?!" cecar Duchess Clara dengan air mata yang menetes deras di pipinya, tangan gemetarnya terus mengusap wajah pucat Aura.
Aura sempat membeku sejenak saat merasakan pelukan hangat yang begitu tulus. Rasa asing sekaligus haru menyelimuti dadanya yang tertutup jiwa baru Ester.
"Aku tidak apa-apa, Ibu," ucap Aura dengan suara pelan dan sedikit serak.
"Tidak apa-apa bagaimana?!" bentak Duke Daren yang ikut mendekat dengan raut wajah sangat cemas bercampur emosi.
"Tubuhmu dingin sekali, Aura! Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?! Pelayan mu bilang kamu pergi menemui Pangeran Luis! Tapi kenapa kamu pulang seperti ini! Jawab Ayah, apa yang sebenarnya terjadi!?"bentak Duke Daren, marah dan juga khawatir.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛