Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Panas, Heels, dan Secangkir Kopi
Makan siang di ruang eksekutif Samudra baru saja berakhir. Sarah sedang merapikan piring dan gelas di atas meja, namun Samudra mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar ia berhenti.
“Biarkan Marco yang membereskannya nanti,” ucap Samudra, berdiri dan meraih jas hitamnya. “Kita ada jadwal meeting di lapangan. Proyek pembangunan gedung baru di kawasan Porta Nuova. Kamu harus ikut.”
Sarah mengerutkan kening. “Pak, saya baru saja kembali bekerja. Apa tidak sebaiknya Felix atau Marco yang menemani Bapak? Saya masih harus menyelesaikan proposal Jerman itu.”
“Proposal Jerman bisa menunggu sampai besok,” potong Samudra tegas. “Kamu adalah asisten pribadiku, dan proyek ini butuh laporan dari sudut pandang kamu. Selain itu, kamu juga perlu keluar kantor, menghirup udara segar. Terlalu lama duduk di depan laptop tidak baik untuk kehamilanmu.”
Sarah menghela napas. Bosnya ini memang tidak bisa dibantah jika sudah mengambil keputusan. Ia pun mengangguk dan mengambil tas kecilnya.
“Baik, Pak. Saya siap.”
Di luar ruangan, Marco sudah bersiap dengan setumpuk dokumen dan tablet di tangannya. Marco yang masih muda dan enerjik itu tersenyum lebar saat melihat Sarah keluar.
“Ayo, Sar! Hari ini kita jalan-jalan ke lapangan, sekalian lihat kemajuan proyek. Kabarnya struktur baja sudah berdiri setinggi 10 lantai,” ujar Marco bersemangat.
Mereka bertiga pun keluar gedung kantor. Sebuah mobil SUV hitam mewah sudah menunggu di depan. Sesuai kebiasaan Samudra, ia membuka pintu belakang dan memberi isyarat pada Sarah untuk masuk lebih dulu.
“Duduk di belakang,” perintah Samudra singkat.
Sarah menurut. Ia meluncur masuk ke kursi belakang yang luas dan empuk. Samudra segera mengikutinya, duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup dekat. Sedangkan Marco, tanpa banyak cakap, langsung masuk ke kursi pengemudi.
“Bos, kita langsung ke Porta Nuova ya?” tanya Marco sambil memasang sabuk pengaman.
“Iya, jalan yang paling cepat,” jawab Samudra.
Mobil pun melaju meninggalkan kantor. Di kursi belakang, suasana terasa cukup hening. Sarah membuka tabletnya dan mulai mengetik beberapa catatan terkait proyek yang akan mereka tinjau. Samudra di sampingnya juga membuka laptop, fokus membaca email masuk dari cabang Jerman. Sesekali, aroma parfum Samudra yang maskulin tercium oleh Sarah, membuatnya sedikit tidak fokus.
Perjalanan menuju lokasi proyek memakan waktu sekitar 20 menit. Sepanjang jalan, Marco sesekali bercerita tentang detail proyek melalui kaca spion tengah, sementara Sarah mencatat poin-poin penting.
Setibanya di lokasi pembangunan, pemandangan langsung menyuguhkan bangunan megah yang masih dalam tahap konstruksi. Kerangka baja menjulang tinggi, dikelilingi oleh para pekerja yang mengenakan helm kuning dan rompi reflektif. Suara mesin bor dan palu besi bergema di udara.
Seorang pria berkulit sawo matang dengan kemeja kerja lengan panjang dan helm putih mendekati mereka. Ia adalah Pak Giorgio, ketua proyek lapangan yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun.
“Selamat siang, Signor Grayson!” sapa Giorgio dengan suara lantang. “Senang Bapak bisa datang langsung melihat perkembangan proyek.”
“Bagaimana progresnya, Giorgio?” tanya Samudra, langsung memasuki mode bisnis.
Mereka pun berjalan mengelilingi area konstruksi. Giorgio menjelaskan tentang struktur bangunan, sistem ventilasi, dan perkiraan waktu selesai. Samudra mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan teknis yang tajam. Marco sibuk mencatat setiap detail dengan tabletnya, sedangkan Sarah berdiri sedikit di belakang Samudra, sesekali melirik ke arah bangunan yang menjulang tinggi.
Cuaca di Milan saat itu sangat terik. Meskipun sudah memasuki musim panas, suhu udara di lapangan terasa membakar. Ditambah lagi, area konstruksi adalah lahan terbuka tanpa pohon pelindung. Matahari bersinar sangat menyengat, membuat keringat mulai membasahi dahi Sarah.
Sarah mengerutkan kening. Ia mulai merasakan ketidaknyamanan. Kakinya mulai pegal. Masalahnya adalah, karena ia berangkat dengan tergesa-gesa tadi pagi, ia tidak sempat berganti sepatu. Ia masih mengenakan sepatu hak tinggi (heels) setinggi 7 sentimeter, yang biasa ia pakai untuk ke kantor.
Berjalan di atas tanah konstruksi yang tidak rata dengan heels adalah sebuah siksaan. Kaki Sarah terasa seperti tertusuk jarum. Ia mencoba menggeser berat badannya, berusaha terlihat tegar, tapi langkahnya mulai sedikit tertatih.
Samudra, yang sedang mendengarkan penjelasan Giorgio tentang sistem drainase, melirik ke arah Sarah. Matanya tajam. Ia melihat kerutan di dahi Sarah, dan cara wanita itu menggeser kakinya di atas tanah berbatu.
Samudra memotong pembicaraan Giorgio. “Giorgio, sebentar. Kita bisa lanjutkan setelah ini.”
Ia berbalik dan mendekati Sarah. “Kamu kepanasan?”
Sarah tersenyum memaksakan diri. “Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma agak lelah aja.”
Samudra menatap turun ke kaki Sarah. Ia melihat heels itu, lalu menatap wajah Sarah yang mulai berkeringat. “Kamu pakai heels ke lapangan konstruksi?” tanyanya, nada suaranya sedikit meninggi.
“Maaf, Pak. Saya buru-buru tadi pagi,” jawab Sarah pelan.
Samudra menghela napas panjang. “Rasanya tidak nyaman, kan?”
Sarah tidak menjawab. Tapi tatapan matanya sudah cukup menjawab. Samudra mengalihkan pandangannya ke seberang jalan. Di sana, terlihat sebuah kafe kecil dengan tenda berwarna merah putih.
“Kamu haus. Lihat kafe di seberang itu,” kata Samudra menunjuk. “Pergi ke sana, beli kopi atau air mineral. Istirahat dulu. Kamu bisa duduk di kafe itu sampai kita selesai.”
Sarah menatap kafe itu. Jujur, ia sangat ingin menghilangkan rasa panas dan lelahnya. Namun, ia masih merasa ragu.
“Tapi Pak, meeting proyeknya... saya tinggalkan Bapak?” tanya Sarah.
“Marco bisa mencatat sisanya. Kau sudah cukup mendapat informasi awal,” jawab Samudra tegas. “Aku tidak mau kamu pingsan di sini. Pergilah. Jangan buru-buru. Santai saja di kafe itu.”
Sarah pun mengangguk. “Baik, Pak. Terima kasih.”
Sarah berjalan perlahan menyeberangi jalan dengan hati-hati. Kafe itu bernama “Caffè del Sole”. Suasana di dalamnya sejuk berkat AC yang menyala. Sarah memesan segelas cappuccino hangat dan sebotol air mineral. Ia memilih meja di dekat jendela, duduk, dan melepas heels-nya di bawah meja. Kakinya terasa sangat lega.
Ia meminum kopinya perlahan, menatap ke luar jendela. Dari sana, ia bisa melihat Samudra dan Marco yang masih berdiskusi dengan Giorgio di lapangan. Samudra berjalan tegap, menunjukkan karisma sebagai pemimpin proyek. Sesekali, Samudra menunjuk ke arah kafe, seolah memastikan Sarah masih di sana.
Sarah tersenyum sendiri. Dia benar-benar peduli, pikirnya. Aneh. Kenapa pria ini... membuatku merasa begitu istimewa?
Di luar, Samudra berjalan menyusuri area konstruksi. Marco menghampirinya dan berbisik pelan.
“Bos, Sarah kelihatannya agak lemas. Sepatunya kurang pas untuk area ini,” kata Marco.
“Aku sudah menyuruhnya istirahat,” jawab Samudra.
Marco tersenyum miring. “Bos peduli banget sama Sarah, ya. Padahal ini hanya kontrak.”
Samudra menatap Marco tajam. “Jangan ngomong sembarangan, Marco.”
Marco mengangkat kedua tangannya. “Saya cuma bilang fakta, Bos.”
Samudra tidak menjawab. Ia kembali fokus pada penjelasan Giorgio, tapi matanya sesekali melirik ke arah kafe. Di balik jendela kaca, ia bisa melihat siluet Sarah yang sedang menyeruput kopinya dengan tenang. Melihat Sarah terlihat lebih rileks, Samudra merasa ada sedikit kelegaan di dadanya.
Satu jam kemudian, meeting lapangan selesai. Samudra dan Marco kembali menyeberangi jalan menuju kafe. Sarah sudah berdiri, memakai kembali heels-nya, dan sudah siap di depan pintu kafe.
“Bagaimana, Pak? Sudah selesai?” tanya Sarah.
“Selesai. Proyek berjalan sesuai rencana,” jawab Samudra. Ia melirik gelas kopi di meja Sarah yang sudah kosong, lalu ia meraih botol air mineral baru dari rak display kafe, membayarnya, lalu menyerahkannya pada Sarah. “Ini buat perjalanan pulang. Minum yang banyak. Kamu harus tetap terhidrasi.”
Sarah memandangi botol air itu, lalu menatap Samudra. Ada senyuman yang tidak bisa ia tahan lagi. “Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar... perhatian.”
Samudra mengalihkan pandangan. “Ini kewajibanku.”
Mereka bertiga kembali ke mobil. Kembali, Marco mengambil kursi pengemudi, sedangkan Samudra dan Sarah duduk di kursi belakang. Sarah membuka tabletnya, berniat mengetik laporan perjalanan, tapi tangannya berhenti. Udara di dalam mobil terasa sejuk. Samudra di sebelahnya sedang membaca email, namun sesekali ia menatap Sarah dari balik layar laptop.
Sarah pura-pura sibuk mengetik di tablet, tapi hatinya berdegup kencang. Ia merasakan tatapan Samudra. Tatapan yang tidak lagi dingin, tapi hangat.
Kewajiban? batin Sarah. Apakah ini benar-benar hanya kewajiban? Atau ada yang lebih?
Sarah memegangi botol air yang diberikan Samudra. Ada rasa hangat yang menjalar dari telapak tangannya hingga ke jantung. Dan di dalam hati kecilnya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Bagaimana jika cinta ini tumbuh melebihi kontrak? Bagaimana jika aku tidak bisa lagi hanya menjadi 'pemilik rahim' untuknya?
Sarah menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri. Namun, aroma samar parfum Samudra yang masih tertinggal di dalam mobil, dan hembusan napasnya yang tenang di dekat telinganya, membuat pertanyaan itu semakin sulit untuk diabaikan.