"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 37: Tameng Suci di Atas Dosa yang Tersembunyi
Tameng Suci di Atas Dosa yang Tersembunyi
Sore itu, hujan turun dengan derasnya, membungkus kota dengan kabut kelabu yang dingin. Raka sedang berada di apartemennya, duduk di sofa sambil menatap kosong ke arah layar televisi yang tidak menyala. Pikirannya tidak di sini. Pikirannya masih tertinggal di bahunya—di tempat Arum menyandarkan kepalanya semalam di rumah sakit. Aroma vanila itu seolah sudah meresap ke dalam pori-pori kain kaosnya, bahkan setelah dicuci sekalipun.
Tok, tok, tok.
Pintu diketuk. Raka bangkit dengan lesu. Begitu pintu terbuka, sosok Bella berdiri di sana dengan pakaian yang... sangat tidak biasa. Bella mengenakan dress tidur berbahan sutra tipis berwarna merah marun, dibalut dengan trench coat panjang yang sengaja dibiarkan terbuka. Rambutnya yang biasanya dikuncir rapi kini dibiarkan terurai berantakan, dan aroma parfumnya sangat menyengat.
"Bel? Kamu ngapain ke sini hujan-hujan begini?" tanya Raka kaget.
Bella tidak menjawab. Dia langsung masuk, menutup pintu dengan kakinya, dan melempar tasnya ke lantai. Dia berjalan mendekat ke arah Raka, merangkul leher pria itu dengan sangat posesif.
"Aku kangen, Rak. Aku ngerasa kamu makin jauh sejak kejadian Siska pingsan," bisik Bella, suaranya sengaja dibuat parau. Dia mulai memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis rahang Raka, mencoba memancing gairah yang dia rasa sedang mati suri.
"Bel, kamu basah... nanti masuk angin," ucap Raka kaku. Dia mencoba melepaskan rangkulan Bella, tapi Bella justru semakin erat memeluknya.
"Kalau dingin, ya angetin dong, Sayang..." Bella mulai membuka trench coat-nya, membiarkan gaun sutra tipisnya terlihat jelas di bawah lampu remang-remang ruang tamu. Gaun itu sangat pendek, memperlihatkan paha mulusnya yang sengaja dia gesekkan ke paha Raka.
Bella mulai berani. Tangannya merayap masuk ke balik kaos Raka, mengusap perut pria itu dengan gerakan yang sangat provokatif. Dia menempelkan tubuhnya sepenuhnya ke tubuh Raka, membuat Raka bisa merasakan setiap lekukan tubuh Bella.
"Rak... eumhhh... kamu nggak mau?" bisik Bella di telinga Raka, jemarinya mulai bermain di area sensitif Raka melalui kain celananya.
Raka memejamkan mata rapat-rapat. Secara fisik, tubuhnya memberikan reaksi—pria mana yang tidak bereaksi jika digoda sedemikian rupa? Tapi di dalam kepalanya, suara desahan Arum saat VCS dan beratnya kepala Arum di bahunya justru menjadi tembok besar yang menghalangi. Setiap kali Bella menciumnya, Raka justru merasa mual karena merasa sedang "mengkhianati" bayangan Arum.
"Berhenti, Bel," ucap Raka tiba-tiba sambil memegang tangan Bella yang sudah hampir mencapai batas.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" Bella menatap Raka dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena kecewa.
Raka menarik napas panjang, sebuah desahan "ahhhh..." yang terdengar sangat berat. Dia memegang kedua bahu Bella, menatap mata gadis itu dengan ekspresi yang sangat serius—ekspresi yang dia gunakan sebagai topeng.
"Bella, dengerin aku. Kamu itu perempuan baik-baik. Aku sayang banget sama kamu, dan justru karena aku sayang, aku nggak mau ngerusak kamu sebelum kita sah," ucap Raka dengan nada yang sangat bijak, seolah-olah dia adalah pria paling suci di dunia.
Bella tertegun. "Maksud kamu?"
"Aku nggak mau kita kebablasan. Aku nggak mau kesucian kamu hilang cuma karena nafsu sesaat di apartemen ini. Aku ingin menjaga kamu, Bel. Aku takut terjadi apa-apa, takut kita khilaf dan kamu yang bakal nanggung ruginya nanti," lanjut Raka. Dia mengusap pipi Bella dengan lembut, tapi matanya dingin. "Aku ingin malam pertama kita nanti bener-bener spesial, bukan di tempat seperti ini dan dalam kondisi sembunyi-sembunyi."
Bella terdiam. Kata-kata Raka terdengar sangat puitis, sangat protektif, dan sangat menghargai perempuan. Siapa pun wanita yang mendengarnya pasti akan merasa sangat dicintai.
"Tapi Rak... aku rela kok, asal itu sama kamu," bisik Bella lemah.
"Nggak, Bel. Aku nggak rela," tegas Raka. "Aku adalah laki-laki yang harus bertanggung jawab jagain kamu, bukan ngerusak kamu. Sekarang, kamu pakai baju kamu lagi, aku anter kamu pulang."
Bella akhirnya menyerah. Dia memakai kembali trench coat-nya dengan wajah yang tertunduk lesu. Dia merasa gagal sebagai penggoda, tapi di sisi lain, dia merasa bangga memiliki pacar se-suci dan se-bijak Raka.
"Kamu bener-bener cowok langka, Rak. Makasih ya udah jagain aku," ucap Bella sambil memeluk Raka singkat sebelum mereka keluar.
Raka hanya mengangguk kaku. Saat dia berjalan di belakang Bella menuju parkiran, Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di dalam hatinya, dia ingin berteriak. Dia merasa seperti munafik paling besar di dunia.
Aku bukannya mau jagain kesucian kamu, Bel, batin Raka dengan pahit. Aku cuma nggak bisa... aku nggak bisa ngelakuin ini sama kamu, karena setiap kali aku tutup mata, yang aku liat cuma Arum. Bayangan dia lebih bikin aku 'basah' daripada semua sentuhan kamu malam ini.
Raka merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia menggunakan tameng "moralitas" untuk menutupi kenyataan bahwa jiwanya sudah benar-benar terjual pada adik ipar sahabatnya sendiri. Dan saat dia masuk ke dalam mobil, diam-diam dia mengecek ponselnya, berharap ada satu notifikasi dari Arum—hanya satu, untuk meredakan rasa haus yang sebenarnya hanya bisa dipadamkan oleh wanita "beracun" itu.
jngan y thor