“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Lah bisa gitu
Fajar baru saja menyingsing ketika perahu nelayan Beni yang hancur lebur akhirnya menabrak tepian dermaga sunyi Desa Kerang Biru dengan benturan yang cukup keras.
BRAK!
Sisa-sisa lambung kapal yang bocor mengeluarkan suara derit terakhirnya sebelum mesin perahu itu mati total, benar-benar mati suri akibat dipaksa berjalan dalam kondisi sekarat.
Beni menghela napas berat, menatap perahunya yang kini tak ubahnya seperti rongsokan kayu terapung. Amarahnya kepada makhluk yang meringkuk di dalam jaring sutra di sudut dek masih membara.
"Turun kau, beban keuangan!" bentak Beni ketus sambil menyentak ujung jaring laba-laba mistis tersebut.
Namun, tepat saat jaring itu ditarik dan tubuh sang duyung menyentuh pasir pantai yang kering di luar batas air laut, sebuah fenomena spiritual yang aneh terjadi.
Sisik-sisik pelangi yang membungkus ekor raksasanya tiba-tiba bergetar hebat, memancarkan cahaya ungu yang menyilaukan mata selama beberapa detik.
Beni terpaksa menutup matanya dengan lengan karena silau. Ketika cahaya itu meredup, Beni membuka mata dan langsung tertegun di tempat. Sepasang matanya melotot, hampir saja melompat keluar dari rongganya.
Ekor ikan yang indah itu telah lenyap. Sebagai gantinya, sepasang kaki manusia yang jenjang, putih, dan mulus kini terbentang di atas pasir.
Tidak hanya itu, rambut biru samudra yang awalnya basah merayap di tubuhnya pun perlahan berubah warna secara magis menjadi hitam legam sepekat malam, kontras dengan kulit porselennya.
Dan yang paling membuat Beni salah fokus adalah... wanita duyung yang kini sepenuhnya berubah menjadi wujud manusia fana itu sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Hah?! Kok bisa berubah jadi manusia?!" Beni berseru kaget, refleks memalingkan wajahnya ke arah lain dengan canggung, meskipun sudut matanya masih sempat melirik.
Sentuhan pasir kering dan hilangnya energi laut mendadak membuat wanita duyung itu tersentak bangun. Ia mengerjapkan matanya yang kini berwarna hitam arang, menatap sekeliling dengan pandangan linglung yang berubah menjadi kepanikan mutlak dalam hitungan detik.
"K-Kaki?! Di mana ekor pelangiku yang cantik?!" pekiknya dengan suara melengking tinggi, menepuk-nepuk kedua paha mulusnya sendiri dengan histeris. Ia mencoba berdiri, namun karena belum terbiasa dengan struktur anatomi kaki manusia, ia langsung jatuh tersungkur ke pasir. BRUK!
"Aduh! Sakit! Tempat apa ini?! Kenapa udaranya begitu kering dan menjijikkan?!" Wanita itu mulai berteriak-teriak histeris, menatap langit fana dan deretan rumah kayu desa di kejauhan dengan tatapan ngeri. "Hei, manusia kasar! Di mana kau membawaku?! Kembalikan aku ke laut! Aku tidak bisa bernapas dengan benar di tempat terkutuk ini! Tolong! Ada penculikan makhluk mistis!"
Beni yang awalnya sempat canggung melihat tubuh tanpa busana wanita itu, mendadak menghentikan kepanikan moralnya setelah mendengar teriakan menjengkelkan tersebut. Penjelasan sistem langsung berputar di benaknya.
DING!
[Informasi Tambahan: Ras Duyung Jahil memiliki kemampuan adaptasi terbalik. Jika dipaksa berada di daratan kering dalam waktu lama, energi spiritual laut mereka akan mengental dan mengubah mereka menjadi wujud fana sepenuhnya hingga mereka kembali ke dalam air laut spiritual.]
Membaca penjelasan itu, perlahan-lahan ekspresi wajah Beni yang tadinya masam dan penuh kejengkelan mulai berubah.
Sudut bibirnya berkedut, lalu perlahan naik membentuk sebuah seringai lebar yang sangat licik. Sepasang matanya berbinar-binar penuh kelicikan, menatap wanita duyung yang masih sibuk berteriak-teriak meratapi nasibnya di atas pasir.
"Pfft... Hahaha! HAHAHAHA!"