Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran dan Amukan Boneka Hidup
Hujan di luar semakin menderu, menciptakan dinding suara yang mengisolasi kamar Rebecca dari dunia luar. Di dalam ruangan beraroma cendana itu, atmosfer yang semula hangat berangsur-angsur berubah menjadi medan perang mini. Lembar kerja fisika di hadapan mereka kini dipenuhi coretan rumus mekanika kuantum dasar dan efek fotolistrikmateri berikutnya yang ternyata menjadi batu sandungan besar bagi otak Rebecca.
Rebecca menatap deretan angka dan variabel $E \= h \cdot f$ dengan dahi berkerut dalam. Poni see-through -nya tampak berantakan karena sejak tadi ia remas dengan frustrasi. Sementara itu, Naufal sudah memijat pelipisnya sendiri, napasnya berembus berat, menjadi tanda nyata bahwa cadangan kesabarannya sebagai tutor dadakan sudah menipis di batas ambang.
"Aku tidak paham, Mas! Kenapa energi foton bisa langsung berubah kalau frekuensi cahayanya diganti? Bukankah intensitas cahayanya yang harusnya berpengaruh?" Rebecca menuntut, menyodorkan buku tulisnya tepat di depan hidung Naufal dengan sepasang mata abu-abu langkanya yang melebar protes.
Naufal menghela napas kasar, merebut pulpen dari tangan adiknya. "Dengarkan aku baik-baik, Kyla Rebecca. Ini kuantum, bukan fisika klasik! Cahaya di sini dianggap sebagai paket energi atau partikel, namanya foton. Satu foton hanya berinteraksi dengan satu elektron. Jadi, mau secerah apa pun lampumu, kalau frekuensinya tidak cukup, elektronnya tidak akan lepas! Paham tidak?"
"Tidak! Ulangi lagi dari bagian fungsi kerja logamnya! Kenapa harus dikurangi $W_0$ lagi? Kau menjelaskannya terlalu cepat, Mas Naufal!"
"Astaga, Re! Ini sudah kelima kalinya aku mengulang bagian yang sama sejak sepuluh menit lalu! Otak bonekamu ini beneran macet atau sengaja mengerjaiku, sih?" Naufal mulai meninggikan suaranya, memosisikan badannya tegak dengan otot lengan yang menegang frustrasi.
"Aku tidak mengerjaimu! Kau saja yang tidak becus mengajar! Nilai fisikaku turun juga karena penjelasanmu yang berbelit - belit seperti benang kusut! Ulangi lagi dari awal, sekarang!" balas Rebecca tidak mau kalah. Bibir ombre alaminya maju beberapa sentimeter, mengerucut kesal dengan pipi putihnya yang merona merah akibat emosi.
"Tidak ada ulangan! Baca sendiri, catat sendiri! Aku lelah, Re. Ototku lelah setelah latihan sore tadi, dan sekarang otakku harus diperas menghadapi kepolosanmu yang tidak ketolongan ini!" Naufal mendengus, melempar pulpen gel itu ke atas kasur dan melipat tangannya, memalingkan wajah dengan ketus.
Rebecca mendengus keras. Kecewa, kesal, dan gemas bercampur menjadi satu. Tanpa aba - aba, ia meraih sebuah boneka capybara berukuran sedang yang ada di sudut ranjangnya. Dengan gerakan cepat, ia memukulkan boneka empuk itu berkali-kali ke dada kekar Naufal.
Bugh! Bugh! Bugh...,
"Mas Naufal jahat! Katanya mau membelikan botol kimia baru! Bilang saja kau malas dan pelit! Dasar Mas tom nakal! Rasakan ini!" teriak Rebecca dengan nada marah yang terdengar imut karena suaranya yang cempreng khas remaja merajuk. Pakaian rajut kremnya ikut bergoyang seiring gerakan tubuhnya yang montok saat melancarkan serangan bertubi - tubi itu.
"Heh! Hentikan! Hei, singkirkan tikus raksasa ini dari mukaku!" Naufal mencoba menghalau serangan boneka itu dengan lengannya yang berotot, namun Rebecca justru semakin gencar memukulnya, memanfaatkan tubuh curvy-nya untuk mendesak Naufal hingga terpojok di kepala ranjang.
"Biar kapok! Biar botak seperti guru fisikaku! Ulangi materinya atau ku pukul terus sampai besok pagi!" ancam Rebecca, wajah cantiknya yang seperti porselen kini berjarak sangat dekat dengan Naufal, menatap sang kakak dengan pandangan menantang yang berapi-api.
Naufal yang sudah benar-benar kehabisan energi dan merasa pening, kehilangan kendali atas refleks motoriknya. Berniat menghalau boneka itu dengan kasar, tangan besarnya justru melayang terlalu tinggi dan mendarat di puncak kepala Rebecca.
Pletak!
Pukulan itu tidak sengaja mengenai ubun - ubun Rebecca dengan sedikit keras, menghasilkan suara ketukan yang cukup nyaring di dalam kamar.
"HENTIKAN, REBECCA! KAU INI BERISIK SEKALI, YA!" teriak Naufal kencang, suaranya menggelegar mengalahkan suara badai di luar, mengguncang keheningan rumah.
Seketika itu juga, ruangan mendadak hening. Boneka capybara di tangan Rebecca terlepas, jatuh tak berdaya di atas seprai abu - abu. Rebecca membeku. Matanya yang langka langsung berkaca-kaca, membelalak tidak percaya. Ia memegangi puncak kepalanya yang terasa berdenyut perih dengan kedua tangan kecilnya. Bibir ombrenya bergetar hebat, menahan rasa sakit sekaligus keterkejutan karena abangnya yang biasa jahil baru saja membentak dan memukulnya sekeras itu.
Naufal langsung tersadar dari emosinya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat genangan air mata yang siap tumpah dari pelupuk mata adiknya. Ia tahu persis apa arti tatapan itu. Rebecca sedang mengambil napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya: teriakan maut untuk memanggil ayah mereka yang berada di lantai bawah.
"Aya.......h " Baru saja ujung lidah Rebecca hendak membentuk suku kata pertama untuk mengadu, Naufal dengan sigap melompat ke depan, siap membekap mulut adiknya sebelum seluruh isi rumah gempar akibat amukan sang kepala keluarga.
...****************...
Suasana di dalam kamar seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Rebecca yang sudah membuka mulutnya lebar - lebar untuk berteriak, mendadak kehilangan suaranya karena Naufal bertindak lebih cepat dari kilat. Dengan gerakan tangkas, lengan kekar pemuda itu melingkar di pinggang dan punggung Rebecca, menarik tubuh sintal adiknya masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
“Ugh—hiks... hiks...”
Teriakan mengadu yang seharusnya mengguncang seisi rumah berganti menjadi isak tangis yang tertahan. Wajah porselen Rebecca terbenam sepenuhnya di dada Naufal, sementara puncak kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut dielus dengan canggung oleh jemari besar abangnya. Detak jantung Naufal yang berdegup kencang karena panik terdengar jelas di telinga Rebecca, beradu dengan suara deru hujan di luar jendela.
"Sstt... diam, Re. Jangan teriak, demi apa pun jangan panggil Ayah," bisik Naufal panik, suaranya melembut drastis dengan nada memohon yang kentara. "Maaf, Mas tidak sengaja tadi. Tanganku kelepasan. Jangan menangis lagi, Tuan Putri, nanti kubelikan dua botol kimia baru, janji!"
Naufal mengeratkan pelukannya, merasakan tubuh Rebecca yang gemetar hebat di dalam dekapannya. Sebagai pria bertubuh kekar dan berotot, mendekap Rebecca yang memiliki tubuh curvy namun berangka kecil membuatnya merasa seperti sedang memeluk sebuah boneka beruang premium yang sangat rapuh. Rambut hitam panjang bergelombang milik adiknya yang sewangi melati itu mengusap dagu tegas Naufal, menciptakan sensasi nyaman yang membuat rasa lelahnya perlahan menguap.
Namun, kehangatan drama persaudaraan itu tidak bertahan lama. Isak tangis Rebecca mendadak berhenti total. Tubuhnya tidak lagi gemetar karena sedih, melainkan mendadak menjadi kaku seperti batu.
Naufal mengerutkan dahi, merasakan perubahan sensoris dari adiknya. "Re? Kok diam? Sudah tidak sakit kepalamu?" tanya Naufal heran, bersiap melonggarkan pelukannya untuk memeriksa wajah adiknya.
Namun, sebelum Naufal sempat menjauh, Rebecca justru menggunakan kedua tangan kecilnya untuk mendorong dada Naufal dengan sekuat tenaga. Tangan mungilnya yang halus tak sengaja menekan sela-sela kain kaus putih tipis yang dikenakan Naufal, menempel langsung pada kontur keras perut six pack abangnya yang tercetak jelas karena posisi mereka yang sangat rapat. Otot perut Naufal yang padat dan liat terasa berkedut samar di bawah telapak tangan Rebecca yang dingin.
"Mas Naufal! Lepas! Lepaskan aku sekarang juga!" seru Rebecca, suaranya tidak lagi terdengar sedih, melainkan sarat akan kejengkelan yang luar biasa. Ia memalingkan wajahnya sekuat tenaga ke samping, berusaha menjauhkan hidung mancung kecilnya dari permukaan baju Naufal.
"Kenapa, sih? Tadi mau nangis, sekarang malah mengamuk lagi," ujar Naufal bingung, namun insting jahilnya mendadak bangkit saat melihat telinga Rebecca yang memerah.
"Bau! Mas Naufal bau kecut! Bau keringat!" pekik Rebecca dengan wajah tersiksa. Sebagai seorang gadis dengan penciuman genius yang terbiasa hidup di antara minyak atsiri, ekstrak bunga mawar, dan wewangian sandalwood, aroma tubuh Naufal setelah latihan fisik sore tadi yang bercampur uap sup hangat terasa seperti polusi udara tingkat tinggi bagi hidungnya yang sensitif. "Kaus putihmu ini tipis sekali! Aroma keringat jantanmu menembus hidungku, Mas! Singkirkan dadamu!"
Mendengar protes super jujur dari adiknya, seringai nakal yang menjadi ciri khas seorang Naufal Elric Baskara langsung terbit di wajah tampannya. Rasa panik karena takut diadukan ke Ayah seketika sirna, digantikan oleh gairah untuk menjahili Rebecca sampai batas akhir.
"Oh, jadi hidung Tuan Putri terganggu, ya?" Naufal terkekeh rendah, suaranya bergetar di dalam rongga dadanya. Alih -alih melepaskan, kedua lengan kekarnya justru mengunci tubuh Rebecca semakin erat, mengabaikan dorongan lemah dari tangan kecil adiknya yang masih menempel di perut kotaknya.
"Mas Naufal, jangan! demi tuhan, lepas!" Rebecca membelalakkan mata abu-abu langkanya, panik setengah mati saat menyadari kekuatan fisiknya sama sekali bukan tandingan dari otot-otot terlatih abangnya.
"Tidak mau. Rasakan ini, kurung aroma orisinal dari kakakmu yang paling tampan!" Naufal tertawa terbahak - bahak. Dengan sengaja, ia memiringkan tubuhnya, menekan pipi putih mulus Rebecca semakin amblas ke dada bidangnya, memaksa wajah adiknya menempel pada kain kaus tipis yang sedikit lembap oleh sisa keringat di area dadanya.
"Ugh! Mas Naufal jahat! Ini pelecehan indra penciuman! Ayah ! Ibu ! Mas Naufal tidak mau mandi dan meracuniku !" teriak Rebecca tersendat-sendat, suaranya teredam oleh dada bidang Naufal.
Kedua kaki Rebecca yang tertutup celana rumahan modis ikut menendang-nendang kasur dengan gemas, membuat Dabo yang sejak tadi mendengkur di ujung ranjang langsung terbangun dan melompat turun karena ketakutan melihat sepasang kakak beradik itu bergulat di atas seprai abu-abu yang kini sudah berantakan total.