Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Keheningan yang mencekik setelah runtuhnya dinding pertahanan batin Louis laksana bensin yang menyiram api tak terlihat di dalam penthouse Brooklyn yang remang-remang.
Kata-kata Adiba—yang menelanjangi statusnya sebagai sekadar ban serep, catur cadangan dari ambisi buta Arthur Osborn—masih berdengung hebat, meretakkan sisa-sisa harga diri Louis hingga berkeping-keping.
Louis berdiri mematung, napasnya memburu berantakan dengan tatapan mata elang abu-abu yang mendadak kosong namun sarat akan luka yang teramat dalam.
Pria itu, yang selama ini dikenal sebagai berandal jalanan yang tak kenal takut, kini tampak seperti ksatria yang kehilangan arah di tengah medan perang batinnya sendiri.
Melihat kehancuran yang begitu pekat di wajah pria yang dipujanya, Adiba Abbey tidak mundur. Sebaliknya, kilat gila di sepasang manik mata hitamnya justru semakin berkobar indah.
Inilah momen yang telah dia nantikan selama sepuluh tahun sepi. Momen di mana Louis melepaskan topeng ketegarannya dan membiarkan sisi rentannya terekspos sepenuhnya di hadapannya.
Dengan gerakan yang teramat anggun dan penuh perasaan, Adiba melangkah maju, memangkas habis sisa jarak di antara mereka.
Dia menjatuhkan mantel bulu hitamnya ke atas lantai beton tanpa peduli, membiarkan tubuhnya yang terbalut gaun sutra tipis bersentuhan langsung dengan jaket kulit Louis yang dingin.
Adiba mengulurkan kedua lengan lentiknya, melingkarkannya dengan erat di sekeliling leher kokoh Louis, menarik tubuh pria itu masuk ke dalam pelukan yang teramat hangat.
Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Louis, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup liar bagai genderang perang yang berantakan.
"Kau tidak sendiri lagi, Louis... Kau memiliki aku," bisik Adiba, suaranya terdengar begitu manis, laksana nyanyian siren yang mematikan.
Louis masih membeku, namun kehangatan tubuh Adiba yang meresap menembus pakaiannya mendadak memicu sengatan listrik yang membakar akal sehatnya yang tersisa.
Belum sempat Louis memproses debaran itu, Adiba mendongak. Dengan keberanian yang didorong oleh obsesi gila yang telah matang sempurna, Adiba menyatukan bibir mereka.
Dia mencium Louis. Bukan sebuah ciuman biasa, melainkan sebuah ciuman yang sarat akan tuntutan, kepemilikan, dan gairah pekat yang selama ini dia pendam dalam kegelapan. Adiba melumat bibir Louis dengan intensitas yang luar biasa, membiarkan aroma parfum mawarnya mengepung seluruh sisa kewarasan sang pria.
Sentuhan intim itu menjadi pematik ledakan di dalam kepala Louis. Rasa sakit hati akibat kenyataan bahwa dirinya hanyalah cadangan, rasa muak pada Raynazh, dan gairah biologis yang telah menyiksanya selama beberapa Minggu terakhir seketika menyatu menjadi sebuah dorongan yang tak terbendung.
Masa bodoh, batin Louis yang terluka meneriakkan kegilaan. Masa bodoh wanita ini adalah istri kakaknya. Jika aku memang hanya catur cadangan... maka menjadi cadangan harus sempurna. Dan tubuh istri dari sang pewaris utama pun harus dibagikan kepada seorang cadangan.
Dengan erangan rendah yang keluar dari tenggorokannya, Louis membalas ciuman Adiba dengan liar.
Tangannya yang besar bergerak kasar mencengkeram pinggang ramping Adiba, mengangkat tubuh wanita itu dengan sekali sentak dan membawanya menuju ranjang king size di sudut ruangan.
Mereka jatuh bersama di atas seprai abu-abu yang dingin, namun atmosfer di sekeliling mereka seketika berubah menjadi tungku api yang membakar. Louis merobek jaket kulitnya dan menanggalkan kemeja hitamnya dengan terburu-buru, menampilkan tubuh bidangnya yang penuh tato di bawah temaram lampu kota.
Saat Louis hendak bergerak secara agresif untuk mengklaim tubuh di bawahnya, Adiba menahan dada bidang Louis dengan kedua telapak tangannya.
Napas wanita itu terengah-engah, matanya yang sayu namun tajam menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Louis.
"Pelan-pelan, Louis..." Adiba berbisik lembut, jemarinya mengusap rahang tegas Louis yang menegang. "Aku tidak suka gaya bercinta yang kasar. Buat aku pasrah... tapi dengan kelembutanmu."
Adiba sengaja menyembunyikan alasan sebenarnya di balik perintah itu. Dia harus melindungi janin di dalam rahimnya—darah daging Louis sendiri yang belum diketahui oleh sang pria.
Louis menatap Adiba dengan pandangan yang menggelap oleh kabut gairah dan ego yang terluka. Mendengar permintaan itu, sebuah seringai sinis namun sarat akan dominasi absolut terukir di bibir tipisnya.
Louis menurunkan tubuhnya, mengunci kedua tangan Adiba di atas kepala dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain mulai membuka ritsleting gaun sutra Adiba dengan perlahan, menyingkap kulit putih mulus wanita itu ke udara malam.
"Kau ingin kelembutan, Kakak Ipar?" Louis berbisik tepat di telinga Adiba, suaranya begitu rendah dan seksi, mengirimkan getaran hebat ke seluruh tubuh Adiba.
Penyatuan panas itu terjadi dengan ritme yang berubah sepenuhnya. Louis tidak menghantam dengan kebrutalan jalanannya, melainkan memainkan sebuah ritme yang luar biasa mendalam, menghujam dengan kelembutan yang terukur namun sangat menghanyutkan.
Setiap gerakan yang dilakukan Louis dirancang untuk menyiksa indra perasa Adiba, memaksa wanita itu untuk merasakan setiap jengkal dominasinya.
"Katakan padaku, Adiba..." Louis berbisik di sela-sela pagutan mereka, suaranya serak saat dia bergerak maju mundur dengan presisi yang mematikan. "Apa Raynazh juga menyentuhmu seperti ini? Hm? Seperti ini?"
Louis sengaja menekan pertanyaannya, menggerakkan pinggulnya dengan sentuhan yang membuat Adiba mendongak, melengkungkan punggungnya sembari mendesah pasrah di bawah kungkungan Louis. Louis ingin menguasai wanita ini sepenuhnya.
Dia ingin menghapus setiap jejak kakaknya dari diri Adiba—meskipun dia tidak tahu bahwa Raynazh bahkan belum pernah menyentuh kulit Adiba sama sekali.
"Ah... L-Louis..." Adiba mendesah keras, air mata kenikmatan mulai menggenang di sudut matanya. Ritme yang dimainkan Louis begitu luar biasa, menghancurkan seluruh pertahanan rasionalnya.
Di dalam pergolakan gairah yang menggila itu, ketika tubuh mereka menyatu dengan begitu intens, tangan Adiba bergerak mencengkeram seprai dengan kuat. Di dalam hatinya yang paling dalam, di sela-sela desahan pasrahnya, Adiba hanya bisa bergumam dengan kegilaan yang tak bertepi.
Gila... ini benar-benar gila, batin Adiba bersorak dalam kemenangan yang absolut. Hey, anak Mommy... Kau senang kan karena dikunjungi Daddy malam ini?
Adiba mengusap punggung kekar Louis yang dipenuhi keringat tipis dengan kuku-kukunya yang tajam.
Sabar sayang... Adiba terus berbisik dalam hatinya, menujukan kalimat itu pada janin di rahimnya. Setelah ini, Mommy janji, Daddy akan sering mengunjungi kalian. Kita akan menjadi keluarga yang utuh setelah kita membakar neraka untuk mereka semua.
Satu kata untuk menggambarkan seorang Adiba Abbey: Gila. Dia begitu terobsesi pada Louis Osborn hingga di titik di mana dia rela menyerahkan tubuhnya, jiwanya, dan merancang skenario kehamilan terlarang ini hanya agar bisa terikat selamanya dengan pria di atasnya ini.
Louis, yang tidak menyadari isi kepala gila wanita di bawahnya, kian tenggelam dalam kabut gairah. Rasa marahnya beralih menjadi sebuah ambisi untuk menaklukkan.
Dengan gilanya, Louis bahkan tidak merasa malu atau ragu untuk menandai tubuh Adiba. Sembari mempertahankan ritme hujamannya yang lembut namun dalam, Louis menundukkan kepalanya, mengecup, menggigit kecil, dan meninggalkan beberapa tanda kemerahan yang pekat mulai dari bagian dada, turun ke sela-sela tulang selangka, hingga ke permukaan perut rata Adiba yang di dalamnya tersimpan rahasia terbesarnya.
Louis melakukannya berkali-kali sepanjang malam itu. Dia memberikan hujaman-hujaman lembut yang konstan, menguras seluruh tenaga Adiba hingga wanita itu benar-benar lemas, pasrah, dan tidak berdaya di bawah kungkungan tubuh besarnya.
Pikiran bahwa dirinya hanyalah seorang cadangan justru membuat Louis ingin mengambil alih apa yang seharusnya dimiliki oleh sang pewaris utama.
Di bawah pendar lampu New York yang mulai meredup menjelang fajar, kedua manusia yang diikat oleh obsesi gila dan luka batin yang mendalam itu terus tenggelam dalam dosa yang paling indah di Brooklyn, mengabaikan badai besar yang siap menghancurkan dunia mereka dalam waktu dekat.