Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
desa karang wilis
Bab 7
Perjalanan itu panjang.
Tentu saja—tapi hanya Nayla yang benar-benar merasakannya.
perasaannya di penuhi rasa dongkol.
Raditya masih mengemudi dengan wajah yang sama sejak dari rumah sakit tadi: datar, tak berubah, tak bergeser. Seolah ia patung yang entah bagaimana bisa menekan pedal gas.
Sementara itu, Nayla sudah berganti posisi duduk berkali-kali, menghitung pohon yang lewat, bahkan lubang-lubang di jalan yang bergelombang. Sesekali ia memainkan ponselnya, mencoba menangkap sinyal yang datang dan pergi tanpa pola.
Lalu matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Nayla menegakkan punggungnya. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Di ujung jalan, berdiri sebuah gapura sederhana. Catnya sudah mulai pudar, tapi huruf-hurufnya tetap jelas terbaca:
SELAMAT DATANG DI DESA KARANG WILIS
Angin senja berdesir di antara pepohonan, dan bayangan gapura memanjang di atas tanah. Desa itu tampak tenang. Tapi ada sesuatu dalam sunyinya yang membuat Nayla menelan ludah—sadar bahwa dua bulan ke depan di sini akan berbeda dari yang pernah ia bayangkan.
Mobil Raditya berhenti. Satu per satu kendaraan militer di belakangnya ikut berhenti, berderet rapi.
Raditya turun lebih dulu. Sepatunya menyentuh tanah dengan bunyi tak yang mantap. Ia berdiri tegap, diam. Matanya bergerak pelan menyisir sekeliling. Wajahnya tetap datar, tapi matanya membaca setiap detail, seperti sedang memindai sebua wilayah, bukan menikmati suasana.
Nayla turun dari sisi penumpang.
Tapi tiba tiba
"eh eh adudu huh!! hampir aja "
ia hampir terpeleset di tanah merah yang gembur. lalu cepat cepat meraih gagang pintu untuk menstabilkan diri, pura-pura tidak terjadi apa-apa, Nayla melangkah mengikuti Raditya yang masih berdiri tegap di tempatnya.
Angin sore menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah basah, asap kayu, dan sesuatu yang asing.
Nayla melirik profil wajah Raditya.
"Masih sama gumamnya"
lalu dia menunduk, merogoh saku, mengeluarkan ponsel. 16.50.
" huh" Nayla Menghembuskan napasnya sedikit kasar, lalu menatap sekeliling mengikuti arah pandang Raditya.
Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada suara klakson yang bersahutan. Tidak ada bau asap knalpot yang menempel di baju sampai rumah.
Hanya pohon—banyak, tinggi, rimbun, berjejer tidak beraturan. Langit terasa lebih luas dari biasanya, atau mungkin perasaannya saja karena tidak ada gedung yang memotongnya.
Nayla melirik ke samping.
“Loh, kemana dia?”
Raditya sudah tidak ada
lalu ia berjalan ke belakang mobil.
Beberapa meter di depannya, terlihat Raditya berdiri tegap, sedang berbicara serius dengan empat prajurit yang mengelilinginya. Suaranya tidak terdengar dari sini, tapi gerakan tangannya—sesekali menunjuk ke arah tertentu—sudah cukup menjelaskan. Keempat prajurit itu mengangguk, tidak ada yang berani menyela.
Raditya menoleh, lalu melangkah ke arahnya. Seolah sudah tahu dari tadi. Langkahnya teratur. Sepatunya menyentuh tanah dengan tepat. DIa berhenti di depan Nayla, diam sebentar.
“Saya mau buka bagasi, Dok,” ucapnya singkat.
“Hah? Oh—iya, Pak. Silakan,”
jawab Nayla gugup sambil bergeser sedikit.
"terimakasih"
Raditya membuka bagasi, mengeluarkan tas dan koper dengan Satu gerakan mengangkat beban yang tadi hampir membuat bahu Nayla nyeri.
Nayla memandangi tas itu sejenak. Itu tas yang tadi hampir membunuhku, pikirnya.
“ayok,” ucap Raditya, melangkah duluan. Nayla mengikuti di belakang.
Beberapa meter di belakang mereka, tiga puluh tentara bergerak dalam formasi rapi. Suara sepatu mereka menyatu menjadi irama yang teratur.
Di barisan depan, Letkol Dimas melangkah tenang, matanya sesekali menyapu kanan-kiri. Di sebelahnya, Sersan Aldi—tubuhnya lebih kecil, tapi langkahnya tak kalah tegap. Berkepribadian hangat juga Rama dan konyol pada saat saat tertentu dia menatap Nayla yang sedang berjalan di belakang raditya dengan rasa penasaran yang tidak terlalu ia sembunyikan. Tangannya menyentuh dagu, mengangguk kecil seolah sudah tahu apa yang akan terjadi,
Rumah-rumah sederhana berjajar di sepanjang jalan. Dinding kayu, beberapa batako tanpa cat yang memudar. Atap genteng, meski beberapa rumah hanya ditutup seng karatan.
Nayla membayangkan betapa berisiknya nanti malam ketika hujan turun, memercik di atas seng dan genteng tua itu. Jalanannya tanah padat, bekas ribuan langkah kaki.
Di ujung jalan, seorang perempuan tua berdiri di depan rumahnya. Ia hanya memandangi rombongan itu, tidak bergerak, tidak menyapa. Tangannya memegang kusen pintu. Matanya tidak berkedip.
Laku Beberapa anak kecil yang tadinya bermain berhenti serempak. Mereka bergerombol dan menatap rombongan Nayla dengan mulut sedikit terbuka.
Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua dan baju bunga yang memudar mengintip dari balik punggung temannya.
Nayla tersenyum kecil. “Halo, Dek.”
Anak itu langsung bersembunyi.
Nayla mengernyit.
“Mereka takut, Dok,” suara Raditya memecah kebingungan Nayla. Takut apa balas Nayla