Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Satu Hari Senin Di Mansion Kaelric
Kaelric memutuskan untuk kembali ke Mansion. Sebenarnya, agak sibuk juga hari itu. Tapi, dia memaksakan diri untuk pulang. Semua pekerjaan di handle oleh Ravian. Ravian sangat mengerti bagaimana Bosnya itu.
Daripada disini, nanti kepikiran sama Veliora. Kan, mending pulang aja ke Mansion. Bisa lihat tuh gadis sepanjang hari. Atau, jangan-jangan si Bos sama gadis itu sudah eng ing eng?. Kata hati Ravian.
Ya kan sudah berhari-hari gadis itu disana. Kalau aku sih, sudah aku embat. Hehehe...
Jorok bet pikiran Ravian. Gak tau aja, kalau mereka berdua sudah saling menyusuri sesuatu yang indah. Hehehe...
"Mansion Daddy luas banget ya?"
Pagi itu daripada bengong dia berjalan-jalan di sekitar Mansion. Sambil berdecak kagum. Bagaimana tidak? Mansion Kaelric luasnya dua sampai tiga kali lipat rumahnya.
Veliora melangkah pelan menyusuri taman belakang. Mansion itu terlalu besar juga terlalu sunyi.
Tidak ada suara tawa. Tidak ada kehangatan. Yang ada hanya angin yang bergerak pelan di antara dedaunan. Hingga matanya menangkap sebuah bangunan kecil di kejauhan.
Dia pun menghampiri bangunan itu.
“Kau pasti Veliora…”
Suara lembut itu membuat Veliora menoleh.
Seorang wanita tua duduk di kursi teras, tersenyum hangat padanya.
Veliora mendekat, sedikit ragu.
“Ehm… iya.”
“Cantik sekali,” ujar wanita itu tulus.
Veliora tersipu sedikit, reaksi yang jarang muncul darinya.
"Ibu, bisa aja!. " Katanya masih dengan merona merah.
Kemudian, dia duduk di kursi sebelah ibu Gerard. Paviliun tampak hangat dengan suasananya yang sunyi.
"Ngomong-ngomong, Ibu tahu nama saya darimana?"
Ibu Gerard tersenyum.
"Aku tiap pagi duduk disini, Veliora. Hampir setiap hari. Jadi, siapa saja yang singgah ke sini aku pasti tahu. "
"Hanya saja, tubuh yang menderita ini, tak sanggup kemana-mana."
"Ibu gak pernah keluar dari Mansion?"
"Pernah, sesekali. Kaelric mengijinkan aku keluar, jika aku ingin sesuatu. Tapi, tentu saja aku harus pergi dengan pengawalan."
"Bukan apa, jika terjadi sesuatu pada diriku. Maka Kaelric akan membunuh seisi Mansion. Aku tahu betul sifat Kaelric. Dia benar-benar merawat dan menjaga diriku yang sudah tua ini."
"Ibu ini masih keluarganya Daddy Kael?. Atau siapa ya?"
"Bukan, aku bukan siapa-siapa disini. Aku hanyalah orang tua yang dititipkan. Dan anak-anakku tidak pernah datang hanya untuk sekedar menanyakan soal diriku."
"Daddy sangat menyayangi Ibu?"
Ibu Gerard mengangguk perlahan. Menatap ke depan.
Suara deru mobil memasuki Mansion. Seseorang tengah turun dan basa-basi dengan beberapa security di depan.
"Itu Daddy datang, Ibu."
"Iya, anak tampan." Mereka berdua tertawa berderai.
Beberapa menit, datanglah Kaelric ke paviliun. Karena, mendengarkan suara derai tawa dari arah paviliun.
Kaelric datang kemudian menghampiri ibu Gerard.
"Bagaimana Ibu, sudah oke?"
Ibu Gerard menyambut pelukan Kaelric. Diciumnya ibu Gerard di kedua pipinya. Veliora hanya memandang interaksi antara mereka berdua. Kaelric yang selalu dingin dan tak punya senyuman, nampak berbeda jika berinteraksi dengan dirinya atau Ibu Gerard.
Veliora merasa nyaman. Mungkinkah Ibu Gerard juga merasakan perasaan yang sama dengannya?.
Perasaan nyaman yang tidak pernah dia dapat di rumah sendiri. Dan Kaelric datang membawa sejuta impian untuk dirinya dan Ibu Gerard.
"Tahu gak?. Ibu lebih sayang kepada diriku daripada dengan anaknya sendiri."
Kata Kaelric sambil tersenyum.
"Tapi sayang, Ibu sama sekali tidak pernah mau makan bersamaku. Padahal, aku mengharapkan hal itu."
"Oh iya. Ibu tinggal sendirian di paviliun? ".
" Tentu tidak. Ada seorang pengasuh yang senantiasa menemani Ibu." Kata Kaelric.
"Nanti, kalau pengasuhnya berhalangan. Ada Bik Isa yang menemani. Atau sekali-kali... "
"Kaelric yang datang menemani Ibu, Veliora." Ibu Gerard menyahuti ucapan Kaelric.
Veliora tertegun mendengar apa yang dikatakan Ibu Gerard. Dia melihat ke arah Kaelric. Dipandanginya Kaelric dengan lekat. Benarkah pria yang aku lihat ini?. Kata Mami, dia dingin, perfeksionis, tidak suka tersenyum. Tapi, nyatanya???.
"Bagaimana Gerard sekarang, Kaelric?"
"Ibu tak perlu cemas, biar semua itu menjadi pelajaran hidupnya."
"Sudah berapa kali kau dipecundangi, nak?"
"Entahlah, Ibu. Selama Gerard tidak menyentuhmu atau orang yang aku sayang. Selama itu pula aku tetap membiarkan dia hidup."
"Selama ini, dia sudah banyak membuat masalah, nak."
"Iya, aku tahu itu."
"Ibu, maukah malam ini menemani aku? "
Kaelric membujuk Ibu Gerard. Wanita tua itu menggeleng pelan.
"Baiklah, aku tidak memaksa. Perlu Ibu ketahui. Rumah utama yang besar itu akan selalu dan selalu menanti kedatangan Ibu."
Tanpa banyak bicara lagi Kaelric berjalan masuk ke dalam rumah utama. Veliora terhenyak.
"Veliora, kamu ikut aku atau tinggal disini?"
Veliora bingung. Bimbang akan pilihannya
Antara, rasa cinta yang tumbuh dan rasa yang tulus serta kasihan pada Ibu Gerard. Dia melihat Kaelric dan Ibu Gerard bergantian.
Kaelric menengok ke belakang sembari mengulurkan tangan.
Veliora masih dalam kebimbangannya. Dia pun melihat kearah Ibu Gerard. Wanita tua itu menganggukkan kepala.
"Pergilah, disana hidupmu akan terasa nyaman. Jangan takut, aku punya banyak teman disini. Aku tidak pernah kesepian. Nanti pasti akan ada yang datang."
"Siapa yang datang kesini Ibu?". Tanya Veliora.
" Ada, security disini atau asisten rumah tangga yang tidak punya tempat tinggal. Sesekali kesini untuk menemaniku. Aku menganggap mereka anak-anakku juga."
Kaelric masih berdiri sambil mengulurkan tangan. Menunggu tangan Veliora.
"Pergilah, nak. Pergilah!. Temani dia. Dia sangat merasa kesepian."
"Yakin Ibu?". Ibu Gerard mengangguk.
Akhirnya, Veliora melangkah maju dan menyambut uluran tangan Kaelric. Digenggamnya tangan Veliora dengan erat. Tanpa ingin melepaskan.
Mereka berdua berjalan menuju rumah utama. Ibu Gerard hanya memandangi kedua insan beda usia itu.
Bik Isa nampak berjalan menghampiri mereka.
"Tuan dan Nona. Makan siang sudah disiapkan."
Kaelric hanya mengangguk.
"Bik, bagaimana dengan Ibu?"
"Jangan khawatir, Nona. Untuk Ibu sudah ada yang melayani. Nona tidak usah khawatir soal itu. Andaikan saja, Ibu mau tinggal di rumah utama. Ah, sudahlah."
Bik Isa lalu pergi ke belakang. Meninggalkan Kaelric dan Veliora.
"Dad, aku lapar. Pakai banget."
Tanpa bertanya, di gendongnya Veliora ke arah meja makan. Mereka berdua tidak sadar. Para asisten rumah tangga sedang mengintip dari dapur besar.
"Iih, Daddy...Daddy...Daddy. Aku bisa jalan sendiri."
"Turunin dong!"
Teriak Veliora sambil memukul bahu Kaelric. Kaelric hanya tertawa melihat Veliora. Tak lupa, ciuman manis mendarat di kening Veliora.
Sesampainya di dekat meja makan, diturunkan Veliora. Terlihat wajah manis Veliora yang selalu tersenyum. Kaelric suka sekali melihatnya.
Akhirnya mereka berdua makan dengan tenang dan senyap. Tak ada riuh canda tawa. Mungkin mereka simpan selesai makan siang. Hehehe...
Selesai makan, Veliora bergerak menuju lantai atas. Kaelric mengikuti gadis itu.
"Daddy tidak ke kantor hari ini?"
"Nggak, Veliora. Oh iya. Kamu mau tidur dimana?"
Tadinya Veliora ingin tidur di kamarnya sendiri. Tapi, begitu sampai di depan kamar. Dia urungkan niatnya. Dia mengikuti Kaelric yang masuk ke dalam kamarnya.
Kaelric diam saja. Dia menyembunyikan senyuman tidak mau Veliora mengetahuinya, kalau dia sangat bahagia.
****
Di kamar Kaelric yang super luas itu. Veliora segera merebahkan diri di atas tempat tidur king size.
Dia menguap panjang. Kaelric melirik sekilas.
Kaelric melangkah masuk ke private dressing room-nya. Deretan jas tergantung rapi, tersusun berdasarkan warna dan potongan. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada yang berlebihan. Sama seperti dirinya yang selalu nampak sempurna.
Ruangan itu diterangi dengan pencahayaan hangat & fokus. Terdapat rak khusus disitu. Nampak jam tangan tersusun rapi di rak bagian atas. Semua jam tangan dari merk ternama. Rak kedua parfum eksklusif yang harganya sangat fantastis. Di pojok ruangan, ada kursi kecil atau sofa.
Kaelric memilih baju mana yang akan dipakai siang itu. Dia memilih bahan kaos dan celana pendek saja.
Veliora yang tiduran di tempat tidur. Merasa tidak tenang, karena Kaelric yang masuk ke dalam ruangan tapi tidak keluar juga.
Akhirnya, dia membuka pintu private dressing room. Menyusul Kaelric.
"Heeyy... Kenapa kamu masuk kesini?". Kaelric kaget melihat kehadiran Veliora. Veliora diam saja, terus melangkah masuk ke dalam private dressing room. Hingga akhirnya berdiri di depan Kaelric.
Kaelric memakai underware warna hitam. Bulu-bulu halus di dadanya menambah kesan maskulin.
Veliora ngeres juga ya?. Hehehe...
Dia menatap benda yang menyembul di balik underware hitam itu.
"Daddy... Mmm... Aku pikir ini ruangan apa gitu?"
"Veliora, ini ruang ganti baju. Dah, keluar sana, ah!. Aku mau ganti baju, nih!"
Veliora semakin berani. Dia tetap saja melangkahkan kaki ke depan. Menuju ke tempat Kaelric berdiri.
Sesampai tepat di depan Kaelric. Dia menyentuh bulu-bulu dada itu. Reflek Kaelric menangkap pergelangan tangan Veliora. Dan dipegangnya tapi tidak erat.
"Dad, tolong lepas tanganku, dong!"
"Tidak bisa, Veliora."
"Tolong, Dad. Lepasin!"
"Kamu sudah masuk ke ruang pribadiku, Veliora!"
"Tapi, Dad. Aku mau tidur. Capek!"
"Mau aku pijit?"
Kata Kaelric sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh Veliora. Veliora jadi tersiksa batinnya.
"Aku mau tidur, Dad?"
"Aku tidurin kamu!"
Kaelric berbisik di telinga Veliora. Veliora memejamkan matanya. Tangannya yang digenggam Kaelric diulurkan ke arah underware hitam milik Kaelric.
Benda yang menonjol. Benda yang diidamkan wanita normal. Sampai disitu, Kaelric melepaskan tangan Veliora. Dia biarkan Veliora mengeksplor miliknya dengan bebas.
Veliora meraba benda itu. Pelan, kemudian agak cepat.
Dan, entah. Dia pinjam keberanian darimana. Tangannya diulurnya masuk ke dalam underware. Tak ayal, Kaelric mengerang juga karena ulah Veliora. Bagaimana tidak mengerang?. Veliora mencengkeram benda itu.
Kemudian duduk di bawah Kaelric. Kaelric berdiri bersandar pada dinding. Tangannya menempel ke dinding. Dan membuka kedua kakinya agak lebar.
Veliora membuka mulutnya, lalu memasukkan benda milik Kaelric ke mulutnya. Kaelric merasa kejang karena nikmat. Dia menjerit hingga keluar cairan putih kental.
Nafasnya tersengal. Kemudian dilihatnya Veliora. Yang duduk bersimpuh di bawahnya.
Akhirnya, dia gendong Veliora di sofa. Dibaringkan Veliora, tapi sebelumya dia lucuti semua pakaian gadis itu.
Kaelric menjatuhkan tubuh tepat diatas Veliora. Agak tersentak juga.
"Aku minta sekarang, Veliora!"
"Dad.. D D D Daddy minta apa?"
"Kamu jangan pura-pura, sayang!"
"Aku ingin kamu jadi milikku. Aku gak mau kamu jadi milik orang lain."
Dicumbunya Veliora mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Veliora teriak-teriak kenikmatan.
"Aah.. Enak Dad. Terus, Dad!"
"Bagaimana rasanya?"
Veliora mengerjapkan matanya. "Iya. Enak Dad. Aku sampai lemas kayak gini."
"Kamu nanti pasti ketagihan, sayang!"
Tangan Veliora dikalungkan ke leher Kaelric. Dengan posisi diangkat dan dilingkarkan ke tubuh.
Dia tanpa busana kini. Kaelric begitu terpesona melihatnya. Pelan dia menghujani ciuman ke tubuh Veliora. Hingga Veliora terangsang dengan ulah Kaelric.
"Dad.. Aaah.. Shhshhh... Sesedap bener. Enak bener!"
Akhirnya, Kaelric melakukan penyatuan. Ya dia memang sengaja melakukannya untuk sebuah ikatan. Ikatan pada gadis itu.