NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga Tenda dan Kejutan dari Masa Lalu

Matahari sore di Puncak Guha perlahan-lahan mulai turun, memancarkan semburat warna jingga dan keunguan yang memantul indah di atas permukaan luas Samudra Hindia. Angin laut berembus makin kencang, membawa hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Di atas tebing padang rumput, Rian dan Bagas baru saja selesai mendirikan tenda dome berwarna biru milik mereka. Rian bertugas merapikan pasak tenda agar tidak terbang terbawa angin, sementara Bagas sudah sibuk menata kompor portabel dan mengeluarkan beberapa bungkus sosis siap bakar.

"Nah, mantap! Tinggal nunggu sunset bener-bener mateng, kita bakar sosis sambil dengerin lagu indie. Kurang estetik apa coba hidup kita sore ini?" ujar Bagas puas, menepuk-nepuk tangannya yang kotor terkena tanah.

Rian terkekeh pelan, meluruskan punggungnya yang pegal. "Iya, Gas. Makasih ya udah ngajak gue ke sini. Pikiran gue beneran berasa agak enteng."

Namun, ketenangan yang baru saja Rian reguk itu mendadak terusik ketika suara bising knalpot mobil terdengar berhenti di area parkir dekat tebing. Tak lama kemudian, serombongan anak muda—sekitar empat orang—berjalan ke arah padang rumput sambil membawa peralatan camping yang tampak sangat modern dan mahal. Mereka memilih lokasi untuk mendirikan tenda tepat di sebelah tenda Rian dan Bagas, hanya berjarak sekitar tiga meter saja.

Rian awalnya tidak terlalu peduli dan kembali fokus merapikan matrasnya. Sampai akhirnya, sebuah pekikan suara cewek dari tenda sebelah memecah keheningan tebing.

"Ih, Jodi! Jangan dipasang di situ pasaknya, itu tanahnya gembur banget, nanti tenda kita roboh kalau kena angin malam! Pindah ke sebelah sini aja!"

DEG.

Gerakan tangan Rian yang sedang menggelar matras mendadak terkunci rapat. Jantungnya sedetik kemudian berdegup kencang dengan ritme yang sangat berbeda dari biasanya. Suara itu... intonasi ketus namun perhatian itu... sangat tidak asing di telinga Rian. Itu adalah jenis suara yang pernah mengisi hari-harinya selama hampir tiga tahun di masa kuliah dulu.

Secara refleks, Rian menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah tenda sebelah. Di sana, seorang cewek berambut sebahu dengan jaket jaring rajut berwarna krem sedang berkacak pinggang, mengomeli temannya yang sedang kesusahan memasang pasak. Wajah cewek itu terlihat jelas diterpa cahaya senja.

"G-Gas..." bisik Rian dengan suara bergetar, menyenggol lengan Bagas dengan brutal. "Gas, lo lihat cewek yang pakai jaket krem di sebelah gak?"

Bagas yang lagi sibuk menusuk sosis mendongak malas. "Mana? Oh, itu. Cantik, Yan. Kenapa? Jiwa fakir asmara lo meronta-ronta lagi?"

"Bukan, bego! Itu... itu Tiara, Gas!"

Bagas langsung melotot, sosis di tangannya hampir saja jatuh ke tanah. Ia menoleh patah-patah ke arah rombongan sebelah, lalu kembali menatap Rian dengan mata membelalak panik. "Demi apa lu?! Tiara? Mantan lu zaman kuliah yang mutusin lu gara-gara lu kebanyakan main game dan gak jelas masa depannya itu?!"

Rian tidak sempat menjawab karena pada saat yang bersamaan, cewek bernama Tiara itu berbalik arah. Pandangan mata Tiara tidak sengaja menyapu ke arah tenda Rian. Detik itu juga, gerakan Tiara ikut terhenti. Kedua matanya melebar sempurna, menatap Rian yang berdiri kaku seperti manekin toko.

"Rian...?" ucap Tiara lirih, namun cukup terdengar di antara deru angin laut.

Suasana di atas tebing Puncak Guha mendadak berubah menjadi panggung drama paling canggung abad ini. Bagas yang biasanya hobi berkomentar kompor, kali ini memilih untuk pura-pura sibuk meniup api kompor portabel yang sebenarnya sudah menyala, tidak berani ikut campur.

Tiara perlahan melangkah mendekati batas area tenda Rian. Senyuman tipis, canggung namun menyiratkan rasa tidak percaya, perlahan terbit di wajahnya yang manis. "Ya ampun, beneran Rian! Aku pikir aku salah lihat tadi. Kamu... ngapain di sini?"

Rian menelan ludahnya yang mendadak terasa kesat. Ia mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar sekaku kanebo kering. "Eh... Tiara. Iya, ini gue. Lagi... lagi camping aja bareng Bagas. Itu Bagas di bawah," jawab Rian sambil menunjuk Bagas yang cuma bisa melambaikan tangan kaku tanpa menoleh.

"Halo, Tiara... long time no see ya," sapa Bagas basa-basi singkat.

Tiara terkekeh geli melihat tingkah dua cowok di depannya. "Halo, Gas. Wah, kalian bener-bener gak berubah ya, masih sering keluyuran berdua. Aku ke sini bareng temen-temen kantor, kebetulan lagi pada sumpek sama urusan Jakarta, jadi mutusin buat nyari angin ke Garut."

"Oh... iya, sama. Gue juga lagi nyari angin," sahut Rian seadanya.

Mata Rian diam-diam memperhatikan penampilan Tiara. Mantannya itu terlihat jauh lebih dewasa, modis, dan memancarkan aura cewek karier yang sukses di Jakarta. Berbeda jauh dengan Tiara zaman kuliah dulu yang sering menemaninya makan di warteg dengan kaos oblong seadanya.

Melihat Tiara yang sekarang, entah mengapa ada sebuah sirkuit di dalam otak Rian yang mendadak korsleting. Selama beberapa hari ini, ego dan harga diri Rian dihancurkan secara egois oleh rasa mindernya terhadap Bu Arini dan Adrian si sedan mewah. Rian merasa dirinya terlalu kecil, terlalu tidak berharga, dan tidak pantas untuk berada di semesta yang sama dengan Arini.

Namun sekarang, kehadiran Tiara yang tiba-tiba di depannya memercikkan sebuah pikiran lain yang keliru di dalam kepala Rian. Di depan Arini, Rian adalah staf biasa yang selalu merasa inferior. Tapi di depan Tiara, dia adalah seorang "mantan" yang memiliki sejarah kedekatan emosional yang panjang. Ada rasa nyaman yang egois yang mendadak ingin Rian raih dari sosok Tiara. Rian, yang hatinya sedang terluka dan butuh pengakuan, secara tidak sadar mulai melihat Tiara sebagai tempat pelarian yang aman untuk menyembuhkan luka akibat penolakan tak kasatmata dari Arini.

"Tenda kamu udah selesai dipasang, Ra?" tanya Rian tiba-tiba, perubahan nada suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dan perhatian, membuat Bagas yang sedang membalik sosis langsung melirik tajam dengan dahi mengernyit heran.

"Belum nih, si Jodi payah banget pasang pasaknya dari tadi gak bener terus," keluh Tiara sambil mengerucutkan bibirnya, persis seperti kebiasaannya dulu kalau sedang manja.

"Yaudah, sini gue bantuin," ujar Rian sambil melangkah keluar dari area tendanya sendiri tanpa ragu. "Temen lo itu kayaknya gak tahu trik pasang pasak di tanah tebing yang berangin kencang kayak gini. Biar gue yang beresin."

Tiara tampak terkejut, namun sedetik kemudian matanya berbinar senang. "Wah, beneran? Makasih ya, Yan! Kamu dari dulu emang paling bisa diandelin kalau urusan begini."

Rian tersenyum, melangkah mendekati tenda Tiara dan mulai berbaur dengan teman-teman mantannya itu. Di belakangnya, Bagas hanya bisa menatap punggung Rian dengan gelengan kepala penuh tanda tanya. Bagas tahu betul ada yang tidak beres dengan sikap Rian yang mendadak sok manis itu. Ada aroma pelarian yang pekat yang sedang dimainkan oleh sahabatnya, sebuah permainan berbahaya yang berpotensi melukai hati orang lain demi menyembuhkan egonya sendiri yang sedang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!