Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Hari-hari pun berlalu sejak kerjasama dengan Mahesa Group resmi dimulai. Sejak hari itu kelicikan mereka berjalan semakin leluasa. Tuan Hendrawan segera mengganti pemasok bahan baku utama. Dia memutuskan kerjasama dengan rekanan lamanya yang menjual barang jauh di bawah harga pasar, namun kualitasnya sangat buruk, rapuh, dan tidak tahan lama. Selisih harga yang sangat besar itu tidak masuk ke kas perusahaan, melainkan dibagi rata ke dalam kantong pribadi Tuan Hendrawan dan Rafael.
"Lihat ini, Rafael. Cuma dari pemasokan bahan baku bulan ini saja, kita sudah mengantongi hampir lima miliar lebih," ujar Tuan Hendrawan sambil menunjuk angka di buku catatan pribadinya di ruang kantornya sendiri, tertawa puas. "Dan Aruna sama sekali tidak curiga. Dia cuma melihat angka pembelian yang tertulis di kertas, dia tidak tahu barang yang masuk kualitasnya sampah."
Rafael ikut tertawa, rasa percaya dirinya semakin memuncak.
"Tenang saja, Paman. Aku sudah mengaturnya rapi. Di kertas tertulis barang kualitas tertinggi, standar internasional. Faktur dan dokumen semua sudah dipalsukan agar sesuai harga mahal. Aruna hanya akan melihat dokumen resmi yang kita kirimkan. Dia kan anak kuliahan, mana paham bedanya barang bagus dan barang murah kalau cuma lihat kertas."
Tuan Hendrawan mengangguk berulang kali, matanya menyala penuh keserakahan, wajahnya berkerut dalam senyum kemenangan yang menjijikkan.
"Kamu memang jenius, Rafael. Aku tidak salah memilihmu sebagai penerusku. Siapa sangka, gadis yang dulu kita anggap tidak berguna dan mudah diatur, justru menjadi jembatan emas terbesar bagi kita," ujar Tuan Hendrawan sambil bersandar santai di kursi besarnya, "Dan yang paling menguntungkan, posisinya sebagai wakil Zeffrano membuat semua keputusan kita terlihat sah dan dilindungi. Kalau sampai ada masalah atau kesalahan, dialah yang akan disalahkan. Dialah yang akan menanggung resiko di depan, sementara kita diam-diam menikmati hasilnya di belakang layar."
Rafael tertawa kecil, ikut duduk di kursi di hadapan meja itu dengan sikap yang semakin angkuh dan percaya diri.
"Tentu saja, Paman. Itu rencanaku dari awal. Aruna hanya alat. Dia merasa hebat karena diangkat jadi sekretaris pribadi, dia sama sekali tidak sadar bahwa setiap kali dia menandatangani dokumen persetujuan yang kita ajukan, dia sedang membuka lebar-lebar pintu harta Mahesa Group untuk kami ambil."
"Bagaimana dengan Zeffrano? Apakah dia tidak curiga melihat arus uang yang begitu besar keluar masuk?" tanya Tuan Hendrawan tiba-tiba, nadanya sedikit berubah menjadi waspada.
Rafael menggeleng santai.
"Zeffrano? Dia terlalu sibuk mengurus bisnis besarnya, terlalu percaya pada Aruna. Lagipula... angka-angka di atas kertas selalu terlihat sempurna. Dia bukan orang yang akan turun tangan langsung untuk memeriksa, itu urusan Aruna... dan Aruna sudah ada di dalam genggamanku."
Di saat yang sama, pintu ruangan terbuka perlahan. Tania masuk dengan langkah anggun namun wajahnya tampak bersinar puas, membawa selembar berkas laporan di tangannya. Dia menutup pintu kembali rapat-rapat, lalu berjalan mendekati mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian bahas dengan wajah sumringah begitu? Pasti ada kabar baik," ucap Tania sambil meletakkan berkas itu di atas meja, lalu berdiri di samping Rafael.
"Lihat saja, Nak. Keuntungan kita bulan ini melampaui semua perkiraan," jawab ayahnya dengan bangga. "Rafael benar-benar bekerja luar biasa. Kita sudah mengantongi miliaran rupiah hanya dari selisih harga bahan baku saja. Belum lagi keuntungan dari manipulasi data penjualan di daerah-daerah."
Tania tersenyum lebar, lalu menoleh menatap Rafael dengan pandangan penuh kekaguman sekaligus kebanggaan yang bercampur ambisi. Dia meremas bahu Rafael dengan lembut.
"Kamu hebat sekali, Sayang. Aku semakin yakin bahwa kamulah satu-satunya pria yang pantas bersanding denganku."
Rafael tertawa renyah, lalu memegang tangan Tania yang ada di bahunya. "Tentu saja, Sayang. Kamu tidak akan pernah menyesal karena telah memilihku. Aku akan menjamin kebahagiaanmu."
Tania tersenyum bangga, merasa bahwa kemenangan benar-benar sudah ada didepan mata mereka.
-
-
-
Pintu ruangan terbuka perlahan, dan sosok Zeffrano muncul di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang disesuaikan rapi, lengkap dengan jas yang digantungkan santai di lengannya. Wajahnya yang selalu berwibawa tampak sedikit lelah karena padatnya jadwal rapat hari ini, namun sorot matanya langsung melembut begitu jatuh pada sosok Aruna di balik meja kerja.
Dia berjalan santai mendekati meja kerja itu, langkahnya berat namun tenang, seolah seluruh ruangan ini tunduk pada kehadirannya.
"Sedang apa, Nona Sekretaris?" tanya Zeffrano dengan suara rendah yang berat namun terdengar akrab dan hangat. Dia berhenti tepat di sisi meja Aruna, bersandar sedikit pada pinggiran meja sambil menatap wanita di hadapannya lekat-lekat.
Aruna segera berdiri, senyum tulus mengembang di bibirnya saat menatap pria itu.
"Sedang meninjau ulang data pemasok dan laporan pengiriman barang," jawab Aruna pelan namun jelas, matanya menatap balik manik mata Zeffrano tanpa ragu. "Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatianku."
Zeffrano mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Aruna dengan lembut seolah sedang memeriksa keadaan wanita itu. Sentuhan itu begitu hangat dan menenangkan, membuat segala ketegangan yang tersisa di bahu Aruna seketika hilang.
"Kamu terlihat tenang sekali," ucap Zeffrano pelan, nadanya berubah menjadi serius namun penuh rasa sayang. "Apakah belum cukup bermain-mainnya? Bukankah sudah saatnya kita menjatuhkan mereka, Sayang."
"Ya, aku tahu," jawab Aruna, tangannya terangkat perlahan menyentuh dan menggenggam tangan kekar milik pria itu di pipinya, lalu menoleh ke arah layar laptop yang masih menampilkan data-data rinci hasil rekam jejak kejahatan sebelum kembali berbalik dan menatap Zeffrano. "Tunggulah sedikit lagi, kamu tidak keberatan kan?"
Zeffrano tersenyum tipis, senyum yang memancarkan pengertian dan kesabaran tanpa batas. Dia mengusap pelan pipi Aruna sekali lagi sebelum menarik tangannya perlahan.
"Keberatan? Tentu saja tidak, Sayang," jawabnya lembut namun tegas. "Apapun yang kamu inginkan, berapa lama pun kamu butuh waktu... aku akan selalu ada disini menunggumu, menemanimu, dan mendukungmu sampai akhir. Bagiku, memastikan kamu mendapatkan keadilan yang utuh jauh lebih penting daripada apapun. Hancurkan mereka sesuai keinginanmu, perlahan atau sekaligus, itu hakmu sepenuhnya."
Dia melirik jam di pergelangan tangannya, "Jam kerja sudah habis. Ayo, kita pulang. Sudah cukup untuk hari ini."
Aruna mengangguk patuh, senyum lembut mengembang di bibirnya. Dia segera merapikan berkas-berkas di atas mejanya, mematikan layar laptop, dan mengambil tas kerjanya. Zeffrano berjalan mendahuluinya sedikit, membukakan pintu ruangan dengan gerakan santai, membiarkan Aruna melangkah keluar lebih dulu.
Mereka berjalan beriringan menuju lift pribadi, suasana di antara mereka hening namun penuh rasa damai. Di dalam lift, Zeffrano kembali meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat seolah tak ingin ada jarak sedikit pun.
Lift bergerak turun dengan mulus, dan saat pintu besi itu terbuka di lantai dasar, udara sejuk lobi yang luas dan megah langsung menyapa wajah mereka. Namun, langkah Aruna sedikit terhenti, dan genggaman tangan Zeffrano sedikit mengerat saat pandangan mereka jatuh pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari pintu keluar utama.
Disana, berdiri Rafael.
Pria itu mengenakan setelan jas rapi berwarna krem. Di tangannya tergenggam sebuket bunga mawar merah yang sangat indah, segar, dan besar. Mata Rafael langsung berbinar-binar begitu melihat sosok Aruna muncul dari pintu lift.
"Aruna... sayang..."
Rafael segera melangkah maju mendekati mereka, mengangkat buket bunga itu sedikit lebih tinggi, dan mengukir senyum paling manis, paling tulus, dan paling penuh perhatian.
"Rafael, kebetulan sekali kamu ada disini..."
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍