NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Melabrak Zarlin

Theo pergi ke kantornya dengan amarah itu. Ketakutan akibat keranjang buah dari mertuanya, ditambah ancaman dingin dari Tristan lewat telepon, masih membuat dadanya terasa sesak.

Theo seketika terhenti begitu melihat sosok pria paruh baya bertubuh tegap sudah duduk di kursinya. Itu Paulus Falcon, ayahnya. Theo masuk dan meletakkan berkas yang dia ambil dirumah tadi ke atas meja.

"Ayah? Sejak kapan ayah di sini?" tanya Theo, berusaha keras menyembunyikan keterkejutan dan kegugupannya.

Paulus mendongak, menatap putranya dengan dahi berkerut.

"Ayah baru saja sampai. Ayah ke sini hanya ingin memastikan bagaimana progres proyek baru kita setelah dana talangan lima belas miliar dari Avalanka Group itu cair. Semuanya aman, bukan?"

Theo meneguk ludah kaku. Di bawah tatapan menyelidik ayahnya, ego dan kesombongan Theo kembali mengambil alih. Dia tidak boleh kelihatan lemah atau panik.

"Tentu saja aman, Ayah. Progresnya sangat luar biasa," ujar Theo, membuat senyum formal yang dipaksakan.

"Bahkan... dua hari yang lalu, Pak Bramasta dan Ibu Amelia menyempatkan diri datang ke rumah untuk mengantarkan satu keranjang buah untuk kami. Mereka sangat mendukung proyek baru ini dan mendoakan kesuksesan Falcon Corp."

Paulus seketika tersenyum lega, tampak sangat bangga mendengarnya. "Baguslah kalau begitu. Hubunganmu dengan Zarlin memang harus tetap dijaga dengan baik demi stabilitas bisnis kita. Jaga kepercayaan keluarga Rahesa, Theo."

"Iya, ayah. Pasti," jawab Theo singkat, meski di dalam hatinya dia mengumpat habis-habisan karena menahan rasa panik yang luar biasa.

Setelah Paulus keluar dari ruangannya, Theo segera bergegas pergi dari kantor. Pikirannya benar-benar kacau.

Dia harus mencari Zarlin untuk memastikan apakah wanita itu telah membocorkan rahasia perceraian mereka kepada orang tuanya.

Karena nomor teleponnya telah diblokir oleh Zarlin, Theo memutuskan untuk mencari keberadaan wanita itu ke beberapa tempat yang biasa dikunjungi.

...****************...

Hingga sore harinya, Theo tidak sengaja melihat orang yang sangat dia kenali di salah satu pusat perbelanjaan elit di ibu kota.

Di sana, di depan sebuah butik mewah, Zarlin sedang berjalan berdampingan dengan Christiana. Penampilan Zarlin benar-benar berubah drastis.

Wanita itu tampak begitu berkelas dan elegan dalam setelan blazer formal berwarna merah maroon, lengkap dengan rambut yang tertata rapi.

Rasa panik di dada Theo seketika menaik dan

rasa sinis dan jijik yang amat sangat.

"Sok-sokan sekali dia memakai blazer seperti wanita karier kelas atas," batin Theo meremehkan.

Dengan emosi yang menuntut, Theo langsung menghadang kedua wanita itu, tanpa ia tahu ada dua bodyguard yang ikut.

"Zarlin!" bentak Theo kasar, membuat beberapa pengunjung butik itu menoleh ke arah mereka.

Zarlin menghentikan langkahnya bersama Christiana. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak terkejut, melainkan hanya menatap Theo dengan pandangan yang sangat datar dan dingin.

Di sampingnya, Christiana yang memegang tas yang berisi belanjaan langsung mendekatkan diri pada Zarlin.

"Mau apa lagi kamu?" tanya Zarlin, suaranya terdengar begitu tenang.

"Kau tidak usah sok-sokan memakai blazer bergaya kantoran seperti itu, Zarlin! Menjijikkan sekali melihatnya," ejek Theo dengan kekehan sinis, mencoba menjatuhkan mental mantan istrinya seperti yang biasa dia lakukan dulu.

"Katakan padaku, apa yang sudah kau bicarakan pada orang tuamu, hah?! Kenapa dua hari yang lalu mereka tiba-tiba mendatangi rumahku?!"

Zarlin hanya menatap Theo dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan bodohmu, Theo."

"Kurang ajar!" bentak Theo. Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, Theo maju selangkah dan berniat mencengkeram kasar lengan Zarlin lagi.

"Jangan berlagak sombong di depanku, Zarlin! Kau itu bukan apa-apa tanpa—"

...Bruk!...

Belum sempat tangan Theo menyentuh seujung kuku Zarlin, dua pria berbadan besar dengan setelan jas hitam langsung menghadang tubuh Theo.

Salah satu bodyguard itu mencengkeram pergelangan tangan Theo dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi gemertuk, lalu mengempaskan tubuh Theo ke lantai hingga pria itu terjatuh memalukan.

"Tuan, tolong jaga sikap Anda, atau kami tidak akan segan-segan bertindak lebih jauh," ancam salah satu bodyguard dengan suara berat yang menggelegar.

Theo meringis kesakitan, memegangi pergelangan tangannya yang memerah sembari menatap ke arah dua bodyguard berwajah sangar tersebut.

Dia menatap Zarlin dengan tidak percaya. Sejak kapan mantan istrinya yang lemah itu dikawal oleh pengawal pribadi kelas atas seperti ini?

Zarlin bahkan tidak sudi melirik Theo yang sedang terjatuh di lantai. Dia hanya merapikan blazernya sejenak, lalu pergi bersama Christiana, meninggalkan Theo yang menahan malu di bawah bisik-bisik mencemooh dari orang-orang di sekitar butik.

"Ayo kita pergi. Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang itu." ujar Zarlin lalu mengajak Christiana dan kedua bodyguardnya itu ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.

...****************...

Malam harinya, Theo kembali ke ruang kerjanya dengan tubuh yang lelah akibat amarah dan rasa malu yang mendalam.

Kejadian di butik tadi benar-benar mengusik ketenangannya. Ada yang tidak beres dengan perubahan Zarlin, namun otaknya yang dangkal menolak untuk berpikir lebih jauh tentang mantan istrinya itu.

Saat ini, fokus Theo teralih pada masalah lain yang jauh lebih mendesak. Di kalangan pengusaha kelas atas belakangan ini, perusahaan bernama Aricia International ramai dibicarakan.

Perusahaan investasi misterius itu dikabarkan mulai bergerak secara agresif dan beberapa rekan bisnis Theo mulai memperingatkannya bahwa Aricia International tampaknya sedang mengincar saham publik milik Falcon Corp.

Rasa penasaran dan ketakutan Theo memuncak. Mengapa semua orang di dunia bisnis tampak begitu segan dan takut dengan nama perusahaan tersebut?

Theo segera menyalakan laptopnya. Dengan jari-jari yang bergerak cepat, dia membuka pencarian Google. Theo mengetikkan kata kunci dengan penuh ambisi

"Pemilik asli Aricia International"

Klik.

Layar monitor bergulir, menampilkan ratusan artikel berita. Namun, dahi Theo seketika berkerut.

Tidak ada satu pun artikel yang menyebutkan nama owner, jajaran direksi utama, ataupun foto wajah dari pemilik perusahaan terbesar Aricia International. Semua legalitas kepemilikan ditutupi dengan sangat rapat oleh hukum internasional.

Theo mencoba mengetikkan kata kunci lain

"CEO Aricia International Holding"

Hasilnya tetap sama. Identitas sang pemilik benar-benar disembunyikan dari publik secara hukum dan rahasia. Tidak ada informasi apa pun di internet yang bisa diakses oleh orang luar.

"Sialan! Bagaimana bisa sebuah perusahaan sebesar itu sama sekali tidak mempublikasikan siapa pemiliknya?!" teriak Theo frustrasi, memukul permukaan meja kerjanya dengan keras.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan rasa frustrasi yang membakar dada. Theo merasa sangat buta dan tidak berdaya, terombang-ambing di tengah ketakutan akan musuh misterius di balik Aricia International yang siap menghancurkan perusahaannya sewaktu-waktu.

Dia sama sekali tidak pernah menduga, bahwa sosok pemilik misterius yang sangat ditakuti oleh dunia bisnis dan sedang dicarinya di Google itu adalah wanita berblazer merah maroon yang baru saja dia labrak dan dia pandang dengan rasa jijik di butik sore tadi.

1
Mommy tulipp
Wajar Paulus, anak sprti itu memang harus dikasih paham👍
Mommy tulipp
Paulus menganggap dia orang tua yg gagal💔
Mommy tulipp
Jangan Pak Bram, kau memang setulus itu kpd sahabatmu, tapi melakukan kekerasan tdk membuat masalah selesai. Tahan emosi Pak Bram, ini semua gara2 Theo. Kok ada lah manusia sprti ini, tdk habis pikir Ya Allah
Mommy tulipp
Sadar Theo, kamu termakan cinta bodoh
🔵 MULIANA💦
memangnya kamu yang bodoh, gak teliti dalam semua hal 🫣
🔵 MULIANA💦
sekarang baru takut /Proud/
Tulisan__mawar
Mau pergilah, ngapain diam aja. heleh kekayaan istrimu lebih dari kamu, dia bukan wanita sambarangan yang bisa kamu sakiti terus menerus. idih, najis banget. katanya kaya, sewa art aja susah maunya zarlin. dia istrimu theo falcon bukan babu ibu dan sekertaris mu, gitu dong. kasih sianida aja di makanan mereka bertiga😤😫☺️
Aquarius97 🕊️
please yah, sabar dikittt lagi 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jadi malu kan kalian berdua sekarang
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
namanya nasib nggak ada yang tau
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya jadi orang jangan rendahin orang lain
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
roda pasti berputar, itu kata orang tua dulu
Kak Umi
Karena ceritanya menarik, maka berlanjutlsh🙏🙏
Kak Umi
😍😍😍😍😍😍😍😍
Kak Umi
Lanjut lanjutkan 🙏🙏🙏
Kak Umi
Hay, aku datang turut meramaikan, datang juga turut meramaikan novel aku🙏🙏
Cimol krispy
bener banget tuh, Zarlin butuh menyembuhkan mentalnya dulu yang sudah dihancurkan habis2an oleh Theo
-Thiea-
kata-kata mu menohok hati neng zarlin.😁
-Thiea-
istirahat dulu atuh neng. yang lain bisa diawasi sama Tristan dan cristiana . bapakmu juga bisa membantu.
-Thiea-
duduk apanya neng. udah mau pingsan gitu. kamu harus sehat untuk hadepin mantan suami gila mu zarlin. ayok, turutin Tristan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!