Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Setelah Ani menghubungi dokter tidak lama dokter pun datang, Ani mengantar dokter muda itu ke kamar Tuan Mudanya. Saat pintu terbuka Kanaya menoleh dan melihat Ani bersama dokter masuk ke dalam kamar Kavin, Ani pun keluar dari kamar dan pergi meninggalkan majikannya bersama dokter muda itu.
"Maaf Nyonya papa saya tidak bisa datang jadi saya yang menggantikannya kemari." Ucap dokter Syarif kepada Kanaya.
"Tidak apa-apa dokter, tolong periksa putra saya." Kanaya mempersilahkan dokter muda itu memeriksa kondisi putra sulungnya.
Dokter Syarif pun mulai memeriksa Kavin. "Rasa sakit kepala Tuan Muda karena pemicu memorinya yang hilang. Jadi Nyonya tidak perlu khawatir, ini hanya efek dimana ingatan Tuan Muda mulai bermunculan." Ucap dokter Syarif
Kanaya merasa lega mendengar penjelasan dokter Syarif, dia sangat takut jika terjadi yang tidak di inginkan pada putranya lagi.
"Mari saya antar dokter." Dokter Syarif pun mengangguk dengan ajakan Kanaya.
Mereka berdua turun tangga dari lantai dua menuju ke ruang tamu, "Ani tolong buatkan dokter Syarif minuman ya." Perintah Kanaya.
"Baik Nyonya." Ani pun pergi ke dapur untuk membuatkan dokter Syarif dan Kanaya minuman.
Ani pun datang dengan nampan yang berisi dua gelas minuman untuk Nyonyanya dan tamu Nyonyanya.
"Silahkan di minum dok." Ucap Kanaya.
"Terima kasih Nyonya." Jawab dokter Syarif.
****
Adara melamun saat dia dan Kira sedang menggambar desain pakaian, Kora melirik kertas yang masih bersih dari coretan di depan Adara.
"Kamu melamun Ra?" Kira menepuk bahu sepupunya.
Adara menoleh dan tersenyum, "aku bingung dengan hubungan kami Ki, kita sudah pacaran tapi kita masih berjauhan."
"Adara apa kalian bertengkar?" Tanya Kira.
"Tidak, aku pulang duluan ya." Adara pun berdiri lalu meninggalkan Kira yang masih bingung di ruang kerjanya.
"Apa conta itu memang menyiksa ya?" Gumam Kira.
Di dalam perjalanan pulang Adara menerima telepon dari Kanaya menyuruhnya pulang lebih awal, entah apa yang membuat wanita yang telah melahirkannya itu menyuruhnya cepat-cepat pulang kerumah.
Adara bingung saat melihat ada sebuah mobil yang asing terparkir di depan rumahnya, dia pun segera masuk untuk mengetahui siapa pemilik mobil itu.
"Bunda." Panggil Adara saat dirinya sudah berada di dalam rumah.
Kanaya yang mendengar suara putrinya berbalik dan langsung menghampiri Adara.
"Kemari nak." Kanaya membawa Adara duduk di sofa.
"Kenalkan dia anak om Gunawan dokter Syarif." Ucap Kanaya, dokter Syarif tersenyum manis dan di balas dengan senyuman oleh Adara.
"Adara." Mereka pun berjabat tangan.
"Kalian ngobrol dulu, bunda mau melihat keadaan Kavin." Kanaya pun meninggalkan Adara dan dokter Syarif.
Ada rasa canggung di antara mereka. "Silahkan di minum dok." Ucap Adara.
"Iya terima kasih." Jawab dokter Syarif.
Ponsel Adara berdering, dia melihat nama Devano yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa tidak di angkat, siapa tau itu penting." Ucap dokter Syarif saat melihat Adara memasukkan ponselnya ke dalam saku blezeernya.
"Ah, tidak nanti aku hubungi kembali." Jawab Adara dengan senyum tipis.
"Kalau begitu aku pamit. Sampaikan salam dan terima kasih untuk Nyonya Kanaya."
"Baik, terima kasih juga dokter." Dokter Syarif pun mengangguk dan pergi menuju pintu di antar oleh Adara.
Setelah dokter Syarif pulang, Adara pergi ke kamar kakaknya untuk melihat kondisinya, Adara pun masuk menghampiri Kanaya yang duduk di tepi kasur Kavin.
"Bunda bagaimana keadaan kakak?" Tanya Adara.
Kanaya menoleh ke arah putrinya, "dia baik-baik saja sayang. Apa dokter Syarif sudah pulang?" Adara mengangguk.
"Bagaimana dengan dokter Syarif, apa kamu menyukainya nak?" Tanya Kanaya.
"Apa bunda sedang menjodohkanku dengannya?" Adara menatap Kanaya.
Kanaya tersenyum. "Iya nak, bunda melihat dokter Syarif adalah laki-laki yang baik, apalagi keluarganya dekat dengan Keluarga Handoko." Jawab Kanaya.
"Adara sudah memiliki kekasih bunda, dan itu adalah Devano."
"Ayahmu tidak akan menyetujui hubungan kalian, setelah dia tau keluarga Devano terlibat dalam penderitaan kakakmu dan keluarga kita selama dua puluh tahun." Kanaya menggenggam tangan putrinya.
"Tapi bunda kami saling mencintai. Siapa tau dengan cinta kita hubungan diantara kedua keluarga ini bisa berdamai." Adara mencoba menyakinkan bundanya.
Kanaya menggelengkan kepalanya tanda dia tetap pada keputusannya. "Bunda dan ayah tidak ingin menjalin hubungan dengan Keluarga Hanendra." Kanaya melepaskan genggamannya lalu pergi keluar meninggalkan Adar yang masih duduk di tepi tempat tidur kakaknya.
Malam pun tiba, Kavin melihat Adara sedang tertidur di sampingnya dia pun membangunkannya. "Adara." Sambil menggoyangnkan tubuh adiknya.
"Kakak." Adara mengucek kedua matanya.
"Kembali lah ke kamarmu untuk istirahat." Ucap Kavin.
Adara nelihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam, dia bergegas turun dari tempat tidur Kavin.
"Aku ada janji dinner dengan Devano." Gumam Adara yang masih bisa di dengar jelas oleh Kavin.
"Kamu jangan pergi." Larang Kavin, dia takut kalau Devano akan menyakiti adiknya.
Adara berhenti saat dia sudah siap-siap untuk pergi dari kamar kakaknya, "Kakak juga melarangku bertemu dengan Devano?" Tanya Adara.
"Dia tidak tulus mencintaimu, dia hanya pion untuk menghancurkan Keluarga Handoko." Kavin turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Adara yang menatapnya tak percaya.
"Kakak, bunda dan ayah ingin memisahkan kami? Bukannya kakak yang tau sifatnya Devano? Kenapa kakak sekarang menuduh Devano seperti itu." Ucap Adara ditengah isakan tangisnya.
"Aku berkata seperti itu karena aku tau Devano seperti apa, dia tidak pernah tertarik dengan wanita, dan dia juga di gunakan untuk menyakitimu." Kavin masih memeluk Adara yang tengah terisak-isak.
"Percayalah pada keluargamu Adara, aku akan melindungimu dan keluarga kita dari Keluarga Hanendra, walaupun kondisiku belum pulih total tapi aku akan melindungi keluarga kita." Kavin mengusap punggung adiknya mencoba menenangkannya.
"Maafkan aku kak, aku tidak bisa percaya sebelum aku mengetahuinya sendiri." Batin Adara.
Adara kembali ke kamarnya, dia pun melihat ponselnya takada panggilan dari Devano. "Apa dia lupa dengan janjinya?" Adara melempar benda persegi di atas kasurnya dan dia pun masuk ke dalam kamar mandi.
"Adara." Panggil Kanaya saat dirinya masuk ke dalam kamar putrinya.
"Ya bun, ada apa?" Teriak Adara yang dari dalam kamar mandi.
"Buruan turun, ayahmu sedang menunggu untuk makan bersama."
"Baiklah bun."
Saat Kanaya ingin keluar dari kamar putrinya, ponsel Adara berdering di atas tempat tidurnya.
Kanaya mengambil ponsel dan melihat nama Devano muncul di layar benda persegi yang ada di tangannya.
"Devano?" Gumam Kanaya.
Pintu kamar mandi terbuka dan Adara pun keluar. "Bunda."
Kanaya menoleh ke arah kamar mandi dan menatap putrinya, Adara pun menghampiri Kanaya lalu merebut ponselnya dari tangan bundanya.
"Adara bunda sudah bilang akhiri hubungan kalian, bunda tidak ingin putri bunda tersakiti nak." Ucap Kanaya.
"Bunda, tolong beri privasi untuk Adara. Adara tau bunda, ayah dan kakak tidak ingin Adara tersakiti tapi Devano tidak seperti yang kalian pikirkan." Adara menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya, berharap bundanya tidak menentang hubungannya dengan Devano.
Kanaya terdiam mendengar ucapan putrinya, sebenarnya dia tidak ingin menyakiti putrinya tapi dia juga tidak bisa menentang perintah suaminya yang tidak ingin berhubungan dengan Keluarga Hanendra.
Bersambung.....
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..